Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 54


__ADS_3

happy reading...


“Menurutmu pilih yang mana Dek?”


“Kalau Kak Hira pasti suka yang sederhana, nyaman untuk dipakai beraktivitas. ( Dika manggut-manggut setuju dengan pendapat Ana ) tapi karena ini untuk seorang putri manja… jadi, yang ini. Lambang kemewahan! Ukuran berapa, bilang tidak Mas?”


“Em tadi kakakmu sih bilang mungkin 14 atau malah nyuruh ngukur pakai jari tengahmu. Coba saja!”


“Bukannya tidak boleh ya dicoba-coba orang lain?”


“Huh, tidak ada larangan apapun. Siapa bilang sih? Cincin Mbak Hira juga pasti tidak dicoba-coba oleh orang lain tapi apa kenyataanya kekasihnya menikah juga dengan orang lain kan?” Ana hanya menghela nafasnya.


“Sekalian Dek, kamu pilih satu akan aku pakai untuk melamarmu setelah acara Ferdian.”


“Tidak ah! Besok-besok saja. Tega kamu Mas, suasanya lagi seperti ini. Tidak tega aku.”


“Tapi jangan berlarut-larut ya sayang, kita juga butuh masa depan yang jelas.”


“Dari kasus Kak Ferdian. Ikatan pertunangan saja tidak penting! Yang pasti dan yang penting adalah segera terlaksananya akad nikah. Benar tidak?”


“Huh… sungguh pemikiran yang cepat, okey jadi… tidak ada acara lamar-lamaran yang penting langsung menikah!” Dika bergunam, Ana memutar bola matanya.


“Sudah deal ini?” Dika mengangkat cincin yang telah dipilih oleh Ana, Ana mengangguk.


“Mbak, yang ini ya. Taruh dalam wadahnya.” Kata Dika pada pelayan toko perhiasan.


“Pakaian untuk Mama dan kamu. Sekalian seperangkat alat salat dan Al qur’an ya An,”


“Kita ke Lestari Shop saja Kak,”


“Tidak salah ajak orang, terima kasih calon istriku hobbymu ada manfaatnya juga.”


“Sama-sama calon suamiku.” Ana menatap Dika dan menyipitkan matanya.


“Huh… akhirnya selesai juga.” Hela Dika setelah apa yang perlu disiapkannya lengkap sudah.


“Sekarang tinggal menghadapi Mama mertua. Rasanya seperti aku yang telah melakukan kesalahan dan harus mempertanggung jawabkannya. Dek jantungku rasanya mau keluar.” Keluh Dika setelah sampai di depan pintu rumah Ferdian.


“Panggilkan Mama ya sayang aku akan ambil jas Kakakmu ke kamarnya.” Dika langsung naik ke atas, sudah seperti yang punya rumah sendiri sudah biasa blusukan di kamar Ferdian.


“Tante Yeti… saya ingin berbicara serius, saya harap Tante tidak terkejut dengan apa yang ingin saya sampaikan. Sebelumnya saya mohon maaf atas nama Putra Tante, Ferdian.”


“Kenapa kamu yang harus mewakili putraku untuk meminta maaf?”


“Panjang ceritanya Tante, mungkin tante belum tahu jika bertahun-tahun Ferdian menjalin kasih dengan anak Kota C dan aku tahu bagaimana anak itu. Hira namanya, sejak Mbak Hira kelas 2 SMA mereka sudah resmi menjalin kasih. Sampai sekarang, mungkin kurang 1 tahunan Mbak Hira Lulus kuliah tapi Mbak Hira sudah bekerja sedari dia lulus SMA. Ferdian sering ke sana dan sudah mengikat tali pertunangan dengan Mbak Hira. Duduk masalahnya sekarang karena ada tuntutan tersendiri, besok Ferdian harus menikahi segera Mbak Rinna. Dan sudah saya persiapkan semuanya. Ibu di Mohon menghadiri besok akadnya jam 8.”


“Kalian fikir pernikahan dan hati wanita itu mainan apa? Atau hanya sebatas bisnis bagi pengusaha?” Dika sedikit gemetar, mendengar Bu Yeti berbicara dengan nada tinggi dan mengeratkan giginya, di suasana yang sunyi karena sudah malam menambah getaran emosi Bu Yeti terasa jelas.


“Jika bisa ya tidak seperti itu Tan, harapannya. Ferdian saja sekarang dalam keadaan kacau. Bukan maksud hati membela tindakan Ferdian. Tapi aku sungguh prihatin dengan apa yang harus Ferdian pikul.”


“Apa Pak Agum mengancamnya? Atau Rinna hamil?” Dika terkejut dengan prasangka Bu Yeti, tega sekali menuduh putranya menghamili anak orang.


“Memangnya Putramu tidak tahu batasan apa? Mungkin jika sama Hira bisa jadi kelewat batas, tapi aku juga tidak yakin jika sampai hamil.” Batin Dika.


“Bukan begitu Tan, jangan menuduh Putra Tante seperti itu.”


“Aku tidak menuduh Putraku, mungkin saja Rinna telah dinodai pria lain dan anakku yang disuruh menikahinya. Aku tahu bagaimana putraku meskipun dia tidak cerita tapi Emma sudah cukup memberikan luka di hatinya, walaupun Emma dekat denganku dan aku tidak bisa tidak kasihan padanya, dia sudah aku anggap putriku sendiri. ( BU Yeti diam sejenak ) lalu bagaimana dengan Nak Hira?”

__ADS_1


“Ferdian masih belum berani menghubungi Mbak Hira, semenjak pertemuan terakhirnya. Karena mereka masih baik-baik saja.”


“Huh, ya Tuhan… Papa, ada apa dengan kehidupan putra kita?” Bu Yeti memegang kedua pelipisnya. Dika dan Ana saling menatap. Dika menyatukan alisnya, memberi isyarat pada Ana.


“Mama, aku tahu hubungan Kakak dan Kak Hira. Aku kenal dengan Kak Hira lewat telephone, dia sangat baik, dewasa, bijaksana, dia juga orang yang lembut, dan pengertian. Aku sungguh berharap dialah yang jadi kakak iparku, aku juga kaget mendapat berita ini. Ketika Mas Dika menjemputku tadi. Aku juga tidak bisa membayangkan betapa hancurnya Kakak sekarang. Ma, kita terima saja dulu apa keputusan kakak saat ini, kita beri support untuk Kakak.”


“Sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa ada masalah di perusahaan atau gimana?”


“Sekarang ini pak Agum sedang kritis di rumah sakit Tan, bahkan dua hari kemarin tidak sadarkan diri. Dan itu permintaan Pak Agum.” Bu Yeti menghembuskan nafas berat mencoba melepas kekecewaannya.


“Satu hal yang aku tahu, Rinna mengizinkan Ferdian untuk tetap melanjutkan hubungan dengan Mbak Hira.”


“Wanita gila! Dia itu seperti wanita tidak punya harga diri berkedok miliader ya?” kata Bu Yeti penuh dengan rasa jijik.


“Ma, jangan berkata seperti itu. Mama masih punya putri yang belum nikah lho?”


“Dik, tanggung jawab pada anakku. Bukankah kamu masih bujang tak laku-laku? Aku ikhlas putriku bersamamu.” Bu Yeti beraut wajah penuh dengan keseriusan.


“Siap!”dengan cepat Dika menjawab, memang itu yang ditunggu Dika. Senyuman penuh dengan kemenangan terpancar.


“Habis dapat restu Dik?” kata Bu Yeti dengan ekspresi yang berbeda.


“Lha ini dapat restu dari Tante. Hehehe.”


“Besok harus aku jemput atau… “


“Aku sama sopir saja, aku tahu kamu sibuk. Cepatlah kembali. Aku yakin pekerjaanmu pasti menunggumu. Temani putraku ya, urus dia baik-baik!”


“Baik Tan, saya permisi dulu.”


“Akan aku antar Mas Dika keluar Ma,” Bu Yeti mengangguk memberi izin.


“Emm… Tu anak ya! Mungkin mereka telah bersama, auranya sudah beda.” Bu Yeti geleng-geleng menatap punggung Dika dan putrinya.


.


.


.


“Saya terima nikah dan kawinnya Rinna Putri Mandala bin Agum Mandala Saputra dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas…. “


“Syah” serentak seisi ruangan ICU.


“Alhamdulillah.” Terdengar ucapan syukur dari semua orang yang hadir, Ferdian meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lama tak terlepaskan, terbayang wajah Hira yang sedih ketika terakhir di hotel bersamanya. Ferdian membuka telapak tangannya setelah Rinna menyentuhnya berniat bertukar cincin, merah dan basah mata Ferdian semua orang dapat menyaksikan hal itu. Ana yang melihatnya sesegukan tidak bisa menahan rasa sesak di dadanya.


“Mas,” sapa Rinna menyodorkan cincin dan jari kirinya. Bergantian bertukar cincin dan Rinna mencium punggung tanggan Ferdian. Tanpa kecupan tanpa sentuhan tangan Ferdian di kepala Rinna meninggalkan kesan kaku, tapi Rinna tidak protes sedikitpun walaupun dadanya terasa sesak.


“Mohon do’anya Pah.” Kata Rinna salim dengan Pak Agum. Pak Agum mengelus kepala Rinna yang di sanggul sederhana.


“Jaga Rinna, sekarang perusahaan adalah tanggung jawabmu penuh. Papa akan istirahat, adakanlah pesta nanti.” Kata Pak Agum ketika Ferdian salim, hanya anggukan tanpa kata dari sikap Ferdian.


“Maaf Bro,” tepukan punggung dan pelukan Febrian pada Ferdian.


Ferdian memeluk mamanya dengan linangan air mata, bukan permintaan do’a yang ia ungkapan tapi rasa sesak di dada yang ia tumpahkan.


“Maaf Ma,” Bu Yeti hanya mengelus punggung ferdian, menangkup wajah Ferdian dan mengecup kening Ferdian yang masih merunduk. Isakan tangis Letiana semakin keras.

__ADS_1


“Jangan keras-keras, apa kamu tidak malu dengan calon suamimu?” bisik Ferdian ketika memeluk adiknya, Ana memukul legan Ferdian sampai membuat Ferdian mengaduh. Dika hanya menepuk bahu Ferdian tanpa berkata apapun.


Tak lama setelah acara saling peluk dan tepuk lengan yang mengharukan sedihnya, ada suguhan makanan kecil sebagai tanda hari bahagia, bukan Dika yang mempersiapkan. Ternyata semua pesanan dari Rinna, Ferdian hanya melongo dan mempersilahkan orang yang ada untuk menikmati hidangan tapi Bu Yeti memilih untuk berpamitan. Ferdian tidak merasa memberikan intruksi untuk mengadakan acara makan-makan, baginya ini acara berkabung.


“Pak Agum, segera sembuh. Saya pamit, karena tiba-tiba ada pemberitahuan dari kantor. Maaf ya…” Pamit Bu Yeti, Pak Agum hanya mengangguk masih terbaring pucat.


“Rin, Ibu pulang… “ sebutan ibu yang digunakan Bu Yeti, seolah tamparan di hati Rinna.


“Kenapa tidak Mama seperti Mas Fer memanggilmu Ma? Apakah Mama tidak suka padaku?” Batin Rinna.


“Iya, Ma. Terima kasih. Maaf.” Kata Rinna lembut. Bu Yeti hanya mengusap lengan Rinna tanpa berkata apapun.


“Ma, aku ikut pulang.” Kata Letina dengan manja, Bu Yeti hanya mengangguk.


“Mbak aku pamit,” kata Letiana lembut.


“Iya, makasih ya An.” Ana hanya mengangguk.


Ruang inap Pak Agum sekarang terasa sepi hanya tertinggal Febrian, Rinna dan Pak Agum yang terbaring di tempat tidur. Ferdian mengantar Mama dan adiknya keluar dari ruangan.


“Fer, sarapan! Kamu tadi belum sarapan, jangan sampai kamu menyiksaku dengan pekerjaan yang makin numpuk. Okey?” Ferdian hanya mengangguk dengan peringatan Dika.


“Aku akan kembali ke kantor, salam buat mertua dan istrimu.”


“Cepat sekali kamu mengubah sebutan!”


“Nanti kamu akan terbiasa. Aku pergi, cepat kembali mulai sekarang mau atau tidak kamu harus menjaga perasaan orang yang sekarang ada di sisimu.”


“Aku telah menghancurkan perasaan orang yang paling aku kasihi apakah aku masih bisa menjaga perasaan orang yang sekarang ada di sisiku? Sungguh aku tidak sanggup.” Batin Ferdian.


“Mas, sarapan.” Rinna menyodorkan sepiring menu yang komplit walau tidak dalam porsi yang banyak. Ferdian hanya memaksakan seyuman menerima piring yang diberikan Rinna.


“Makan Feb,” tawar Ferdian pada Febrian, merasa selalu diamati.


“Oh, silahkan aku sudah. Saat kamu di luar tadi. Oya Rin, Fer, aku mau balik ke Kota C. Kerjaanku sudah nunggu. Sore ini aku go ya?” Rinna hanya manggut.


“Paman, aku akan sering-sering menjengukmu. Maaf aku akan balik sore ini, cepat sembuh. Aku sudah tidak sabar main golf bersama paman lagi.” Pak Agum hanya mengangguk. Dan menepuk bahu Febrian.


Setelah kepergian Febrian, suasana menjadi canggung untuk Ferdian. Semua kerusuhan yang ada di ruangan sudah bersih semua seperti semula semakin tambah menyekam terasa di dada Ferdian.


“Mas, balik saja kantor tidak apa-apa.” Kata Rinna setelah mendengar hembusan nafas Ferdian, terlihat Rinna sudah menganti pakaiannya.


“Sebenarnya hari ini ada meeting, apa tidak apa-apa kamu sendirian.” Rinna hanya menggeleng.


“Atau kamu mau panggil temanmu dulu atau Bik Siti saja?” tawar Ferdian, Rinna menatap mata Ferdian dengan sendu.


“Jangan khawatir, tidak apa.”


“Kita pulang saja,” kata Pak Agum menyela, setelah mendengar pembicaraan putri dan menantunya.


“Jangan seperti itu Pah, nunggu Papa benar-benar sembuh dulu. Kasihan dokter Beni nanti jika Papa minta pulang, harus bolak-balik cek keadaan Papa. Okey? Sabar dulu.” Bujuk Rinna, mendekati tempat tidur Pak Agum.


“Kasihan kalian akan repot.”


“Tidak apa-apa Pak.” Jawab Ferdian.


“Pah,” Pak Agum membenarkan. Ferdian hanya mengangguk dan memaksakan senyumannya.

__ADS_1


Ketemu Hira di episode berikutnya ya,


__ADS_2