Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 44


__ADS_3

happy reading...


Tuk…tuk…tuk… suara Ferdian yang memencet-mencet layar handphonenya, setelah mematikan saluran telephone dengan calon Ibu mertuanya.


“Hallo Dik,”


“Sepertinya, lebih lambat lagi jadwal pulangku. Rembulanku masih tertutup awan hitam.”


“Terserah, aku tadi sudah bilang kan, kamu yang lebih tahu. Oya, jadwal rapat tadi pagi aku pending. Nanti akan aku jadwalkan ulang, berkasnya sudah lengkap. Kamu saja nanti yang meeting, pusing aku. Aku besok sudah janjian dengan Adikmu ya, jangan sampai aku menyia-nyiakan kesempatanku. Pastikan sebelum jam makan siang kamu ada di kantor.”


“Sepertinya tidak bisa, tapi akan aku pastikan kamu masih bisa kencan dengan Ana. Gimana?”


“Kamu ini ya Fer, lama-lama nglunjak!”


“Jangan gitu dong! Atau aku carikan saja calon yang lain untuk Ana, banyak tu...dari relasi perusahaan yang masih bujang, muda lagi!”


“Sialan kamu ya Fer, beraninya ngancam aku!”


“Akan aku pastikan Mas Ferdian sampai lebih cepat, Mas Dika.” Sahut Hira mendongak mengarahkan bibirnya pada speaker handphone Ferdian, yang sudah tidak tahan mendengar Ferdian sibuk telephone dari tadi. Membuat Ferdian terkaget menunduk menatap Hira. Mengecup singkat bibir Hira yang menyelonong ikut bersuara di telephone.


“Syukur Alhamdulillah, aku jadi kencan tanpa menundanya.”


“O…o, bukan aku tadi yang janji ya?”


“Tega kamu Fer!”


“InsyaAllah akan aku usahakan. Sepertinya, rembulannya mulai menunjukkan cahayanya Bro…” Hira menguncupkan jarinya pada bibir Ferdian. Ferdian memegang pergelangan tangan Hira dan mengecup telapak tangan Hira, yang tadi menguncup di bibir ferdian.


“Hih… jangan kamu perdengarkan di telingaku hal-hal yang belum bisa aku lakukan Fer! Kamu menelephoneku hanya untuk membuatku panas saja ya?” keluh Dika.


“Sorry, bukan seperti itu maksudku.”


“Terserah lah, yang pasti jangan sampai lupa daratan.”


“Tidak lah, masih sadar 75% Bro… “


“25% jangan sampai merugikan anak orang!”


“Tidak lah. Ngomong sama kamu tidak ada selesainya. Aku mau memanfaatkan waktuku sebaik mungkin. Bye, kita sambung besok. Maaf ganggu!” Hira menajamkan tatapan matanya pada Ferdian, membuat Ferdian menarik Hira yang telah menjauh melipat mukena yang dia lepas memeluknya kembali ddan memberikan kecupan di dahinya.


“Sudah lebih tenang sekarang?” Hira menganggukkan kepalanya dekat yang menempel pada dada Ferdian.


“Mas kok malah telephone Ibu sih? Serius, Mas Tidak memulangkan aku?”


“Kenapa tidak serius? Mas sudah minta izin pada Ibu, apakah kamu masih tidak nyaman sekamar dengan Mas? Kita sudah dua malam bersama, kenapa tidak dengan hari ini? Bukan itu masalahnya kan?” Hira menggelengkan kepalanya.


“Terus, apa lagi? Sekarang Mas tanya, dengarkan Mas baik-baik! ( Ferdian melepas pelukannya, menangkup wajah Hira dan menatap hingga manik matanya ) tadi kenapa kamu menangis?”

__ADS_1


“Em…. “ Hira tidak bisa mengucapkan apa yang ada di fikirannya. Ferdian menatap penuh dengan penasaran, berusaha bersabar tanpa mengucapkan sepatah kata ketika menunggu bibir Hira terbuka.


“Aku melihat senyuman Mas yang begitu bahagia bicara di telephone tadi?” tatapan Ferdian seolah menambah tanda tanya difikirannya,


“Maksudnya? Apakah adek tidak senang melihat Mas Bahagia?”


“Wanita mana yang bahagia jika melihat kekasihnya, bahkan calon suaminya bahagia bercengkrama dengan wanita lain?” Ferdian tersenyum mengejek, membuat wajah Hira tanda tanya.


“Memangnya aku ngomong salah?”


“Tidak, tidak salah sayang. Mas juga tidak akan pernah merasakan bahagia jika pasangan Mas berbincang dengan laki-laki lain. Apalagi jika Mas tahu, laki-laki itu mencintai pasangan Mas. Benar, iya benar jawabanmu.”


“Aku yang merasakan sakit hati, kenapa malah ujungnya aku yang merasa tersindir dengan omongan Mas Ferdian ya?” batin Hira menyelami tatapan Ferdian. Hira terdiam dengan kata-kata Ferdian yang barusan ia dengar.


“Tadi selesai salat, Mas sudah bilang kan jika Mas bertelephonan dengan Dika.”


“Sakitnya sudah nyesek Mas, sebelum Mas memberitahuku.”


“Bagaimana bisa? Mas telephonan kan setelah salat magrib, itupun Adek yang menyarankan. Terus dari mananya Adek bisa berprasangka itu wanita lain?”


“Tadi aku…. “


“Kenapa?” Ferdian menatap Hira dengan lekat,


“Aku tadi tidak sengaja melihat nama Mbak Rinna tertera di layar handphone Mas, aku fikir telephonenya penting karena deringnya lama sekali.” Tanpa menjawab apapun Ferdian memeluk Hira erat, mencium ujung kepala Hira dalam, penuh arti, seolah meninggalkan suatu pesan.


“Tidak mungkin Ibu mengizinkan Mas untuk…. “


“Apa? Kalau bicara jangan ngantung, tidak enak!”


“Ya gitu…. “


“Gitu apa? Adek fikirannya sudah jorok ya?” Hira menggelengkan kepalanya, menyangkal apa yang di tuduhkan Ferdian padanya.


“Tidur di samping Mas, Mas pastikan aman. Dan Mas sudah bilang sama ibu, jika dahi dan pipimu yang akan ternoda.”


“Hira bergedik ngeri mendengarkan kata ternoda.” Fikiran Hira sudah bertamasya ke mana-mana.


“Mas, Besok aku mau masuk kantor. Kemarin kita sudah bahas tentang aku ingin bertemu dan berbicara langsung dengan Pak Ryan. ( Ferdian hanya manggut-manggut dengan memainkan bibirnya yang seolah terkesan acuh ) malah Mas tidak memulangkan aku. Gimana ini?”


“Gimana apanya? Ya tidak gimana-gimana! Besok izin telat saja. Aku…. “ tiba-tiba Ferdian berhenti dari perkataannya, dan sibuk dengan fikirannya.


“Kenapa Mas, Mas apa? Kok jadi berhenti?”


“Tidak apa-apa kamu izin tidak masuk saja. Dan kamu bisa janjian dengan Ryan di luar, sore. Temani Mas, selama Mas masih di sini, okey?” Hira hanya menganggukkan kepalanya.


“Kenapa kamu tidak melanjutkan kata-katamu tadi Mas? Apakah ada sesuatu yang terjadi atau ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?” batin Hira, mengingat sudah dua kali Ferdian menghindar dari topik pembicaraan dalam satu pembahasan.

__ADS_1


“Kenapa kamu mengagguk tapi mukamu mencerminkan tidak sejalan dengan Mas. Hem?”


“Tidak kok Mas, sekarang segera tidur saja, besok pagi segera kembali lah, kasihan Mas Dika. Ngomong-ngomong soal Mas Dika, tadi aku sedikit dengar kencan dengan Ana, maksudnya? Mereka resmi menjalin kasih?”


“Em, belum resmi. Dika sudah lama minta izin padaku, cuma tidak aku hiraukan. Seandainya serius aku izinkan, dan aku dukung sekali. Walau bagaimanapun aku akan lebih lega jika Ana dengan Dika. Seburuk-buruknya sifat Dika aku tahu, dan Dika bisa ngemong Ana. Dan untuk bisnis aku senang dan nyaman bekerja dengan Dika, aku senang jika kami akhirnya jadi saudara. Tapi sepertinya dari usaha Dika selama ini, sepertinya Ana belum bersikap bagaimana-bagaimana terhadap perasaan Dika.”


“Dari tadi Mas terdengar seperti menduga-duga, emangnya Ana tidak terbuka dengan Mas Apa?”


“Hehehe, aku yang lebih terbuka dengan dia, kemarin dia malah bersikap seolah kakakku. Bisa-bisanya menasehatiku. Aku hanya berfikir, dia tidak terbuka soal itu karna aku hanya menduga Ana memang sedikit trauma dengan apa yang aku hadapi. Itu yang aku rasakan, dia takut untuk sakit hati. Dan sampai sekarang dia memang sesekali sering bertemu, keluar bareng dengan Dika tapi aku tidak tahu apa yang di fikirkannya. Bahkan sering membobol isi ATM Dika, aku sampai tidak enak hati dengan kelakuan adikku yang satu itu. Tapi Dikanya juga tidak pernah merasa kapok. Entah apa yang di sukai dari anak manja itu.”


“Begitulah cinta, Mas seperti tidak berkaca saja. Dulu sebelum kita bertemu, apa memangnya yang membuat Mas suka sampai terbilang jatuh cinta. Kita lebih konyol dari mereka.” Ferdian menatap Hira yang berbaring di samping Ferdian menghadapnya.


“Sudah sekarang tidur, maaf aku malah banyak bertanya. Aku tadi sudah janji pada Mas Dika untuk membuat Mas Kembali tepat waktu sesuai planning awal.”


“Maaf Ra, justru aku tak ingin kembali. Aku masih ingin bersamamu. Perasaanku terasa tidak nyaman.” Ferdian menyusuri setiap lekuk wajah Hira dengan jari telunjuknya.


“Mas, kenapa? Pejamkanlah matamu… “ Hira membuka matanya yang sudah ia pejamkan merasakan jari Ferdian yang menyusuri setiap lekuk wajahnya terasa ada makna yang tersirat terasa berat di hati. Hira mengusap lembut pipi Ferdian menatap mata Ferdian yang sedikit tergenang oleh air mata. Hira bergerak sedikit memosisikan tubuhnya lebih tinggi, mengecup kening Ferdian. Ferdian memeluk Hira, menelusupkan wajahnya dalam dada Hira.


“Sayang, biarlah dalam posisi seperti ini. Mas janji hanya sebatas ini.” Hira memeluknya, mengeratkan pelukannya pada kepala Ferdian yang tepat ada di bawah dagu Hira. Mencium ujung kepala Ferdian.


Sampai adzan zubuh terkumandang di alarm handphone Hira, mereka masih tidur dalam posisi yang sama. Hira bagun dan melihat bekas tetesan air mata di sudut mata Ferdian.


“Ya Allah, jagalah cinta kami Ya Allah. Aku sangat menyayanginya, aku tidak ingin sesuatu yang tidak kami harapkan terjadi. Lancarkanlah segala sesuatunya. Aku sungguh tidak sanggup jika tanpanya.” Hira meneteskan air matanya, mengusap sudut mata Ferdian. Membuat Ferdian membuka matanya merasakan sentuhan Hira. Hira segera memalingkan muka dan mengusap air matanya.


“Sudah zubuh Mas, ayo salat.”


“Iya, sepertinya Mas tidur pulas karena ada yang memeluk Mas.” Hira memanyunkan bibirnya.


.


.


“Sayang, Mas tidak mampir. Salam untuk Bapak dan Ibu.” Kata Mas Ferdian mobilnya telah berhenti di depan rumah.


“Iya, tidak apa-apa Mas.” Mas Ferdian menarik lengan sikuku, membuatku berbalik menatapnya dan melepas handle pintu mobil.


“Salim dulu,” aku menjabat tangan Mas Ferdian dan mencium punggung tangannya.


“Hati-hati Mas, beri kabar ketika sudah tiba.” Mas Ferdian masih mengenggam tanganku dan mencium puggung tanganku. Terasa pedih hatiku menatap kepalanya yang merunduk hingga membuatku mencium aroma rambutnya. Tak sadar tangan kiriku mengelus kepalanya hingga punggungnya, membuatku meneteskan air mata. Entah apa yang ada di fikiranku hingga hatiku terasa sesakit ini. Mas Ferdian mendongak dan menatapku mengusap air mata yang sudah jatuh di pipiku, ternyata Mas Ferdian juga melinangkan air matanya. Kami saling berpelukann tanpa kata yang kami ucapkan.


“Aku mencintaimu Dek. I love you, Hira” Bisikan Mas Ferdian terasa menusuk di dadaku, hanya kata itu yang dia bisikan di telingaku sebelum melepas pelukannya.


“Aku juga mencintaimu, Mas.” Jawabku menatapnya memegang wajahnya dan dia mencium telapak tanganku. Aku Kembali memegang handle pintu, tangan kananku masih digenggamnya seolah dia tak ingin melepaskanku. Aku menatapnya agar melepaskan genggamannya.


Bersambung,


Ikuti kisah serunya di episode berikutnya.😘

__ADS_1


Mohon dukungannya, sehat selalu….🙏🙏🙏


__ADS_2