Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 12


__ADS_3

Hira keluar dari ruangan Pak Febrian dengan raut wajah yang penuh dengan tanda tanya. Matanya berkaca-kaca seolah akan turun hujan, dia duduk di kursinya dengan pandangan mata penuh kesedihan. Tari dan Ryco hanya melihatnya tanpa ada pergerakan akan bertanya. Mereka hanya diam seolah kekepoan yang biasanya ada hilang telah terjawab.


“Nanti jam makan siang aku telephone Mas,” isi chatku pada Mas Ferdian secara tiba-tiba.


10 menit , 15 menit, tak ada notif yang masuk. Aku menunggu hingga hampir jam makan siang. Tak ada balasan dari Mas Ferdian. Aku berfikir, harus aku telephone atau tidak. Akhirnya aku memasukkan handphoneku ke kantong saku lagi. Aku mampir makan siang di cafe dekat kantor setelah salat dzuhur.


“Siang Ra, boleh aku gabung?” Sapa Pak mantan Divisiku alias Pak Ryan.


“Oh silahkan, Pak.” aku tergagap agak kaget, tambah berat rasanya fikiranku sampai tak jelas yang mana yang sebenarnya aku fikirkan.


“Tumben Ra, sendirian biasanya kompak bertiga. Biasanya kalian susah dipisahkan." kata Pak Ryan berusaha memecahkan keheningan di antara kami.


“Bapak bisa aja.” jawabku bingung ingat yang lalu.


“Gimana keadaan, aman 'kan?”


“Aman Pak, mengapa Pak Ryan tiba-tiba pindah? Apakah  karena sikapku kemarin?” meluncur saja perkataanku tanpa saringan.


“Ngak juga kok Ra," belum selesai Pak Ryan berbicara, pesanan Pak Ryan datang.


“Kemarin momentnya pas banget ya? Aku dapat promosinya sudah lama, aku saja yang menundanya karena belum siap." Sambung Pak Ryan lagi. Dari sorot matanya, itu hanyalah alasan yang terdengar di telingaku.


Handphoneku sama sekali tidak bergetar, "Lagi ngapain kamu Mas? Tak biasanya kamu seperti ini Mas. Kamu selalu stay menungguku, kenapa dengan hari ini? Apa mungkin karena tadi pagi? Nada bicaraku kan dah halus. Masak dia tersinggung?" Pertanyaan ini berputar-putar di kepalaku. Hingga aku terdiam di hadapan Pak Ryan.


“Ra!" panggil Pak Ryan Karena tak ada respons.


“Apa ada masalah?” tanyanya lagi.


“Gak ada apa-apa Pak, Cuma agak pusing aja ( kataku beralasan ). Tapi kepindahan bapak, beneran gak karena kejadian di Kota B waktu itu kan? Saya benar-benar minta maaf Pak. Dan saat itu, memang benar jika ada urusan mendadak."


“Tidak apa-apa Ra, bisakah kita tetap jadi teman? Jika teman artinya tidak ragu balas chat." Ryan tak mau tergesa-gesa lagi seperti kemarin, dikira keadaan sudah mendukung tapi hasilnya zonk. Tapi ada penegasan dalam kata-katanya.


“Ayo Ra balik lagi, kamu balik kantor kan? Jalan duluan, entar aku nyusul. Biar ini aku yang bayar." Ryan sengaja mendahului, agar tak ditinggal begitu saja seperti yang dulu.


“Kok malah ditraktir?” aku terkejut.


“Gak apa-apa, anggap aja traktiran perpisahan aku pindah Divisi."


“Gak adil dong kalau gitu?” protesku.


“Kebiasaan kamu ya, aksi protesmu gak ketinggalan lain kali aku kabari kamu ajak semuanya. Oke?” sahut Ryan.


“Beres" aku mengacungkan jempolku.


Perjalanan menuju ruangan Divisiku yang masih ditemani Pak Ryan, aku menengok layar handphoneku. Masih saja belum ada notif. Yang ada malah Mbak Tari, telephone dah dua kali. Mungkin keasyikan ngobrol sama Pak Ryan atau aku yang kebanyakan melamun. Karena sudah di depan pintu ruangan, aku mengucapkan salam perpisahan pada Pak Ryan. Tanpa memberi kabar pada Mbak Tari aku masuk ke ruangan.


“Ada apa Mbak, tadi kok telephone? Maaf, baru tak buka pas di depan sini." Kataku sambil duduk di kursiku yang berdekatan dengan Mbak Tari.

__ADS_1


“Aku khawatir sama kamu Ra. Dari tadi pas kamu keluar dari ruangan Pak Febrian, kamu terlihat murung. Kami bingung jadinya, apa kamu tersinggung dengan candaanku dan Ryco tadi? Atau ada hal lain yang berhubungan dengan Pak Febri? Atau mungkin ada masalah lain lagi yang tidak kami tahu? Setelah aku dan Ryco pusing mikirin kamu. E...tak tahunya malah tiba-tiba Ryco lihat kamu  jalan sama Pak Ryan. Jadi gemes aku, Ra!" Kata Mbak Tari mewakili Ryco ngomong juga.


“Makasih atas perhatiannya, suwun...suwun...  ( aku berdiri membungkukkan badanku seperti ala-ala orang China ) Aku tadi hanya tidak sengaja ketemu Pak Ryan. Maaf tadi aku nyelonong pergi sendiri. Aku memang agak risau Mbak"


“Telephone aja, jangan banyak berfikir, keburu nyesel nanti!” sela Ryco agak emosi, seperti dukun tahu apa yang aku fikirkan.


“O..gitu, Mbah. Gak ada hubungannya dengan pencari ikan yang ada di sekitar sini ya?” canda Mbak Tari yang terlihat serius, sambil memegang bahu Ryco dan mendekatkan mukanya ke wajah Ryco tanpa ada rasa canggung.


“Menurut penerawanganku, memang seperti itu adanya. Tanya saja pada orangnya! Ha...ha...ha...” tawanya yang dibuat-buat. Ryco jengkel teringat cerita Hira waktu terakhir dia mengantarkannya pulang.


“Mukamu menunjukkan dugaan Ryco benar ya Ra? Syukur lah, kacau sudah! Kalau ada hubungannya dengan Si Penangkap ikan yang ada di dalam itu! ( Tangan Mbak Tari menunjuk ruangan Pak Febrian ) Kita belum tahu benar tuh, bagaimana Boss kita. Hari pertama pindah sini, perkenalan saja ngak, kejam amat! Mau ngomong, ketika perintah orang doang! Pertemuan pertama mengajak orang untuk kerja rodi, lagi! Kalau kamu sama Pak Ryan malah tidak aku ambil pusing, Ra!Aman dunia akhirat untuk yang satu itu! Sekejam-kejamnya Pak Ryan, dia masih memanusiakan manusia." Kata Mbak Tari yang membanding-bandingkan.


“Sutttt! Kalau orangnya dengar gimana? Pelankan suaramu Ri!” Perintah Ryco bersuara pelan.


“Jika kamu capek, istirahat aja Ra. Yang nyata sudah pada antri tuh, tinggal pilih!" Aku mengiyakan penerawangannya saja tidak. Si Ryco ngomongnya sudah dalam sekali.


Setelah Ryco ngomong seperti itu, aku teringat pada Letiana. Aku akan mencoba chat dia dulu. Tapi setelah menyelesaikan berkas yang diminta Pak Febrian. Akhirnya mereka paham, kenapa tadi pagi aku lama di dalam ruangan Pak Febrian.


To : Dek Ana


An, kamu sibuk gak? Mbak boleh tanya gak?


Walaupun Ana terbiasa panggil kakak, tapi aku sudah terbiasa menggunakan pangilan mas ataupun mbak, tapi Ana sama sekali gak mempermasalahkan. Walaupun dia gak mau pakai sapaan mbak.


From : Dek Ana


Boleh, pakai banget. Ada apa Kak?


To : Dek Ana


Mas, tidak bisa aku hubungi. Perasaan Mbak tidak enak. Apa terjadi sesuatu?


From : Dek Ana


Tadi pagi sih masih  rapi, pakai pakaian kantor. Apa Kakak tidak punya nomernya Kak Dika? Pasti Kak Dika tahu. Mereka sehidup semati soalnya.


To : Dek  Ana


Gak punya.


From : Dek Ana


Aku akan telephone Kak Dika, Kakak tunggu kabar dari aku ya? Jangan Panik.


Ana Imut


Calling....

__ADS_1


“Ada apa imut?" jawabnya dengan cepat, menggodaku.


“Kak, Kak Fer dimana?”


“Ada, kami lagi di kota B sama Boss Cantik“


“Maksudnya Kak Fer sama Mbak Rina?”


“Iya, Pak Agum tiba-tiba menyuruh Kakakmu menemani putrinya.”


“Trus, Kak Hira gimana dong?? Aku harus bilang apa sama Kak Hira?”


“Kok jadi kamu yang laporan kenapa, ya diam aja lah! Nanti jadi masalah. Kalau saldomu tidak ada penambahan. Nanti merengek-rengek? Pusing sendiri! nanti kalau kamu di out dari daftar pengeluaran kakakmu, kamu jadi istri aku aja, entar aku yang akan penuhi saldo kamu. Gimana?" sempat-sempatnya Dika berbicara.


“Jangan bercanda kak! Masalahnya bukan aku yang mau jual cerita, tapi Kak Hiranya yang khawatir dan tadi chat aku, sekarang dia nunggu kabar dariku. Dasar jomblo tak peka!”


“Kenapa sih, handphone Kakak gak bisa dihubungi segala! Atau dia emang sengaja cari bumbu dalam kisah cintanya? Gak kapok apa!” ocehan Letiana yang penuh emosi. Sampai membuat Dika bergedik ngeri.


“Aku nih nunggu di tempat lain An, tak tahu putri satu itu! Kamu sendiri pernah bertemu dengannya kan? Dia itu manja, anak papa banget. Apapun pasti harus sesuai keinginannya. Tapi aku akui, kalau kerja tetap jempol. Proyeknya sudah kepegang. Tapi tak tahu, kenapa belum ada pergerakan cepet balik. Kakakmu tak bisa tertolong lagi mungkin. Tidak diterkam harimau tapi digigit kelinci. Sakitnya gigitan kelinci memang tak seberapa jika dibanding gigitan harimau, cuma yang menakutkan adalah imut-imutnya." Dika nglantur kemana- mana.


“Jika nunggu kak Fer hubungi kak Hira, iya kalau cepat dihubungi, kalau ngak? Kasihan dong kalau aku tak cepat-cepat hubungi dia. Aku menghindar malah ketahuan banget kalau ada yang gak beres."


“Fer...Fer...ada-ada saja kamu, masuk kandang kelinci gak bisa keluar kan, dah tahu akan mempersulitkanmu. Tapi masih saja kamu...” gerutu Dika pada Ana yang memang masih menunggu solusi dari Dika.


“Ayolah Kak Dika, aku harus bagaimana? Aku gak mau kehilangan Kak Hira, Aku sudah nyaman sama Kak Hira. Lagian aku dapat melihat kembali kebahagiaan Kak Fer semenjak dia sama Kak Hira." Rengek Ana kebingungan.


“Ayo Kak, gimana ini? Ada panggilan masuk Kak, ( Letiana melihat layar handphonenya ) aduh Kak, ini dari Kak Hira yang call, gimana ini?” Ana kebingungan melihat nama Hira tertera di layar handphonenya.


“Ya udah, kamu angkat aja. Bilang kalau kakakmu ke luar kota mendadak. Biar belakangan kakakmu sendiri yang cerita, anak kecil jangan terlibat jauh. Lagian kita gak tahu pasti apa yang sedang terjadi antara kakakmu dengan Rinna." Solusi yang dikatakan Kak Dika. Ana langsung mematikan handphonenya tanpa mengucapkan terima kasih.


“Iya Kak Hira, maaf tadi aku masih ngobrol dengan Kak Dika“ jawaban Ana membuka omongan mengangkat telephone dari Hira.


“Gimana An, Mas baik-baik saja kan?”


“Iya Kak, ternyata Kak Fer pergi ke luar kota mendadak.  Mungkin sibuk banget kali ya, makanya sampai tidak sempat hubungi Kakak atau angkat telp Kakak” suara Letiana agak bergetar beralasan.


“Em...ya udah kalau gitu. Maaf ya merepotkanmu” sambungku agak kecewa terasa banget jika ada sesuatu. Aku menutup telephonenya.


“Alhamdulillah masih bisa tahu kalau dia baik-baik saja." gunamku, Mbak Tari dan Ryco hanya melihatku yang bermuka pasrah.


“Ya udah Ra. Slow aja, iya kan Ri?”


“Betul! Santai Ra, Pak Ryan masih mengharapkanmu.” Mbak Tari mencoba menenangkanku. Aku hanya diam, tak bersuara karena fikiranku yang sibuk sendiri.


Mohon dukungannya....😘


Terimakasih..... 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2