Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 65


__ADS_3

Aku memasuki rumah dan menutup pintu pagar tanpa melihatnya kembali, tanpa menunggunya meninggalkan depan rumahku.


“Maaf, kamu memang baik padaku Mas Febrian tapi sungguh aku tidak ingin memanfaatkanmu untuk lebih dalam menipu diriku. Walaupun kamu bersedia menunggu perasaanku padamu tapi aku tidak ingin menyakitimu ketika kamu menungguku. Biarkanlah kita seperti ini, kamu tidak memiliki kewajiban memperbaiki nama baikku di masyarakat. Dan aku, biarlah aku dengan lukaku. Akan aku jadikan ini sebagai cambukku menjalani sisa hidupku.” Gunamku seketika aku memasuki kamar, menata tempat tidurku yang masih berantakan tergesa-gesa segera berangkat ke kantor.


Tanpa mimpi aku bangun kembali dari tidurku yang langsung terlelap mungkin karena betapa capeknya hati dan fikiranku hingga meremukkan seluruh ragaku.


Seperti biasa, setelah bersiap aku langsung pergi ke kantor, semenjak Mas Ferdian hilang dari udara telah lama aku tidak pernah mementingkan sarapan lagi. Seolah tidurku sepaket dengan makan, jika sudah bisa memejamkan mata seolah sudah makan saja. Aku berangkat kantor masih naik kendaraan umum, sesekali naik taksi. Aku belum berani beli kendaraaan sendiri meskipun saldo yang diberikan Mas Ferdian bisa aku gunakan untuk beli mobil, sesuai permintaannya dulu.


Aku menolaknya ketika dia berkeinginan membelikanku mobil, selang berapa bulan penolakanku yang beralasan dia mengirimkan nol-nol yang wau. Lima tahunpun aku kerja tidak akan bisa aku sisihkan mencapai transferannya.


Sampai sekarang, terkontrol ataupun tidak, aku sama sekali tidak pernah berfikir untuk menggunakan uang yang selalu dia transfer, bahkan baru semalam dia bilang pagi hari sudah ada notif dari layanan Banking. Padahal aku sudah melarangnya untuk tidak menafkahiku, kata menafkahiku selalu mendengingkan telingaku. Mungkin itu yang selalu aku damba dari dulu, mendapatkan nafkah dari suami menyandarkan kepalaku di bahunya.


“Pagi Ra, telat?” sapa Bang Ryco pelan.


“Maaf,”


“Tidak apa-apa Ra, yang penting kamu masih nongol di sini saja aku sudah bersyukur. Aku khawatir sama kamu.”


“Khawatir karena apa? Karena banyak kerjaan!” kataku nyolot membuat Bang Ryco tak banyak berkata lagi. Suasana hatiku jadi tidak nyaman, tidak tahu entah aka nada apa. Jujur aku sedikit tidak enak hati setelah melewati ruangan Paak Febrian yang tertutup dengan tirai, tapi masih terlihat ada cahaya layar komputernya.


“RA, tolong antar ini ke ruang Pak Ryan ya.”


“Pak Ryan?” tanyaku, fikiranku agak oleng.


“Iya, Pak Ryan. Dia butuh berkas ini, dan Pak Febrian sudah mengizinkan untuk memintanya langsung ke kita.”


“Why?”


“Tidak tahu, jika kepo tanya orangnya sendiri.” Nada pembicaraan Bang Ryco sedikit menyakitkan telinga, aku menyadari dia sepertinya berusaha membalasku.


Aku hanya meletakkan tasku dan segera melaju ke kantor Pak Ryan. Sudah lama aku tidak menjumpainya, seolah berlalu begitu saja setelah terakhir kami janjian. Tapi aku tidak canggung sama sekali dengannya, kadang kala dia masih mengirimkan chat padaku. Walaupun hanya satu kali dua kali balasan.


.

__ADS_1


.


Akhirnya aku sampai rumah, rasanya waktu berjalan lambat hari ini. Pak Febrian terang-terangan menghindariku hari ini, membuat Bang Ryco tanpa enggan bertanya. Semenjak Mbak Tari pindah dan semenjak dia baliikan dengan Mbak Erna aku mengurangi bertemu dengan Bang Ryco secara pribadi walaupun kadang kala dia tidak enggan untuk main kerumah walau hanya untuk menyapa ibu. Bang Ryco selalu menanyakan dengan bebas apa yang ingin dia tahu. Dan aku cerita begitu saja, sambil bergelut dengan kerjaan. sudah tidak adaacara bisik-bisik lagi.


.


.


Tak lama aku merebahkan tubuhku, ibu mengetuk pintu kamarku. Tok…tok…tok…


“Masuk saja Bu, tidak di kunci.” Walaupun orang dibalik pintu tidak bersuara, aku tahu jika itu ibu. Karena dari kecil bapakku tidak pernah mengetuk pintu kamarku. Jikapun ada sesuatu yang ingin disampaikan Bapak, ibu yang selalu memanggilku.


“Opo Ibu ganggu, Nak.”


“Tidak Bu, masuk saja.” ibu membuka handle pintu.


“Nak, ibu pengen ngobrol sama kamu tidak apa-apa kan?” ibu duduk di kasurku, aku mendudukan tubuhku mehadap ke Ibu sudah menangkap apa yang akan disampaikan Ibu adalah hal yang serius.


“Silahkan, maaf akhir-akhir ini Hira sibuk.” kataku meluluhkan keresahan hati Ibu yang sedikit terlihat ragu untuk memulai berbicara.


Flash back


“Assalamuallaikum Bu,”


“Waalaikum salam Nak, silahkan masuk.” Ibu berkata masih dengan biasa saja, ibu tidak melampiaskan amarah sama sekali.


“Apakah bapak ada di rumah juga bu?”


“Tidak Nak, apakah Bapak akan segera pulang?”


“Silahkan bicara saja jika memang ada hal yang ingin Nak Ferdian sampaikan. Ibu tidak tahu Bapak nanti akan lama atau tidak.”


“Saya memberanikan diri ke sini untuk memohon maaf Bu, pada ibu dan Bapak karena telah menyakiti hati Dek Hira dan menodai kepercayaan Bapak dan Ibu. Saya benar-benar ingin mohon ampunan. Dengan ekspresi Ibu yang tidak terkejut dan dengan sikap dek Hira yang memang selalu terbuka dengan Ibu, saya yakin Dek hira sudah menceritakan semuanya pada Ibu. Walaupun saya telat untuk meminta maaf padanya dan dia mengetahui terlebih dahulu sebelum saya jujur padanya.” Ferdian sungkem di kaki ibu secara tiba-tiba, ibu sudah faham.

__ADS_1


“O, jadi kemarin malam Nak Ferdian yang mengantar Hira? Ibu mendengar ada mobil yang berhenti tapi tidak mampir.” Ferdian sedikit terkejut tapi tidak berani menyangkal. Masih sungkem di kaki ibu.


“Sebenarnya sungguh di sayangkan sekali dengan hubungan kalian yang sudah berakhir seperti itu. Ibu berterima kasih atas semua perhatian yang nak Ferdian berikan pada Hira. Ibu sudah menganggap Nak Ferdian seperti anak sendiri, tapi memang kita tidak tahu apa rencana Allah. Ibu dulu memang meragukan hubungan kalian yang memang kita beda derajat.” Ibu mengelus kepala Ferdian yang masih di letakkan di pangkuan Ibu, belum berdiri dari sungkemnya.


“Saya tidak pernah membedakan Bu, sekaya apapun seseorang belum tentu derajadnya tinggi di hadapan Allah, saya mencintai dek Hira dengan tulus apa adanya. Saya sudah memohon pada dek Hira agar dia tetap mau menjadi istriku tapi dia menolaknya dengan tegas. Maaf Bu, bukan berarti aku merendahkan dek Hira, tapi diriku sendiri yang tidak sanggup hidup tanpa kehadirannya.” Walaupun Ibu terbelalak tapi ibu sama sekali tidak berucap kasar.


“Bu, Ferdian mohon bujuklah dek Hira untuk mau jadi istriku. Saya jamin Bu, namanya tidak akan tercemar di kota ini. Tidak akan ada yang tahu jika saya memiliki dua istri. Dia akan tetap jadi prioritasku.”


“Tidak Nak, ikhlaskan saja. ketika Hira sudah mengucapkan keputusannya dia tidak akan goyah walaupun masih belum ikhlas sekalipun. Dia akan menahan rasa sakitnya sendiri. Itu yang ibu tahu, tapi Ibu tidak tahu bagaimana dia ketika bersamamu, karna ibu tahu kamu begitu memanjakannya. Ibu berterima kasih sekali. Kamu memberikan semua yang dia butuhkan, yang tidak bisa aku berikan sebagai orang tuanya. Berbahagialah dengan pasanganmu, semoga segera diberkahi keturunan yang soleh solehah. Ibu akan mendo’akanmu. Berdirilah, duduklah di kursi.” Ibu mengangkat bahu Ferdian, Ferdian segera mendudukkan dirinya di kursi.


“Saya benar-benar berharap bisa menjadi anakmu Bu, suami dek Hira.”


“Kamu masih bisa menjadi putraku, silahkan mampir jika memang kamu sampai di kota ini. Kita bisa menjaga tali silaturahim walau tidak dengan jalan pernikahan.”


“Dek Hira juga berkata seperti itu Bu, kemarin. Dia menyuruhku segera balik. Dan dia tidak tahu jika saya ke sini.”


“Jaga kesehatan Nak,” ibu menepuk lengan Ferdian seolah itu akhir dari perbincangan.


“Ya sudah, Ferdian balik ya Bu. Ferdian akan langsung ke kota A, jaga Kesehatan Ibu baik-baik. Jika ada apapun silahkan hubungi Nomer Ferdian, sampai kapanpun nomer Ferdian akan tetap sama.”


“Terima kasih Nak, hati-hati di jalan.” Ibu mengiringi Langkah Ferdian yang melangkah dari pintu.


“Salam sungkem Ferdian untuk Bapak, Bu." kata Ferdian sebelum dia menaiki mobilnya.


Flash back off


Aku manggut-mangut mendengar apa yang diceritakan ibu, walau hatiku terasa sedikit sakit.


“Ibu tidak bilang jika Pak Febrian melamarku kan?”


“Ora kok Nak, tapi kamu tidak berfikir ulang untuk mau dijadikan istri ke dua kan?” aku mengelengkan kepalaku lemas.


“Sebenarnya yang mengantarkanku kemarin bukan dia kok bu, tapi Pak Febrian. Tapi tidak apalah… biarkan dia berfikir-fikir dan biarkan dia salah faham. Mungkin dengan begitu dia akan mudah mengikhlaskanku. Akan aku jalani kehidupan kami dengan lembaran baru. Semua akan jadi masa lalu dan welcome hari-hari cerahku kedepannya. Aku ingin bekerja dengan penuh kebanggaan kedepannya. Do'akan Hira kuat, Bu.” Ibu menepuk-nepuk pundakku. Menyemangatiku untuk bersabar.

__ADS_1


Lanjut episode berikutnya,


__ADS_2