Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 49


__ADS_3

“Iya, adikku sayang… “ Ryco meluncurkan kursinya mendekat ke samping Hira.


“Hm…hm…hm…” Tari berdehem melihat perlakuan Ryco. Melihat Hira yang masih cuek dengan Ryco. Tari tidak memperhatikan mereka lagi mencoba memberi privasi.


“Kenapa? Apa ada masalah?” tanya Ryco lembut sedikit berbisik.


Posisi Ryco yang menutupi wajah Hira dari akses pandang Tari. Kursi mereka yang berjauhan dengan Tari menjamin jika Tari tidak akan mendengar apa yang mereka obrolkan.


Hira mulai menatap mata Ryco yang sudah dengan sabar menunggu bibir Hira terbuka, setelah meyakinkan jika tidak ada yang mendengar.


“Bang,” sapa Hira dengan tatapan yang sudah tergenang air mata.


“Bukankah kemarin aku sudah bilang jika ada sesuatu yang perlu dicurhatkan, pesan tempat dan kabari aku! Aku akan datang!” Ryco memegang ujung hidung Hira dengan ujung jari telunjuknya.


“Masih kuat menahan atau kamu tumpahkan sekarang?” Hira hanya tersenyum berat air matanya tanpa sadar sudah mengalir. Ryco mengambil tisu yang kebetulan ada di sampingnya, mengelapkan pada pipi Hira. Terdengar suara keyboard Tari pertanda tidak ada yang memperhatikan mereka.


“Aku masih kuat, Bang.”


“Nanti makan siang di cafe, aku siap untuk mendengarkan. Cukupkah waktu jam makan siang untuk menceritakannya atau kita pulang bareng saja dan sekalian makan malam?” Hira hanya mengeleng kepalanya sambil berkata terima kasih tanpa suara, hanya pergerakan bibir yang bisa di tangkap oleh Ryco dan di balas dengan anggukan kepala.


“Jangan menahan jika memang kamu tidak kuat, setidaknya dengan bercerita kamu bisa jadi lebih baik.” Hira hanya mengangguk mendengarkan kata-kata Ryco.


“Abang banyak kerjaan, kamu bisa bantu jika kamu sudah selesai dengan kerjaanmu nanti.”


“Sebegitu banyaknya kah?”


“Iya, Pak Febrian tidak masuk kemarin.”


“Iya aku dengar.” Sela Hira, Ryco mulai berfikir dengan apa yang telah didengarnya.


“Dari?” Ryco meluapkan rasa penasarannya.


“Pak Ryan.” jawab Hira agak lama menetralkan sebutan yang akan digunakan untuk mendampingi nama Ryan yang akan disebutkan.


“Pak Ryan, ( Ryco mengerutkan dahinya mengulang apa jawaban Hira ) kok bisa? Maka dari itu kerjaan numpuk, hari ini cuti lagi. Semalam dia menghubungiku.”


Flash back on


“Hallo, Ryc.”


“Iya Pak,”


“Tolong kamu handle dulu kerjaanku. Berkas yang ada di mejaku tolong kamu mintakan persetujuan Pak Ryan. Proyek yang aku pegang peralihan dari Pak Ryan tolong diskusikan dengan Pak Ryan langsung. Aku telah menghubunginya, kamu tinggal ke ruangannya saja.”


“Bapak akan lama cuti ya?”

__ADS_1


“Tidak tahu, belum pasti juga. Lihat perkembangan dari keadaan Pamanku dulu. Tolong sekali ya Ryc, maaf merepotkanmu. Minta bantuan Hira saja, kemarin aku banyak diskusi ini dengannya.”


“Baik Pak,”


“Oke, yuk. Terima kasih sebelumnya.”


“Iya, Pak.” Kalau sudah dekat ternyata baik juga, hangat rasanya. Gunam Ryco setelah bercakap dengan Febrian.


Flash back off


“ Iya Pak Ryan, kemarin aku bertemu dengannya.” Ryco manggut-manggut dengan muka yang sedikit kecewa.


“Memangnya ada urusan apa kok mendadak Pak Febrian ambil cuti?” imbuh Hira, Ryco sudah menarik kembali kursinya ke mejanya. Fokus dengan layar komputernya yang telah ditinggalnya.


“Katanya sih urusan keluarga izinnya, lalu semalam waktu aku tanya kapan kembali menunggu perubahan keadaan pamannya.” Hira manggut-mangut menatap dengan pandangan kosong pada berkas yang ada di depannya. Ryco yang berbicara tanpa menatap Hira, masih focus dengan layar komputernya.


Hira mencoba memecahkan rentetan tautan keadaan, membuat tatapannya kosong dalam waktu yang lama. Ryco yang dari tadi tidak mendengar suara Hira begitu sudah mendapat jawaban, membuat Ryco menoleh.


“Ra! Sutt! Sutt!” tidak ada reaksi apapun.


“Sudah serius nih sepertinya.” Gunaman Ryco pelan tanpa ada yang mendengar karena tidak ada sahutan dari bibir siapapun yang menghuni ruangan itu.


Pada akhirnya, Ryco melemparkan genggaman kertas yang sudah dikepal-kepalnya dengan kencang.


“Auw!”


“Kalian dari tadi sibuk sendiri ya!” Suara Tari membuat Ryco dan Hira menoleh secara bersamaan.


“Maaf Mbak,” sahut Hira cepat dan kembali pada pekerjaannya.


.


.


Dret…dret…


Aku tunggu kamu menentukan tempatnya, kamu sudah membuatku penasaran kelas dewa. Apa yang membuatmu seperti itu!


Getaran pesan dari Ryco membuat Hira membuka handphonenya, dari kemarin menunggu kabar Ferdian yang tak kunjung muncul membuatnya tidak melihat layar ponselnya. Setelah melihat jika nama Ryco yang mengirim pesan Hira hanya mengalihkan pandangannya dari layar handphone ke arah Ryco yang menunggu tatapan Hira. Ryco memberi isyarat agar Hira membalas pesannya. Tidak membalas pesan dari Ryco tapi Hira termangu membuka Pesan dari Ferdian.


“Mas,” rintihnya sendu dalam bibir yang terbungkam dia merintihkan di dalam hati, memandang kata-kata yang ada di layar membuatnya mengenangan air mata. Ryco tanpa mendekat kembali hanya mengamati dari tempatnya duduk. Tidak ada pergerakan dari jari Hira untuk menyentuh layar balasan.


.


.

__ADS_1


“Ra, berkas untuk proyek baru kemarin siapkan. Kita meeting dengan Pak Ryan.” Hira terkaget dengan intruksi yang di berikan Ryco.


“Baik, Bang.” Jawabnya tanpa semangat. Ryco hanya memperhatikan setiap gerakan Hira.


“Uh, ( Ryco melepas nafasnya, terasa berat dadanya ) kacau-kacau, buyar semuanya!” keluh Ryco memikirkan Hira.


“Berat amat, Co!” kata Tari mendengarkan hembusan nafas Ryco.


“Oh, terdengar sampai situ ya Ri! Maaf, pusing Ri kepalaku. Kerjaanku buuanyak banget.”


“Sama tapi hanya kamu Co yang ngeluh!”


“Iya, ya… Mau jawab kurang piknik. Salah dong! Kemarin kita habis piknik. Aku tidak punya pasal untuk mengelak ya?”


“Berarti ketemu gang buntu tuh! Di sarankan untuk bertanya Co, agar kamu bisa kembali pulang. Semaju apapun teknologi membantumu tapi ketika tidak ada jaringan yang mendukungmu untuk kamu memanfaatkannya maka kamu harus menggunakan tangganmu untuk mengetuk pintu seseorang dan gunakan bibirmu untuk bertanya. Tidak mungkin kan kamu akan berdiam saja di tempat hanya menebak-nebak, mengingat-ingat jalan mana yang telah kamu lalui. Keburu waktu berlalu dan kamu kelelahan untuk bertahan dan masih tetap tidak tahu jalan untuk kembali. seperti itu juga ketika kita menghadapi permasalahan. Jangan takut, hadapi kenyataan jangan hanya menunggu!"


Hira mendengar apa yang dikatakan Tari menusuk hatinya, tanpa berkata menanggapi apa yang telah diucapkan Tari yang ditujukan pada Ryco, Hira menghembuskan nafas mengurangi rasa sesak di dadanya.


“Terima kasih atas nasehatnya Bu Tari, memang butuh pencerahan. Hehehe.” Tawa Ryco yang dibuat-buat. Tari menjawab hanya dengan deheman.


“Bang, berkasnya sudah siap.” Kata Hira pada Ryco, seolah dia tidak merespon sama sekali dengan kata-kata Tari yang sudah mengusik fikirannya.


“Ya udah kamu ke kantor Pak Ryan dulu akan aku susul bentar lagi.” Tanpa menjawab Hira melangkah menuju kantor Pak Ryan.


“Paman Pak Febrian, kemungkinan Papa Mbak Rinna. Akankah ini waktunya, sama seperti yang dikatakan Mbak Emma.” Dada Hira terasa sesak memikirkan hal ini.


“Ya Allah Hira apa yang telah kamu fikirkan?” Hira menepuk-nepuk pipinya melewati staf Ryan.


Tok..tok…tok…


“Masuk” perintah Ryan dari dalam ruangan.


“Maaf Pak, mau ba…. “


“Iya aku sudah tahu, kesempatan lagi untuk bisa bersamamu Ra?” kata Ryan dengan senyuman.


“Masih ada Bang Ryco, Pak. Nyusul sebentar lagi.”


“Dari moment ini saja sudah dua kali kesempatan yang ada untuk kita Ra. Hehehe “ imbuh Ryan masih membahas permasalahan pribadi.


“Di kantor Pak!”


“Iya, aku tahu. Di sini juga tidak ada yang denger Ra.”


.

__ADS_1


.


lanjut di episode berikut ya,


__ADS_2