
Taruhan yang dilakukan Ryco dan Tari sudah ada jawabannya. Tari melongo melihat Ferdian keluar dari pintu kamar Hira, membayangkan selama seminggu isi kantongnya akan berkurang dengan permintaan Ryco yang terkadang tidak masuk akal. Ryco kegirangan seolah mendapat menang lomba balap karung, menjulurkan lidahnya mengejek kekalahan Tari. "Makan gratis seminggu." gunamnya pelan pada Tari penuh dengan aura kemenangan. Tari hanya menjawabnya dengan helaan nafas.
Kami menyusuri jalan menuju kebun teh, ada Mbak Tari sekalian yang berada di sisi kananku, Mas Ferdian di sisi kiriku. Bang Ryco yang asyik dengan aksinya bersama Erna, berjalan di belakangku. Melihat Mbak Tari yang bermuka masam, hatiku terasa tidak tenang. "Apakah yang di fikirkan Mbak Tari ya? Apakah dia berfikir aku sudah.... dengan Mas Ferdian? Muka Mbak Tari seolah dia menyimpan sesuatu! Apalagi ketika Mbak Tari lihat Mas Fer, dia langsung tepuk jidat dengan muka kecewa."
"Mas Fer baru tiba larut malam" tiba-tiba aku membisikkan kata itu pada telinga Mbak Tari sebagai penjelasan.
"Semoga dia tidak berfikir yang aneh-aneh padaku. Membayangkan yang jorok-jorok yang sudah pernah mereka lakukan!" batinku.
"Bang kita tukar kamar yuk!" kataku pada Bang Ryco tanpa minta persetujuan Mas Ferdian. Aku menoleh kebelakang.
"Maksudnya?" tanya Bang Ryco ragu dengan jalan fikiranku.
" Ya, aku sekamar dengan Erna, Abang dengan Mas Ferdian."
"No, tukar kamar saja dengan Tari!" aku hanya memandang Mbak Tari penuh kata tanya di mataku. Aku tidak berani bertanya langsung, aku tidak begitu akrab dengan pacarnya.
" Maaf ya Ra, kali ini kita tidak sejalan." sahut Mbak Tari menatapku setelah mendengar apa yang dikatakan Ryco sebelum aku berucap, seolah dia hanya ingin menikmati moment ini bersama pasangannya.
Fikiranku traveling ke mana-mana, Mbak Tari bercerita rasa kecewanya melihat Mas Ferdian yang datang ke sini. Dia kalah taruhan dengan Bang Ryco. "Apakah Mas Ferdian marah denganku ya? Semenjak aku usul untuk tukar kamar dia tidak bicara apapun." batinku
"Maksudnya?" jawabanku dari pertanyaan Mbak Tari, terlihat dia jengkel mendengar jawabanku.
"Maaf Mbak, aku benar-benar tidak begitu mendengar kata-katamu. Fikiranku lagi tamasya" batinku.
"Fer, kamu apain Adikku yang satu ini. Dari tadi diajak ngomong gak connect!" tiba-tiba Mbak Tari memukul lengan Mas Ferdian dan menanyakan sikapku.
"Mungkin fikirannya lagi tamasya, Ri" jawaban Mas Ferdian terdengar santai. Membuatku semakin takut, jika hanya aku yang merasakan dinginnya.
"Suara priamu sexy, inikah yang membuatmu bertahan. Apakah dia juga sesexy itu ketika...." bisikan Mbak Tari membuatku mencubit pinggangnya yang menempel padaku.
"Jorok Mbak! Aku belum pernah itu.... "
__ADS_1
"Bercanda,"
"Hayo!" suara Ryco dari belakang punggung kami membuat aku dan Mbak Tari yang asyik berbisik, kaget.
"Lanjutin saja keasyikanmu Bang!"
" Akhirnya kita sampai, laper banget perutku." Bang Ryco menggandeng Erna berjalan mendahului kami berempat.
Mas Ferdian menggandengku mengajakku duduk di bangku pojok warung. Dia menghimpitku, seolah hanya dia yang boleh duduk sejajar denganku. Mbak Tari dan calonnya duduk semeja berhadapan dengan kami.
" Dinikmati saja Ra, moment kali ini. Semua yang kita lakukan kita tahu resikonya. Tidak usah risau dengan omongan orang. Nikmati saja kebahagiaan kita." ucapan Mbak Tari yang tiba-tiba seperti itu membuatku menatap Mas Ferdian yang mengangkat bahunya seperti membenarkan kata-kata Mbak Tari.
Ada sepasang mata yang menatapku tak sengaja aku melihatnya. Pandangannya penuh dengan rasa penasaran, tatapan itu membuatku merasa bersalah.
"Sayang," panggilan Mas Ferdian menyadarkanku dari tatapanku pada orang yang berada di sebrang bangku. Mas Ferdian berusaha mencari sesuatu yang telah membuat pandanganku terpaku.
"Hmm."
" Mau ganti menu?" tanya Mas Ferdian lembut, masih ku jawab dengan gelengan. Ku lirik orang yang berada di sebrang masih memperhatikanku, seolah menuntut penjelasan.
"Ra, kenapa kamu tidak semangat makan. Ini sudah menu favoritmu semua lho, kamu biasanya paling semangat makan! Ayo makan dong!" kata Mbak Tari.
"Hemm, iya." jawabku kaku, Mas Ferdian masih memperhatikanku.
"Makan yang banyak, kamu membutuhkan tenaga ekstra untuk menghadapi Mas nanti, ok?" bisik Mas Ferdian di telingaku.
"Vitamin apa yang kamu bisikkan Fer? Lahab benar!" teguran Mbak Tari membuatku malu.
" Vitamin sejuta kasih, Ri." Mas Ferdian menatapku lembut, mengedipkan sebelah matanya menggodaku. Ku menatapnya dan ku manyunkan bibirku menanggapi gombalannya, dibalas dengan mengecup bibirku singkat.
"Mas," peringatanku dengan nada geram. Ku cubit perutnya karena rasa malu di depan Mbak Tari dan ini tempat umum. Ku rasakan dengan jelas perubahan sikapnya, "Tadi dia dingin sekarang mesra, membuatku jadi takut." batinku menatapnya.
__ADS_1
" Aku tahu, ada orang yang memperhatikanmu. Dan kamu sadar hal itu! Apa kamu ketahuan menutupi statusmu yang sudah ada pemiliknya?" seolah itu pertanyaan yang ada di hati Mas Ferdian terlihat jelas dari tatapan matanya, kecupan yang sengaja dia lakukan menunjukkan sebuah pengumuman status kepemilikannya.
" Jangan mengumbar kemesrahan di sini ya!" Ucapan Fernad, calon Mbak Tari membuatku tambah malu. Jarang sekali dia mengeluarkan suara emasnya. Dia jarang bicara di hadapan kami, mungkin dia merasa mendengar celotehan anak kecil hingga jarang membuatnya ikut nimbrung dalam obrolan kami.
" Biarkan saja sayang, mereka jarang bertemu. Biarkan mereka mengekspresikan rasa rindu mereka. Anggap saja kita tidak melihat." teguran Mbak Tari pada kekasihnya yang membuat Mas Ferdian mengacungkan jempol pada Mbak Tari.
"Kalian kompak sekali." jengkelku pada kekompakan Mas Ferdian dan Mbak Tari. Aku merasa dirugikan dalam hal ini. Mas Ferdian menambah kecupan kecil di pipi kananku. Aku hanya menatapnya tajam merasa dirugikan.
" Stempelku." bisikan Mas Ferdian telah membenarkan apa yang aku fikirkan dari tadi. Aku hanya mengangguk-angguk pasrah atas perlakuannya.
Kami makan dengan lahab setelah panjang lebar gurauan tanpa ada suara Bang Ryco yang merecoki. Biasanya dia yang menambah seru suasana. Bang Ryco duduk dengan Erna sebangku dengan Pak Febrian dan Pak Ryan.
.
.
"Wah yang habis duduk dengan bos-bos, pasti menunya lebih special." Mbak Tari meninju pelan lengan Bang Ryco, kami berkumpul lagi setelah sampai di lokasi sasaran libur.
"Sama saja Ri, jangan mengadi-ngadi! Membuat rusuh suasana romantisku saja!" Bang Ryco nempel terus sama Erna,
"Tu Ra, lihat Abangmu yang satu itu! Di kasih contoh secara langsung bagaimana gaya pacaran versi orang dewasa" kata Mbak Tari padaku. mengarahkan jari telunjuknya pada arah Bang Ryco yang tak jauh dari pandangan kami. Mbak Tari mengedipkan sebelah matanya pada Mas Ferdian seolah mereka bersekutu.
" Aduh," keluhku menutup dahiku hingga mataku pakai satu tangan kiriku. Mas Ferdian mengeratkan jari-jari tangannya di sela jari-jariku. Membuatku menatapnya meminta jawaban maksud dari eratan genggamannya. Kata-kata Mbak Tari seolah Peluru ditembakkan pada sasaran yang tepat.
Mas Ferdian menangkup wajahku membuatku menatapnya.Mas Ferdian menatap mataku penuh dengan penekanan mengiyakan seluruh kata-kata yang diucapkan Mbak Tari.
"Dengarkan, pemandu cinta kita. Dia tempatmu berkeluh kesah 'kan?" aku hanya menganggukkan kepalaku yang masih dalam tangkupan tangannya.
"Kita.... "
Bersambung,
__ADS_1
ikuti dalam episode berikutnya, 😘