Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 9


__ADS_3

Semangat pagi yang cerah bagi dua sejoli yang telah mengobati rindu. Kini terasa terbentang jarak kembali.


“ Akhirnya sampai kantor juga, jalanan pagi ini sangat padat." Hira berbicara sendiri ketika sampai di halaman kantornya, sambil memijit tumitnya karena merasa lelah jalan kaki, busnya berhenti terlalu jauh.


 


“Ra, tumben agak telat” kata Ryco berbau aura usil.


 


“Telat hanya 5 menit, jalanan macet!” jawabku ketus, sambil mengatur mental.


 


“Oh...jalanan yang macet atau hati yang lagi macet?” suara Ryco sengaja dipelankan dan agak berbisik.


 


“ Jangan usil Co, masih pagi!” tegur Mbak Tari. Lalu Mbak Tari mendekatkan kursinya dan berbisik padaku.


 


“Apakah terjadi sesuatu? Pak Ryan belum datang. Tumben kan jam segini dia belum datang ? Ada apa Ra?”


 


“Seperti yang kalian duga waktu itu tapi aku tak menjawab Mbak, Pak Div juga belum selesai ngomong. Mas Fer nelphone aku” jawabku perlahan.


 


“ Tu...kan, apa aku bilang. Aku juga cowok Ra, kamu aja yang gak peka!” Ryco tiba-tiba nyambung dari mejanya padahal aku sudah mengurangi volumeku hampir seperti berbisik.


 


“ Trus- trus, emangnya kenapa kok gak dilanjutin. Gak mungkin tergagap kan? Atau dia tiba- tiba sakit perut dan ke toilet?”  Mbak Tari semakin penasaran. Karena dia tahu Pak Divisi ternyata sudah lama suka padaku.


 


“ Ngak, aku yang segera pamit pergi Mbak dan sekalian izin padanya untuk gak masuk kemarin, Mas Fer telephone dan jemput aku di sana. Aku diajak jalan- jalan. Aku panik banget. Bingung harus bilang apa ke dia. Bilang sudah punya akan menyakitinya, bilang mau konsen kuliah sama kerja aja dulu, nanti memberikannya harapan!"


 


“Oh...ternyata ada yang habis bulan madu?” goda Mbak Tari yang fokus pada kata-kataku jalan sama Mas Ferdian.


 


“Nikah aja belum, jangan bilang gitu Mbak, entar malah ada yang su’udzon sama aku. Dikira beneran lagi. Kena stempel  ‘sok aliem'  apalagi jika orang-orang pada tahu Mas Fer....dikira aku jual diri pada bos-bos."


 


“Santai Ra, masih pagi jangan berfikir terlalu jauh. Iya kan Co?” kata Mbak Tari minta dukungan.


 


“Hai...buka web kalian coba. Ada pengumuman perubahan posisi tuh!” seru Ryco membuatku kaget, aku dan Mbak Tari telah keasyikan ngobrol.


 


“Ra, Pak Ryan Pindah Divisi. Pindah lantai atas Ra." kata Mbak Tari yang lebih dulu buka komputer.


 


“Wah Ra, benar-benar patah hati tu orang!“ gunam Ryco seolah memahami hati Pak Divisi.


“ Sakitnya tu di sini...” Ryco bernyanyi tak jelas, menyindirku.


“Wah, dampak sakit hati beneran ini Ra, “ kata Mbak Tari.


“ Aku dah tahu dari dulu Ri, jika dia itu suka sama Hira. Aku sudah lama dengar, dia sebenarnya dipromosikan naik jabatan. Tapi dia menunda.” kata Ryco.


 


“ Posisi Pak Ryan masih kosong. Mungkin bener ya dia maju mendadak karena takut canggung ketemu kamu Ra atau malah dia ingin lebih wow agar kamu mau meliriknya.” kata Mbak Tari seperti berharap ada pencerahan untuk Kepala Divisi baru.


“Alasan yang masuk akal Ri, soal posisi paling juga entar ada pengganti sementara, semoga gak penggila kerja. Ya kan Ri?” kata Ryco bertanya pada Mbak Tari.


“Iya Co, agak capek aku dengan cara kerja Pak Ryan. Tapi untung masih asyik, jadi gak buat kita gila. Dan aku masih bisa kencan. Diam- diam ada yang aman, iya kan Ra? Gak jadi terjepit suasana canggung!" curhat Mbak Tari yang masih bisa sempat menyindirku.

__ADS_1


“Mbak Tari bisa aja, meskipun bingung harus bagaimana aku mencairkan suasana. Tapi aku merasa kehilangan kali, Pak Div yang toleran banget. Aku bisa jadi seperti sekarang karena dia yang banyak memberikan toleran.” kataku ada penyesalan di dalamnya.


 


“ Emangnya kami gak berperan apa Ra? Iya kan Ri?” protes Ryco seperti tak masuk daftar nominasi.


“ Ya iya lah...pasti. Makasih, makasih banget atas pengertiannya. Kalian the best pokoknya. Jadi teringat betapa culunnya aku dulu, berkat kamu Mbak, aku jadi modis sekarang. Dan juga berkat ocehanmu tiap hari Co, aku jadi lebih tahan banting. Makasih juga sudah dirawat selama ini sudah dijaga selama in..." kata-kataku terhenti karena disela Mbak Tari.


 


“ Sudah Ra, panjang amat pidatonya. Kamu mewakili Pak Ryan apa? Dia yang pindah, kamu yang pidato di sini. Diam-diam jadi sehati ya? Sebenarnya kalian cocok sih," kata Mbak Tari menyetop ucapanku yang mulai terharu.


“ Sudah Mbak, Mbak malah nyariin bahan untuk Ryco mencecarku." kataku sambil melirik Ryco yang sibuk melanjutkan laporan kemarin.


 


“Hi...hi...hi... Napa Ra?” sahut Ryco yang masih sibuk.


“ Takut nyaman dan jadi kenyataan?“ sambungnya lagi.


 


“Stop Co, dia diam-diam sudah punya lho...dalam banget malah! Ups, maaf Ra keceplosan” mulut Mbak Tari bocor.


 


“O..o....aku kurang peka ya... atau selama ini kurang baik kah aku jadi kakakmu Ra?” protes Ryco karena tak terima, tak dianggap di antara bertiga.


 


“Bukan gitu Co, canggung aja cerita gitu-gitu...”


“ Gitu-gitu apa? Kamu masih perawan kan Ra?” candaan Ryco yang buat aku agak tersinggung.


 


“ Mbak Tari, Ryco nih!" aku bergelayut manja pada Mbak Tari meminta perlindungan dari bulian Ryco yang sengaja menghentikan kerjaannya, hanya untuk membuliku.


“ Omongan Ryco aja kau gubris Ra, kami tahu kok...kamu anak yang tahu batasan. Kami menyaksikan perjuanganmu dari awal kerja disini. Kami tahu gimana watakmu. Seterjepit apapun kamu, kamu tetap berfikir bijaksana." sahut Mbak Tari dengan wajah bangga terhadapku.


 


 “ He...he...maaf Bang, “


“ Saat ingat pembalut aja kau panggil aku Bang! Tiap hari kau tak sopan padaku, Co...Co...membuat telingaku gatal!”


“ Iya..iya...maaf Bang Ryco, yang ganteng!" manjaku merasa ber terima kasih ingat pembalut.


 


“ Gak usah kasih embel-embel belakang, mau buat aku jadi jomblo kamu ya!" kata Ryco dengan tegas.


 


“Pacarmu protektif ya Co?” tanya Mbak Tari. Yang tak pernah diperkenalkan dengan pacar Ryco.


 


“Mbak Tari aja ngak tahu! apalagi aku?" sahutku.


 


Begitu serunya kami berbincang sambil mengerjakan proyek baru, yang baru turun kemarin, tanpa ada Pak Komando karena ruangan Kepala Divisi masih kosong. Kami tetap mengerjakannya sesuai arahan kemarin.


 


+62..657.....


Calling,


 


Kupandang agak lama nomer yang tertera di layarku, tapi masih juga belum dimatikan sambungannya. Karena tidak tahan melihatnya, jadi aku angkat.


“ Iya hallo...” dengan lembut aku menjawab tanpa salam karena takut tak seiman.


 

__ADS_1


“ Assallamuallaikum Kak,” terdengar familiar di telingaku.


 


“ Waalaikumsalam, dengan siapa ya?” jawabku ragu.


 


“Aku Kak, Kakak lupa dengan suaraku?” masih saja dia mengujiku tapi aku berfikir sejenak, mungkin saja Letiana.


 


“Adiknya Mas Fer, ya? “


 


“ Iya Kak, Kak Fer pelit banget, bahagia ngak bagi-bagi!"


“Letiana, nama kamu 'kan? Harus panggil apa nih?"


 


“ Ana aja kayak yang lain. Kak, aku ngak mau panggil Mbak, Kak aja biar sama kayak panggil Kak Ferdian. Biar bener-bener jadi Kakak iparku” kata-kata Letiana sama sekali tak pernah terlintas di fikiranku.


 


“ Bagiku tak masalah kamu mengembel-embeli namaku dengan apa An, yang penting kita rukun. Yakin aku jadi Kakak Iparmu? Entar proposal ditolak gimana!”


 


“ Aku yakin langsung acc, Kak. Kakak sudah bisa mengoyahkan orang yang bertapa. Berarti Kak Hira, orang yang paling special. Kak Fer memiliki hak penuh kok Kak di dalam keluarga. Walaupun Kak Fer tidak kerja di Perusahaan sendiri, walaupun Ibu yang berkuasa penuh. Tapi hal itu tidak berpengaruh pada Kak Fer dalam menentukan pilihan Nyonya-nya."


 


Perkataan Letiana membuatku berangan-angan segera jadi bagian dari keluarganya. Tiba-tiba, Ryco mengetuk mejaku, membangunkan lamunanku yang terhanyut dengan omongan Letiana yang masih berbincang karena masih tersambung.


 


“ Heh, bengong!" Ryco yang membuatku kaget.


"Boss baru kita datang tuh, tampan Ra, hati-hati ngiler!” peringatan dari Ryco yang habis keluar dari ruangan mampir di mejaku hanya membuatku kaget. Yang kemungkinan didengar oleh Letiana.


 


“Bercanda aja! Masuk jam segini? Kenapa gak besok saja? Ganteng gak penting yang penting...bisa asyik diajak kerja sama Co. Iya kan Mbak?” aku mengajak Mbak Tari ikut andil dalam percakapan. Aku menjauhkan handphoneku yang masih tersambung dengan Letiana.


 


“ Betul banget Ra, tapi kalau ganteng juga gak apa-apa. Bisa mengobati lelah." sahut Mbak Tari berbinar-binar seperti ada pencerahan.


“ Ayo Ra, kita babat habis yang ini, tak tahu kan jika entar berkas disuruh cepat naik."


“ Iya Mbak, beres. Moga gak diajak lembur ya?"


“ Amien." Ryco dengan cepat mengaminkan. Karena aku denger dia tadi sudah janjian mau kencan.


Tak sadar aku masih telephonan sama Letiana.


“ Eh, An. Udahan dulu ya, aku sibuk nih. Nanti disambung lagi, Assalamualaikum” aku menutup obrolanku dengan Letiana.


 


" Boss baru, peraturan baru. Gimana ini nasib kuliahku?” gerutuku karena kemarin saat Mas Ferdian menyuruhku memilih. Aku memilih kerja di Perusahaan. Sudah lama aku kerja disini. Dan aku nyaman banget apalagi selama ini ada Ryco dan Mbak Tari, yang sudah seperti Ibu dan Ayahku. Ngemong banget. Pengabdian sudah lama tinggal nunggu gelar, bisa naik jabatan kalau ada promosi. Kalau ditinggal sayang, jadi aku melepaskan ngajar privateku, sebenarnya aku suka, dan lumayan gajinya, aku juga tidak terbebani dengan tuntutan waktu. Kalau Mas Ferdian dengar aku lembur-lembur, bisa panas nih telinga..dapat tausyiah.


 


.


.


.


.


Mohon dukungannya ya... 😘


Terimakasih....🙏🙏

__ADS_1


 


__ADS_2