
Aku masih duduk terbawa melayang fikiranku memandang foto yang ada di atas rak belakang Pak Febrian. Hingga mulai berkaca-kaca mataku karena sakit yang ada di hatiku.
“ Ra, kamu kenapa?” Hira tak mendengar teguran Febrian.
“ Ra, are you okey?” Hira masih tak mendengar.
Pak Febrian mendekati kursi Hira dan berdiri agak bersandar pada mejanya. Febrian memegang tangan Hira.
“Hai," sambil memegang punggung tangan Hira. Hingga menyadarkan fikiran Hira.
“ Hmm," suara serak tiba-tiba keluar dari bibirku, terasa tercekik tenggorokanku. Aku mendongak melihat Pak Febrian yang memegang tanganku. Membuatku terkaget.
“Apa yang kamu fikirkan? Kamu melihat foto itu? Itu hasil cepretanku, saat kami tak segaja ada event bareng. Perempuan yang ada di foto itu adalah saudara sepupuku. Kamu pasti pernah melihatnya. Dia sering jadi cover majalah bisnis, di mana-mana. Selain wajah cantik yang jadi figur perusahaan, dia juga pemimpin yang handal. Dia putri pemilik perusahaan Mandala group, punya cabang perusahaan di kota ini juga."
“Laki-laki di sampingnya?” pertanyaan itu terlontar begitu saja.
“ Kebetulan namanya sama seperti yang kamu tuliskan di berkas kemarin, dia adalah jantung perusahaan itu. Pamanku sudah mulai menua dan dia hanya memiliki satu putri, yaitu Rina yang ada di foto itu ( Pak Febrian menunjuk foto di belakangnya sambil berbalik arah sedikit membelakangiku ) Ferdian adalah orang kepercayaan pamanku, sekaligus laki-laki sempurna impian adikku, sudah lama dia memendam rasa untuknya.Tapi entah bagaimana perasaan Ferdian pada Rina. Aku tak tahu, aku kenal dan akrab tapi karena kesibukan, kami jarang komunikasi hingga ke privasi. Yang aku tahu dulu Rina pernah bilang 'Aku menunggu lahar gunung berhenti mengeluarkan hawa panasnya' Aku bingung waktu itu, lahar panas itu apa makna yang terkandung, cinta yang baru mengebu-ngebu atau rasa sakit karena patah hati? Aku tidak pernah menanyakannya. Aku hanya menjadi pendengar yang baik untuknya. Karena aku yakin semanja apapun dia, dia adalah orang yang tangguh dan berfikiran matang."
“Kapan Mbak Rinanya bilang gitu?” pertanyaanku tiba- tiba keluar begitu saja.
“ 6 tahun, 7 tahunan yang lalu mungkin" jawab Pak Ferdian.
"Berarti tidak menunggu cinta yang mengebu-ngebu tapi menunggu Mas Ferdian move on dari Mbak Emma” kataku dalam hati.
"Aku kira kamu tak menyimak omonganku yang tiba-tiba saja melantur. Ini berkasnya sudah, kirim ke Bagian Keuangan. Habis itu mampir ke ruanganku lagi bentar, sambil bawakan kopi hitam ya Ra?” katanya dengan santai, seperti hilang sudah hawa dingin yang di bawanya awal-awal dia masuk.
“ Ok, Pak “ jawabku tak ada rasa takut lagi.
Aku membawakan secangkir kopi yang aku buat sendiri untuk Pak Febrian, setelah mengirim berkas ke Bagian Keuangan.
“ Makasih Ra. Oya Ra, aku mau tanya untuk yang tadi. Kamu kenal dengan Ferdian? Kemarin kamu juga dengan jelasnya menuliskan namanya, tanpa kurang satu huruf pun.“
“ Mungkin hanya suatu kebetulan Pak, kebanyakan baca majalah kali Pak. Waktu nulis nglamun.“ jawabku mengelak.
“ Em." sahut Pak Febrian singkat, tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
“ Kenapa gak diangkat Ra? Kali aja penting“ kata Pak Febrian membuatku agak canggung.
“Saya permisi dulu Pak,” aku keluar dari ruangan Pak Febrian untuk mengangkat ponselku yang tidak berhenti berdering.
“ Iya Mas.” jawabku agak dingin, lupa tak memberi salam.
“ Waalaikumsalam sayang."
“ Heh. Assalamuallaikum Mas, maaf." Jawabanku terdengar dingin. Rasa sakit di hatiku seolah lupa dengan nol-nol yang berjajar di saldoku, pengiriman atas namanya.
“Waalaikumsalam sayang, sepertinya ada bau-bau tidak enak ini?" sindir Mas Ferdian. Aku sampai di meja kerjaku, baru duduk. Ryco menyelonong bertanya, entah sadar atau tidak kalau aku sedang ada telephone.
__ADS_1
“ Sudah beres Bang, dah tak naikkan berkasnya. Orangnya tadi minta kopi. Ya tak buatin.” Jawabku berbisik sambil menjauhkan handphoneku.
“ Entar nyandu lho Ra, Abang aja belum pernah kamu buatin kopi. Padahal kita dah lama bersama." suara Ryco tambah volume, Mbak Tari sampai menoleh.
“ Aku ada telphone nih, diam dulu” Ryco menjulurkan lidahnya. Dan aku memukul lengannya. Karna Ryco emang mengumpani.
“ Maaf Mas, tadi bang Ryco ganggu. Kenapa Mas, aku yang mondar-mandir di sini, baunya sampai situ?” jawabku masih dengan nada pedas.
“Eh Mas, Pak Feb memanggilku. Entar disambung lagi ya? Wasalam” tanpa menunggu salamnya. Kututup sambungan telephonenya. Aku tak bisa mengendalikan hatiku.
Hari ini aku bergelut dengan sibuknya pekerjaanku dan sorenya aku ambil kuliah, izin pulang sedikit lebih awal. Ketika izin, Pak Febrian memberiku kontak pribadinya. Aku agak termangu bingung, tapi aku bersyukur dengan ini suatu saat aku bisa izin mendadak jika emang memerlukannya.
Mas Ferdian
calling...
Mas Ferdian
calling...
Mas Ferdian
calling...
Sampai tiga kali Mas Ferdian menelephoneku, tapi hanya aku lirik sambil meneteskan air mataku. Hatiku sakit, hatiku merasa minder dengan apa yang telah di ceritakan Pak Febrian. Karena orang yang berada di foto ruangan Pak Febrian, yang sedang foto saling menatap tadi adalah Mas Ferdian. Aku merasa betapa kecilnya diriku, betapa tak ada apa-apanya diriku jika dibandingkan dengan Mbak Rina. Orang yang telah mencintainya dalam diam dalam waktu yang lama.
Wajar ketika banyak cewek yang mengejarnya, karena dia begitu sempurna. Aku tak akan menyerah dengan perjuanganku untuk menjadi sedikit lebih pantas bersanding dengannya. Tapi setelah tahu siapa yang mencintainya. Aku merasa, selesai sudah! Sebaik apapun, sekeras apapun aku berusaha tak akan bisa menandinginya. Aku memutuskan untuk segera tidur. Belum sampai aku menutup mataku. Ada chat masuk dan ku buka handphoneku.
From: Letiana
Kak, apa kabar? Kok langsung ngilang gitu aja...?
To : Letiana
Mbak baik kok,
From: Letiana
Semuanya okey kan?
To : Letiana
Iya, Adik Mas Fer yang cantik,
Kakak lagi ngapain, aku mau telephone bentar. Please, penting banget!
Ketika aku membaca chat terakhir, aura Letiana serius tak bisa aku menolaknya. Dan segera menelephonenya.
__ADS_1
Calling...
Letiana
“Assalamualaikum An,,”
“ Waallaikumsalam Kak, maaf ya Kak malam-malam ganggu. Aku mau sedikit kasih tahu Kakak tentang sesuatu. Tapi Mbak ambil nafas dulu ya?”
“Kak, aku pernah bilang kan soal aku ngak mau panggil Mbak, Kak aja biar sama kayak panggil kak Ferdian. Biar bener-bener jadi kakak iparku, ingat kan Kak? “
“ Iya, Mbak ingat. Emang kenapa? “
“Singkat cerita, Kak Fer dulu pernah punya masa lalu yang menyakitinya hingga Kak Fer membuka kembali hatinya ketika sama Kak Hira, aku tak mau Kak Fer terluka lagi. Dan aku juga mau Kak Hira jadi Kakak iparku karna Kak Hiralah yang membuat Kak Fer bisa tersenyum merasakan cinta. Yang jadi masalahnya di sini, Mbak Emma yang masih sering datang ke rumah...." Belum selesai Letiana bercerita hati Hira sudah sibuk.
“Selama ini aku merasa dia hanya ingin mengganggu Kak Fer dengan kehadirannya, bukan hanya sekedar ingin mampir nengok Ibu saja” lanjut Letiana
“ Tidak boleh su’udzon"
“Habisnya Kak, dia itu ganjen banget jadi cewek. Mana ada coba, sudah putus! Dia yang meninggalkan, bisa-bisanya dia mondar-mandir berkunjung. Tak punya muka banget kan? Terlihat jelas, jika dia pengen kembali dan menyesal telah meninggalkan Kak Fer. Kalau aku jadi dia, selamanya aku tak akan pernah memunculkan mukaku di hadapan mantan yang telah aku sakiti. Apalagi dengan embel-embel selingkuh” lanjutnya lagi, aku hanya mendengarkan dengan jeli.
“Terus? Itu kan masa lalu," kataku menyanggahi.
“ Kak Hira, hati-hati dengannya. Waktu aku tinggal dia ke kamar mandi, sepertinya dia pegang-pegang handphoneku deh! Mungkin saja dia mencari sesuatu. Dia itu serigala berbulu domba Kak, Kakak harus waspada kar.... ”
“ Sutt....( sela ku menghentikan Ana ngomong ) tidak boleh berbicara seperti itu ya?"
" Tapi Kak...."
“Sudah malam, besok disambung lagi ya An, hari ini kerajaanku numpuk apalagi tugas kuliahku banyak. Met malam An, makasih untuk infonya, assalamuallaikum"
“Ok Mbak, waallaikumsalam “
Letiana berfikir "Kak Hira sedikit menghindar atau mencoba tidak mau tahu atau ada yang ngak beres dengan mereka? atau jangan-jangan infoku dah kedahuluan Mbak Emma?" Letiana menepuk jidatnya.
Aku bergunam, “Bumbunya macam-macam kayak bumbu opor aja, hah...( aku menghela nafasku yang terasa sesak ). Aku berharap besok pagi hatiku terang seperti bumi yang tersinari matahari"
.
.
.
Sesuatu akan terjadi tanpa kita duga,
Jadi berbijaksanalah dalam memilih, karna pilihan kita menentukan suatu keadaan.
Ikuti terus, kisahnya..😘
__ADS_1
Mohon dukungannya...🙏🙏