
Hatiku selalu bisa luluh walau dengan tatapan matanya, seperti terkena sihir saja. Aku tidak tahu harus bagaimana menyikapi ini semua. Jujur aku ingin mempertahankan harga diriku dan menjadi wanita yang bijaksana dan legowo dengan kenyataan yang ada dalam hidupku. Tapi sikapnya yang seperti ini membuatku tidak bisa menarik hatiku untuk tidak menghiraukannya lagi.
“Aku tahu, tapi sekarang sudah tidak ada artinya lagi kan Mas? Keadaan kita sudah berbeda.” Mas Ferdian sedikit terkejut dengan apa yang aku katakan, mungkin dia mengira aku belum tahu dengan pernikahannya. Kami masih dalam posisi berlutut di lantai.
“Kita benar-benar harus berbicara Sayang,” Mas Ferdian mengelus pipiku, dan tangan kirinya menggenggam tanganku.
“Sekarang kita kan memang sudah berbicara Mas, Mas sendiri saja yang membuatnya menjadi adegan dramatis seperti ini ada acara tekuk lutut segala. Jika ada yang lihat apa yang akan mereka fikirkan? Seorang Hira, karyawan biasa bisa membuat pemegang saham kita menekuk lututnya. Jadi berita hangat sekali dan mungkin berita ini tidak akan mendingin walau sudah berlalu oleh waktu. Dan bahkan mungkin juga mereka akan mencari tahu sihir apa yang aku gunakan.” Aku merundukkan pandanganku sedikit mengeluarkan seringai senyuman, mengiringi kata-kataku yang terkesan seperti pisau yang telah terasah mencari sasaran untuk membuktikan ketajamannya.
“Sayang, aku mohon. Aku tetap tidak akan berdiri, jika kamu belum menyetujui untuk berbicara denganku nanti setelah meeting selesai.” Mas Ferdian semakin mengeratkan genggamannya, tidak mengambil hati kata-kata pedas yang telas aku ucapkan.
“Apakah yang harus aku lakukan, apakah aku harus menurutinya? Jika tidak apakah dia benar-benar akan melakukan apa yang dia katakan? Sudah lama dia berlutut seperti ini apakah akan bertahan jika aku tak menghiraukannya? Jika dia benar akan melalukannya mau aku taruh dimana mukaku? Ayo Ra, buka bibirmu apa yang akan jadi jawabanmu. Jika kamu menolak, hatimu tidak akan tenang selamanya tapi jika kamu iyakan kamu akan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga seseirang walaupun dia masih berstatus kekasihmu.”
Kulihat jam dinding yang terpajang di tembok tepat ada di depanku, lima belas menit lagi meeting akan dimulai.
Dret…dret…
Ku ambil handphone yang ada di sakuku, aku berdiri dengan payah terasa kakiku sudah kesemutan mengimbangi Mas Ferdian yang tak kunjung mengakhiri aksinya.
“Kok belum balik juga, dari tadi Pak Febrian melihat mejamu. Wajahnya terlihat jelas risau walaupun aku memperhatikannya dari mejaku. Kamu ada di mana?”
“Di ruang meeting.”
“Kamu ketemu Ferdian ya?”
“Hem.”
“Kalian ngobrol di situ? Dia bilang padamu jika… “
“Belum.”
“Ya sudah cepetan balik, bawa kopi untukku.”
“Hem.”
Bang Ryco mengakhiri obrolan begitu saja,
“Baiklah kita ketemu setelah jam pulang kantor. Aku tidak ingin izin.” Aku mengulurkan tanganku agar Mas Ferdian segera berdiri. Aku segera membalikkan badan ingin segera meninggalkan ruangan.
“Sayang, terimakasih.” Mas Ferdian memelukku dari belakang mengeratkan tangannya di perutku, menyandarkan dagunya di bahuku, mencuri ciuman di pipiku tanpa terfikir olehku dia masih bisa bersikap seperti ini.
“Ya Allah ampuni kami.” Batinku. Aku teringat jika ini dosa, walaupun aku masih ingin merasakannya, aku sangat merindukannya.
“Mas, aku harus segera kembali. Sudah lama aku di sini. Sebentar lagi juga akan banyak orang yang akan datang.”
“Hem,” dia menganggukkan kepalanya, terasa dagunya bergerak di bahuku.
“I love you, Ra.” Katanya setelah membalikkan tubuhku menghadapnya dan meyium keningku sebelum kami berpisah.
Terasa dia masih menatap punggungku, memperhatikan langkahku meninggalkan ruangan. Ku buka pintu yang tadinya tertutup rapat oleh Mas Ferdian, kubuka lebar kuganjal dengan penganjal yang ada di bawah pintu agar tidak tertutup kembali. Sedikit ku lirik, Mas Ferdian yang memegang pahanya mungkin dia merasa kakinya sedikit kram karena ulahnya sendiri.
“Gila kamu Ra, kamu yang punya kantor apa? Sekali ngilang gak balik-balik, tu orang yang di sono sudah kebakaran jenggot.”
“Iya tahu, maaf menyusahkan. Maafnya bukan ke aku tapi tu… ( Bang Ryco mengangkat dagunya mengarah ke ruangan Pak Ferbrian yang berdinding kaca ) setelah kamu masuk baru memperhatikan berkas di mejanya. Dari tadi lihat mejamu terus, untung saja di sini hanya aku dan untungnya laki-laki jika perempuan sudah GR aku karena merasa diperhatikan.” Aku menendang kaki Bang Ryco dengan ujung sepatuku yang sedikit berbentuk lancip.
“Kira-kira ya Ra,”
“Untung saja tidak aku tuang ni kopi panas, pesanan A-Bang! Sudah tahu aku kelamaan di luar e, nyuruh balik malah nunggu di pantry tu OB sibuk buat kopi untuk meeting katanya!”
“Tumben suguhannya kopi, biasanya juga air putih.”
__ADS_1
“Mana aku tahu, aku juga terkaget. Padahal tadi aku sudah nyiapin air lho.”
“Pembahasan panjang kali ya… “ aku mengangkat bahuku menanggapi Bang Ryco.
“Semolor-molornya bukannya mau bahas keuntungan saja ya, selain agenda perombakan.” Fikirku setelah duduk di kursiku.
“Oya Ra, nanti bisa ngak pulang bantu aku lembur.”
“Sorry, tidak bisa. Aku… “
“Baiklah….” Jawab Bang Ryco setelah memotong kata-kataku seolah dia sudah tahu apa yang akan aku katakan.
.
.
Sayang aku tunggu di tempat parkir, langsung masuk mobil.
Aku membaca pesan yang masuk dalam chatku tepat setelah satu menit terlewat jam kantor selesai. Aku segera mengemasi tasku.
“Jangan pulang larut malam ya Ra, ikuti kata hatimu jangan terlalu banyak memikirkan apa kata orang. Kamu yang menjalani kehidupanmu sendiri. Aku dan orang tuamu akan mendukung apa yang membuatmu bahagia.” Aku hanya mengangguk denga napa yang di ucapkan oleh bang Ryco.
“Jika kamu nanti membutuhkan bantuan apapun itu, call aku!”
“Waallaikum salam, terima kasih adikku cantik.” Bang Ryco memaksakan senyumannya.
Aku berjalan melewati ruangan Pak Febrian, aku mengetuk dinding kacanya. Terlihat kaca matanya masih bertengger di hidungnya yang mancung, menatap layar computer yang menyala dengan terang hingga menampakkan wajah tampannya terlihat dengan jelas. Dia sama sekali tidak tergangu dengan ketukan jariku. Dan aku berjalan dengan berlalu begitu saja segera menuju tempat parkir. Masih teringat dengan jelas plat mobil Mas Ferdian hingga tidak membuatku sulit mencari mobilnya.
“Assallamuallaikum,” sapaku setelah memperlebar pintu yang sudah dibukakan dari dalam.
“Waallaikum salam sayang,” tanpa bertanya Mas Ferdian melajukan mobilnya, dan aku hanya diam saja. Fikiranku terlalu sibuk dengan bagaimana aku harus bersikap, rasanya semua ini terasa mendadak walaupun aku tahu sedari kemarin jika kemingkinan besar akan bertemu.
“Kok ke arah sini Mas, bukanya ini arah ke… “
“Iya, ini arah ke hotel. Mas akan menginap, kita bicara di sana akan lebih leluasa. Tidak aka nada yang kamu khawatirkan.”
“Ini justru membuatku menjadi lebih khawatir.”
“Bukankah kita seperti biasanya?”
__ADS_1
“Dulu, tidak dengan sekarang.” Mas Ferdian terdiam menahan apayang akan di ucapkannya.
Mas Ferdian langsung parkir di lantai dua, tidak seperti biasanya. Membuat fikiranku bergelut dengan ini perbedaannya, menyayat hatiku.
Aku mengikuti Langkah Mas Ferdian, masih jalan yang sama. Kakinya terhenti membuatku menabrak punggungnya, wangi parfum yang aku rindukan. Dia membuka pintu dengan kartu setelah mengambilnya dari dalam dompet.
“Kamu jalan sambil melamun ya sayang.” Dia bertanya tanpa membalikkan tubuhnya. Aku tidak menjawabnya sama sekali sampai dia berbalik dan menuntunku yang masih terdiam beku masuk ke dalam kamar yang penuh kenangan kebersamaan kami.
Mas Ferdian mendudukkanku di sofa, mengambilkanku minuman dari kulkas. Terdengar dia telephone memesan makanan yang aku sukai.
“Dek, Mas ingin berbicara denganmu. Serius!” Dia duduk dikarpet tepat dihadapanku membuat kakiku terkurung olehnya.
“Iya, aku tahu. Bicaralah.” Nadaku melembut dengan tatapannya yang mendongak menatapku penuh dengan memohon.
“Sayang, Mas benar-benar memohon ampunanmu. Mas tidak sanggup melawan keadaan. Dan sungguh semua yang terjadi di luar keinginan Mas, berharappun Mas tidak pernah.”
“Aku akan melepaskanmu Mas, mulai sekarang kita tidak aka nada hubungan apapun. Jadi… aku mohon jangan memperumit keadaan. Terimalah kenyataan, perlahan semuanya akan baik-baik saja.”
“Apa maksudmu Dek? Kamu sudah… ( aku mengangguk begitu saja ) Febrian yang mengatakannya?”
“Aku hanya menduganya, sikap Mas saja yang menyakinkan dugaanku benar.”
“Mas tahu jika Mas egois tapi Mas mohon tetaplah jadi orang yang selalu ada di sisi Mas.”
“Aku tidak ingin merindukan suami wanita lain Mas. Walaupun dia mengizinkanmu untuk mendua sekalipun! Aku mohon akhiri kekonyolan ini.”
“Kita bisa menjalaninya sayang, Mas akan bolak balik ke sini. Mas tidak ingin kehilanganmu.”
“Bisa-bisanya Mas berkata seperti ini ya? Aku tidak ingin tersakiti ataupun menyakiti hati wanita lain Mas. Biarlah hubungan kita menjadi kenangan,”
“Aku tidak sanggup sayang, setelah terakhir kita ketemu sampai sekarang saja membuatku tidak sanggup untuk bertahan. Hanya membayangkannya saja aku tidak sanggup merasakan rasa sakit yang telah aku torehkan di hatimu, dan bagaimana dengan Bapak dan Ibu?”
“Mereka baik-baik saja, Mas merasa seperti itu karena Mas belum jujur padaku. Karena sekarang Mas sudah jujur denganku walaupun aku sudah lebih dulu tahu pasti nantinya hatimu akan lebih baik Mas. Mulai dari sekarang, jalanilah kehidupanmu… berilah apa yang menjadi hak istrimu.” Mas Ferdian menyentuh daguku dan mengarahkan tatapanku padanya. Dia menatap mataku, menyelidik dengan apa yang aku katakana.
“Berbicaralah dengan menatap Mas.”
__ADS_1
Lanjut episode berikutnya,