Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 28


__ADS_3

“ Ya Allah, ampuni aku.” batinku memelas minta ampunan. Tapi hanya dengan orang yang ada di depanku yang aku harapkan jadi imamku, aku melakukan ini.


Gemuruh di dalam hatiku merasakan sesuatu yang lebih dalam, terasa membangunkan sesuatu yang belum pernah aku rasakan. Rasa takut pada Tuhanku dan rasa gemlenyir di hatiku membuatku bingung, aku terbuai dengan nikmatnya tapi ini dosa, aku terdiam tanpa balasan.


“Dapatkah ini dipertanggung jawabkan?” protesku setelah bibirnya jauh dari bibirku, seolah aku tak menikmati sensasi tadi.


“ Pasti, Mas yakin itu. Meskipun kita berdua yang menikmati," Mas Ferdian berhenti berbicara masih menatapku, menelusup dalam manik mataku seakan mencari sesuatu, lalu dia melajukan kembali mobilnya.


“Tapi Mas telah meminta izin pada Allah. Apa yang Mas lakukan tadi, akan Mas tanggung sendiri dosanya.” dia melanjutkan pembicaraannya tadi. Aku hanya bisa tersenyum ragu, karena omongannya yang sungguh tidak masuk akal.


“ Jika setiap orang berbuat semaunya dengan dalil akan ditanggung sendiri dosanya, mungkin tak akan ada rasa bersalah."


“Baiklah kalau Adek keberatan, akan aku ambil kembali.... ” laju mobil melambat dan ku lihat Mas Ferdian mau menepikan mobilnya.


“Apakah yang dimaksud dengan mengambil kembali, dia akan menciumku lagi?” batinku, aku menatapnya bingung. Aku memegang bibirku, ketika kulirik Mas Ferdian benar-benar menepikan mobilnya lagi. Fikiranku mulai bertamasya.


“Jangan berhenti, nanti tak sampai-sampai Mas, “ aku merengek seperti anak kecil minta dibelikan mainan. Mas Ferdian menatapku membuat hatiku bertanya “Apa arti dari tatapannya? Apa yang mau dilakukannya?” Mas Ferdian mendekatkan wajahnya membuat jantungku berdetak kencang.


“Boleh aku ambil kembali?” Mas Ferdian semakin mendekatkan wajahnya tanpa jarak, hembusan nafas dari hidungnya terasa di bibirku. Membuatku semakin menyandarkan kepalaku hingga ke kaca pintu mobil.


“Jangan diulangi lagi,” kataku pelan sambil menutup bibirku.


“ Habisnya Adek nyesel banget Mas melakukan itu!” Aku hanya terdiam. Menghindari gerakan kejutan darinya.


Mas Ferdian duduk kembali pada posisi yang benar,  aku juga membenarkan posisi dudukku. Fikiranku bertamasya setelah kejadian tadi, “Makin hari, kok malah seperti harimau tak diberi makan. Membuatku takut saja!”


“Dek, sebelum jam makan siang kamu izin dulu ya. Temani Mas 2 jam saja, sebelum Mas balik. Jika nunggu Mas kontrol ke kantormu kita baru ketemu, mungkin akan lama.”


“Dan satu lagi, tidak boleh menolak. Ini sebagai tebusan semalam. Suruh siapa membuatku menunggu tapi yang ditunggu tak tahu ngilang di mana. Ketahuan lagi!”


“Maaf...maaf, Mas pendendam amat sih! Tapi hari ini aku sibuk Mas,”


“Nanti aku yang izin pada Febrian.” Aku hanya meneguk air liurku.


“Di sini saja, di jalanan Mas seperti ini. Mau dibawa ke mana aku nanti, dan mau jadi apa aku nanti?” fikirku memandang luar jendela.


Mobil Mas Ferdian melaju dengan suasana hening, tak ada lagi pembicaraan setelah terakhir dia berucap.


“Mas, aku kerja dulu ya” aku menyalami tangannya dan mengecup punggung tangannya. Tangan kirinya mengusap kepalaku yang merunduk, mengecup sekilas kepalaku yang tertutup kerudung.


“ Jangan lupa, nanti Mas akan jemput kamu jam sebelas. Aku tunggu di lobi.” Mas Ferdian mengulang pesannya, aku hanya menganggukkan kepalaku.


“Hallo Dik, urusan di sana beres kan?” Ferdian menghubungi Dika.


“Kerjaan aman Boss, tapi tidak tahu dengan kelinci imutmu. Pagi ini tiba-tiba dia mengadakan meeting dadakan. Semua manager kelabakan dibuatnya. Tahu sendiri kan dengan Pak Handoko, dia selalu ngaret ke kantor walaupun sistem kerjanya bagus tanpa cacat.”


“Biarkanlah, biarkan dia bertindak sesuka hatinya.”


“Kenapa Fer, kamu lelah menutupi kamu punya istri lain di luar sana?”


“Mulutmu! Masih pagi ini Bro,”

__ADS_1


“Harus bilang apa, aku menggambarkan situasimu?”


“Setidaknya kamu diam saja, tak usah berkomentar jika bicara sembarangan.”


“Jangan tanya apapun jika kamu tak ingin dengar sesuatu dariku.”


“Sial kamu tu ya...tak mau kalah aja! Pagi- pagi tak di sini tak di sana ngajak debat melulu.”


“ Siapa juga yang mulai, aku hanya mengikuti alur.”


“Oya Fer, Pak Agum kemarin menanyakanmu. Aku jawab saja ada saudaramu di luar kota yang nikahan. Aku bingung harus jawab apa, hanya itu yang ada di fikiranku.”


“ Lalu Beliau gimana?”


“ Hanya manggut-manggut, sepertinya percaya.”


“Ya sudahlah urusan belakang. Jika banyak tuntutan, aku akan keluar dari Perusahaan.”


“ Lha terus nasibku bagaimana?” resah Dika.


“Terserah kamu,”


“Jangan bercanda Fer, mau aku kasih makan apa Adikmu jika kamu keluar dari Perusahaan ini?”


“Aku masih punya saham di situ atas namamu kan? Kamu yang bekerja, kirim uangnya di rekeningku. Hahahaha...”


“Kurang ajar, ternyata itu akal-akalanmu! Kamu sembunyikan tanganmu ketika berbuat.”


“Ha...ha...ha...” Ferdian hanya tertawa puas.


Ra, makan siang yuk! Nanti di cafe deket kantor.


 


Ku lihat chat dari Pak Ryan. “Aduh, gimana ini ya? Sudah lama dia ngak ngajak-ngajak setelah kemarin mengantarku pulang. Jahat gak ya, jika aku tolak. Padahal kemarin janjian mau traktir perpisahan. Apa acara itu ya? Tapi lebih penting dengan yayangku, hehehe” aku bergunam sendiri.


 


To : Pak Ryan


Maaf, Pak. Tapi saya ada keperluan. Mungkin bisa lain waktu.


 


Aku berharap balasanku tidak menyinggungnya.


 


From : Pak Ryan


Ok, aku tunggu lain waktu.

__ADS_1


 


“Heh...masih kurang Bu tadi mesra-mesranya di dalam mobil? Masih chat-chatan segala!” omongan Mbak Tari mengagetkanku,


“Iya Ri, pagi-pagi enaknya dapat sarapan hangat” imbuh Bang Ryco tak ada saringannya.


“Apaan sih Bang, cium tangan kok Bang.”


“Cium tangan kok sampai pucat ya Ri,”


“ Co, jangan jelas-jelas amat kamu ya!” teguran Mbak Tari mencoba menghentikan celotehan pagi.


“ Santai aja Ra, Belanda masih jauh!" bisik Mbak Tari yang masih terdengar Bang Ryco.


“ Hai...para wanita, jangan heran jika kalian ketagihan aksi kami Si.... ” ocehan Bang Ryco terhenti oleh kedatangan Pak Febrian.


“Pagi Pak,” Sapaan kami serentak, seperti anak SD kedatangan gurunya.


“Karna proyek kita gol, ada berita bagus buat kita semua.”


“Hari Jum’at minggu ini, kita dapat bonus libur. Senin baru masuk. Kita ambil kesempatan ini untuk muncak 3 hari 2 malam. Sesuai janjiku, boleh bawa pasangan masing-masing. Yang tidak bawa pasangan semoga bisa bawa pulang pasangan.”


“Amien buat Pak Febrian” jawab Tari tak sadar.


Aku hanya terdiam, bergulat dengan pemikiranku “Bagaimana aku harus bilang sama Mas Ferdian ya? Bilang tidak ya? Apa aku nanti salah jika tak bilang, padahal aku nanti ketemu dengannya. Jika aku tak cerita, bagaimana jika Pak Febrian bicara dengannya?”


“Hai..Ra, kamu sendiri yang hanya diam.” Tanya Pak Febrian di depan  teman-teman.


“ Membayangkan...anu...anu di Puncak dengan pacarnya Pak,” aku melempar tutup bolpoin pada Bang Ryco.


“ Sakit Ra, untung tak kena mata. Emangnya anu...anu...apa coba? Jangan-jangan pemikiranmu kotor ya Ra?” jawab Bang Ryco mengelak.


“Sorry, habisnya Abang bicaranya nglantur!”


“ Beneran kotor Ra, pemikiranmu” ejek Bang Ryco.


“ Sudah-sudah, kalian kayak anak kecil saja. Siap-siap hari Jum’at. Bocoran lagi, yang traktir Pak Ryan. Kemarin peresmian SK manager nya turun. Minggu depan dia Manager Umum kita.”


Aku, Mbak Tari dan Bang Ryco melonggo saling tatap. Pak Febrian tak begitu menanggapi keterkejutan kami atas berita yang disampaikannya.


“ Ra, wau...wau...wau...Ra.. “  bisikan Bang Ryco padaku.


“ Menakjubkan ya sebentar pindah Divisi, belum ada salam perpisahan. Sudah lonjak lagi, makin tinggi. Seperti ada lomba balap saja.” Gerutu Mbak Tari membuatku berfikir ketika aku mendengarnya.


Sayang, kamu gak lupa kan? Mas otw.


 


Bersambung....


 

__ADS_1


__ADS_2