Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 51


__ADS_3

happy reading...


Dari mana saja sih Fer, aku cari kemana-mana tidak aku temukan!” Dika mengikuti Ferdian masuk ke dalam ruangannya.


“Salah siapa, hari gini cari kemana-mana! Telephone saja cepat ada solusi.” Ferdian duduk di kursi kebesarannya.


“Aku fikir, banyak hal yang perlu kamu kerjakan tapi kamu tinggal mojok sebentar gitu, masih di area perusahaan yang sebesar ini untuk bercanda dengan pemilik hatimu.


“Boro-boro bercanda, sampai sekarang saja aku belum menelephonenya. Dia bahkan belum membalas chatku!”


“Mungkin dia sudah memiliki feeling yang tidak enak kali Fer! Kamu tahu sendiri kan dia itu orang yang peka, aku kemarin sudah bilang padamu kan agar kamu ngomong secara langsung padanya, musyawarah padanya.”


“Gila! Gila! ( Ferdian menanggapi saran Dika penuh dengan emosi ) Itu ide gila menurutku Dik, ( nada bicaranya sudah mulai menurun, batin Ferdian benar-benar terguncang ) seandainya keadaan benar-benar menjepitku dan membuatku menikahi Rinna aku lebih baik menjadi laki-laki yang egois. Laki-laki yang jahat di matanya, aku tidak ingin dia melupakanku, melupakan semua kenangan yang ada di antara kami. Aku sayang dia Dik, aku sungguh tidak sanggup dengan keadaan ini.” Ferdian menitikan air matanya, terisak merasakan sesak di dadanya. Sudah merasa tidak sanggup untuk menahan semua yang di rasakan.


“Sekarang aku menelephonenya saja aku tidak berani Dik, apalagi untuk menemuinya. Bagaimana aku harus berdiri? Kakiku terasa lemas untuk berdiri.” Ferdian terengah-engah dalam berbicara, terasa sakit di dadanya, membayangkan senyuman Hira yang akan dia runtuhkan setelah mengukir janji-janji manis di hatinya.


“Aku… aku sungguh tidak sanggup Dik, aku harus bagaimana? Atau kamu mau menggantikan posisiku? Pasti tidak mungkin kan? Karna kamu sudah cinta dengan adikku. Seperti itulah perasaanku saat ini. Seberapa banyak harta yang disuguhkan seberapa tinggi pangkat yang akan aku duduki, aku tidak heran dengan semua itu. Aku hanya ingin cintaku, dan Hira tidak menginginkan kemewahan untuk membuatnya bahagia. Lalu aku harus memberikan alasan apa untuk bermusyawarah dengannya? Aku yakin tidak ada orang yang mau untuk diduakan, Dik. Tidak ada! Bahkan jika orang itu memiliki banyak kekuranganpun! Tidak ada yang mau diduakan.” Ferdian menghembuskan nafas yang terkesan kasar di telinga. Terasa betapa berat rasa sakit yang dia tahan.


“Melihat orang yang kita cinta berbincang dengan laki-laki lain saja terasa sakit apalagi jika harus diduakan ketika berumah tangga. Aku tidak bisa membayangkan Dik!” keluhnya lagi dengan pandangan yang kosong setelah menghela nafas. Dika masih bermuka sedih mendengarkan apa yang dikeluh kesahkan sahabatnya itu.


“Uh… Takdir apa yang kamu pikul ini Fer…Fer… jadi orang sukses dan tampan ternyata tidak seenak yang dibayangkan orang-orang. Ketika orang memandang, mereka mendambakan kehidupan seperti yang kamu jalani tapi mereka tidak pernah tahu apa tanggung jawab dan resiko yang ada dibaliknya.”


"Sekarang kamu ngomong seperti orang yang mabok, minum-minuman berbotol-botol Fer, sungguh menyedihkan. Melihatmu seperti ini rasanya hatiku sakit. Orang sepertimu bisa seperti ini." Batin Dika. Mendekat pada Ferdian menepuk-nepuk bahu Ferdian menguatkan hati, tanpa sanggup berucap.


.


.


“Ra, Co… aku pulang duluan sudah dijemput ayangku… Bye…” Mbak Tari pulang lebih dulu. Membuatku mendengarkan hembusan nafas lega Bang Ryco. Membuatku banyak berfikir.


“Seolah aku selingkuh saja dengan Bang Ryco dan takut ketahuan. Hingga harus sembunyi-sembunyi seperti ini.” Batinku.


“Ra, kenapa? Kok kamu malah bengong, Ra! Ayo pulang!”


“Lagi-lagi Bang Ryco menarikku dengan paksa seolah aku akan menolaknya. Semoga saja tidak ada yang melihat, mungkin jika ada yang melihat aku tidak tahu apa yang mereka fikirkan melihat semua ini.” Batinku, membuatku menoleh kiri-kanan mencari tahu apakah ada orang yang melihat kami.


“Sabarlah Bang! Kenapa tergesa-gesa seperti ini sih!” Bang Ryco mengenggam tanganku masuk ke dalam lift.


“Udah diam saja! Keburu kamu banyak alasan dan kabur!” jawab Bang Ryco tanpa melepaskan genggaman tangannya.


“Ya tidak lah, ini juga untuk kepentinganku. Justru aku yang merepotkanmu dalam hal ini.” Aku mencoba membuatnya percaya dan mengangkat gengaman tangannya agar Bang Ryco mau melepaskan.


“Ok” Ryco mengangkat kedua tangannya menyerah.


“Terima kasih, Abang.”


“Bang, apakah kita aman? Tahu ngak?”


“Apa?”

__ADS_1


“Aku merasa seperti baru selingkuh denganmu.”


“Ngawur!”bang Ryco menjitak kepalaku tanpa ampun membuat kepalaku yang tertutup kerudung aku elus-elus karena kesakitan.


“Sakit, Abang!”


“Makanya kalau ngomong difilter jika kamunya sendiri ngomong seperti itu nanti apa kata orang yang melihatnya?” aku hanya memanyunkan bibirku.


Bang Ryco mempersilahkanku jalan duluan keluar dari lift. Didepan lift aku tak sengaja melihat Nadia yang sedang menunggu seseorang.


“Selamat sore Mbak Nad.”


“Sore, pulang Ra?”


“Iya, Mbak. Aku duluan ya…” Aku sedikit tahu tentang Mbak Nadia yang baik dan ramah.


“Iya, silahkan. Hati-hati, Ra.” Aku meninggalkan tempat Mbak Nadia berdiri, Bang Ryco berjalan lebih dulu ketika aku menyapa Mbak Nadia.


“Bang, sudah tidak takut jika aku kabur?” kataku ketika sejajar dengan langkahnya.


“Tadi kamu sudah meyakinkanku,” kata Bang Ryco dengan senyuman membuatku ikut tersenyum.


.


.


“Pesan minuman apa dulu, Ra?” tanya bang Ryco setelah menduduki tempat duduk favorit kami ketika butuh privasi.


“Ayo Ra, segera pesan. Mau minum apa? Makannya nanti dulu.”


“Iya, iya aku tahu. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Aku harus jual ceritaku dulu baru aku dapat bonus makan. Hehehe.” Bang Ryco mencubit hidungku.


“Enaknya apa ya Bang, pengen anget-anget aura pengusir penat di kepala dan hati.”


“Kalau itu tidak ada di cafe ini Ra.”


“Maksudnya?” tanyaku yang dijawab dengan bibir Bang Ryco yang dimanyun-manyunkan sambil melek merem.


“Ih… “ aku mengepal tisu, aku lempar ke muka Bang Ryco.


“Lha terus apa? Emang itu kan anget-anget pengusir penat di kepala dan hati?”


“Kopi Bang! Atau Abang pulang saja ke rumah Mbak Erna deh! Fikiran Abang sudah tidak sehat.”


“Idih…idih… adik Abang, gitu saja marah bawa-bawa orang lain masuk dalam arena lagi!”


“Capucino hangat deh!”


“Memangnya aman perutnya? Avocado juice tanpa es saja, ok?”

__ADS_1


“Kalau ditentukan kenapa harus nawari? Uh… “


“Biar terdengar lebih sopan, dedek.” Aku memutar bola mataku mendengar kata-kata Bang Ryco.


“Terus lanjutannya tadi apa?”


“Gini, Mbak Emma pernah bilang padaku yang intinya aku harus mundur dengan alasan Mas Ferdian sudah dijodohkan dengan anak Pemilik Perusahaan tempatnya bernaung kan? ( Bang Ryco manggut-manggut menyimak ceritaku ) dan Mbak Emma sempat memperingatiku lagi, untuk menunggu hari dimana hal itu akan terbukti. Dan kemarin Pak Ryan bilang Pak Febrian itu pergi dengan izin urusan keluarga dan Abang juga tadi pagi bilang sama, bahkan Abang bilang Pak Febrian nunggu perkembangan pamannya. Asalkan abang tahu, pamannya Pak Febrian adalah Papanya Mbak Rinna pemilik perusahan yang Mas Ferdian tempati bekerja. Pak Febrian adalah saudara sepupu Mbak Rinna.” Aku mengambil nafas menjeda ceritaku membuat Bang Ryco menghela nafas yang begitu dalam.


“Bang, yang jadi pemikiranku saat aku mengetahui kabar itu. Dan Mas Ferdian yang tidak ada kabar sama sekali membuatku berfikir, dia sedang bersamanya Bang, atau mungkin saja sudah melanjutkan pernikahannya. Apalagi Papanya Mbak Rinna sedang dalam keadaan kritis seperti itu.” Aku terisak tanpa aku sadari, semakin kencang genggaman Bang Ryco semakin kencang isakan tangisku.


“Sutt, sutt, sutt… Aku tahu Ra, ini sulit dan ini masa-masa yang benar-benar sulit. Kamu tahu tempat yang ternyaman untuk berbagi cerita. Itu yang bisa aku lakukan untukmu. Kamu tenangkan dulu hatimu, fikiranmu, aku akan mencoba berfikir… minum ini,” Bang Ryco mendekatkan juice padaku, menepuk-nepuk tanganku yang aku genggam di atas meja sedikit gemetar menahan rasa sakit di dadaku.


“Aku ingin bertanya padamu, tapi kamu jangan tersinggung ya? Aku harap kamu menjawab dengn hati yang tenang dan berfikir luas.” Bang Ryco bertanya padaku setelah diam begitu lama, aku hanya mengangguk memberinya jawaban. Jantungku berdetak kencang menatap Bang Ryco yang serius ketika berucap.


“Seandainya, ( Bang Ryco menatapku sambil menepuk tanganku yang masih tergenggam di atas meja ) seandainya… (aku menganggukkan kepalaku masih menatap mata Bang Ryco yang ragu untuk berucap ) seandainya Ferdian mengambil langkah untuk menduakanmu bagaimana?” Aku masih termangu, melongo, tidak terfikirkan di fikiranku hal seperti ini benar-benar akan terjadi walaupun aku pernah mengatakan pada Mas Ferdian jika tak akan ketahuan seandainya Mas Ferdian mendua, karena pekerjaannya yang harus dinas ke luar kota hingga berhari-hari.


“Hai…hai… jangan terus blank gitu dong! ( Bang Ryco melambai-lambaikan jarinya di depan mataku membuatku sadar dengan apa yang aku fikirkan ) Tindakan apa yang akan kamu ambil Ra?” aku masih tidak sanggup menjawab apa yang ditanyakan oleh Bang Ryco.


“Ok, aku tahu Ferdian sangat dan sangat mencintaimu tapi kita tidak tahu kan apa yang terjadi di sana? Situasi yang membuatnya terjepit mungkin! Kamu sudah berfikir sampai situ kan?” air mataku tidak bisa aku tahan, mengalir tanpa henti dengan sedirinya membuat tanganku sibuk mengelapnya melepaskan tangan Bang Ryco yang dari tadi bertengger di atas tanganku.


“Aku tidak ingin menyakiti hati wanita lain, Bang. Aku akan mundur.” Aku mengatakannya dengan mantap dan yakin.


“Bukannya tidak ingin menyakiti hati orang lain Bang, tapi aku takut tersakiti. Aku bukanlah wanita yang berhati baja, aku tidak sanggup orang yang aku cintai membagi cintanya. Tapi…. “ setelah panjang lebar berbicara, aku teringat kedua orang tuaku.


“Tapi apa, Ra?”


“Aku tiba-tiba teringat orang tuaku Bang, apa yang akan aku katakan padanya ya? Aku harus bagaimana?”


“Ya bilang saja jika sudah putus ada yang yang mungkin tidak bisa Bersama lagi.”


“Tapi Bang… “ aku menatap Bang Ryco penuh dengan kata di mataku, hingga Bang Ryco menyadarinya. Dia menajamkan pandangannya sampai kepalanya ikut bergerak, menatapku menuntut lanjutan kata-kataku.


“Orang tuaku menunggu hari kepastian Mas Ferdian.”


“Maksud hari kepastian?”


“Sebenarnya Mas Ferdian sudah secara resmi melamarku di depan orang tuaku Bang!” Bang Ryco langsung melihat jariku, seolah bertanya ‘apakah itu!’ aku asal mengangguk saja membenarkan tatapannya.


“Oh Tuhan! Jika sudah seperti itu, kamu bagaimana?” nada Bang Ryco tidak sehalus tadi, dia sepertinya sudah jengkel padaku. Dia membuang muka seolah telah aku hianati.


“Maka dari itu aku bingung, Bang!”


“Makan dulu!” nadanya memerintah, membuatku jadi takut, serba salah dihadapannya.


“Sudah pusing dengan permasalahanku. Bang Ryco malah seperti ini!” batinku.


“Maaf bang, Abang marah gara-gara aku tidak memberitahumu tentang lamaran Mas Ferdian?”


“Hmm” Suara Hening di antara kami, aku focus dengan makananku yang dipesankan oleh Bang Ryco. Dia makan dengan muka yang masih jengkel.

__ADS_1


Terima kasih atas kunjungannya, nantikan selalu episode berikutnya…


__ADS_2