Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 29


__ADS_3

happy reading....


Dalam hitungan jari di satu tangan saja tak ada. Aku, Mbak Tari dan Bang Ryco melongo tanpa bisa berkata, Pak Ryan sudah pindah tempat duduk lagi.


“ Menakjubkan ya...sebentar pindah Divisi, salam perpisahan pada kita saja belum ada. Sudah lonjak lagi makin tinggi. Seperti ada lomba balap saja.” gerutu Mbak Tari membuat fikiranku sedikit GR ketika aku mendengarnya.


“Aura-auranya lomba memenangkan hati Ri. Siapa yang lebih tinggi posisi, dialah yang akan bertahan di hati seorang wanita.”


“ Eh...jangan gitu ya Abangku sayang, mboten pareng ( tidak boleh ). Nanti kalau ada yang denger, dikira aku cewek matre. Dijaga dikit ya kalau berucap, harga pasaranku anjlok entar! Siapa nanti yang lirik aku?” Canda Hira, bermuka serius.


 


Sayang, kamu gak lupakan? Mas otw,


 


Nada chatku berbunyi, aku membuka handphoneku. Ternyata Mas Ferdian sudah memperingatkanku.


“Entar biar Abang saja yang lirik,” terdengar kata-kata Bang Ryco mengalihkan pandanganku dari layar pipih dan membuatku melotot padanya. Mata Bang Ryco berkedip-kedip mengodaku. Segera ku ambil permen kembalian belanja yang aku kumpulkan di atas meja, aku lemparkan padanya. Ku alihkan lagi pandanganku pada layar pipih yang masih ada di tangan kiriku. Membalas chat Mas Ferdian.


 


Iya, aku segera berkemas dan izin Pak Febrian. Tunggu bentar,


“Mbak aku mau izin, aku balik duluan ya.” pamitku pada Mbak Tari.


“Ra, kamu marah sama Abang. Ra, gak pamit sama aku juga?” aku menghentikan langkahku sejenak menghadap arah Bang Ryco, kujulurkan lidahku.


“Dasar bocah! Kencan melulu!” gerutu Ryco. Hanya tertinggal Tari dan Ryco di ruangan.


“Iri, bilang dong!” sahut Tari. Membuat Ryco mendekat.


“Ri, ayo kita taruhan. Yang kalah traktir makan siang selama seminggu mau?” tantang Ryco.


“Apa memangnya? Tentang apa?” Tari mengalihkan fokusnya dari layar komputernya.


“Soal Hira,”


“Ok, deal.” Tari mengajak Ryco bersalaman pertanda sepakat. Tari merasa yakin.


“ Acara muncak kita, Ferdian akan ikut hadir tidak?”


“ Aku yakin, tidak” jawaban Tari tanpa ragu sedikitpun.


“ Feeling seorang lelaki, kalau aku yakin, Ferdian akan datang.”


“Ok, kita sepakat. Kita kunci jawaban, aku tidak dan kamu jawab akan hadir.” Mereka berjabat tangan kembali.


Terlihat, Hira keluar dari ruangan Pak Febrian. Dan melambaikan tangan pada Tari dan Ryco.


“ Maaf ya, aku pamit dulu. Sampai jumpa besok, Mbak.” Hira hanya menyapa Tari, dan tidak menghiraukan Ryco.

__ADS_1


“ Sakit Ri, dicuekin adik imutku.” Gunam Ryco selepas Hira melangkah.


“Sakit di hati karna dicuekin adik, apa ada rasa yang lain....?”


“Jangan gitu Ri, aku sudah punya Erna”


“Firasat lelaki mengatakan, lelaki diperbolehkan berpoligami.” Tari menirukan gaya Ryco berdalil.


“Semprul” Ryco meremas kertas dan melemparkannya pada Tari.


.


.


Aku melihat Mas Ferdian sibuk memandang handphone di tangannya. Aku berjalan pelan bermaksud untuk mengagetkannya.


“ Kenapa mengendap-endap sayang ?” Mas Ferdian tiba-tiba berbicara ketika aku hampir sampai di hadapannya. Membuatku terkaget.


“ Mas mengagetkanku saja. Aku yang ingin mengagetkanmu, malah aku yang terkaget.”


“ Adek sih, aneh-aneh saja. Langkahmu saja sudah terbaca, mana bisa buat mas terkaget?” Mas Ferdian mencubit hidungku setelah aku terduduk di sampingnya. Mengecup punggung tanganku, memandangku penuh dengan rasa kagum.


“ Mas mau ajak aku kemana hemm? Kita langsung go, atau kita jadi tontonan umum di sini aja dulu?” aku tersenyum manja tapi tegas dalam kata- kataku.


“Boleh, jika Adek mau.” aku mencubit otot  perutnya membuatnya nyegir manja menambah ketampanannya, tak bisa hilang dari ingatanku.


Aku terpana dalam senyumannya, membuatku tak lepas memandangnya. Hingga tak menyadari Mas Ferdian telah berdiri mengulurkan tangannya.


“ Ok, lets go.” Aku menyambut tangannya, dan segera berdiri. Mas Ferdian menggenggam erat tanganku melangkah meninggalkan lobi.


“Kita, ke hotel Mas ya?”


“ What? Ngapain? Gak mau ah, takut....” aku bener-bener terkaget. Fikiranku traveling ke mana-mana. Membuat renggang kaitan tanganku di lenganya, langkahku terhenti dan sedikit menatap ekspresi wajahnya.


“Jangan jorok dulu,” jari telunjuk Mas Ferdian mengetuk-ngetuk pelan dahiku sebagai peringatan.


“Mas gak akan macam-macam, Mas janji.”


“Memangnya tak ada tempat lain gitu?”


“Mas ingin kita bersama lebih lama, makanya kita hemat waktu yang ada. Mas tadi beli film, kita bisa nonton dan makan siang bareng. Mas bisa berkemas juga. Mas bisa nyatai sebentar sebelum Mas perjalanan jauh.” kata-katanya meyakinkanku.


“Janji?” langkahku terhenti menatapnya menatap manik matanya mencari kejujurannya, membuat langkahnya terhenti tiba-tiba.


“Hemm. Janji” tatapannya meyakinkanku, menghilangkan rasa takutku. Aku tak ingin kehilangan mahkotaku walau dia telah mengikatku. Mas Ferdian mengusap kepalaku, menambah rasa yakinku.


.


.


Tak lama kami telah sampai di hotel tempat Mas Ferdian menginap, jalan raya mendukung kami menghemat waktu menyingkat perjalanan.

__ADS_1


“ Nanti buka saja pintunya sayang, Mas tadi order foods kesukaan kamu. Mas mau mandi dulu.”


“ Ok, makasih Boss” aku nyengir memanggilnya Boss, karna kebiasaannya yang menentukan tanpa kompromi.


“ Tu kan...gak sopan.”


“ Iya, maaf.. Buruan mandi, katanya mau mandi?” aku merapikan barang-barangnya memasukkan ke koper, setelah Mas Ferdian melangkah memasuki kamar mandi. Dia orang yang perfectionist, barang bawaannya komplit seperti cewek.


“Sayang, Mas lupa belum bawa dalaman. Tolong ambilkan!” Mas Ferdian menjulurkan kepalanya ke pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.


“ Kok bisa sih, Mas ya... buat orang malu aja.” Aku belum membalikkan pandanganku dari layar televisi. Aku berjalan melewatinya dengan menutup mataku, mengambilkan pakaian dalamnya di koper. Aku berjalan menuju pintu kamar mandi tanpa membuka mataku yang masih tertutup.


“Kamu ngapain?” pakaian dalam yang ada di tanganku tersahut  kasar. Mas Ferdian memelukku dari belakang.


“ Lepaskan Mas, lepaskan aku!” aku memberontak. Aku belum membuka mataku tanganku memegang tangannya yang masih basah seperti tak tersapu anduk. Terasa punggungku menempel pada dadanya yang masih telanjang.


“ Buka dulu matamu, lihat Mas.”  Bisiknya di telingaku, nafasnya menembus kain kerudungku membuatku meremang.


“ Jangan macam-macam ya!” aku mulai berbalik dan membuka mataku. Ku lihat dadanya yang putih bersih, perutnya yang berotot masih terlihat polos tak memakai apapun membuatku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.


“Pakai pakaian Mas, aku mau pulang saja!” aku segera melangkah berpindah pijakan kakiku.


“ Kok gitu, buka matamu dulu sayang, emangnya Mas ngapain?” terasa dia menghampiriku, mendekatiku, nafasnya terhembus di wajahku. Mataku masih dengan kencang merapat.


“ Buka matamu sayang.” dia menangkup wajahku yang masih tetap merunduk, aku merasakan hembusan nafasnya.


“ Pakai pakaian,” kataku lirih masih terpejam.


“Lihat Mas, Mas hanya telanjang dada. Mas tadi hanya membohongimu.” aku membuka mataku sedikit, kepalaku masih merunduk.


“Ternyata dia sudah pakai celana,” aku tersenyum malu, fikiranku sudah bertamasya. Aku mengangkat kepalaku sedikit dan mencubit perutnya, langsung mengenai kulitnya.


“Hahahaha emangnya apa yang kamu fikirkan, sayang? Apakah kamu berfikir jika Mas.... ” aku langsung membekap bibirnya tanpa memikirkan sopan santun, malu sekali rasanya memikirkan fikiranku yang telah traveling ke mana-mana.


“ Salah siapa tadi nyuruh aku ambilkan pakaian dalam, jadi aku kira...Mas masih.... ” Mas Ferdian membekap bibirku dengan bibirnya, membuat omonganku terhenti.


Kelembutannya hampir membuatku terhanyut. Aku mencubit perutnya, membuatnya terhenti.


“ Mas, inilah yang aku takutkan,” aku masih dalam dekapannya.


“Mas masih sadar sayang, Mas tidak akan  melewati batasan Mas. Mas yakin, sampai kapan pun kita akan tetap selalu bersama apapun yang terjadi. Seberat apapun Allah akan memberikan rintangan yakinlah sama Mas, kamu tetap akan jadi milikku.” aku hanya mendengarkan dalam hangat pelukannya.


“Kata-kata Mas Ferdian seolah meyakinkan dirinya sendiri, bukan meyakinkanku.” Batinku. Terdengar bel berbunyi, aku melepaskan pelukannya. Dia berjalan menghampiri pintu, aku kembali merapikan kopernya yang teracak-acak olehku saat mencari pakaian dalam dengan mata tertutup.


“Ayo...kita makan,” Mas Ferdian meletakkan makanan di atas meja dan mulai memutar film yang dia beli.


“ Kenapa beli film.... " mataku terpejam melihat layar lebar tipis didepanku.


 


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2