
Hira dan Ferdian menempuh jarak yang begitu jauh, Hira hanya geleng-geleng kepala karena merasa tertipu telah di bohongi.
“Kenapa Mas tadi tidak langsung bicara saja padaku? Membuatku bicara ngalor-ngidul tanpa faedah.” Hira bergunam jengkel pada Ferdian, menatap pemandangan luar jendela mobil, mengabsen setiap pohon yang telah dilalui sepanjang jalan.
“Ada faedahnya sayang, Mas jadi tahu kalau Adek ini orangnya care sekali dengan teman. Jadi Mas tidak perlu merasa salah paham padamu ke depannya ketika kalian ngumpul bareng. Tidak perlu ada rasa khawatir dan curiga.” Hira hanya menghela nafas mendengar penjelasan Ferdian.
“Sudah ya, jangan diperpanjang lagi ngambeknya. Nanti cantiknya hilang.” Ferdian melirik wajah Hira yang masih terlihat manyun.
Ferdian menyetir dengan tenang tanpa mendengar suara Hira sepatah katapun. Sampai di Kota C pun, Hira masih terdiam. Mereka sampai di kota C jam enam sore, karena jalanan macet mereka harus tiba satu jam lebih lambat dari perkiraan.
“Kita ke mana Mas?” Pertanyaan Hira lolos dari bibirnya, seketika melewati jalur masuk perbatasan perkotaan.
“Temani Mas chek in dulu, nanti Mas antar kamu pulang. Mas Tidak mungkin langsung putar balik ke kota A kan?” Hira hanya diam, Ferdian menginap di Hotel.
.
.
“Mandi, kita jama’ah magrib sekalian nunggu isya. Jangan lama-lama nanti keburu waktunya habis.” Tanpa menjawab Hira masuk kamar mandi. Kamar hotel yang sama setiap Ferdian Chek in seolah kamar dengan nomer 1410, khusus telah di booking selamanya olehnya.
“Masih komplit tanpa terganti, shampo Mas Ferdian, Handuk yang wanginya sama dengan parfum Mas Ferdian.” Batin Hira mengabsen setiap barang yang ada di kamar mandi, Hira baru menyadari jika setiap chek in di Hotel Bugos selalu menempati kamar dengan nomer yang sama.
Hira keluar kamar mandi sudah rapi dengan kerudung yang menutupi mahkotanya, walaupun tanpa make up wajahnya sudah terlihat lebih segar dan tetap terlihat cantik. Hira menunggu Ferdian membersihkan tubuhnya yang setengah hari berkeringat tegang mengarungi jalan raya.
Dret…dret… handphone Ferdian bergetar di atas meja, membuat Hira melihat nama yang tertera di layar pipih bercahaya terang. Hira menghembuskan nafas karena rasa sesak yang tiba-tiba terasa di dadanya. Tak lama layar pipih meredup, bergetar lagi. Membuat hira penasaran dan membuatnya mendekat melihat nama Dika tertera di layar. Ketika pintu kamar mandi terbuka cahaya layar pipih telah meredup kembali pertanda panggilan sudah diakhiri.
“Kok sajadahnya belum disiapkan, kenapa sayang?” Hira hanya menggeleng menahan rasa sakit di dadanya dan fikiran Hira penuh dengan tanda tanya. Hira melangkah mengambil sajadah.
“Mas, tadi handphone Mas berbunyi terus, mungkin ada yang penting. Coba telephone balik dulu, aku akan mengaji dulu dan menungggumu.” Kata Hira setelah memanjatkan do’a selesai salat.
“Mungkin Dika karena aku belum menghubunginya kembali.”
“Dicoba dilihat dulu, mungkin saja penting. Dari tadi bunyi tak henti-henti.” Kata Hira dengan lembut.
“Apakah ada sesuatu diluar dugaan yang terjadi di sana ya?” batin Ferdian terlihat risau terpampang jelas diwajahnya, masih di hadapan Hira. Membuat Hira semakin merasakan sakit di dadanya.
“Ya Allah janganlah Engkau uji diriku melebihi batas kemampuanku Ya Allah.” Rintihan Hira di dalam hati.
Ferdian berdiri dari duduknya, menggapai handphone yang masih terletak sama tidak bergeser sedikitpun sebelum dia melangkah meninggalkannya ke kamar mandi. Ferdian melangkah menuju balkon masih menggunakan sarung menjauh dari Hira yang sedang mengaji.
“Rinna menelphone, Dika juga iya. Memangnya ada kejadian apakah hingga mereka menelephone berulang kali?” gunam Ferdian menatap layar handphonenya.
Calling…
Dika
“Fer, kamu di mana?” Dika bertanya tanpa menunggu sapaan dari sang penelephone.
“Aku masih di Kota C, aku menginap malam ini.”
“Aku sudah cerita tadi pagi denganmu Fer, jika…. “
“Iya aku mengingatnya, lalu apakah ada perubahan dengan kondisi Pak Agum?”
“Pak Agum masih di ICU. Rinna benar-benar butuh dukunganmu Fer, kali ini toleransilah sekali lagi Fer. Aku sungguh tidak tega melihatnya seperti itu tadi. Aku bahkan baru pulang, sekarang dia di temani oleh saudaranya. Siapa itu namanya ya… “Dika mencoba mengingatnya. Ferdian menunggu Dika menyelesaikan perkataanya, dia tidak ingin gegabah dalam bertindak.
Flashback
“Hallo Rin, bagaimana keadaan Paman?”
“Papa masih di dalam, dokter belum bisa memastikan keadaan Papa Kak,” Rinna menagis penuh dengan isakan. Febrian memeluknya dengan erat menepuk punggung Rinna agar bersabar.
“Aku belum sanggup jika sampai Papa pergi. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.”
__ADS_1
“Sutt, jangan bilang seperti itu Rin, Paman pasti baik-baik saja.” Febrian mencoba menenangkan.
“Kalau tidak karena aku tahu Ferdian tidak di sisimu, aku mungkin tidak sampai di sini Rin, maaf aku bukan saudara yang baik untukmu.” Batin Febrian penuh sesal karena baru menyadari kalau selama ini dia tidak pernah ada di samping saudara sepupunya yang semata wayang dan sudah tidak memiliki Ibu di sisinya.
“Oya, Kak. Kenalkan ini Dika.” Rinna melepaskan pelukan Febrian dan memanggil Dika agar mendekat. Dika mengulurkan tangannya menunggu Febrian menjabat tangannya.
“Dik, ini Kakak sepupuku.” Febrian membalas uluran tangan Dika, menjabatnya.
“Aku Febrian, terima kasih telah menemani adikku.” Febrian memeluk Rinna dari samping.
“Siapa Dika, Rin? Apakah dia kekasihmu?” Febrian melirik Rinna yang masih di sampingnya dan menatap Dika yang berdiri dengan tenang sengaja mencairkan suasana.
“Em.. ( Rinna mencubit pinggang Febrian sampai Febrian mengaduh ) Dika itu asistennya Mas Ferdian.”
“O…. “ Febrian hanya menjawab dengan o membuat Dika mengerutkan dahinya, hingga menyatukan kedua alisnya.
“Berhubung Mbak Rinna sudah ada yang menemani, kalau begitu aku mau pamit dulu Mbak,”
“Ok, terima kasih ya Dik,”
“Iya Mbak,”
Flashback off.
“Oya Fer aku ingat. Namanya Febrian, dia baru sampai barusan. Setelah ada saudaranya aku baru tega meninggalkannya.”
“Syukurlah jika seperti itu, aku akan kembali besok. Handle dulu urusan kantor. Mungkin agak siang aku sampai. Antisipasi jika terjadi macet.”
“Okey lah… terserah kamu saja, pusing aku memikirkan masalahmu. Kalau sudah cinta sekoyong-konyong koder susah untuk di umpani kata seperti apapun. Tapi aku yakin dia menngharapkan kedatanganmu Fer.” Keluh Dika.
“Seperti yang ngomong tidak! Apapun akan di lakukan. Iya kan?”
“Aku berharap kamu segera tiba di sini, aku rasa itu lebih baik. Aku takut aku tidak bisa menghadapi urusan kantor sendirian.”
“Kenapa? Apa kalian bertengkar?”
“Tidak, hanya sedikit ngambek saja.”
“Aku berharap semuanya akan baik-baik saja, baik itu di sini ataupun di sana.”
“Terima kasih, Rinna tadi menelephoneku tapi aku tidak akan menelephonenya balik. Aku akan langsung menemuinya besok, jika dia bertanya padamu bilang saja aku akan kembali besok.”
“O, mungkin saat aku tadi masih di sana. Aku tadi memang sempat melihatnya menelephone, mungkin saja dia tidak enak hati karena merasa aku tidak tega meninggalkannya sendirian."
"Okey lah... Terserah kamu lah Fer, bagaimana kamu menyikapi, kamu pasti lebih tahu dari pada aku. Tidak perlu sungkan Fer denganku, biasa saja…. “ imbuh Dika.
"Apa?"
“Seperti biasanya saja, kamu berikan aku kerjaan yang membuatku sampai tidak bisa tidur… akan ku buat adikmu menemaniku juga, hehehe” gunaman Dika yang masih terdengar Ferdian.
“Jangan macam-macam dengan Ana, kamu ya?”
“Kebetulan, jika aku macam-macam dengannya cepat di nikahkan bukan?” Ferdian tersenyum bahagia mendengar sahabatnya yang kegirangan penuh dengan semangat.
“Mas, sebahagia itukah kamu bertelephonan?” Hira melirik Ferdian yang terlihat dari sisi samping senyuman Ferdian begitu bahagia, masih bersipuh memegang Al Qur’an di tangannya, belum mengakhiri bacaan surah yang masih terbuka.
“Ada-ada saja kamu Dik, tapi serius jangan macam-macam dengan adikku. Biarkan dia tetap imut, jangan kamu kotori juga fikirannya.”
“Dia sudah dewasa Fer, jangan terlalu kamu memanjakannya nanti aku yang jadi pusing!”
“Kenapa, apa kamu... Atau mau nyerah saja?”
“Oh, no! Adikmu akan tetap jadi istriku yang imut nanti.” jawaban penuh dengan percaya diri dari Dika. Terdengar suara adzan isya.
__ADS_1
“Iya iya. Sudah isya, besok kita sambung. Makmumku masih menungguku, bye…”
“Uh… asyiknya, yang sudah ditunggu makmum. Baiklah Pak Imam, kita lanjut besok.” Ferdian mematikan sambungan telephone setelah salam yang diucapkan. Ia melangkah meninggalkan balkon.
“Sayang, tunggu Mas ya? Mas akan wudlu dulu.”
“Em…” Ferdian tersenyum, jawaban Hira terdengar imut di telinga Ferdian.
“Kenapa tersenyum, Mas? Apakah ada yang lucu? Tidak kah kamu melihat aku yang sedang jengkel terlukis di mukaku. Atau kamu suka, bahagia melihat aku jengkel?” batin Hira cemberut, menundukkan mukanya memeluk kakinya menunggu Ferdian keluar kamar mandi.
Selesai salam dan memanjatkan do’a, Ferdian menoleh bersila menghadap tepat di depan Hira yang masih menegadahkan kedua tangannya memohon penuh harap terlukis di wajahnya.
“Sayang, tadi Mas telephone Dika.” Hira masih menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya setelah meraupkan kedua telapak tangannya seusai memanjatkan do’a. Hira hanya menganggukkan kepala, belum membuka tangan yang menutupi mukanya. Ferdian memegang kedua pergelangan tangan Hira agar terlepas, membuka tangannya.
“Sayang…. “ Hira masih mengeratkan, menahan dengan sekuat tenaga agar tanganya tak terlepas dari mukanya. Ferdian menghela nafasnya.
“Sayang…. Mas serius, Mas telephonan dengan Dika. Lihat handphone Mas, jika memang itu yang jadi masalahnya. Atau masih dengan topik yang sama karena tadi pagi?” Ferdian berkata dengan lembut, mulai terdengar isakkan Hira yang dalam, seolah tidak kuat menahan sesak di dada.
“Jika kamu seperti ini, Mas tidak akan memulangkanmu. Nanti apa yang akan Mas katakan pada Bapak dan Ibu?” Hira membuka telapak tangan yang telah menutupi mukanya.
“Tu kan jadi merah semua wajahnya, tu sudah mulai bengkak pelupuk matamu. ( Ferdian mengelus pelupuk mata Hira dengan ibu jarinya, kedua tangannya menangkup wajah Hira ) Nanti Bapak dan Ibu akan berfikir apa, jika melihatmu pulang seperti ini denganku.” Hira mencoba menahan isak tangisnya agar tidak terdengar semakin keras.
“Apa yang kamu tangisi? Apakah Mas punya salah denganmu? Jika memang Mas yang bersalah, Mas minta maaf, tapi jangan pernah kamu meneteskan air matamu” Ferdian membawa Hira dalam pelukannya. Ferdian menunggu Hira tenang. Masih memeluk Hira dengan erat, sesekali mengecup ujung kepala Hira yang masih tertutup mukena.
“Sepertinya aku tidak bisa balik pagi-pagi.” Batin Ferdian.
Ferdian mengambil handphonenya yang dia letakkan di atas tempat tidur bisa digapai tanpa beranjak dari tempatnya yang masih memeluk Hira.
“Assalamuallaikum Bu,”
“…. “
“Maaf Bu, Dek Hiranya tidak pulang malam ini.”
Hira mencoba melebarkan pendengarannya siapa Ibu-ibu yang Ferdian telephone, mencermati setiap kata-kata lembut yang Ferdian ucapkan.
“…. “
“…. “
“Maaf ya Bu.”
“…. “
“Iya…iya… Bu, beres. Akan aku kembalikan Dek Hira dengan selamat, tanpa lecet sedikitpun. Tapi pipi dan dahinya mungkin ternoda dengan bibirku. Hehehe”
“…. “
“Iya…iya…Bu, selamat malam juga. Sekali lagi maaf dan terima kasih.”
“…. “
“Waalaikumsalam wr wb”
Sampai ucapan yang terakhir setelah Hira menduga bahwa Ferdian menelephone Ibunya Hira, Hira masih mencoba meredakan isak tangisnya dan masih dalam pelukan erat Ferdian.
bersambung...
semoga kita semua selalu dalam kesehatan,
jangan lupa like, koment dan vote ya...
terima kasih....🙏🙏🙏
__ADS_1