Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 42


__ADS_3

Di bagunan villa ujung jalan, Febrian yang sekamar dengan Ryan sedang mengemasi barang mereka untuk bisa segera kembali ke kota C.


“Feb, sudah kamu konfirmasikan untuk segera berkemas kan? Jika kita akan kembali pagi ini juga?"


"Iya, sudah Pak. Oya, Divisimu besok handle apa?”


“Masih ada dua proyek Pak, dan ada proyek lama yang dulu Bapak pegang dulu, nunggu persetujuan saja, selain itu sudah beres.”


“Em, bagus dong!” Ryan hanya mangut-mangut mendengar respon Febrian.


“Apakah kamu tahu bro, Ferdian pemegang saham lho. Kemana kamu kemarin saat ada rapat penting seperti itu?” batin Febrian.


“Aku rasa kamu tidak tahu, jika kamu tahu Ferdian adalah orang penting di Perusahaan kita tidak mungkin kamu bertingkah seperti ini, kamu luapkan rasa cemburumu seperti anak SMA.”


“Semua orang merasakan amarahmu, dulu kamu tak seperti ini. Kamu tenang dan bijaksana, apakah kamu sudah tidak bisa menahannya? Apakah aku juga akan seperti ini suatu saat? Hilang kendaliku! Pesonamu menakutkan Ra!” hati Febrian penuh kata, tapi wajahnya masih tenang menatap Ryan yang mengemas barang-barangnya.


“Selamat ya Pak Ryan, besok Anda akan menempati ruangan baru.” Febrian mengakhiri keheningan yang ada.


“Terima kasih, aku berharap kita bisa bekerja sama Feb, ke depannya kita akan sering bertemu, tak hanya sekedar bertemu tapi juga harus kompak dalam berkerja."


“Iya Pak,”


“Akalmu ada-ada saja Yan, menjauh berapa hari pada Hira dengan pindah Divisi. Tak tahunya kamu kembali lagi untuk lebih dekat dengan Hira tanpa ada orang yang menyadarinya di posisi yang lebih tinggi.” Batin Febrian.


“Oya, Feb. Kuliah Hira masih aman kan?”


“Terakhir aku mempertanyakannya ya jawabnya masih ok, Pak.”


“Jadwalnya dengan kerja tidak bertabrakan kan?”


“Tidak, jam lembur juga menyesuaikan dengan jadwal kuliahnya kok.” Jawab Febrian sedikit kesal, seperti anak kecil yang diajari bagaimana caranya memegang sendok ketika mulai mandiri.


“Tidak kau pertanyakanpun, aku akan melakukan untuk kebaikannya. Aku tahu jika kamu lebih dulu menyukainya, sebelum aku tahu dia kekasih orang yang ku kenal akupun telah mengaguminya. Aku akan mengaguminya dalam diam.” Batin Febrian.


“Terima kasih,” kata Ryan penuh dengan rendah hati, pergi meninggalkan kamar.


“Tak ada keangkuhan sedikitpun yang tersirat Yan, tapi kenapa kebodohan karena rasa cemburumu kamu tunjukkan begitu jelas di depan semua karyawan. Dengan sikapmu yang tidak masuk akal, semua orang tetap akan bertanya alasannya. Ketika semua orang tahu alasannya, kamu akan membuat Hira menjadi bahan empuk topik pembicaraan orang.” Batin Febrian menggelengkan kepalanya yang merunduk membereskan barang-barangnya.


.


.


.


“Ryc, kamu tidak menghampiri kamar adikmu kan tadi?” tanya Tari ketika antri di depan pintu bus, karyawan yang lain menaiki bus dengan tergesa-gesa, seperti mendapat kabar dadakan. Tari dan Ryco beserta pasangannya lebih memilih sedikit santai dan mengantri paling belakang.


“Tidak lah Ri, aku baca pesan yang kamu kirim.”


“Menurutmu mereka begadang ngapain ya Ri?” bisik Ryco tepat di telinga Tari membuat Fernad memelototkan matanya, bisa-bisanya Ryco berbisik tak berjarak di hadapan pasangan mereka.


“Aku tidak tahu, kita kepoin saja besok. Itupun jika Hira tidak izin. Tapi aku rasa tidak seperti yang ada di fikiranmu!” Tari mendorong dahi Ryco dengan jari telunjuknya.


“Tapi tidak usah seperti ini juga kali Ri, malu dilihat orang.” Wajah Ryco cemberut.


“Habisnya, kamu juga. Di depan pasangan kita kamu bertingkah seperti itu! Dan soal tadi, fikiranmu pasti jorokkan?” kata Tari dengan yakin apa yang difikirkan Ryco.


“Lebih baik di depan dari pada di belakang? Iya kan Fernad?”


“Lebih baik, di depan ataupun di belakang tetap jaga perasaan pasangan masing-masing!” kata Fernad membuat Ryco hanya menunjukkan tangannya yang mengisyaratkan ‘ok’ tanpa berkata apapun. Erna mengacungkan jempolnya pada Fernad pertanda persetujuan atas apa yang dikatakan Fernad.

__ADS_1


.


.


“Mas, jam berapa ini? Sepertinya matahari sudah meninggi? Mas kok tidak bangunin aku sih?”


“Masih jam 8. Santai saja, lanjutkan tidurmu.” Setelah sholat subuh Mas Ferdian menyuruhku untuk tidur kembali.


“Perutku lapar, aku mau mandi saja dulu. Yang nyetir Mas, kenapa yang tidur aku? Kenapa Mas malah tidak tidur?”


“Mas sudah tidur, Mas terbagun tadi karena ada telephone dari Dika.”


“Minggu pagi gini kenapa telephone? Kan sudah tahu jika bersamaku, kenapa harus telephone?” batinku.


“Apakah ada urusan penting yang mendesak?” tanyaku meloloskan rasa penasaranku.


“Tidak begitu, dia hanya iseng. Biasalah… jiwa keusilannya muncul.” Aku tersenyum lega karena tidak ada hal mendesak yang membuat Mas Ferdian meninggalkanku.


“Syukurlah sayangku kamu tidak mencurigai apapun. Maaf karena aku sudah tidak jujur padamu.” Batin Ferdian.


Flashback


“Hallo Dik, ada apa?”


“Ada kabar tentang mertuamu di sini sedang sakit, zubuh tadi istrimu membawanya di rumah sakit.”


“Stop bro, jangan sembarangan ya jika berbicara. Jika Hira dengar bagaimana aku akan menjelaskan padanya?”


“Sorry sorry, sepertinya dia butuh dukungan mental deh! Biasanya kan kamu yang selalu mendampingimya. Bagaimana ini?”


“ Apa maksudnya bagaimana? Seolah dia tanggung jawabku saja!”


“Iya memang, tak ada hal secara tertulis ataupun ikatan darah yang membuatmu bertanggung jawab atasnya. Tapi dia terbiasa denganmu. Dan hanya denganmu dia selalu bersandar.”


“Iya aku faham, tapi ini darurat Fer,”


“Dalam keadaan apapun, jangan kamu menggoyahkan aku Dik. Aku tidak mau Hira merasa terhianati. Biarlah masalah yang ada di sana ya di sana, jangan sampai tercampur dan kamu hembuskan angin untuk tertiup sampai di sini.”


“Tadi dia menelephoneku, menanyakanmu dan tidak berani menghubungimu. Sepertinya dia tahu kamu lagi di mana. Apakah kamu memberitahunya?”


“Aku sama sekali tidak memberitahunya, tatap muka dengannya saja belum semenjak aku pergi ke sini yang dulu. Lalu apa yang kamu katakana padanya?” Kata Ferdian.


“Aku hanya diam, dia seolah telah tahu jika aku tak bisa menjawab pertanyaannya.” Dika menjawab dengan fikiran kosong.


“Kapan kamu akan Kembali?”


“Aku tidak dapat memperkirakan jam berapa sampai sana. Tapi Hira masih tidur, aku menyuruhnya untuk tidur kembali, tak terasa semalam kami begadang sampai malam. Semua temannya sudah jadwal pulang pagi ini, ternyata foto itu adalah Ryan, kepala Divisinya yang dulu.”


“Enak sekali nasibmu ya Fer, aku di sini berjuang dengan pekerjaanmu kamu di sana..ehm…ehm…”


“Mulutmu!”


“Benar kan?”


“Tidak dalam tanda kutip kali ehm ehmnya, apa ada hal penting lagi? Aku akan nunggu Hira terbangun dulu, aku masih ingin bersamanya.”


“Lalu, bagaimana solusinya dengan Mbak Rinna Boss. Akan aku temui setelah sampai di sana. Aku yakin dia tidak akan berani mempertanyakan aku lagi terkecuali ada hal yang benar-benar mendesaknya.”


“Tapi aku yakin dia sudah kebingungan sekali saat ini, sebenarnya kemarin Pak Agum sudah cuti, dan masih terlihat baik-baik saja. Tapi tak tahu tiba-tiba tadi fajar kok malah seperti itu kabarnya. Aku nanti akan menjenguknya, mungkin Mbak Rinna membutuhkan bantuan.”

__ADS_1


“Okey lah kalau begitu, terima kasih atas pengertianmu Dik. Titip dia.”


“Merinding aku jadinya, mendengar kata-katamu itu!”


“Why?”


“Seolah kamu menyuruhku menjaga istrimu yang ada di sini karna kamu tidak bisa pulang, masih ada tugas di luar kota.”


“Bahaya kamu ini Bro! Kalau salah satu dari sini dan sana tau, urusannya tidak sederhana ketika kamu membuka mulutmu.” Ferdian melihat raut wajah Hira yang sudah tidak tenang dalam tidurnya, pertanda telah lelah dalam mimpinya, ingin kembali dalam dunia nyata.


“Nanti akan aku kasih kabar, jika sempat. Hehehe,Hira sudah mau bangun. Bye!”


“Dasar kau! Jangan pernah memberi harapan yang tidak bisa kamu pastikan.” Kata Dika, membuat hati Ferdian sakit.


“Kenapa kata-kata Dika terasa sakit ya?” batin Ferdian.


Flashback off


“Ya sudah aku mandi dulu ya Mas?”


“Iya nanti ganti Mas, setelah itu kita sarapan. Mas juga pengen ngopi sekalian.”


“Ok. Mas, tolong hubungi Bang Ryco dan Mbak Tari, mungkin saja mereka belum sarapan. Atau mungkin nanti mau nongkrong bareng.” Mas Ferdian hanya diam tak menjawab ataupun memberi isyarat menyetujui permintaanku.


.


.


“Ri, apakah kamu berani taruhan sekali lagi denganku?"


“Maksudnya?”


“Iya taruhan, besok Hira masuk atau izin?”


“Aku takut bangkrut hanya karna taruan denganmu.” Kata Tari mengingat masih punya tanggungan kalah taruhan.


“Untuk seru-seruan Ri, kita sepakat saja yang kalah akan menyirami dan memupuk bunga yang ada di taman lantai atas. Gimana? Atau kita taruan yang kalah membuat kopi di kantor selama satu minggu.”


“Okey kita sepakat untuk pilihan yang kedua saja, yang pertama terlalu merepotkan buatmu Ri. Aku tahu kamu wanita yang unik bahkan dari keunikkanmu itu sampai tidak suka ribet mengurus hal seperti itu.”


“Sialan kamu Co, buka aibku di depan calon suamiku.” Fernad melirik gemas pada Tari, tidak heran sama sekali dengan fakta yang disebutkan Ryco.


“Apakah berpengaruh dengan penilaianmu pada Tari, Fer?” pertanyaan Ryco yang terarah pada Fernad. Fernad menjawab dengan mengangkat bahunya. Membuat Tari cemberut, Fernad tersenyum menggelengkan kepalanya dan mencubit pipi Tari.


“Maaf, maaf Ri…bukankah Fernad sudah tahu hal-hal seperti itu?” Ryco berbisik meminta maaf, merasa bersalah pada Tari takut jika apa yang dikatakannya membuat hubungan Tari dan Fernad tidak baik. Bisikannya masih terdengar oleh Fernad.


“Tidak apa-apa Co, aku sudah tahu kok. Sebelum aku melamar Tari sudah aku pastikan terlebih dulu hal terburuk yang dia miliki.” Tari melototkan matanya mendengar apa yang dikatakan Fernad tanpa tameng sedikitpun. Ryco melepaskan nafas lega mendengar penjelasan Fernad.


“Terus kita kembali ke topik. Apa pilihanmu Ri?”


“Aku menduga kalau Hira tetap masuk walaupun telat.”


‘Ok, kita sepakat. Berarti pilihan terakhir adalah pilihanku, Hira akan izin!”


“Ok deal,” Tari dan Ryco berjabat tangan di depan pasangan mereka, Fernad dan Erna hanya geleng-geleng mendengarkan mereka yang konyol.


.


.

__ADS_1


Bersambung,


terima kasih atas kunjungannya, mohon dukungannya...🙏🙏🙏


__ADS_2