
Tak lama aku telah bersikap pasrah, Mas Ferdian menempelkan bibirnya pada bibirku, membuatku memejamkan mata. Terasa hangat menelusuri masuk ke dalam bibirku, perasaan seakan melayang aku dibuatnya. Semakin dalam dia memasukkan lidahnya, terasa pedas aku rasakan di bibirku seakan membengkak setelahnya. Aku hanya diam tanpa membalas, sensasi yang baru pertama kali aku merasakannya. Mas Ferdian menikmatinya tanpa terasa menuntut aku membalas setiap pergerakannya.
"Ya Allah ampuni aku. Aku hanya ingin bahagia, jangan sampai ini menjadi catatan dosaku." rintihku di dalam hati merasakan hangatnya bibir Mas Ferdian. Rasa takutku muncul di dalam hati. "Hira, tenangkan hatimu. Ada orang lain yang melakukan lebih dari ini." aku mencoba menenangkan hatiku agar tidak membuat Mas Ferdian tersinggung.
Setelah lama Mas Ferdian menjelajahi hingga rongga mulutku, aku sedikit merapatkan bibirku membuatnya berhenti berjelajah. Nafasku terengah-engah seolah kehabisan oksigen dia melepaskan tautan bibirnya masih memejamkan matanya menempelkan dahinya di dahiku. Aku merasakan hembusan nafasnya menyapu wajahku.
"Maafkan aku," kata Mas Ferdian lembut aku hanya menggelengkan kepalaku. Dia memegang erat kedua tanganku, mengaitkannya ke pinggang Mas Ferdian.
"Kenapa Mas sampai.... "
" Maafkan aku jika aku membuatmu tidak nyaman, Mas ingin kamu tahu kalau Mas benar-benar menyayangimu. Mas akan buktikan dengan pertahanan Mas. Apa yang Mas lakukan tadi, anggap saja investmu untuk menguji Mas." aku sedikit tidak connect dengan apa yang di maksudkan dengan kata-kata Mas Ferdian.
"Maafkan aku Mas jika aku tidak bisa mengimbangimu. Fikiranku sungguh tak tahu entah kemana, dan ini yang pertama untuk kita sampai.... "
"Mas tahu itu dan Mas benar-benar minta maaf."
"Boleh aku jujur padamu, Mas?" kataku lirih.
"Hmm" Mas Ferdian memelukku dari belakang mengarahkan pandanganku ke pemandangan yang ada di depanku.
"Mas, seperti pertanyaanku yang pernah aku tanyakan. Apakah aku terlalu murahan bagi seorang laki-laki?" rautku berubah memelas menyadari betapa asal iyanya saja aku diperlakukan Mas Ferdian.
"Emmm.... ( Aku menunggu apa yang ingin dikatakan Mas Ferdian ) menurut Mas," aku mendongak melihat wajahnya membuatku penasaran apa penilaiannya terhadapku ketika aku asal menurut saja dengan apa yang dia lakukan. Mas Ferdian masih saja memotong kata-katanya membuatku mengerutkan dahiku.
"Menurut Mas, adek sudah sempurna baget. Tidak ada kata-kata yang buruk ataupun negatif untuk mengungkapkan penilaianku terhadapmu. Kamu jaga diri sekali menurut Mas, hingga membuat Mas yang harus ekstra jaga diri saat bersamamu."
"Berarti dulu Mas menjalani hubungan dengan Mbak Emma sampai.... " wajah Mas Ferdian semakin erat menempel di kepalaku, tepat sejajar dengan telingaku.
"Jangan berfikir macam-macam sayangku, Mas masih memiliki iman. Tapi.... " kata-katanya terpotong lagi.
"Tapi hal yang tadi sudah makanan tiap hari!" sambungku, mukaku mungkin sudah terbaca oleh Mas Ferdian betapa rasa cemburu telah menguasaiku. Mas Ferdian mengarahkan daguku ke atas dengan tangan kanannya sampai membuatku mendongak padanya.
"Tidak seperti itu juga, uh.... Ternyata Mas bisa melihat wajahmu dalam mode yang sekarang."
"Mas mengejekku ya?" Mas Ferdian memberikan kecupan singkat di bibirku, masih mendonggak memandangnya.
"Sama sekali tidak, tapi semua itu masa lalu. Apapun yang terjadi, siapapun yang memercikkan api dalam lahan kita yang sudah kering sekalipun. Jangan sampai lahan kita hangus terbakar. Okey, sayang?" aku hanya menganggukkan kepalaku.
__ADS_1
"Mas yakin tapi ini bukan suatu do'a, pasti akan ada banyak hal yang akan kita lewati dalam mengarungi lautan. seperti halnya pasti akan ada ombak yang besar dalam perjalanan kita. Jadi yang Mas harapkan, kamu harus percaya sama Mas seperti yang telah Mas wanti-wanti dari awal.
Dret...dret,
Suara ponselku berbunyi sampai terasa geli di saku belakang celanaku. Membuatku melepaskan pelukan Mas Ferdian.
From : Bang Ryco
Kamu bersembunyi di mana? Sudah ditunggu teman-teman! Jangan tiru aku ya,
Aku hanya tersenyum membaca pesan dari Bang Ryco, membuat Mas Ferdian merebut handphoneku.
"Dari siapa sayang?"
"Mas sekarang sering begini ya?" tanyaku.
" Kenapa? Tidak boleh?"
" Bukan seperti itu juga Mas, Mas seperti punya rasa tidak percaya padaku."
" Mas sudah bilang kan, bisakah kamu membiat rasa takut di hatiku hilang?"
" Okey, ayo kita kembali pertanda kita mulai arungi malam ini.... " aku melototkan tajam mataku menatapnya, Mas Ferdian hanya tersenyum menatap tajamnya pandanganku.
"Jangan lama-lama, nanti cantiknya jadi Putra Aditama." aku menyatukan alisku menanyakan maksudnya.
" Kenapa, tidak salah kan? Bahira Cantika, Cantikanya hilang berubah jadi Ny. Bahira Putra Aditama." kata-katanya menerbitkan senyumanku.
" Mas bisa saja," kataku pelan.
.
.
.
Kami sampai di tempat Bang Ryco share lokasi, Mas Ferdian bicara nglantur tak ada hentinya selama perjalanan ke lokasi. Tak terlintas sama sekali di fikiranku jika Mas Ferdian punya sisi kepribadian seperti itu juga. Jika di fikir ulang dari sikap Mas Dika terhadapku seperti itu, sama sekali tidak sesuai dengan sikap konyol Mas Ferdian hari ini. Mode serius dan berwibawanya hilang seketika.
__ADS_1
"Cie cie cie, yang habis sweet sweet di tempat yang tak berujung sampai tidak terdeteksi oleh kami. Kalian tadi dari mana saja! Kamu ya Ra, mentang-mentang ada ( bibir Mbak Tari di manyunkan mengarah pada Mas Ferdian ) lupa ya sama kami!" kata Mbak Tari.
"Iya Ra, kalian tidak aneh-aneh kan?" timpal Bang Ryco.
" Kamu aneh-aneh kami juga diam saja!" tinju ringan melayang pada lengan Bang Ryco, Mas Ferdian membuatnya tidak berkutik.
" Tepat sasaran. Tembakan jitu, Mas." kataku.
" Mentang-mentang ada pasangan, lupa sama Abang!"
" Kata-kata Mas Ferdian tidak ada yang salah lan Bang?"
"Bela aja! Aku akan terdiam, nanti saat pada waktunya aku akan on lagi" muka acuh Bang Ryco membuat hatiku tidak tenang.
" Maaf Bang, bukan maksudku merasa terpojok. Abang sih selalu bersembunyi di balik mulut tajammu." batinku.
Kami duduk bersama pasangan kami masing-masing berada dalam satu meja besar dalam rumah makan. Terlihat Pak Ryan dan Pak Febrian dusuk bersama di sebrang meja kami, kali ini Pak Ryan membelakangi arah pandangku. Pak Febrian memperhatikanku dalam diam di depan Pak Ryan, mereka duduk berhadapan.
" Kenapa tatapan itu terasa mengusik hatiku, ada yang aneh deh!" manik mataku sempat bertemu dengan manik mata Pak Febrian.
"Sayang, aku pesankan makanan kesukaanmu."
" Kenapa tidak tanya dulu Mas, ini sudah cukup."
" Tidak apa-apa Fer, kami siap jadi tong sampah! Iya kan, Ri?" sahut Bang Ryco seperti pecinta makan saja.
"Siap!" kata Mbak Tari seolah kami sedang ngumpul bertiga tanpa mengingat gengsi ada pasangan, bertindak sebaik dan seanggun mungkin.
Mas Ferdian hanya menggeng-gelengkan kepalanya. " Ya syukurlah, berarti tidak ada yang sia-sia."
Setelah makan malam selesai kami kembali ke vila masing-masing. Mas Ferdian mengintiliku dari belakang, memasuki pintu kamarku.
" Hah, aku harus dalam satu atap lagi. Bagaimana ini?" aku bertanya pada diriku sendiri.
bersambung,
mohon dukungannya... 😘
__ADS_1
terima kasih... 🙏🙏🙏