
"Aku tahu aku bersalah dalam hal ini, aku kurang tegas dalam bersikap. Tapi sebegitu parahnya kah aku salah dalam hal ini. Aku selalu mencoba untuk toleransi dengan keadaan tapi kenapa kebahagian seolah tidak berpihak padaku? Apakah aku tidak boleh merasakan kebahagiaan?" Fikirku dalam sela-selaku memenuhi galeriku dengan Mas Ferdian.
Mas Ferdian tersenyum tampan dalam setiap moment yang kami ambil. Pada titik ketidak sadaranku karena terlalu memikirkan bagaimana aku harus menghadapi Pak Ryan nanti ketika bertemu.
"Mas bagaimanakah aku harus bersikap?" pertanyaan itu muncul dan keluar begitu saja dari bibirku.
" Ya Allah Hira, kenapa kamu bilang seperti itu. Kamu hanya merusak moment indah saat ini saja. Seharusnya kamu bisa menahan, dia sudah mulai tersenyum kamu malah memulai lagi!" aku menyesali kata-kataku sendiri.
Ketika Mas Ferdian menatapku mulai merespons pertanyaanku, aku mulai bergetar sedikit ketakutan apa yang akan keluar dari bibirnya. Aku tahu ini sedikit menyakitkan. "Setelah ini aku akan benar-benar bersikap tegas Mas," janjiku dalam hati mendengarkan saran yang dikatakannya.
Aku memikirkan apa yang sedang dikatakannya dan memperkirakan bagaimana aku harus menyiapkan mentalku menghadapi Pak Ryan. Tapi diujung perkataan Mas Ferdian membuatku tersinggung. "Apakah kamu mau mencari cadangan?" kata-katanya menafsirkan aku pencari tempat teraman dari segi apapun. Seolah aku hanya mencari kenikmatan dan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Aku tahu walaupun itu bukan maksud hatinya, karna dia menyadari aku tidak pernah meminta padanya aneh-aneh. Tapi kata-katanya menyakitkanku seketika.
Aku melepaskan pelukannya, aku menjauh dari tubuhnya yang dari tadi mendekapku dengan hangat. Aku meruntuki diriku sendiri, aku sudah berusaha bersikap manis dan bahkan bersikap manja mengambil inisiatif memulai sentuhan fisik yang selama ini aku mewanti-wanti untuk tidak meruntuhkan harga diriku sebagai wanita. Menghindari penilaian sebagai wanita yang....
"Sayang," Mas Ferdian melangkah mendekatiku, aku masih mengacuhkannya. Meredakan rasa sakit di hatiku dan menahan air mataku agar tidak lolos dari bendungannya.
Mas Ferdian memegang kedua pundakku, aku menghindarinya melangkah lebih maju dari tempatnya berdiri. Dari tempat yang lumayan jauh aku tidak sengaja bertemu manik mata Pak Febrian yang ternyata menatapku. "Tatapan matanya seolah mengkhawatirkanku." batinku. Terlihat Pak Febrian menikmati kopi hitam bersama Pak Ryan, yang duduk membelakangi pandanganku. Aku tidak menghiraukan rayuan Mas Ferdian yang dari tadi tidak bisa aku tangkap di fikiranku yang sibuk dengan mencerna tatapan Pak Febrian.
" Sayang, kamu marah beneran? Maafin kata-kata Mas, ayolah kita buat moment yang indah-indah saja ya? Kita tidak akan bahas hal itu-itu. Senyum dong,"
"Bagaimana aku bisa tersenyum setelah mendengarkan kata-kata Mas, apa Mas selama ini menahan ingin mengatakan itu?"
"Sama sekali tidak sayang, Mas hanya merasa jengkel saja melihatmu dekat dengan.... "
"Dengan siapa? Tadi hanya chat lho Mas!"
"Kemarin?"
"Kemarin? Maksudnya?" Mas Ferdian menunjukkan foto yang ada di chat yang ia buka.
"Ya Allah Mas, itu bukan atas keinginanku kan? Pak Ryan memberikan headset padaku, membuatku mendengar lagu. Sepanjang jalan aku juga ketiduran sampai di kota ini baru terbangun."
__ADS_1
"Jadi Mas tiba-tiba sampai ke sini karna foto itu? Dan kita ribut karna alasan dasar itu? Iya!" Mas Ferdian memelukku erat dari belakang yang masih tak menghiraukannya, dari tadi aku membelakanginya. Mas Ferdian mengucapkan permintaan maafnya menempelkan dagunya di pundakku terasa hembusan nafasnya di pipiku merayu mengamati raut wajahku.
"Bukan alasan itu saja, Mas memang ingin ikut denganmu kemarin sudah mau meluncur. Tapi tiba-tiba tidak sesuai plan dan ada meeting dadakan. Mas berusaha keras untuk segera menyelesaikannya dan ngebut meluncur nyusul kamu! Jangan marah lagi, okey? please..." kulirik wajahnya yang berusaha berpost imut merayuku.
"Mbak Tari bukan tempatku berkeluh kesah atas semua masalah yang ada di hatiku Mas, justru Bang Ryco yang menjadi cahaya dalam gelapku. Tapi aku memang belum menceritakan tentang kamu yang telah melamarku, maaf." batinku menjawab pertanyaan yang di proteskannya tadi.
"Kenapa tatapanmu penuh dengan kerisauan? Apakah Adek belum memaafkan Mas?" Mas Ferdian mengeratkan tangannya di perutku, mencium-cium pipiku.
Tatapan Pak Febrian yang dari tadi masih bertahan membuatku menjauhkan pipiku dari bibir Mas Ferdian yang terus menyerangku. Membuatku malu, seperti aku melakukan hal yang memalukan di depan orang yang aku idamkan.
"Kenapa?" Mas Ferdian merasa aku menjauh. Aku segera menatapnya agar dia tidak mengikuti arah pandangku.
" Tidak ada apa-apa Mas, malu banyak orang telah mulai lalu lalang lho!" aku mencoba mengalihkan agar tidak curiga dengan apa yang sebenarnya membuatku sedikit tak nyaman.
"Kenapa malu, aku sedang bermanja dengan calon istriku." aku hanya tersenyum nyengir terkesan terpaksa tersenyum.
"Mas tidak capek dari tadi berdiri di sini?"
"Gombal!" selaku memotong pembicaraan Mas Ferdian.
"Ayo kita cari tempat yang lebih.... " Mas Ferdian menggandengku erat.
"Au.... " keluhnya karna aku telah mencubit pinggangnya agar dia tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa sih sayang, seharian ini kamu sering cubit Mas. Mas mengemaskan ya?" aku mencibirkan bibirku, tidak menyetujui kata-katanya.
.
.
" Dek, Mas boleh tanya sesuatu?"
__ADS_1
"Apa?"
"Seandainya Mas lama tidak menghubungimu, apakah kamu akan mempertanyakan keseriusan Mas?" tanya Ferdian tiba-tiba di tempat yang sepi tanpa orang berlalu lalang.
"Pastinya akan terasa sakit."
"Keseriusan Mas akan kamu pertanyakan, walaupun Mas masih mengirimimu uang tiap bulannya?"
"Mas sendiri kan tahu, aku tidak mengharapkan nol-nol di saldoku, meskipun setiap hari aku mengejar nol-nol." Mas Ferdian semakin dalam menatapku, mengusap pipiku dengan ibu jari tangan kirinya menangkup wajahku.
" Kenapa Mas bertanya seperti itu? Apakah ada hubungannya dengan sikapku yang tidak tegas terhadap Pak Ryan? Mas Mengkhawatirkan itu? Atau Mas mau mening.... " bibir Mas Ferdian sudah mendarat tanpa aba-aba.
"Mas akan menyelesaikan urusanmu dengan Ryan, itu pilihan yang kedua. Bagaimana? Tadi kamu belum mendengarkan Mas bicara sampai akhir, kamu sudah bersikap acuh saja."
"Apakah itu akan menjadi pilihan yang bijaksana?"
"Terserah adek pilih yang mana, 1 atau alternatif yang kedua? Sejujurnya Mas ingin yang kedua saja. ( Aku meliriknya tajam, aku membau kata-kata penekanan di sini ) Mas tidak mau kamu menemuinya secara langsung. Apalagi membahas masalah hati!"
" Mas memberikanku saran atau menuntutku mengikuti perintah Mas. Izinkanlah aku menemuinya secara pribadi." Mas Ferdian menatapku tajam membuatku tersenyum, berharap dia memberikanku sedikit harga diri.
"Tapi.... "
"Mas percaya padaku tidak?" tatapannya membuatku kecewa. Membuatku memotong kalimat yang akan dikatakannya.
"Bisakah kamu membuat rasa takut di hati Mas hilang?"
" Rasa takut kenapa memangnya? Selama ini apakah Mas melihat atau menemukanku menjalin hubungan dengan pria lain?" aku mendekatkan wajahku menyangga daguku tanganku bertumpu pada pahanya yang duduk bersila di sampingku.
" Memangnya harus bagaimana dan dengan cara apa aku menghilangkan rasa takut di hatimu Mas? Apakah aku kurang mempermalukan diriku di hadapanmu? Harus sampai batasan mana aku harus berbuat?" fikiranku sudah tamasya ke mana-mana.
bersambung,
__ADS_1
ikuti terus ya, 🙏🙏🙏