Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 63


__ADS_3

Aku menarik nafas panjang mengangkat kepalaku dan menatap mata Mas Ferdian menstabilkan perasaanku agar suaraku tidak terdengar bergetar.


“Tunaikanlah kewajibanmu sebagai seorang suami, berikan apa yang menjadi hak istrimu.” Tatapan yang diberikan Mas Ferdian padaku terasa sakit, ketegaranku yang tadinya aku jaga runtuh dihadapannya seiring mengalirnya air mataku.


“Begitu jelasnya kamu mengucapkan,” Aku memalingkan wajahku mengelap air mataku yang membasahi pipi tanpa isakan sedikitpun.


“Aku hanya ingin melakukan hal itu dengan orang yang aku cintai.” Mas Ferdian menangkup wajahku dan membuatku menatapnya, matanya memancarkan kesedihan.


Suara bel berbunyi berulang kali mengusik kami yang masih saling menatap tanpa membuka bibir diantara kami setelah pernyataan Mas Ferdian.


“Bukalah pintunya.” Aku menundukkan pandanganku, wajahku masih dalam tangkupan tangannya yang hangat.


Mas Ferdian berdiri, berjalan menuju pintu setelah aku menyuruhnya untuk membuka pintu. Aku melihat langkahnya yang tak bersemangat. Ku pandang punggung yang aku rindukan, ingin aku memeluknya menyandarkan kepalaku di punggungnya.


Terdengar dia berbicara dengan kurir yang mengantarkan makanan, yang sempat aku dengar dipesan lewat telephone tadi. Aku melangkah ke kamar mandi mengusap air mataku, mencuci mukaku menepuk pipiku agar terlihat segar kembali aku segera kembali ke sofa.


“Dek, ayo maem dulu.” Suaranya terdengar seperti yang ku rindukan.


“Dimanakah Mas Ferdian yang tadi? Aku berharap kedepannya seperti sekarang seolah tidak ada apapun. Bisa saling melepaskan dengan hati yang bahagia.” Batinku melihat setiap gerak tangannya yang membuka bungkus makanan dan menyajikannya padaku.


“Terima kasih Mas,”


“Bagaimana kuliahmu?” pertanyaanya jauh dari topik tadi, membuatku merasakan keganjalan di dalam hati.


“Alhamdulillah lancar, aku mengajukan kelulusan. Kemarin aku mengikuti ujian."


“Syukurlah, jalanilah tanpa membebanimu. Mas akan tetap transfer uang padamu, jangan terlalu keras bekerja. Nikmati hari-harimu, tebuslah kesulitanmu yang dulu dengan bahagia di masa sekarang. Mas tidak ingin mendengar kamu lelah apalagi sakit hanya dengan kesibukan. Hari yang telah berlalu tidak bisa diputar kembali jadi jangan sampai kamu menjalani hari dengan penuh penyesalan seperti yang Mas jalani saat ini.” Aku mendengarkan kata-katanya yang penuh dengan penyesalan, sesuap makanan yang aku masukkan ke mulut terasa sakit untuk aku telan. Mas Ferdian berbicara menatapku dengan tatapan yang tajam seolah aku harus melakukan apa yang dia katakan.

__ADS_1


“Jangan transfer lagi Mas, aku bukanlah orang yang seharusnya kamu nafk…” tanpa aba-aba tanpa pertanda apapun Mas Ferdian langsung melahap bibirku, menindih tubuhku membuat punggungku tersandar rapat dengan empuknya sofa. Membuatku menelan makanan yang masih ada di dalam mulutku tanpa mengunyahnya.


“Em… em… “ aku mencoba memberontak, menjauhkan dadanya yang kekar menempel rapat ditubuhku.


Mas Ferdian masih melahap bibirku dengan paksa tanpa aku balas, aku masih berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuhku. Tangan kirinya masih memegang erat tekukku dan tangan kanannya memegang tanganku yang memukul-mukul lengannya. Akhirnya aku menyerah karena lelah, aku terbuai oleh gerakan bibirnya yang melembut ketika aku sudah tidak melawannya. Aku mengiringi setiap gerakan bibirnya.


“Akhirnya inilah yang terjadi, aku sudah tidak punya iman lagi di hadapanmu Mas.” Aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya, ngos-ngosan kehabisan nafas karena durasi ciuman yang lama. Mas Ferdian menelusupkan wajahnya ke leherku yang masih tertutup kerudung yang sudah mengendur. Terdengar isakkannya, membuat ritme nafasku melembut. Sebagian tubuhnya masih menindihku, kuusap kepalanya dengan lembut.


“Aku ingin egois Dek, izinkan aku untuk egois. Izinkan aku untuk egois. Aku tidak ingin menjalani kehidupanku kedepannya dengan penyesalan, walaupun nantinya aku akan kelelahan untuk bolak balik sini sana tidak apa yang penting aku tidak akan kesakitan karena merindukanmu, tidak kesakitan mendengar kamu bersama laki-laki lain. Aku tidak bisa membayangkan betapa akan gelisahnya diriku.” Sejenak dia terdiam, terasa Mas Ferdian mengendus leherku. Nafasnya terasa hangat sampai kulit leherku menerjang kain kerudung.


“Sayang, aku mohon… aku pastikan tidak akan ada yang tahu di kota ini jika kamu bukan istri pertamaku. Aku pastikan kamu aku nikahi secara sah secara hukum. Dan hanya kamu lah yang ada di hatiku. Aku mohon sayang.” Mas Fer, memelukku semakin erat.


“Aku mohon,” Mas Fer menatapku penuh dengan harap, masih menindih tubuhku tanpa merubah posisi kami.


“Mas, aku harap ini sebagai perpisahan terindah kita. Tapi, aku tidak ingin menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kalian. Aku memahami keputusanmu untuk menikah dengan Mbak Rin, tapi aku tidak ingin ada poligami. Aku tidak ingin menjalani hari dengan menunggu giliranku. Jika perasaan bahagia adalah sikap egois. ( air mataku mengalir dengan sendirinya, menatap matanya jariku sudah menelusuri wajahnya, mengelus lembut pipinya, mengelus dagunya yang sudah lebat oleh rambut yang tak lagi di kerok seperti dulu entah sengaja atau memang sudah tidak memperdulikan penampilannya ) Aku juga ingin bersikap egois, aku hanya ingin menjadi wanita satu-satunya dalam kehidupan suamiku, hanya aku yang ada di fikiran suamiku, hanya aku yang akan dirindukan suamiku, hanya tubuhku yang akan dijamah oleh suamiku. Hanya aku yang ada di sisi suamiku, dalam setiap tetes keringatnya dan dalam setiap waktu yang dihabiskannya untuk tidak bersamaku hanya akan digunakan untuk berjuang memberikanku seorang suatu kebahagian dan masa depan putra putriku.” Mas Fer menatap setiap gerak bibirku bergantian dengan menatap mataku, mengelus pelipisku yang terlintasi oleh air mataku yang mengalir dengan sendirinya.


“Mas, magrib.” Mas Fer sedikit terduduk, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


“Jangan pernah berfikir sedikitpun jika ini adalah pertemuan terakhir kita ataupun kontak terakhir kita.” Mas Fer mengatakannya dengan memejamkan mata tanpa menatapku masih bersandar di sandaran sofa tak bergerak sekalipun seiring dengan suara adzan yang tak begitu keras terdengar dari handphoneku yang masih di dalam tas tanpa memiliki niat untuk aku matikan.


“Jujur aku tak sanggup jika hariku tanpa dirimu Mas, dan itu sudah aku coba. Sudah aku buktikan walaupun aku menyiukkan diriku dengan segudang aktivitaspun fikiranku masih memikirkanmu Mas. Kita tidak sehari dua hari Bersama, tidak pula setahun dua tahun bersama. Sesakit apapun kamu, aku juga merasakan hal yang sama. Dan mungkin aku tidak bisa memulai hidupku dengan orang lain.” Hatiku bergunam, membuat bibirku membisu tak merespons apa yang diucapkan Mas Ferdian. Aku masih menatapnya, satu kakiku masih nyangkut di paha kirinya.


“Ingat apa yang dikatakan Mas!” Mas Ferdian menegakkan kepalanya dan memberikan tatapan tajam.


“Bukankah itu akan menjadikanku lebih buruk lagi dari pada poligami, Mas?”


“Kamu tidak ingin status istri sahku, tapi aku ingin kita masih ada kontak Dek, hanya itu yang aku mau. Sesekali aku ke sini kita bisa bertemu. Masihkah kamu tidak mengizinkan hal itu?”

__ADS_1


“Mas bertanya atau menekankan hal ini dan lebih mengharuskanku untuk memenuhi apa yang mas harapkan?”


“Anggaplah aku orang yang paling jahat, dan kamu adalah seorang tawanan!” aku tersenyum sedih.


“Aku ingin sholat Mas,” aku berdiri tanpa berkata lagi. Mas Fer mengenggam tanganku ketika aku melangkah melewatinya.


“Biarkan aku sholat dulu meminta ampunan setelah bermesraan dengan suami orang dan entah dosa apa lagi nanti yang akan aku perbuat.” Mas Fer melepskan genggamannya, dia mengikutiku ke kamar mandi dan mengambil air wundlu.


Mas Fer mengimami sholatku, membacakan ayat suci dengan suara yang bergetar seolah menahan rasa sakit di dadanya. Aku melaksanakan salat dengan hati yang merintih penuh dengan kerisauan di hatiku teringat semua apa yang di harapkan Mas Ferdian padaku. Setelah salam, lama dia tidak membalikkan badannya berdo’a dengan khusyuk. Membuatku puas menatap punggungnya, hanya dengan menatap punggungnya saja sudah terlihat betapa tampannya dia. Aku berdiri tanpa menunggu dia berbalik dan mengajakku bersalaman seperti dulu yang selalu dia lakukan. Aku mengemasi makanan yang berserakan di atas meja yang tidak sempat kami lanjutkan.


“Mas, aku ingin balik. aku akan pesan taksi tidak perlu mengantarku. Istirahatlah, pulanglah setelah hatimu lebih tenang.” Kataku setelah melihatnya berdiri dari bersila.


“Hatiku tidak akan pernah lebih tenang jika kamu tidak mengizinkanku untuk menikahimu.” Aku menghela nafas mendengar perkataannya.


“Kenapa itu lagi Mas yang kamu katakan, tadi kita kan sudah berbicara panjang lebar.”


“Saat ini tidak pelajaran matematika Dek!”


“Yes, I know. Then what should I do? I’m tired, you know! Aku tidak ingin dalam keadaan seperti ini terus, aku tidak ingin merasa terjepit. aku mohon, Mas.”


“Do you not love me anymore?” aku menghembuskan nafasku kasar.


“Haruskah aku jawab? Haruskah kamu pertanyakan hal itu Mas?” aku mengambil tas dan bergegas keluar kamar.


“Okey, okey I’m sorry. Maafkan aku, mas emosi.” Mas Ferdian menghentikan langkahku, memelukku dari belakang.


“Semua ini sudah menyulitkanku Mas, kamu tahu kamu yang mengisi hari-hariku selama ini, dan kamu orang yang pertama memberikan perasaan ini. Teganya setelah apa yang terjadi kamu mempertanyakannya. Kamu menambah rasa sakitku Mas!” tangisku meledak penuh dengan isakan.

__ADS_1


Lanjut episode berikut ya…


__ADS_2