
Bunyi handphoneku menyadarkanku dari tatapanku pada Mbak Emma. Aku menatap layar benda pipih yang sudah ada pada genggamanku.
“Angkat dulu saja Ra, mungkin saja penting” kata Mbak Emma yang tidak tahu siapa nama yang tertera di layar handphoneku.
“Aku permisi dulu ya Mbak.” aku membawa handphoneku ke toilet.
“Assalamuallaikum Mas,”
“Waallaikumsalam, kamu sudah pulang Dek?” aku bingung apa yang harus aku katakan.
“Belum Mas, masih ada keperluan. Mas sendiri urusannya belum selesai ya?”
“Maaf ya Dek, kalau ada event karyawan baru dan perubahan posisi memang membuat Mas tambah sibuk. Sepertinya Mas besok masih di kota ini. Besok Mas akan jemput kamu. Tapi sekarang Mas tidak jadi jemput kamu. Maaf ya...?”
“Tidak apa-apa Mas, aku pun masih ada urusan. Nanti kalau sudah pulang aku akan telephone Mas lagi. Ok?”
“Baiklah, akan segera aku selesaikan Urusan Mas. Nanti beneran telephone Mas ya?”
“Heem, Assalamuallaikum.” Aku segera mengakhiri.
“Waallaikumsalam, miss you.”
“Miss you too” gunamku setelah menutup telephone dari Mas Ferdian.
“Mungkin jika mantan pacarmu tahu, kamu telah memberi ikatan padaku di balik cincin yang melingkar ini ( aku memutar-mutar cincin yang tidak terlalu ketat di jariku, menyusuri jalan menuju tempat duduk di cafe ini ) aku tak tahu lagi Mas, kata-kata apa yang akan diucapkannya? Masihkah dia akan memintaku untuk mundur?” kata hatiku yang tak mau diam.
“Mundur. Mundur.” Kata itu yang terucap tanpa aku sadari. Aku kembali menduduki kursi tempat aku meletakkan tasku, Mbak Emma menduduki kembali kursinya karena menungguku menerima telephone. Sebelum benar-benar kami mengakhiri pertemuan ini.
“Maaf ya Mbak, aku lama.”
“Gak masalah Ra, aku tadi juga sedang menelphone seseorang kok..”
.
.
Flashback
“Hallo Er, “
“Iya, Mbak.”
“Ternyata ya, Hira pacar Mas Ferdian. Dia itu, teman pacarmu ya? Kenapa kamu tidak cerita sama Mbak? Cari tahu seberapa jauh hubungan Mas Fer dan Hira. Aku melihat ada cincin di jari Hira.”
“Aku tidak tahu apa-apa Mbak, Ryco tidak pernah cerita apapun. Mungkin saja memang beda Divisi. Lagi pula jangan urusi urusan Kak Ferdian. Biarkanlah dia bahagia Mbak.”
“Jangan berusaha menasehatiku ya!”
“Lalu? Harus bagaimanakah aku bersikap sebagai adikmu?”
“ Aku malu” imbuh Erna.
“Kamu hanya perlu mencari tahu tentang mereka seperti yang aku katakan tadi!”
“Aku tetap tidak mau. Terserah Mbak Emma mau berbuat apa saja, aku tidak peduli. Tapi jangan pernah libatkan aku dalam urusan hatimu yang rumit.”
“Dasar Adik tak tahu terima kasih!”
“ Terima kasih untuk apa? Apa untuk rasa malu yang kamu tinggalkan di mukaku ketika menghadapi Kak Ferdian?” kata Erna dengan jengkelnya.
“Malu kenapa mukamu?”
“Bisa-bisanya ya Mbak kamu tanya seperti itu?”
__ADS_1
“Kamu tak malu dengan perbuatanmu yang tak puas dengan 1 laki-laki saja? Atau kamu bangga dengan kelakuanmu? Sakit yang kau tinggalkan pada seorang laki-laki yang baik pada keluargamu, tidak bisa dimaafkan. Aku yang tidak kau sakiti saja, jijik bertemu denganmu. Syukur alhamdulillah masih ada laki-laki yang mau denganku Mbak. Ada laki- laki yang tidak mengembel-embeli aku dengan stempel cewek matre, karena kelakuan kakaknya."
Tanpa menjawab apapun, Emma langsung saja mematikan telephonenya. Dia segera menutup telephonenya ketika melihat Hira berjalan menuju arahnya.
Flashback off
.
.
.
.
“Hari ternyata sudah larut Mbak, aku mau pulang. Ibu menelphoneku untuk segera pulang.” Aku beralasan agar bisa segera pulang.
“Aku takut mendengar sesuatu lebih banyak lagi, Mbak.” batinku.
“Ok, ayo kita pulang. Aku sudah bayar billnya kok. Ayo aku antar!”
“ Terima kasih, tidak usah Mbak. Aku sudah pesan taksi tadi.” kataku tergesa-gesa ingin mendahului langkahnya.
“ Alhamdullillah taksinya sudah datang," batinku.
“Aku duluan Mbak.” pamitku yang dijawab dengan senyuman.
Emma melaju ke rumah temannya yang ada di sekitar Perusahaan Hira, Nadia. Nadia teman akrab Emma yang telah lama dikenalnya. Nadia bekerja di Perusahaan yang sama dengan Hira tapi beda Divisi. Dari Nadialah Emma mendapatkan semua informasi, kecuali ikatan mereka dan andil Ferdian di Perusahaan. Emma mengembalikan mobil yang dipinjamnya dan di rumah Nadialah Emma menginap. Emma lebih banyak menghabiskan waktu bersama Nadia dibandingkan menemani nenek yang jarang ia temui.
.
.
.
From : Bang Ryco
Ada chat masuk, dan tertera di situ Bang Ryco.
To : Bang Ryco
Aku masih di jalan Bang. Tunggu bentar, sekalian aku mau salat. Aku belum salat magrib.
From : Bang Ryco
Ya Allah, dari tadi kamu ngapain Ra? Buruan, aku tunggu.
.
.
.
Tanpa aku balas, turun dari taksi aku segera mampir ke masjid dekat Bang Ryco nongkrong. Terasa leganya hatiku terlepas dari Mbak Emma. Disetiap gerakan bibirnya membuatku deg-degan.
Aku memasuki cafe dengan bau asem yang ada di pakaianku. Aku kagetkan Bang Ryco yang serius memainkan handphonenya. Entah sibuk ngapain.
“ Serius amat!” tepukanku di bahunya membuatnya terkaget.
“Kamu sudah bosan lihat aku Ra?” kata Bang Ryco jengkel.
“ Jangan ngomong gitu Bang,” aku mencubit lengannya dan duduk di kursi depannya.
__ADS_1
“ Baru berapa hari saja kamu mendengarkan keluh kesahku, sudah mau ikhlas saja membuatku kehilangan tempat curhat Bang!” imbuhku.
“Habisnya kamu sih mengagetkanku.”
“ Lagian serius sekali! Hayo lihat apaan coba? Lihat yang anu-anu ya?”
“ Suttttttt anak kecil juga! Anu-anu apa? Sudah jorok ya fikiranmu? Apa kamu sudah....?” Belum selesai Bang Ryco ngomong sudah aku lempar dia pakai gulungan tisu yang ada di meja cafe.
“Ih...ih...Adik Imutku marah? Sadis amat, pakai lempar-lempar. Tak heran ya, jika Ferdian langsung menyosor kamu aja.”
“Jangan diungkit Bang! Malu tahu!”
“Ngomong-ngomong kamu dari mana saja sih Ra? Belum pulang ke rumah ya? Ini kan masih pakaian tadi pagi?”
“ Hehehe...bau acem ya? Maaf, aku kira kamu sama Erna Bang.”
“ Ya ngak lah, emangnya aku dodol apa! Mendengarkan ceritamu mengajak adik mantannya pacarmu?”
“ Syukur deh, matur nuwun Abangku, baiknya.”
“ Maaf Ra, tadi aku diajak Erna jemput kakaknya. Paling juga mampir sebentar nengok neneknya terus hilang tak berjejak. Padahal Ra, aku tahu kalau kakaknya seperti itu. Tapi aku masih mau saja diajak untuk jemput. Tidak berfaedah, tapi aku juga ngak enak masak aku ngajari Erna untuk lebih dalam membenci kakaknya.”
“Tidak apa-apa Bang, aku tahu kok. Tidak usah sungkan seperti itu.”
“Ra, kita sudahi bercandanya. Langsung saja, jika kita mengharapkan waktu untuk bersahabat dengan kita pasti tidak mungkin. Kamu datang saat ini, pasti kamu sudah sepakat untuk terbuka denganku kan? Dalam ikatan yang muter-muter ini, aku harap ‘aku bisa membantumu Ra’. Tanpa maksud tersembunyi.”
“Iya aku tahu,”
“Mulailah dengan nomer yang tidak bernama yang muncul di notifmu.” aku tanpa berfikir panjang langsung membukakan chat dan memperlihatkannya ke Bang Ryco.
“Ini, siapa?” tanya Bang Ryco, memendam keyakinannya.
“Kakaknya Erna, Mbak Emma.”
“Tapi tidak mungkin jika Erna memberikan nomermu pada Emma karna Erna sendiri belum punya nomermu. Aku dan Erna memang menyaksikan kencanmu yang asyik di pantai waktu itu. Tapi setelah aku tahu itu kamu, aku sama sekali tidak cerita sedikitpun tentang kamu Ra. Dan Erna membenci Kakaknya. Dia menceritakan kisah Kakaknya. Dan aku melihat langsung ekspresinya saat dia melihat Ferdian bahagia bersamamu, dia juga bahagia. Dari hal itu aku yakin tidak mungkin jika informasi tentangmu bocor karna Erna.”
“Iya, aku percaya. Tidak usah panjang lebar Bang. Santai saja.”
“Jangan menyepelekan gitu Ra, dari pesannya saja sudah terlihat maksud busuknya. Pesan itu bukan pesan persahabatan tapi komporan Ra,” kata Bang Ryco penuh dengan emosi.
“Adiknya saja memiliki rasa benci sampai segitunya. Pasti tidak sesederhana seperti yang kamu kira Ra. Inilah ujianmu berikutnya Ra, aku harap kamu kedepannya tidak akan memendamnya sendirian.”
“Terus Ferdian bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“ Itunya.... ( jawaban bang Ryco membuatku bertamasya ) hai...( Bang Ryco menyentil dahiku ) ya... Ferdian tahu ngak kalau mantannya bertindak seperti itu?”
“ Ya ngak lah, aku jadi ember bocor dong! Hari ini Mbak Emma nemui aku saja aku ngak bilang!" suaraku makin pelan.
“Emma nemui kamu? Jadi sampai jam segini kamu belum pulang gara-gara nemui orang itu!” aku hanya mengangguk.
“Ra, kamu tidak menyembunyikan sesuatu hal yang lain lagi kan?” aku hanya mengangkat kedua bahuku.
From : Mas Ferdian
Sudah pulang belum? Kok belum menghubungi Mas?
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
kepoin di episode berikutnya ya...😘