Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 46


__ADS_3

happy reading ya...


“Maaf ya Dek, kamu tidak menunggu lama kan?”


“Sudah lumayan sih, sudah biasa. Setiap janjian dengan Mas Dika, memang selalu seperti ini kan. Aku tidak terheran. Apakah kekasihmu sudah kembali?” Dika melonggo mendengar apa yang dikatakan Ana padanya.


“Maksudnya?”


“Tahu sendirikan, iya kekasih Mas Dika!” Ana masih ingin membuat Dika yang belum nyambung dengan pembicaraan Anna, memutar fikirannya.


“Mas Dika kan belum punya kekasih, masih mau otw itupun jika dapat Acc.” Ana mengerutkan dahinya hingga membuat alis tebalnya menyatu.


“Kak Ferdian, siapa yang mau dengan Mas Dika jika tidak Kak Ferdian!”


“Jadi yang ada di depan Mas Dika, tidak mau dengan Mas Dika ya? Betapa malang nasib anakmu ini Ma,” Dika berkata penuh dengan welas. Terlihat wajah Letiana yang sedikit tersenyum mendengar kata-kata Dika.


Dika mempersilahkan dengan lembut walaupun tidak mendapat kepastian dari Letiana dengan perasaannya yang sudah berulang kali diungkapkan, mulai dari sebuah candaan, sindiran sampai ungkapan yang serius.


“Silahkan tuan putri,” Dika melindungi kepala Letiana ketika memasuki mobil.


“Terima kasih,” jawab Letiana lembut. Dika memutar memasuki mobil.


“Dek, Mas Dika benar-benar minta maaf. Tadi aku berbincang sedikit dengan kakakmu, kemarin Mas Dika menunda rapat karna menemani Mbak Rinna. Maaf menyia-nyiakan waktumu semalam malah tidak ada hasilnya. Dan tadi aku menjadwalkan ulang meetingnya agar kakakmu yang menghadiri.”


“Kok ganti Kak Fer.”


“Sebagai ganti aku menemani Rinna.”


“Memangnya ada apa dengan Mbak Rinna sampai harus ditemani dan juga meninggalkan meeting penting.”


“Papanya masuk ICU. Kamu sendiri tahu kan, mereka pemilik tempat kami bekerja, dan kamu juga tahu bagaimana Mbak Rinna dengan Kakakmu.”


“Iya, memang. Tapi, seolah semua harus Kak Fer yang menanggung. Memangnya apa status hubungan mereka?”


“Kita sama-sama tidak tahu kan dengan apa yang terjadi waktu kamu hubungi Mas saat mereka ke luar kota bersama. Atau mungkin kamu tahu, Ferdian cerita denganmu?”


“Soal yang terjadi di situ Kak Fer sama sekali tidak membahasnya. Aku jadi takut Mas,” Dika menoleh melihat wajah Ana yang penuh dengan prasangka.


“Aku takut jika Kak Fer mendahulukan kepentingan orang lain, sudah cukup selama ini dia menahan rasa sakit. Dan belum lama dia menemukan cinta semunya menjadi cinta yang nyata.”


“Idih…dalam banget, adiknya Ferdian yang manja memikirkan kebahagian kakaknya! Fikirkan Mas Dika juga sayang.”


“Tergantung usahamu,” kata Letiana acuh, memalingkan wajahnya melihat pemandangan luar jendela mobil.


“Eh, Mas. Nanti mampir ke cafe situ ya?” Dika menoleh ke arah pandang Letiana.


“Baiklah, apa sih yang tidak untukmu.” Kata Dika memutar stirnya menuju tempat parkir di Mall dekat PT. Mandala Group.


“Dari sini, balik ke rumahku balik sini lagi.” Gerutu Letiana menuruni mobil, Dika sudah membukakan pintu mobil dan mendengarnya.


“Tadinya kita kan janjian ketemu di sini, tapi Mas tidak tega. Makanya Mas jemput kamu. Kurang baik apa, kurang sayang apa coba Mas sama kamu?” jawab Dika.

__ADS_1


“Memang kamu yang paling mengerti aku Mas, tapi apakah kamu akan tetap sama setelah aku bilang iya padamu?” batin Letiana.


“Woe, jangan bengong! Aku akan selalu sayang padamu, sudah terbukti Dek, dari kamu masih unyuk-unyuk sampai saat ini. Perasaanku masih tetap sama, bilang iya saja jika kamu ingin melihat buktinya secara nyata. Jika perasaan Mas Dika serius denganmu. Kakakmu sudah memberi restunya, tinggal bagaimana jawabanmu. Dan aku menunggu jawabanmu sayang.” kata-kata Dika seolah tahu isi hati Ana.


“Mas, kita ke situ yuk!” Letiana mencoba menghindari untuk menjawab. Dika berjalan dengan lemas membuntuti langkah Letiana.


“Mas, kamu mau membelikanku pakaian berapa?”


“Sesukamu.” Sahut Dika cuek dan lemas tanpa memandang apa yang sedang di pilih-pilih Letiana. Dan berjalan menjauh menatap layar handphonenya menelephone Ferdian.


“Mas Dika sepertinya ngambek, maaf Mas… tapi aku juga binggung aku harus bagaimana. Kak Fer memang pernah memberiku kode, bahwa kamu pilihan yang tepat. Tapi aku tidak tahu aku harus bagaimana. Atau mungkin aku hanya takut jika kamu suatu saat lelah menghadapiku dan aku takut kamu meninggalkanku.” Batin Letiana memandang dari kejahuan setelah Dika berpamitan padanya untuk menelephone Ferdian.


“Sudah selesai pilih-pilihnya?” tanya Dika setelah kembali, Letiana merasakan aura dingin dari kata-kata Dika.


“Sudah Mas,”


“Lalu mana pakaian yang kamu pilih?”


“Ini,” Letiana menenteng sepotong atasan yang sederhana.


“Hanya ini? Kenapa?” Letiana hanya menggelengkan kepalanya.


“Pilihlah lagi, biasanya juga sampai penuh tangan Mas kuwalahan membawakan belanjaanmu.” Kata-kata Dika sudah beraura seperti semula lagi.


“Tidak Mas, aku lagi tidak mood saja. Ayo kita makan, nanti keburu dapat telephone dari Kak Fer!”


“Ya terserah kalau seperti itu, tapi aku tidak membatasimu ya?” Letiana hanya menganggukkan kepalanya.


“Dek, apakah kamu seperti ini karena kata-kata Mas tadi?” Letiana menggelengkan kepalanya.


“Sayang, kamu membuat Mas bingung, jangan seperti ini ya…aku lebih suka kamu yang cerewet, marah ketika ingin marah. Kenapa harus menggeleng dan mengganggukkan kepalamu saja, hmm?” Dika memandang tanpa jarak wajah Letiana memerhatikan makna di balik manik mata Letiana yang berwarna kecoklatan.


”Jangan memandangku seperti itu Mas,”


“Kenapa? Apakah masih ada kata malu di hatimu padaku? Kita sudah lama dekat seperti ini.”


“Mas, boleh aku bertanya?” Dika memandang lebih serius tatapan mata Letiana.


“Sangat, silahkan inilah yang aku tunggu sayang.”


“Seandainya kita bersama, apakah suatu saat kamu akan mengeluh dan lelah dengan sifatku?”


“Memangnya sifat yang mana yang bisa membuatku mengeluh?”


“Aku yang manja, aku yang suka ini dan itu. Dan mungkin aku yang kurang dewasa dalam menghadapi suatu situasi.” Dika mendengarkan dan mengamati raut wajah Letiana sampai menyangga dagunya.


“Itu kamu sudah menyadari apa yang mungkin kurang dari dirimu sendiri. Aku yakin Dek, seketika seseorang tahu apa kekurangan dari dirinya. Dia pasti akan membuat dirinya sempurna dengan sendirinya, bagaimana membuat sempurna? Dia pasti akan berusaha untuk berubah. Tapi, tidak ada yang aku keluhkan dengan dirimu, sayang. Aku menyukaimu apa adanya, sikap dan sifat yang kurang dewasa bisa terbentuk dengan sendirinya sesuai dengan waktu dan keadaan. Mas tidak akan mengeluhkan apapun, hanya saja jika ATM Mas tidak sanggup memenuhi sesuatu yang kamu inginkan jangan salahkan Mas jika Mas ngutang dengan kakakmu, dan Mas mengurangi waktu kebersamaan kita untuk kerja rodi.” Dika memegang kedua tangan Letiana, sesekali mengelus-eluskan ibu jarinya di punggung tangan Letiana.


“Apakah jawaban Mas mewakili harapanmu dan menghilangkan rasa ragu di hatimu?” Letiana hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum malu mengangkat wajahnya menatap wajah Dika yang sudah menunggu untuk saling menyelami manik mata masing-masing.


“Apakah sekarang kita resmi menjalin hubungan?” Letiana mengaguk tersenyum malu.

__ADS_1


“Kenapa hari ini menjadi lembut sekali ya?” Dika mencium lembut punggung tangan Letiana.


“Mas boleh mengikatmu secara resmi kan?” Letiana menajamkan tatapannya terasa kata-kata Dika di luar prediksinya.


“Haruskah secepat ini?”


“Mas sudah tua sayang, tidak mungkin kan jika Mas harus menggandengmu ke sana-sini seperti anak ABG? Kenapa? Apakah kamu mau menarik lagi kesediaanmu untuk menjalin hubungan?” Dika menggeleng-gelengkan kepalanya menegaskan agar Letiana tidak boleh mundur lagi.


“Apakah kamu takut?” Letiana menggelengkan kepalanya.


“Lalu?”


“Kak Fer, bagaimana?”


“Sepertinya dengan Mbak Hira aman-aman saja. Tapi tidak tahu nanti bagaimana, setelah balik ke kantor akan aku tanyai.”


“Selalu setia padanya ya Mas, aku tidak mau kak Fer merasa sendiri di masa sulitnya.”


“Kamu tidak akan merasa cemburu kan?” Letiana hanya tersenyum.


“Tentu saja akan selalu aku damping, apa lagi dia akan jadi kakak iparku. Hehehe” Dika menengok jam yang ada di pergelangan tangannya.


“Dek, Mas akan segera balik. Mas sudah ada janji dengan klien soalnya. Ayo aku antar.”


“Tidak perlu Mas, aku akan naik taksi saja.”


“Aku antar saja, tadi juga katanya ingin mampir ke cafe sebrang jalan.”


“Lain kali saja.”


“Apakah tidak apa-apa kamu balik sendiri? Nanti kalau aku di marahi kakakmu bagaimana?”


“Takut sekali dengan Kak Fer, harusnya Mas mengkhawatirkan aku bukan takut dengan kak Fer.”


“Ya dua-duanya. Jika restunya dibatalkan bagaimana? Sudah sulit-sulit meyakinkanmu malah ganti batal dapat restu, tidak lucu dong!” Letiana tertawa terkikik mendengarkan omongan Dika.


“Tidak mungkin, nanti aku yang akan minta restu pada kakak jika Kak Fer memang membatalkan restunya.”


“Ih, sayangku manisnya…” Dika mencubit pipi Letiana, membuat Letiana memanyunkan bibirnya.


“Sudah, sakit Mas. ( Dika melepas cubitannya ) aku akan pesan taksi.”


“Mas akan menunggumu sampai taksinya datang.” Letiana mengangguk. Dika mengusap ujung kepala Letiana. Tak lama taksi yang telah dipesan datang. Letiana salim dan mencium punggung tangan Dika, Dika mengecup dahi Letiana lembut.


.


.


Bersambung,


selamat tahun baru reader...

__ADS_1


sehat selalu,


__ADS_2