
Air mataku mengalir tak terbendung ketika Mas Ferdian menangkup wajahku, kutahan ketika alunan lagu pada lirik “Masihkah terlintas di dada-keraguanmu itu-susahkan hatimu“ membuatku tersayat. Membawaku ke dalam kata-kata chat yang kubaca seketika aku memasuki mobil
+62827..........
Kamu tidak tahu kan, jika Mas Ferdian sudah dijodohkan oleh Pemilik Perusahaan Mandala group! Dengan putri tunggalnya.
Kubaca dengan rasa sakit, “Aku benar-benar tak pantas untukmu Mas. Lirik lagunya memang dalam, sedalam hatimu. Sejauh ini, aku percaya perasaanmu Mas. Tapi apakah keadaan akan merestui kita?” batinku tak mau diam sesuai dengan bibirku yang seolah membeku dengan dalamnya tatapan matanya.
Akhirnya, inilah yang dikhawatirkan Letiana. Ada yang mengusik hubunganku dengan Mas Ferdian. Sebenar apapun kabar itu, tak akan Mbak Emma yang mengatakannya selain dengan tujuan mengusik hubungan kami.
“ Sayang, kenapa ngomongnya nglantur terus dari tadi? Hemm, ayo bicaralah."Mas Ferdian menegakkan wajahku yang merunduk untuk menatap matanya.
“Kita gak akan sampai tempat tujuan jika kita akan berhenti lama di sini.” jawabku mengalihkan topik pembicaraan.
“ Kita memang gak akan beranjak dari tempat ini, Mas merasa ada yang kamu tahan” Mas Ferdian mencoba untuk mengorek kejujuranku.
“Gak ada apa-apa Mas,” kataku melembut dan mengalihkan pandangan.
“Tidak, sini tatap Mas.” Mas Ferdian yang telah berputar 90⁰ dari tempat duduk stirnya menghadapku. Mengalihkan pandanganku untuk menghadapnya yang telah berpaling kembali.
“ Kita akan adem ayem menjalin hubungan ini, jika kita saling terbuka sayang.” aku serius menatap wajahnya.
“ Bacalah.” aku memberikan handphoneku padanya, membukakan Apk chat.
“ Trus, ini yang membuatmu ngomong nglantur tadi?” Mas Ferdian menjawabnya dengan nada tegas. Tapi masih menatapku dengan kelembutan. Tanpa adanya penjelasan hal itu benar adanya atau tidak.
“ Sayang.” dia memelukku erat, seolah tak mau ada perpisahan. Dia menghujaniku dengan kecupan di dahiku, di kedua mataku membuatku terpejam merasakan lembut bibir nya, di ujung hidungku, di kedua pipiku, dan di kedua punggung tanganku.
“ I love you, Hira" aku mendengar dia menyebut namaku. Bibirnya yang menghujani wajahku seperti selimut yang menghangatkan tubuhku. Luluh sudah, hilang rasa curiga di fikiranku.
Aku hanya terdiam, Mas Ferdian melanjutkan perjalanan kami. Mas Ferdian membelokkan arah jalan berbeda dengan arah jalan rumahku. Kami terlalu lama berhenti di jalan, hingga membuat batal ke tempat sasaran lokasi yang kedua yang harus kami kunjungi sesuai rencana hari ini.
“ Mas, Mas ngak mengantar aku pulang?”
“ Bentar, kita mampir dulu ke hotel Mas," aku hanya mengangguk pasrah.
Aku mengikutinya dari belakang tanpa memegang ujung kemejanya, yang seperti biasa aku lakukan. Mas Ferdian menyadari hal itu. Mas Ferdian menarik tanganku
“ Emangnya kamu pegawai Mas apa, ngikut dari belakang? ( Mas Ferdian menghentikan langkah agar aku sejajar dengannya) ayo!” dia menggenggam tanganku.
__ADS_1
Kami memasuki kamar hotelnya, seperti biasanya kamar yang dia pesan selalu kelas elite.
“ Mas mandi dulu ya, tunggu di sini jangan ke mana-mana" dia mendudukkanku di sofa sebelah tempat tidurnya.
“ Kok malah mandi, emangnya tadi tujuan balik ke sini mau ngapain?”
“ Mau memakanmu, jadi Mas harus wangi dulu kan?” Mas Ferdian mendekatkan wajahnya hanya berjarak sepuluh centi dengan wajahku. Membuatku merinding takut.
“ Ya ngaklah sayang, Mas masih punya iman ( Mas Ferdian mencepitkan kedua jarinya di hidungku ) takut amat, Mas tadi mau mengambil sesuatu “
“ Mas mandi dulu, jangan berfikiran aneh-aneh! Okey?” Mas Ferdian keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai tapi terkesan sopan dan rapi.
“ Mau mandi sekalian Dek, ( aku langsung memelototkan mataku ) kita jama’ah isya sekalian. Pasti rasanya dah lengket seharian kita berkelana. ( aku membuah nafasku lega ) Tu ada pakaian yang baru Mas beli kemarin untukmu lupa tak mas bawa. Pakai aja sekalian”
“ Apa mungkin ini yang mau Mas ambil ya?” fikirku dalam diam.
“ Mas gak akan macam-macam kan?” kataku takut.
“ Tidak sayang, demi Allah. Mas tunggu, Mas dah wundlu. Jangan lama!”
“ Hmm." aku membersihkan mukaku dari make-up. Dan segera berdiam di bawah guyuran air shower. Aku segera keluar dengan pakaian yang diberikan Mas Ferdian dan tanpa make-up di wajahku, tapi Mas Ferdian tetap menatapku penuh dengan cinta.
Aku dan Mas Ferdian sampai rumah, sepanjang jalan lorong rumahku terlihat setiap rumah yang kami lewati sudah tertutup semua. Biasanya Bapak dan Ibuku sudah tidur, tapi entah kenapa hari ini seolah Bapak dan Ibu sudah mendapat berita acara. Mereka menonton televisi dengan pakaian yang agak rapi, tak seperti biasanya. Mas Ferdian pun ikut turun mengantarku bahkan masuk rumah. Padahal kalau mengantarku pulang malam, dia langsung kembali.
“ Assalamuallaikum Bapak Ibu’, ( Mas Ferdian dipersilahkan masuk, dan Bapak Ibuk juga duduk di hadapannya ) karena hari sudah malam, dan tidak pantas untuk waktu bertamu. Saya pada intinya saja, tujuan dati pembicaraan kali ini. Saya secara resmi ingin meminang putri Bapak Ibuk, untuk menjadi istri saya. Sebagai langkah awalnya, saya ingin mengikat Dek Hira terlebih dahulu. Walaupun tidak ada sanksi, cukup Bapak Ibuk dan Allah lah sebagai sanksi rasa keseriusanku pada Dek Hira” sudah banjir air mataku mendengar lamaran Mas Ferdian. Kata-kata yang keluar dari bibirnya seperti tanpa hela nafas, membuktikan keseriusannya padaku. Mengobati rasa sakitku.
“ Sini sayang," Mas Ferdian menepuk kursi di sebelahnya mengisyaratkan untuk aku duduki.
“ Gimana Nduk?” pertanyaan orang tuaku seolah secara resmi aku harus menjawabnya dengan kata-kata. Aku hanya mengangguk, bibirku berat tuk berucap.
“ Karna anak kami menyetujuinya, kami hanya bisa merestui dan mendo’akan” kata Bapakku. (Bahasa jawanya sudah di ubah jadi bahasa Indonesia ya,)
Mas Ferdian memakaikan cincin berbentuk sederhana tapi berat terasa di jariku. Dia juga memakaikan gelang emas berbentuk jam tangan. Aku meneteskan air mataku. Betapa sakitnya perasaanku tadi siang, dan sekarang diberikan kejutan seperti ini. Mas Ferdian menangkup wajahku dan mengecup pucuk kepalaku di depan orang tuaku.
“ Karena sudah malam, saya mohon pamit dulu Pak, Buk, tolong jaga Dek Hira jangan sampai ada yang mengambil langkah lebih dulu dari pada saya” Mas Ferdian mewanti-wanti.
“ Iya Nak, segerakanlah niat baikmu. Allah akan melancarkannya.” Kata orang tuaku.
Aku keluar menemani Mas Ferdian yang berpamitan, Bapak dan Ibu meninggalkan kami berdua di luar.
__ADS_1
“ Mas, ( kataku bergelayut manja di tangannya, aku merasa bersalah atas tingkahku tadi siang hingga menggagalkan rencananya bersantai menghabiskan waktu denganku ) maafkan aku”
“Hmm.” jawabannya acuh seolah minta pertanggung jawaban.
“Cium Mas jika ingin menebus rasa bersalahmu” bisiknya di telingaku.
“ Eeemmuach.” aku mengalungkan tanganku di lehernya agar dia sedikit merunduk untuk kugapai sebelah pipinya.
“ Bukan ini yang dicium ( dia menunjuk pipinya ) tapi yang ini...( dia menunjuk bibirnya )” langsung kucubit perutnya.
“ Cepat istirahat, mimpi yang indah. Jangan sampai besok telat.. Okey..” Mas Ferdian merapatkan tubuhnya padaku, wajah kami tak berjarak, jarinya menelusuri alisku, dan mengecup dahiku sebagai akhir kata-katanya. Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Hati-hati di jalan Mas, ( tanganku masih melingkar di pinggangnya ) mimpi indah juga.”
“ Mas minta cium agar tidak ngantuk di jalan" aku memejamkan mataku, mempersilahkan dia mengecup dahiku, tapi yang ada malah Mas Ferdian mengecup lembut bibirku.
“Putar lagu 'Baik-baik sayang by Wali Band', sebagai pengantar tidurmu sayang” bisiknya di telingaku membuatku membuka mataku.
Aku menunggu mobil Mas Ferdian menghilang tak terlihat baru aku masuk ke dalam rumah, Bapak dan Ibu tak menungguku. Mereka sudah terlelap dalam mimpi indah mereka. Aku mengganti bajuku dengan baju tidur dan segera bertemu yang empuk-empuk, tapi dalam waktu yang lama mataku tak bisa terpejam. Aku teringat isi chat Mbak Emma, menyakitkan. Tapi aku mencoba untuk menghempaskan fikiran burukku. Aku memandangi cincin yang di pakaikan Mas Ferdian di jariku. Terukir di situ Fer-Hira, aku menciumi cincin di jariku.
To : Mas Ferdian
Mas dah sampai kan?
From : Mas Ferdian
Sudah, cepat tidur. Mimpi indah ya sayang,
To : Mas Ferdian
He’em, mimpi indah juga.
Aku membuka Youtube dan memutar musik sesuai judul lagu yang di bisikkan Mas Ferdian tadi, setelah mendengarnya aku tersenyum- senyum sendiri dan membuatku terlelap dalam mimpi.
Akankah pelangi muncul setelah hujan reda?
ikuti terus kisahnya ya...
mohon dukungannya...😘
__ADS_1
terimakasih...🙏🙏🙏