
happy reading...
Terasa sekali dari nada bicara Ibu, jika Beliau memiliki banyak pertanyaan di fikirannya. Akupun merasa penasaran di balik dinding kamarku, kakiku masih berat untuk melangkah menemui Pak Febrian dan aku memutuskan untuk menunggu ibu memanggilku.
“Saya ada perlu sama bapak dan ibu,” Aku mendengar kata-kata itu, megingatkanku pada Mas Ferdian saat melamarku.
“Apa perlu Nak Febrian bertemu dengan Hira dulu? Akan Ibu panggilkan."
“Nanti saja Bu, sebelumnya saya ingin bertanya pada Ibu. Maaf jika sikap saya kurang sopan. Apakah Hira selalu terbuka dengan ibu?”
“Iya, apapun yang dihadapinya saya selalu diberi tahu cepat atau lambat. Karena kami selalu terbuka.”
“Syukurlah jika seperti itu. Bapak ada?”
“Bapak ada di dalam, akan saya panggilkan.”
“Saya perkenalkan diri dulu, Pak… Bu… saya Febrian, saya asli dari kota B saya di kantor Hira sebagai atasan Hira menggantikan Pak Ryan. ( Ibu Hira manggut-manggut ) saya di sini memiliki niatan untuk meminang Hira, seandainya Bapak-ibu berkenan merestui. Saya tahu bagaimana status Hira sekarang dengan pacarnya. Saya kenal dan tahu persis bagaimana duduk perkara yang dihadapi Hira sekarang. Sebelum saya tahu semua hal tentang Hira, singkat kata saya sudah jatuh cinta padanya sejak pertama kali saya melihat CVnya ( kedua orang tua Hira saling pandang kurang mengerti ) meneliti berkas mengenal karyawan saya sebelum saya terjun secara langsung.”
“Kami wong sepuh kari manut karo anak to Le, sing menjalani kuwi Hira. Nek wong tuo sak dermo ndongakno.” Suara Bapak terdengar tenang dan bijaksana membuat aku terisak, betapa aku telah mencoreng nama orang tuaku di masyarakat jika masyarakat tahu jika aku tidak jadi menikah dengan wajah orang yang selalu riwa-riwi ke rumah mengantarku hingga larut malam bahkan pagi buta seolah aku bukan wanita yang suci lagi.
“Maaf bapak-ibu bukan maksud saya memanfaatkan moment yang menimpa Hira, tapi saya benar-benar menyayanginya. Dengan kejadian yang menimpa Hira, aku yakin hal ini akan berdampak pada nama baik Bapak-Ibu dan juga Hira di masyarakat.” Kata Pak Febrian seolah ingin meredakan isakanku yang mungkin telah terdengar.
“Memang benar apa yang kamu katakan Nak, tapi kami akan bertanya pada Hira terlebih dahulu. Awakmu sing sabar. Terimo opo sing mengko dadi keputusan anakku, aku tidak ingin membebani Hira. Dengan memaksanya menutup apa yang difikirkan orang. Hira kawit cilik yo wes urip rekoso, kami wong tuo pasrah karo opo sing dikarepno.” Bapakku tidak memberi kepastian pada Pak Febrian. Membuatku bertambah pusing, menanggung beban mengambil keputusan untuk kehidupanku sendiri tapi harus melibatkan muka orang tuaku di masyarakat.
“Iya Pak. Saya akan menunggu kabar baiknya. Karena hari sudah semakin malam, saya permisi dulu.”
“Lho, tidak pengen ketemu Hira dulu?” tanya Ibu.
“Tidak perlu Bu, biarkan dia istirahat. Tolong sampaikan apa yang menjadi niat baikku padanya Bu. Saya mengharapkannya sekali. Saya tidak akan menuntutnya terus langsung mencintaiku. Aku akan bersabar menunggu cintanya tumbuh, jika dia menerima pinanganku.”
“Aku matur nuwun sanget Nak, matur nuwun mogo-mogo kasil opo dadi kekarepanmu.”
“Amien. Saya pamit nggih Bapak-Ibu.” Orang tuaku tidak menjawab mungkin mereka hanya menjawab dengan anggukan saja.
Flash back off.
“Woe! Kenapa bengong. Ni berkas antar keruangan Pak Febrian. Aku sibuk, mintakan tanda tangan kirim ke bagian keuangan.” Bang Ryco mengagetkanku yang telah tamasya. Syukur dia tidak menyadari apa yang menjadi focus tatapanku.
“Kenapa tidak kamu saja sih Bang! Aku juga sibuk.” Aku beralasan ingin menghindari ketemu dengan Pak Febrian karena sampai saat ini aku belum memberi jawaban apapun, bahkan memikirkannya saja tidak. Padahal tiap hari tidak saling sapa dan menghindarinya sudah terasa canggung sekali.
“Aku tahu kamu menghindarinya kan? Kamu melewatkan sesi cerita ini Ra. Apapun yang terjadi dengan kalian tanpa aku tahu. Jangan menghindar lagi Ra. Kita kerja di sini, dan dia atasan kita. Jadi…”
Tanpa mendengar lanjutan apa yang dinasehatkan oleh Bang Ryco aku langsung berdiri mengambil berkas yang tadinya di letakkan di ujung mejanya, aku bawa ke ruangan Pak Febrian.
Tok…tok…tok…
__ADS_1
“Masuk.” Aku lihat dia tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang ditaburi tinta olehnya.
“Minta tanda tangan Pak,” aku mengeluarkan suaraku, berharap dalam hati dia tidak akan menanyakan kesedianku.
“Silahkan duduk dulu Ra,”
“Pak, diminta segera mau naik soalnya.”
“Iya aku tahu, aku teliti dulu. Aku ingin bicara padamu.”
“Ini kantor Pak.”
“Iya aku tahu ini kantor, jika kamu tahu yang akan aku bicarakan masalah pribadi. Pernahkah kamu memberiku kesempatan untuk berbicara secara pribadi denganmu? Aku tahu Ra, saat aku berbicara dengan orang tuamu kamu mendengarkan itu. Benar kan apa yang aku katakan?”
“Iya memang benar, maaf.”
“Aku tidak ingin mendengar kata maaf darimu Ra, aku hanya ingin mendengar kesempatan yang kamu berikan padaku untuk menerima pinanganku.”
“Pak, tolong segera tanda tangani.”
“Akan aku tanda tangani, biar staf keuangan yang ambil akan aku telephone. Kita bicara dulu. Aku yakin kamu akan terus menghindariku. Aku tidak bermaksud memaksamu. Aku akan menunggu cintamu datang padaku dengan sabar. Tapi biarkan dulu ada kepastian diantara kita untuk menjaga nama baikmu dan orang tuamu.”
“No, never at all. Sama sekali tidak seperti itu. Aku benar-benar menyayangimu Ra. Aku selalu memperhatikanmu, apakah kamu tidak merasakan hal itu?”
“Aku memang pernah menangkap tatapanmu saat aku bersama dengan Mas Ferdian waktu di puncak. Dengan gaya Mas Ferdian yang seperti itu, apakah Bapak yakin jika aku masih… dan Bapak tidak keberatan dengan jejak-jejak Mas Fedian yang dia tinggalkan?”
“Aku percaya, kamu tidak akan dengan mudahnya memberikan mahkotamu walau kamu seranjang dengannya sekalipun. Aku tidak peduli dengan hal itu, setiap orang memiliki masa lalu. Dan aku tahu tidak semua orang bisa berdamai dengan masa lalunya.”
“Apakah Bapak tidak akan keberatan?”
“Jika aku menjawab dan sungguh-sungguh tidak keberatan apakah kamu menerima pinanganku?”
“Maaf, tapi aku benar-benar tidak ingin membawa orang dalam sakitku Pak. Aku benar-benar ingin memastikan bagaimana aku bisa membawa hatiku terlebih dahulu. Sebelum aku memulai hubungan lagi.”
“Jika jawabanmu tetap seperti itu, apa gunanya kamu bicara ngalor-ngidul Ra.”
“Maaf mungkin aku terbawa emosi.”
__ADS_1
“Ra, aku berharap diluar apa yang aku harapkan kamu masih mau berbaik hati untuk menjalin hubungan baik denganku.” Aku hanya mengangguk, menatap matanya yang penuh dengan ketulusan.
“Permisi. Akan aku antar sendiri di bagian keuangan.”
.
.
“Ra, sepertinya nanti kisahmu deh yang terkuak, bukan kisahku yang harus dibahas.” Tanya Bang Ryco setelah aku kembali dari bagian keuangan, sepertinya dia memperhatikanku yang lama berada di ruangan Pak Febrian.
“Tidak bisa, apapun yang ada dalam cerita kisahku untuk agenda hari ini harus diskip dulu. Yang ada hari ini adalah kisahmu Abang! Kamu sudah janji ya?” Ryco hanya manggut-manggut.
.
.
“Tanpa kita tahu nanti kita jalan berdua seperti ini ada galery seseorang bahkan lebih penuh dengan kita berdua Bang?”
“Mungkin saja, tidak mungkin orang luar selama ini areal ini kan hanya karyawan perusahaan kita yang diperbolehin. Kenapa bisa orang luar ya, jelas sekali kalau di sini ada yang memata-matai kita. Atau kita membuat kesalahan saja dengan segaja Ra? Kali saja hari ini detektif sewaan masih bereaksi.”
“Kita buat moment yang romantic?” Bisik Bang Ryco ditelingaku, sudah memberikan kesan orang akan salah faham. Aku memukul lengannya, mendongak menatapnya dengan tajam memperingatkan jangan macam-macam.
“Aku memang belum resmi berpisah Bang, tapi sepertinya hal itu tidak perlu kita lakukan walaupun tidak akan ngaruh dalam hubunganku.”
“Jangan dibahas dulu dong, kita belum sampai cafe sudah habis ceritanya.”
“Sepertinya kisah ku dan kisahmu belum waktunya habis walaupun kita nginap di cafe. Hehehe.” Aku sedikit ketawa walaupun terpaksa.
“Ra, sudah sampai. Kamu cari meja dulu, aku mau cari tempat parkir. Atau aku parkir di rumahmu saja?”
“Kejauhan Abang, aku sudah reservasi tadi. Hehehe. Meja biasa. Tapi aku turun dulu ya? Santai saja parkirnya!”
“Dasar kamu ya!” Bang Ryco menyenul hidungku, sudah menjadi kebiasaannya.
“Kenapa tidak pesan dulu? Aku sudah pesan avocado juice, tapi aku belum pesan minuman buat Abang!”
“Jahat ya?” Bang Ryco geleng-geleng sambil berdecih.
“Kali aja pengen ganti apa gitu!”
“Ya sudah aku kopi saja lah, Kopi Mbak, jangan terlalu manis! ( teriak bang Ryco yang tidak jauh dari meja kasir ) biar jernih fikiran dan mataku. Mungkin saja Bu Hira mau kasih pertanyaan yang sulit untukku.”
“Bang, sampai saat ini Abang belum bertemu Mbak Er?”
“Iya, belum. Malam itu setelah dari sini aku langsung menemuinya dan aku sedikit ribut… “
“Apa yang diributkan? Dia tidak percaya jika kita punya hubungan kan?” bang Ryco menaikkan alisnya dan mengangkat kedua bahunya membuatku ragu.
“Ya Allah, serius lho bang ini! Atau kita memang keterlaluan tidak punya batasan ya? Jika masalahmu sudah okey aku mau jaga jarak denganmu saja deh! Akan aku jaga ( aku memegang bibirku aku gerakkan tanganku yang menandakan mengunci ) untuk tidak kebabalasan dengan panggilan ‘Abang Sayang’ mulutmu harimaumu beneran ini! Ujung-ujungnya semua ini salahku!” aku meratapi apa yang menimpa diriku dan sekarang Bang Ryco kebawa-bawa.
“Oh, No…no… tidak ada kata jaga jarak! Kita kan best friend and aku memang Abangmu! Abang ketemu gede, itu tidak salah. Tapi aku sudah janji sama ibu ya, untuk selalu jaga kamu.”
Tak lama aku menikmati juiceku dan Bang Ryco menyeruput kopinya yang panas, belum juga memesan makan atau cake pintu cafe terbuka, mbak Erna memasuki café dan sudah melihatku yang duduk tanpa berpaling. Mata kami saling menatap, aku hanya mengedipkan mata untuk menyambut kedatangannya. Ekspresi wajahnya tidak terkejut ataupun marah, dia berjalan dengan wajah yang tenang. Mungkin dia sudah menduga sebelumnya jika aku ingin mempertemukan mereka atau apalah.
“Sore menjelang malam Ra?” Aku berdiri dan cipika-cipiki dengannya. Bang Ryco hanya terdiam tanpa menyapa dan tidak memprotesku dengan lantang sama sekali seperti yang selalu dilakukan.
“Silahkan duduk Mbak, terima kasih sudah meluangkan waktu. ( Mbak Erna hanya menatapku dengan mengayunkan kelentikan bulu matanya dan mengusap lembut tangan kananku yang masih mendarat di pahanya ) aku di sini hanya ingin memperjelas bahwa aku tidak ada hubungan apapun dengan Bang Ryco hanya sekedar teman kantor, teman curhat, dan menjadi Abangku. Maaf jika hubungan yang kami miliki tidak membuatmu nyaman. Aku benar-benar minta maaf aku berharap kalian rukun-rukun saja. Aku do’akan yang terbaik untuk kalian. Sepertinya aku sudah selesai menjelaskan, selebihnya tolong Bang jelaskan, seandainya privasiku perlu untuk terseret tidak apa-apa. Silahkan ceritakan saja. Aku pamit dulu ya, seandainya nanti mau mampir ke rumah silahkan… tapi jangan lupa harus bawa sesuatu ya… “ Aku mengedipkan mataku menggoda Bang Ryco.
“Maaf Mbak, kebiasaan!” aku mengelus mataku sendiri, mengharap kemakluman Mbak Erna atas kebiasaan burukku yang menggoda Bang Ryco. Aku pamitan untuk meninggalkan mereka, memberi mereka ruang untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka tunda.
“Maaf Bang, bayarin ini ya? Hehehe.” Aku mengangkat gelas juiceku yang telah aku habiskan dengan terburu-buru. Sebelum aku melangkah keluar cafe.
Lanjut episode berikutnya ya,
__ADS_1
terima kasih atas kunjungannya 😘