Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 25


__ADS_3

“Ra..Ra,“ panggilan Bang Ryco mengagetkanku. Aku tersadar dari fikiranku yang berkelana.


“Iya, Bang?” jawabku dengan nada yang memelas.


“Baru hari ini akan aku tinggal, belum aku melangkah Ra. Kamu sudah seperti ini.” Kata Bang Ryco yang mengecohkan apa yang aku fikirkan.


“ Ya...ya, tinggal saja. Tidak apa-apa Bang.” Aku melanjutkan kerjaanku dengan banyak teka-teki di fikiranku.


“Jika urusanku selesai, kita sharing ya?” kata Bang Ryco sambil menepuk pundakku.


“Janji?” Dia masih menunggu persetujuanku. Dan aku hanya mengangguk menyetujuinya. Aku berfikir, Bang Ryco memang orang yang tepat untuk aku menyandarkan fikiranku yang penuh teka-teki ini. Mungkin dibalik rumitnya misteri kehidupan kami, dia memiliki setidaknya sedikit jawaban dari pertanyaanku.


Notulen Ra, bawa ke ruanganku.


Tiba-tiba chat dari Pak Febrian masuk, mungkin dia sudah memperhatikanku dari ruangannya. Aku sudah melanjutkan apa yang tadi diinstruksikan Bang Ryco.


Tok...tok...tok....


Aku mendengar perintah masuk dari Pak Febrian, aku segera membuka pintu dengan perasaan yang was-was.


“Permisi Pak, ini notulennya, dan sudah rencana tindak lanjutnya juga.”


“Ra, ada masalah?”


“Oh, ini tadi dari Bang Ryco Pak, saya tinggal melanjutkan sesuai instruksinya.”


“Bukan ini Ra, yang aku tanyakan. Tapi masalah pribadi.”


“Maaf Pak, jika masalah pribadi. Jika Bapak ingin mendengar jawaban saya atas pertanyaan Bapak. Saya mau bertanya terlebih dahulu. Jika Anda disuruh memilih, akan berpihak padaku atau pada Mbak Rina? Karena Anda sepupu Mbak Rina, saya rasa tidak usah dijawab. Jawabnya sudah pasti Mbak Rina. Iya kan?”


“Mode santai saja, Ra. Kamu kan belum mendengar jawabanku?” katanya tanpa beban.


“Mungkin kamu tak percaya Ra, aku akan pilih kamu. Aku melihat cinta yang begitu dalam di mata Ferdian. Dan aku melihat kebahagiaanmu juga. Dari sisi ini saja, jika aku mendukung Rina. Kedepannya Rina juga tak akan pernah bahagia jika dia bersanding dengan Ferdian.”


“Kenapa?” jawabku, penuh dengan pertanyaan di fikiranku. Tak sadar dengan apa yang telah aku ucapkan.


“ Mengapa, kamu tanya kenapa? Sebesar apapun mata Mas Ferdian terpancar cinta, bagaimana pun aku bahagia. Tapi pada umumnya, orang akan mendahulukan saudaranya kan, daripada orang lain?”


“Iya, secara umum memang seperti itu. Tapi aku berfikir, daripada berusaha bahagia tapi tidak bahagia dan merampas kebahagiaan orang lain. Mending dari awal kita tahu kenyataannya dan berusaha menerima. Jika memang kalian membutuhkan bantuan untuk selamat dari cinta Rina yang mungkin memaksa, aku siap membantu kalian.”


“Kenapa Anda bilang dengan tegas cinta Rina yang mungkin memaksa?” ada hal janggal disini.

__ADS_1


“Aku tahu watak sepupuku itu, aku tahu dia mencintai Ferdian sudah lama, seperti yang aku bilang kemarin. Dan tatapan mata kalian tadi di ruang meeting. Dengan jelas terlihat ada masalah di antara kalian. Maaf aku mengurusi urusan pribadimu. Selain ada rasa peduli padamu, apa yang terjadi pada karyawanku akan mempengaruhi kinerja kita.” aku hanya terdiam tak bisa berkata.


“Aku berharap kamu mengerti dengan maksud dan tujuanku, lebih kamu ambil positifnya saja.”


“Iya Pak, maaf” rasa bersalahku, terlalu mencecarnya dengan pertanyaan yang tidak jelas.


“Tidak apa-apa, kerajaanmu sudah beres. Pada meeting selanjutnya, tetap kamu yang mengikuti.”


“Baik, Pak.” Aku keluar dari ruangan Pak Febrian. Tinggal aku dan Mbak Tari yang ada di ruangan ini. Sepi rasanya, mungkin karena aku sudah terbiasa ada sambutan ocehan bulian Bang Ryco.


 


+62827..........


Calling...


“Iya Assalamuallaikum,”


“Waalaikumsalam. Temui aku di dekat kantormu.”


“Baiklah, Mbak. Tapi setelah pulang jam kantor. Kalau sekarang aku tidak bisa. Maaf.”


“Ok. Tidak masalah.”


Bang Ryco


Calling....


“Iya, Bang?”


“Ra, maaf aku tidak balik kantor ya. Tadi aku sudah izin sama Pak Febrian kok.”


“Ok-ok. Aku sudah lakukan kerjaan tadi sesuai perintahmu. Sudah disetujui.”


“Ra, malam nanti kamu kosong ngak? Sesuai janjiku, kita sharing.”


“Belum tahu sih Bang, nanti aku chat.”


“Tidak ada masalah apapun kan Ra?”


“ Semoga tidak ada apa-apa Bang.” Ryco menutup telephonenya dengan perasaan yang janggal.  

__ADS_1


Setelah telephone dari Ryco berakhir, aku mencuri waktu mengerjakan materi kuliahku. Aku merasa tidak masalah karena ada waktu luang sebelum jam pulang kantor. Aku merasa tidak enak hati seandainya harus izin. Terlihat mbak Tari masih sibuk dengan komputernya. Aku hanya berharap Mas Ferdian lagi sibuk dan tidak sempat menjemputku. Aku tidak tahu harus bicara apa jika aku akan bertemu dengan mantan kekasihnya.


Jam pulang kantor tiba, semua karyawan sudah habis tidak tersisa. Tinggal aku dan Pak Febrian masih menghadapi laptopnya yang menyala. Aku mengetuk pintu transparannya sebagai tanda aku pamit keluar terlebih dahulu. Aku segera menuju cafe ABC di dekat Perusahaan.


“Hai....” lambaian tangan seorang wanita yang bertubuh sexy, tinggi semampai lebih tinggi sedikit dariku, parasnya yang cantik lebih putih dariku. Berdiri menyapaku.


Aku menoleh ke kiri-kananku, tidak ada orang. Memastikan bahwa aku lah yang dia sapa. Aku juga melambaikan tanganku, berjalan menujunya. Dia memilih tempat di sudut cafe ini, jauh dari meja pengunjung lainnya. Seolah ini tempat yang cocok untuk mencaci makiku. Padahal di meja inilah pertama kali aku bertemu Mas Ferdian.


“Semoga ini bukan tempat yang menjadi sanksi rasa maluku ya Allah, semoga tempat ini akan tetap jadi tempat kenangan terindah saja di antara aku dan Mas Ferdian.” batinku ketika aku menduduki kursi yang dia persilahkan.


“ Hira kan?”


“Iya Mbak,”


“Mbak Emma ya?” kataku mencari kebenaran.


“Mau pesan apa, minum? Makan juga?” tawaran Mbak Emma yang lembut membuatku diantara takut dan lega.


“Terserah Mbak Emma saja.” Mbak Emma memesan makanan yang bersahabat dengan perutku. Seolah dia sudah tahu semua makanan pantanganku.


Kami makan makanan yang dipesan Mbak Emma, setelah dia selesai dia mulai memasang wajah yang serius.


“Ra, aku serius dengan yang aku katakan dalam chat kemarin.”


“Harus bagaimanakah aku menjawab Mbak, aku berterima kasih atas kebaikan Mbak Emma.” Mbak Emma tidak menyadari ada cincin yang melingkar di jari manisku.


“Aku ingin bersahabat denganmu Ra, jangan kamu salah artikan maksud baikku. Berfikirlah dengan hati-hati sebelum kamu melangkah lebih jauh.” Katanya dengan wajah yang teduh, seolah ada ketulusan di dalam hatinya.


“Sekali lagi terimakasih, Mbak. Apakah Mbak Emma punya saudara di sini? Kenapa harus jauh-jauh untuk menemuiku?” kataku pura-pura tidak mengetahui.


“Aku memang berniat menemuimu, tapi aku punya nenek di sini. Sudah lama aku tidak mengunjunginya. Jadi ini aku jadikan kesempatan yang bagus. Lagi pula ada bisnis dikit di sini.”


“Syukurlah Mbak, jika memang seperti itu.” kataku seolah aku tak tahu maksud buruknya dibalik kelembutan kata-katanya. Seperti apa yang dikatakan Letiana, dia benar-benar menakutkan. Bahkan aku tidak bisa menilai hatinya dari wajahnya.


“Dia begitu mencintaimu Mas, hingga sejauh ini dia ingin tetap memilikimu.” batinku melihat tatapan matanya.


Seolah telah menjalin keakraban dia menggandeng taganku, bahkan menawari untuk mengantarku pulang. Tapi aku menolak tawarannya. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Aku segera mengangkatnya.


Bersambung....


Kita tenggok lanjutannya di episode berikutnya,😘

__ADS_1


Mohon dukungannya,


Terimakasih...🙏🙏🙏


__ADS_2