Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 23


__ADS_3

happy reading....


Ternyata jauh-jauh kami berputar tak langsung menuju gubukku, Mas Ferdian mengambil cincin yang dilingkarkan di jariku dan gelang emas berbentuk jam tangan yang dipakaikan di pergelanganku. Komplit  sudah rantainya hingga terasa tak nyaman aku pakai, karna berat timbangan dan nilai rupiahnya.


” Semoga tak hanya aku yang terikat tapi dia juga ingat telah mengikatku. Tak hanya aku yang tak bisa dilirik tapi semoga dia juga tak akan pernah melirik” rapalku pagi hari ini ketika menggeliat masih di atas empuk-empuk.


Terasa ringannya hatiku pagi ini, aku menyambut hari beratku. Pekerjaan hari ini pasti sudah tertata rapi menumpuk di atas mejaku. Aku sarapan di rumah karna hari ini Ibu sudah menyiapkan sarapan untukku. Ternyata kebahagiaan di hati bisa membuat semangat berubah berbeda.


Ada bunyi ketukan pintu, ketika aku mendekati. Sudah berdiri tegap berpakaian rapi, seseorang yang aku harapkan menjadi imam dalam sholatku membelakangi pintu. Aku terlalu lama tak bergerak cepat membukakan pintu.


“Assalamuallaikum nyonya Aditama," Mas Ferdian yang segera berbalik ketika terdengar langkah kakiku melangkah keluar.


“ Waalaikumsalam calon imamku, kok pagi-pagi sudah di sini. Katanya banyak pekerjaan?"


“ Sekali-kali pengen jemput calon istriku, mengantarkannya ke kantor. Gak ada salahnya kan?”


“ Mas mau sarapan dulu?”


“ Kamu dah selesai sarapan belum? ( belum aku membuka bibirku untuk menjawab) siap pergi belum?” pertanyaan dijawab dengan pertanyaan.


“ Sudah selesai sih.”


“ Kita berangkat aja yuk,”


“ Baiklah, aku ambil tas dulu." aku masuk rumah dan mengambil tas, Mas Ferdian masih di luar tanpa masuk. Ibuk keluar dan menyapanya. Menyuruhnya masuk,


“ Saya tergesa-gesa Bu, ada urusan” jawab Mas Ferdian yang terdengar dari kamarku. Aku sedikit mempertebal warna yang menyapu bibirku, yang sudah menghilang terkena gorengan yang aku makan.


“ Ayo Mas, aku siap ( Mas Ferdian beranjak dari kursi yang ada di teras )" Mas Ferdian menyambut tanganku dalam genggamannya.


“ Pak Boss kalau berangkat sepagi ini ya?" terlihat di pergelangan tanganku, jarum jam menunjukkan jam 06.05.


“ Mas mau cek pekerjaan Mas, nanti ada meeting jam 07.30. Semalam Mas pulang langsung meluncur ke dalam mimpi. Tak sempat cek file” kata Mas Ferdian.


“ Maaf," lirihku.


“ Tak apa-apa sayang, mungkin memang Allah ngaturnya kayak gitu. Kita jalani aja, yang penting kita sebagai manusia berusaha sebaik mungkin. Mas bahagia.”


“ Hemm.” aku mengangguk-anggukan kepalaku, Mas Ferdian mengusap-usap kepalaku yang tertutup kerudung.


 


Aku membuka pintu mobil dan menapakkan kakiku di bumi, terdengar juga Mas Ferdian membuka pintunya. Aku terpelonggo, “ Mau ngapain katanya tergesa-gesa” batinku menolehkan kepalaku dan memandanginya yang menuju ke arahku.


“ Ngapain Mas, katanya Mas lagi tergesa-gesa. Mau cek file untuk meeting?”


“ Iya, tapi bentar lagi!” Mas Ferdian menggandeng tanganku menuju masuk pintu perusahaan.


“ Udah sampai sini aja, “kataku, berusaha menghentikannya agar segera pergi.


“ Akan aku antar sampai pintu ruanganmu” aku hanya menggeleng.

__ADS_1


Sampai di depan pintu ruanganku yang transparan. Mas Ferdian mengecup dahiku lama, tanganku sudah anteng di pinggangnya. Terasa jika terlalu lama, aku memperingatkannya "Udah Mas, cepetan pergi. Gak enak, dilihatin orang”.


“ Masih pagi gak ada yang lihat” Mas Ferdian tambah mengecup bibirku singkat, tangannya menangkup wajahku dengan kencang hingga membuatku sulit bicara, dia memandang wajahku tanpa jarak dengan rasa gregetan.


“ Nanti kalau Mas sudah selesai dengan urusan Mas, Mas akan kabari kamu.”


“ Heem” aku mengangguk.


Aku mendorong pintu masuk ruangan dan Mas Ferdian berbalik. Aku melihat langkahnya tidak menuju jalan keluar. Malah menuju arah kantor para petinggi bertempat. Fikiranku bergelut “Ada urusan apa gitu.” Aku berbalik terlihat Mbak Tari dan Bang Ryco dah anteng di tempatnya.


“ Astaga, ( aku memegang dadaku ) pagi sekali kalian!”


“ Mesranya."  kata Mbak Tari.


“ Yang lain gak punya mata Ri, pada gak bisa lihat! yang ada dunia milik kita berdua” timpal Bang Ryco penuh dengan nada sindiran.


“Ra, kamu gak dapat email gitu dari Pak Febrian” tanya Mbak Tari tanpa melihatku yang melewatinya untuk duduk di kursiku. memecahkan suasana pembulian menjadi aura serius. Menghilangkan rona malu di wajahku.


" Terima kasih, Mbak." batinku.


“ Tidak Mbak, “jawabku pada Mbak Tari.


“ Kamu itu tanyanya pada orang yang salah Ri!” kata Bang Ryco mendendam. Mulai topik pembulian lagi.


“ Maksudnya?” Mbak Tari yang kurang connect.


“ Ya iya lah gak dapat email! Lha wong Pak Febrian ada care sama tu orang ( mata Bang Ryco mengarah padaku sambil memanyunkan bibirnya menunjukku ) kok mbok tanya! Menjaga fikiran Si Do'i tetap slow biar hatinya mellow” Mbak Tari menepuk jidatnya mendengar ocehan Ryco.


“ Nyata dong! Oya Ri, kita harus terbiasa menderita sendirian.” aku meninju lengan bang Ryco gemas, karna terus membuliku.


" Emangnya kemarin masih kurang membuat memar lenganku? Laki wanitanya sama saja!" oceh Bang Ryco bocor. Aku berusaha ingin memukulnya, tapi Bang Ryco selalu menghindar dari sasaranku.


“ Ra, numpuk Ra kerajaanmu. Siap-siap gak pulang ya kamu. Oya, nanti jam 07.30  siap ada meeting. Jangan kamu meladeni Si Ryco! Berantakan ini nanti, pekerjaanmu."


“Kok sama dengan yang dikatakan Mas Ferdian tadi ya,”  batinku mendengar info dari Mbak Tari.


“ Print file ini aja dulu Ra, siapin buat Pak Febrian untuk masuk ke ruang meeting. Cek dulu ya.”


“ Ok Mbak, beres. Makasih Mbak”


“ Untuk Abang mana makasihnya Dek, penghargaan tutup mulut!"


“ Iya Abang, makasih double. Jangan sampai bocor tu mulut!” kataku pelan agar tak terdengar Mbak Tari.


“ Kalau dah tahu gitu jangan sungkan sama aku,” bisik Bang Ryco yang mendekatkan kursinya padaku. Sambil mengedipkan sebelah matanya mengisyaratkan dia memegang kelemahanku.


+62827..........


Tak percayakan kamu denganku? Tunggu saja kebenarannya, hanya akan tinggal penyesalan di hatimu.


Chat yang masuk, telah dilirik oleh Bang Ryco. Karna handphoneku terletak di meja, tepat di hadapannya dekat dengan tangannya. Hatiku terasa sakit walaupun hanya terlihat sekilas. Walaupun hanya tertera nomer tanpa nama di dalam notif, tapi aku tahu siapa itu. Bang Ryco yang melihat perubahan raut mukaku, memperdekatkan wajahnya untuk menatapku. Mungkin dia sudah membaca sebagian isi chat di notif.

__ADS_1


“ Ra, siapa memangnya. Belum juga kamu buka, wajahmu yang murung ini melukiskan suasana hatimu yang nampak begitu jelas”


“ Kenapa, hmm... ada apa? Bukankan aku baru menutup mulutku, tak lama... jangan sungkan sama aku. Ini membuktikan bahwa Allah ngasih kode untuk kamu, ketika aku menawarkan kamu harus dengan senang hati memanfaatkan kebaikanku.” Bang Ryco memencet hidungku dengan jari telunjuknya.


“ Hayo, udah belum Ra. Malah ngobrol sama Si Ryco. Jangan kamu gubris dia! Lagian Co, Hira punya tameng sedangkan kamu? Out dari sini gagal nikah kamu!” peringatan dari Mbak Tari padaku, Bang Ryco kena semprot juga.


“Jangan gitulah Ri, masih pagi ini!” aku cekikian mendengar suara melas Bang Ryco, yang tadinya habis memberi pencerahan padaku.


“ Santai Bang ada Adikmu, hehehe” aku menepuk-nepuk bahunya, berdiri meninggalkannya menuju ruangan Pak Febrian mengantarkan bahan rapat.


“ Ra, nanti ikut masuk ruang rapat ya?  Bawa note!” aku asal mengangguk saja, tanpa protes.


Aku keluar dari ruangannya baru bibirku menggerutu “Kenapa kok jadi aku yang ikut. Dulu aja ketika Pak Ryan aku tak pernah. Mbak Tari yang selalu mengikuti”


“ Kenapa Ra, baca rapal?” tegur Mbak Tari


“Kok aku yang jadi ngintili Pak Febrian ke ruang rapat ya Mbak?” muka Hira terlihat linglung.


“Gak usah banyak mikir Ra, ada nya seperti itu. Ya dilakukan aja. Bonus buatmu. Kapan lagi kamu bisa melihat para petinggi kita. Anggap aja latihan gak tahu kan, habis embel-embel tercetak di belakang namamu. Kamu langsung dapat promosi.” Kata Bang Ryco.


“ Amien...amien...” kataku penuh dengan harap.


“ Amienin juga dong Mbak, biar aku nya plong. Biar aku tak berfikir mengambil tempat dudukmu Mbak”


“ Santai aja Ra, sebenarnya.... ”sahut Mbak Tari yang masih berhati-hati dalam berucap.


“ Apa Ri, jangan nyimpen rahasia di antara kita Ri!” kata Bang Ryco yang sangat antusias, saking keponya sampai meluncurkan kursinya dekat dengan Mbak Tari.


“ Aku dapat tawaran promosi jadi Kepala Divisi ruangan sebelah. Jangan iri kamu ya! Jangan bilang-bilang masih rahasia."  bisik Mbak tari pada Bang Ryco yang tak bisa kudengar.


“ Kesepian dong aku jika kamu pindah. Tua sendiri aku di sini.”


“ Santai, tunggu giliranmu Ryc. Tak mungkin kita akan jadi tua di ruangan ini. Sudah saatnya kaum muda yang menduduki kursi kita.” Ryco mengacungkan jempolnya.


Hira masih sibuk membawa bahan yang akan digunakan untuk persiapan dia ikut Pak Febrian. Terlihat Hira membawa note melangkah meninggalkan meja.


“ Awas, hutang cerita sama aku ya kalian!” aku melewati meja Mbak Tari dan mengetuk-ngetuk mejanya untuk memperingatkan kalau mereka hutang cerita padaku.


“ Kamu juga hutang sama aku Ra, jangan lupa!” peringatan Bang Ryco dengan volume keras yang hanya aku jawab dengan kedipan mata. Aku melangkah keluar menunggu Pak Febrian untuk menuju ruang meeting. Aku mengikuti langkahnya dari belakang, seolah aku ini sekretarisnya.


.


.


.


.


Ada apa, bagaimana kejutan di ruang meeting..tunggu di episode berikutnya ya...👇


Jangan lupa dukungannya....😘

__ADS_1


Makasih...🙏🙏🙏


__ADS_2