Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 48


__ADS_3

Happy Reading...


“Fer, kamu masih di kantor? Aku kira setelah rapat kamu akan pulang!” Ferdian sama sekali belum mengangkat kepalanya, Ferdian menggunakan lengannya untuk bantalan diatas meja.


“Kenapa Fer, apakah meetingnya tidak ada hasil?” Ferdian hanya menggeleng tanpa mengangkat kepalanya.


“Jika memang tidak ada masalah, kenapa tidak pulang istirahat! Tempat tidurmu sudah tidak enak untuk berbaring! Adikmu sudah menunggumu, katanya mau menagih oleh-oleh!” Ferdian hanya diam, tak menghiraukan kata-kata Dika.


“Ada apa dengan ini orang, padahal sudah happy-happy beberapa hari sampai menyiksaku. Kurang apa coba aku toleransi denganmu Bro!” batin Dika,


“Oh iya! ( Dika menepuk dahinya ) atau jangan-jangan, ada yang tidak beres dengan pertemuannya dengan Mbak Rinna. Ya Tuhan ada apa ini, semoga yang dikhawatirkan Ana tidak benar. Ya Tuhan, kasihanilah dia, izinkanlah dia bahagia…” batin Dika, memutar fikirannya mencoba menebak-nebak duduk di kursi depan Ferdian tanpa bersuara.


“Aku tidak bisa memamerkan hubunganku dengan adiknya nih…” batin Dika, masih sempat berfikir tentang kebahagiannya sendiri setelah melihat Ferdian yang berantakan.


“Fer, jika kamu ingin cerita ayo ceritalah… jika tidak lebih baik kamu segera pulang. ( Ferdian sama sekali masih tidak ada pergerakan masih dengan tenang menggunakan tangan kirinya untuk bantalan dan tangan kanannya memegang kepalanya ) Atau aku antarkan kamu pulang?” Dika masih menunggu jawaban dengan sabar.


“Sepertinya ini masalah yang serius!” batin Dika masih menduga-duga hal yang membuatnya penasaran.


“Dik, salahkah aku jika aku mengambil langkah mementingkan kepentingan orang lain dalam jumlah banyak dari pada kepentinganku sendiri?” tiba-tiba Ferdian berkata tanpa pergerakan sama sekali dari posisinya.


“Maksudnya?” jawab Dika kaget, pertanyaan yang tidak nyambung difikirannya tiba-tiba muncul begitu saja dari bibir Ferdian.


“Tegakkanlah kepalamu, biar aku bisa dengan jelas mencerna kata-katamu! Topik apa yang sedang kamu bahas ini?” kata Dika lagi.


“Haruskah aku menyakiti Hira?” Ferdian mengangkat kepalanya menatap Dika yang bermuka penasaran. Dika masih tidak bisa mencerna apa yang dikatakan Ferdian.


“Apa maksudmu, aku masih tidak mengerti. Baru berapa jam kamu terpisah oleh jarak dengannya? Kenapa tiba-tiba kamu berbicara seperti itu?” Dika menatap mata Ferdian yang merah seolah menahan amarah.


“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi Dik, seperti tidak ada pilihan yang aku inginkan. Jika aku menikahi Hira, ada orang tua diambang kematiannya mengharapkanku menikahi putrinya dan perusahaan ini membutuhkanku. Jika aku melepaskan Hira, aku menyakitinya dan mempermalukan orang tuanya aku telah memberi ikatan padanya. Walaupun Rinna memberikan pilihan padaku dia tidak menuntut diriku sepenuhnya dan dia tidak menghalangi hubunganku dengan Hira. Tapi aku tidak sanggup Dik, aku sungguh tidak sanggup mengambil pilihan. Aku harus bagaimana, bahkan sampai saat ini aku belum menghubungi Hira.” Dika berdiri mendekati Ferdian menepuk bahu Ferdian tanpa berkata apapun.


“Saran apa yang harus aku katakana padamu Fer, aku juga tidak akan sanggup jika aku jadi kamu. Melihat keadaan Rinna kemarin saja membuatku menggoyahkan kebahagiaanmu. Tapi seandainya kamu meninggalkan Hira, aku yakin Hira sanggup melewati semuanya ke depan. Ah! Kenapa aku berfikiran seperti ini. Walaupun sanggup tapi sangat menyakitkan karena cinta mereka sudah lama terjalin.” Batin Dika masih menepuk bahu Ferdian.


“Katakanlah sesuatu Dik, bantu aku memikul dosa yang akan aku perbuat atas keputusan yang akan aku ambil.”


“Aku akan selalu di sisimu Fer, aku akan mendengar keluh kesahmu. Tapi putuskanlah sendiri, kamu lebih bijaksana dalam berfikir dari pada aku.”


“Atau kamu rundingkan hal ini dengan Hira, Hira wanita yang bijaksana dan berhati mulia. Aku akan handle pekerjaanmu jika memangkamu ingin kembali menemui Hira.” Kata Dika kembali, yang terdengar tidak punya pri kehatian.

__ADS_1


“Konyol kamu! Kamu ingin aku menyakiti hatinya secara terang-terangan setelah aku memberinya seribu harapan, seolah aku genggamkan dunia di telapak tangannya?”


“Lalu bagaimana kamu akan mendapatkan solusi jika kamu hanya berdiam diri?”


“Sementara ini, aku hanya bisa berdo’a semoga Pak Agum segera sehat kembali agar aku bisa mengambil nafas dalam berfikir. Pernikahan bukanlah hal yang main-main.”


“Aku tahu itu, apalagi Mbak Rinna sangat mencintaimu Fer, aku yakin sebaik apapun seseorang pasti dia tetap memiliki sisi egois juga. Apalagi kamu tipe orang yang setia. Pada akhirnya pasti kamu tidak akan bisa mendua, boro mendua jauh dari lingkar pandangannya saja kamu tidak akan bisa! Wanita mana yang mau diduakan Bro?” Raut wajah Ferdian semakin suram setelah berbincang panjang lebar dengan Dika.


“Satu yang akan aku pastikan padamu Bro, jika kamu ingin mendua silahkan. Nasib adikmu akan aman! Dia tidak akan mendapat karma dari perbuatanmu, karena aku sudah resmi menjalin hubungan dengannya. Dia tidak akan pernah aku sakiti, sedikitpun! Jadi tenang saja.” Dika menepuk bahu Ferdian, meyakinkan agar Ferdian mengambil keputusan yang tidak akan pernah disesalinya. Dika tersenyum penuh dengan kemenangan rasa percaya diri.


“Syukurlah, akhirnya ada berita baik juga yang aku dengar hari ini. Tapi masih bisa-bisanya kamu menyisipkan aura pamer dalam keadaanku yang seperti ini." Senyuman Ferdian terbit walaupun tidak cerah, masih ada beban di hatinya karena hingga larut malam dia belum menghubungi Hira.


“Apapun yang aku jalani nanti tetap dukung aku dan jangan kecewa padaku.” imbuh Ferdian mewanti-wanti Dika untuk tetap setia di sisinya.


“Aku tidak bisa menebak apa yang ada di fikiranmu kali ini Fer! Dari kata-katamu mengarah kamu pilih Hira dan melepas semuanya di sini dan itu menyulitkanku, makanya kamu memperingatiku untuk mendukung dan jangan kecewa padamu. Tapi di sisi lain bisa jadi kamu melepaskan Hira dan dipandang sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab dan materialistik.” Ferdian hanya manggut-manggut mendengarkan dugaan Dika.


“Jika seperti itu adanya mana yang akan kamu pilih Dik?”


“Aku tetap tidak bisa berpendapat, jika kamu memilih kamu melepaskan di sini kamu juga tidak akan miskin, tapi aku tidak tahu dengan hatimu yang mungkin akan merasa bersalah dengan Pak Agum.”


“Maaf, aku hanya berbicara apa adanya sesuai yang aku lihat. Pulanglah, telephone terlebih dahulu bidadari hatimu. Tenangkan fikiranmu, sehatkan tubuhmu.” Ferdian mengagguk dan berdiri,


“Terima kasih Bro, jangan katakan hal ini pada Ana.” Ferdian menepuk bahu Dika.


Setelah sampai di rumah akhirnya Ferdian tergerak hatinya untuk mengirimkan pesan pada Hira.


To : Hira cantik


Sayang, maaf Mas tadi langsung meeting. Maaf baru kasih kabar. Bagaimana tadi ketemuannya dengan Ryan? Jadi?


“Semoga kamu bisa bobok dan mimpi indah Ra, tanpa rasa risau menunggu kabar dariku. Maafkan aku Ra, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi sungguh aku berharap bisa bersamamu sampai akhir usiaku, hembusan nafas terakhirku tanpa kamu merasa terluka.” Rintihan hati Ferdian menatap layar pipihnya yang tak kunjung dapat balasan. Pesan terkirim tapi belum terread, karena handpnone Hira di changer dalam keadaan silent. Setelah menunggu lama, Ferdian akhirnya tertidur dalam perasaan yang kacau tanpa mencoba untuk menelephone Hira.


.


.


“Oh, masih belum kamu buka sayang pesan dari Mas. Apakah kamu marah denganku? Atau kamu terlalu sibuk? Tidak mungkin sibuk, kemarin tidak berangkat kerja dan bertemu dengan Ryan.” Ferdian menepuk-nepukkan handphonenya pada telapak tangannya.

__ADS_1


“Ya Allah pantaskah aku berprasangka? Pantaskah aku mencurigainya? Dia gadis lugu yang aku perdaya dengan kata-kata manis yang penuh harapan dan aku janjikan masa depan yang dari dulu setia padaku. Pantaskah aku yang seperti ini berfikir buruk padanya?” Ferdian menepuk-nepuk kepalanya dengan penuh rasa bersalah.


Tak ada keberanian dari hati Ferdian untuk melakukan panggilan suara ataupun video pada Wanita yang sudah dirindukannya walaupun baru kemarin mereka terpisah oleh jarak.


.


.


“Pawang hatinya Hira!” Tari menepuk bahu Ryco yang sudah sibuk di depan layar pipih lebar di hadapannya, karena Febrian yang masih cuti hari ini membuat pekerjaan Ryco bertambah banyak.


“Maksudnya apa Ri, pagi-pagi sudah rese. Jangan membuat keadaan menjadi rumit hanya dengan hal yang sudah berlalu.”


“Jika dulu pernah ada pasti tetap akan merisaukan hati Co! Jangan munafik kamu, hanya ada kita berdua.”


“Di sekeliling kita ada dinding yang bertelinga Ri.”


“Takut sekali kamu!”


“Bukannya takut Ri, hanya tidak ingin menyakiti hati orang saja!”


“Tapi seandainya Hira masih sendiri tetap kamu embat kan?”


“Bahasamu tidak bisa di cerna oleh brain, tadi mau tanya apa?”


“Adik ketemu gedhemu kok belum nongol, ada apa? Izin kah? Atau memang telat kah? Atau memang sudah tidak mau repot-repot lagi dengan acara lembur-lembur? Atau dia pesta nikahan tanpa ngundang kita?”


“Woe… aku hadir Kakak-kakakku yang ganteng dan cantik! Aku enggan berpisah dengan kalian.” Sahut Hira tiba-tiba mengagetkan Tari dan Ryco takut jika Hira telah mendengar percakapan mereka.


“Tanpa salam, buat orang kaget saja!”


“Kenapa? Kalian belum puas bergunjing jama’ah ya? Atau aku perlu balik lagi ke pintu dan mengucapkan salam?” Tari dan Ryco melonggo melihat ekspresi Hira dan ucapan Hira yang tidak seperti biasa.


“Kata-katanya sih semangat banget ya Ri?” sindir Ryco, saling tatap dengan Tari yang masih melongo mengamati muka Hira.


“Tapi ada apa dengan tu muka?” jawab Tari, Hira tak ada jawaban sama sekali.


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2