
Dalam perjalanan pulang, Ferdian terfikirkan oleh perkataan Ibu Hira. Ia terus berfikir, siapakah yang telah mengantarkan Hira setelah pulang dari Hotel.
“Suara mobil, suara mobil.” Kata itu yang selalu Ferdian ulang-ulang, menduga-duga siapakah yang mengantar Hira.
“Maaf Dek, jika aku egois. Aku masih belum menyadari jika aku yang menciptakan situasi ini, maaf jika aku masih berfikir sesuatu yang bukan hakku lagi. Aku juga merasa sakit memiliki rasa ini.” Ferdian bergunam sendiri, rasa cemburu menguasai hatinya. Membuat tiap kali ia merasa kesal membuat pengendara lain terkaget dengan suara klakson karena ulahnya. Tangannya tidak mau diam, selalu memukul klakson dengan kasar.
Sepanjang perjalanan Ferdian selalu berfikir tentang kata-kata Hira, perkataannya memang benar adanya tapi menyakitkan bagi Ferdian.
“Sebegitu mudahnya sayang kamu mengucapkan hal itu, kebutuhan batinku sendiri tapi ketika kamu mengatakan hal itu. Sungguh rasanya dadaku seperti tertusuk pisau. Apakah tidak ada keinginan kamu untuk memilikiku, semudahnya kamu katakan seolah aku tidak pernah singgah di hatimu.”
“Sadar Fer, apakah kamu lupa kamu sendiri yang lebih dahulu mengambil keputusan menyakitinya tanpa menghargai kehadirannya selama ini. Boleh memiliki kemanusiaan, tapi mana hatimu untuk wanita yang telah bertahun-tahun singgah di hatimu. Kamu juga dengan mudahnya mengambil keputusan untuk mengayomi kehidupan orang lain tanpa memikirkan kekasihmu!” Ferdian memukul dahinya, bergunam sendiri memarahi dirinya sendiri.
Tanpa Ferdian sadari air matanya mengalir, menyesali sesuatu yang tidak ada guna lagi untuk ia sesali. Hal yang sudah terjadi tidak bisa di ubah lagi.
.
.
Mobil Ferdian memasuki gerbang rumah Rinna, persinggahan yang kini di huninya. Sampai di kota A, hari sudah gelap. Perjalanan begitu ramai, perang dengan hati dan fikirannya membuat lambat dalam mengendari mobil. Tidak sesuai rencana awal, sopir yang menemaninya dalam perjalanan berangkat ia suruh untuk kembali terlebih dahulu.
Ferdian memasuki kamar, kamar terlihat kosong tanpa ada jejak penghuni. Tapi Ferdian tidak menghiraukan hal itu sama sekali.
Karena dia sudah terbiasa dengan kesendirian, selama pernikahan yang hampir satu bulan itu dia masih belum merasakan kehadiran Rinna untuk menjadi candu yang harus ia dapati keberadaannya.
“Sudah pulang Mas?” hanya itu yang ditanyakan Rinna ketika tiba-tiba muncul dari dalam bathroom, membuat Ferdian yang sedang di walk in closet terkejut. Masih bertelanjang dada dan menggunakan celana pendek. Tidak ada suara sedikitpun di dalam kamar mandi.
“Hemm.” Jawab Ferdian singkat, terfikir olehnya jika kepergian Rinna kemarin-kemarin adalah untuk menemui Hira, bercerita tentang sesuatu yang dia harapkan lebih dari janjinya.
Rinna memberanikan diri untuk berada di depan Ferdian tanpa jarak memandang dada Ferdian yang berotot. Ferdian menatapnya penuh dengan selidik, tanpa berucap apapun.
“Kemarin Mas Fer mampir ke Mbak Hira?” tanya Rinna seolah sudah lelah ingin meluapkan isi fikirannya yang terus bertanya-tanya, sudah tidak bisa ia simpan lagi.
“Bukankah kamu yang menyarankan dan bersedia sendiri jika aku masih bisa melanjutkan hubunganku dengan Hira?” Rinna tertunduk dan mengelus dada Ferdian dengan satu jari telunjuknya, entah sadar atau tidak Rinna menjelajahkan telunjuknya berkeliling di dada Ferdian hanya membuat Ferdian mengartikan jika Rinna sedang menggodanya.
“Apakah kamu sudah lupa dengan apa yang kamu katakan sendiri? Apakah rasa egoismu sudah menguasaimu? mau menelan ludahmu kembali?”
“Aku masih ingat Mas. Dan aku masih ingat juga dengan apa jawaban Mas saat itu. Bahkan tatapanmu aku juga masih ingat dengan jelas.” Ferdian manggut-manggut denga napa yang di katakan Rinna.
“Apa Mbak Hira sudah berubah fikiran?” Rinna berucap tanpa sadar.
“Berubah fikiran? Emangnya apa yang telah aku minta padanya dan apa yang telah aku ceritakan padamu hingga membuatnya berubah fikiran?” bagaikan menelan jarum, kata-kata Ferdian yang sedikit ia pertegas membuat mata Rinna memerah, menahan tangis tidak sadar dengan apa yang dikatakan menunjukkan jika ia telah menemui Hira secara diam-diam.
__ADS_1
“Oh… ini… ( Ferdian mengecup kasar leher putih Rinna yang terpampang jelas, tubuhnya hanya tertutup oleh lilitan handuk ) ini… ( Ferdian mengecup kasar hingga meninggalkan jejak merah di dada Rinna )” air mata Rinna mengalir, merasakan perlakuan Ferdian yang mencumbunya dengan terpaksa.
Rinna memundurkan tubuhnya satu Langkah kebelakang dan Ferdian menariknya hingga menabrak dadanya dengan kasar, mencium bibir Rinna dengan kasar, memperdalam ciumannya, dan semakin memperdalam. Membawa Rinna di atas tempat tidur, menjelajahkan tangannya di tubuh Rinna. Ketika handuk yang menutupi tubuh Rinna terbuka, Ferdian menghentikan aksinya. Mata Rinna sudah membengkak dan memerah, menangis tanpa suara merasakan setiap sentuhan tangan Ferdian yang terasa tanpa ketulusan.
Ferdian mengaruk kepala dengan kedua tangannya dengan kasar, melampiaskan kekesalannya. Melepar selimut yang ia tindihi ketubuh Rinna tanpa melihatnya.
“Aku tahu Mas, aku salah. Tapi bukan seperti ini maksudku, aku hanya ingin kamu membuka hatimu untuk pernikahan kita.”
“Dia menasehatiku untuk melakukan kewajibanku, memberikan hakmu. Itu kan yang kamu minta padanya? Tidak ada yang tahu denga napa yang terjadi dalam rumah tangga kita jika kamu tidak berucap!”
“Apakah itu hal yang bijaksana dari seorang wanita yang mengizinkan untuk aku masih berhubungan dengan Hira? Kamu sama saja sudah mengibarkan bendera hitam di depannya. Memberikan tanda kematian untuk perasaanku padanya.”
“Seharusnya kamu bersikap tidak peduli jika sedikitpun aku tidak menyentuhmu. Jikapun kamu mengharapkan hal itu, kamu tidak berbicara dengan seseorang yang menguasai hati dan fikiranku. Dengan seperti inikah kamu menginginkanku? Dengan menimbulkan rasa benciku?” Rinna hanya diam tanpa perlawanan sedikitpun.
Enam bulan kemudian,
Setelah kejadian sore itu, Ferdian masih belum menyentuh Rinna. Masih belum ada malam pertama dalam pernikahan mereka yang sudah berjalan setengah tahun lebih. Ferdianpun tidak pernah menghubungi Hira.
Hira sudah menyelesaikan kuliahnya, mendapat gelar dibelakang namanya. Hari-hari yang di lalui Hira setelah terakhir ketemu dengan Ferdian fokus dengan kerja dan kerja. Karena tidak ada jawaban dan melihat kefokusan Hira dalam bekerja Febrian pindah dari perusahaan A, ia mempromosikan Hira sebagai kepala Divisi dan Febrian sudah beralih ke perusahaan keluarga mengelola perusahaan Papanya.
Banyak terjadi perubahan setelah Hira menyakinkan hatinya untuk memandang masa depan. Gelombang dua perombakan Ryco dapat promosi, sekarang menduduki sebagai manager umum. Yang sebelumnya di duduki Pak Ryan. Sebelum Ryco menduduki posisinya, Pak Ryan sudah pindah kantor di luar kota.
Walaupun Ferdian masih sebagai pemegang saham di Perusahaan A, ia belum pernah bertemu lagi dengan Hira dari pertemuan setengah tahun yang lalu. Ferdian sibuk dengan urusan kantornya, semenjak Pak Agum meninggal ia menduduki posisi Pak Agum. Walaupun belum mendapat haknya, Rinna tidak takut sama sekali menyerahkan posisi kepemilikan perusahaan pada suaminya. Karena dia tahu bahwa Ferdian bukanlah orang yang serakah oleh harta. Meskipun dia belum mendapat perlakuan sebagai istri tapi ia menyadari bahwa itulah janjinya.
.
.
Semua orang menjalani hari-hari mereka dengan terus menjaga kesadaran di dalam hati apa posisi yang mereka tempati sekarang ini.
Walau bulan selalu berganti, tahun berlalu. Hira belum membuka hatinya untuk seorang laki-laki, dia sekarang sibuk dengan kerjaannya sekarang. Terakhir janji yang ia ucapkan pada Ferdian masih ia ingat hingga saat ini. Rindu masih ada, tapi selalu ia tepis dengan kata ‘ikhlaskan dia untuk bahagia walaupun tidak bersamamu’ itulah yang selalu ia katakan pada dirinya jika ada sesuatu yang membangunkan kenangannya bersama Ferdian.
Begitu juga dengan Ferdian, sesibuk apapun seberapa besar usahanya untuk mencoba melakukan kewajibannya pada istrinya. Ia selalu teringat oleh Hira, kemesraannya dengan Hira. Hingga ia sulit untuk memberikan hak istrinya. Hanya ciuman di dahi yang bisa di berikan Ferdian pada istrinya. Rinna tidak pernah mengeluh sama sekali, dia menilai perlakuan Ferdian sudah lebih baik dari pada sama sekali tidak di anggap keberadaanya.
Tanpa Ferdian sadari, kesibukannya membuatnya tidak mengetahui alasan apa yang membuat Rinna tiba-tiba mundur dari urusan kantor. Dan apa sebabnya Rinna sering keluar rumah tanpa ia tahu dimana tujuan Rinna setiap izin pergi.
Sebulan kemudian setelah Rinna yang izin pergi tapi tidak pulang-pulang ketika hari sudah larut malam. Ferdian menelephone Rinna, lama tidak terangkat. Ferdian menelephone sopir pribadi Rinna.
“Hallo, Mas Mul.”
“Iya, Pak.”
__ADS_1
“Kamu Bersama dengan Nyonya kan?” lama Mulyono tidak memberi jawaban.
“Nyonya ada dimana, tidak biasanya sampai selarut ini kan?”
“Nyonya sudah tidak kuat lagi Pak.”
“Apa maksudmu?”
“Nyonya rawat inap di Rs, Pak.” Ferdian yang masih mengenakan pakaian kantornya tanpa mandi langsung mengambil jasnya untuk segera melaju ke Rs milik keluarga mereka.
Dalam perjalanan, Ferdian terus berfikir. Betapa telah sabarnya Rinna selama ini menunggu hatinya terbuka.
“Ya Allah ampunilah hamba yang telah tidak adil kepada istriku, betapa egoisnya aku Ya Allah. Hanya mementingkan perasaanku saja. Ya Allah lindungilah istriku.” Ferdian bergunam, terus mengucapkan do’a.
Sampai di rumah sakit Ferdian memparkirkan mobilnya dengan sembarangan, sampai security menghampirinya. Dan dia berlari melemparkan kunci mobilnya pada salah satu security yang menghampirinya.
“Bagaimana keadaanya?” tanya Ferdian pada Mas Mulyono, sopir pribadi Rinna.
“Nyonya dalam keadaan kritis, Pak.”
“Maksudnya apa?”
“Tubuh nyonya sudah tidak kuat lagi untuk bertahan, sudah terlalu banyak obat yang telah dikonsumsinya. Tubuhnya sudah tidak bisa merespon lagi terhadap pengaruh obat.”
“Kenapa hal sebesar ini tidak ada yang memberitahuku?”
“Semua ini atas permintaan Nyonya, Pak. Kami hanya mengikuti apa yang diperintahkannya.” Ferdian membuang nafas kecewanya, dan sedikit berteriak mengeluarkan kekesalannya.
Ferdian memasuki ruangan, tempat Rinna terbaring penuh kabel yang terpasang. Suara pemantau jantung terdengar jelas di ruangan yang Ferdian masuki sekarang. Alat bantu pernafasan yang busam tertiup hembusan nafas Rinna, membuat Ferdian meneteskan air mata.
“Betapa butanya hatiku, sampai aku tidak tahu keadaan istriku. Bagaimana aku akan mempertanggung jawabkannya padamu Ya Allah. Atas pernikahan yang telah aku jalani ini.” Keluh Ferdian memegang tangan Rinna yang lemas tak bertenaga, matanya masih terpejam rapat.
Ferdian mengelus pipi Rinna lembut, mata yang kini masih tertutup mengeluarkan setetes air yang berlinang.
“Maafkan aku, maaf.” Kata Ferdian mengusap air mata Rinna yang mengalir.
Rinna membuka atanya perlahan, tangannya masih lemas membuka oksigen yang menutupi mulutnya.
“Sudah waktuku untuk benar-benar menghilang dari kehidupanmu Mas, tidak menghalangimu lagi untuk bersama dengan Mbak Hira. Maaf aku sudah merusak kebahagian kalian.” Kata Rinna lembut, membuat Ferdian tidak kuat untuk bernafas, terisak mendengar kata yang mungkin akan menjadi kata terakhir yang ia dengar.
Lanjut episode berikutnya ya,
__ADS_1