Tak Hanya Sebatas Bayangan

Tak Hanya Sebatas Bayangan
Bab 33


__ADS_3

" Siapa yang duduk bersama Hira, sepertinya bukan karyawan di Perusahaan kita?” kata Ryan tiba-tiba di tengah menikmati makanan. Febrian dan Ryco masih terdiam belum memberi jawaban, masih mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. Erna tidak ingin menanggapi terlalu jauh walaupun dia tahu, tapi dia tidak merasa pantas untuk terlibat jauh. Erna merasa hanya sebagai orang luar di meja makan ini.


“ Sepertinya ada yang cemburu!” bisik Erna di telinga Ryco, tak sabar mengutarakannya walaupun yang jadi perbincangan adalah orang yang ada di depannya. Di jawab Ryco dengan anggukan.


“Ryc, kamu pasti tahu kan siapa itu? Kamu selalu tak lepas dari Hira!” Febrian hanya menyimak kata-kata yang keluar dari Ryan, menghormati Ryan sebagai Boss berjalannya acara ini.


“Hemhem,” suara Ryco yang tersedak menjadi terdakwa pertama. Membuat Erna segera mengambilkan minuman.


“ Pelan-pelan, sayang.” Ryco mengangguk.


“Ra, Ra. Duduk sama Bos-Bos membuat makananku nyangkut di leher. Menyesal aku Ra! Kenapa duduk dengan orang-orang kesepian yang menunggu pintu hatimu terbuka!” Batin Ryco menelan seteguk air untuk mengusir ganjalan dalam tenggorokannya.


“Iya, Pak. Dia itu pacar Hira. Baru tiba larut semalam.” Raut wajah Febrian yang tidak kaget membuat Ryco bertanya-tanya di dalam hati.


“Apakah kamu tahu dengan semua ini Pak Boss? O, o Ferdian pernah ke ruanganmu. Aku tahu kamu punya rasa pada Hira tapi kamu bisa bersikap biasa saja. Kalian seperti benang saja. Pusing aku!” batin Ryco.


“ Aku selesai, Pak Ryan ayo kita lanjutkan menapaki lokasi sasaran kita. Kita buru penghuni galeri sebanyak mungkin.” Kata Febrian mengakhiri topik yang tidak enak di hati.


“ Ok, kita lakukan. Kita kembali sebelum matahari tenggelam.” Respons Ryan. Ryco mengelus dada lega. Takut membuat kesalahan dalam urusan Hira.


“Aku bisa melihat  jelas mata penuh kecemburuan pada tatapan Bossmu tadi Ryc, dia yang kemarin duduk dengan Mbak Hira 'kan?” tanya Erna membenarkan pemikirannya.


“Iya, harusnya aku yang duduk dengan Hira. Kamu kan planing hari ini baru nyusul. Jadi aku yang ngajak dia sebangku. Aku meninggalkannya umtuk parkir, tak tahunya tiba-tiba ditelephone Pak Ryan Hira diajak naik bus duluan. Untung saja, kamu muncul! Kalau tidak pasti sudah seperti sapi ompong aku!” Erna mencubit gemas tangan Ryco yang mencoba memanfaatkan keadaan bersama wanita lain.


Mereka berdiri setelah menyelesaikan makannya, sengaja menunggu berjarak dengan bosnya. Berjalan bergabung dengan teman seperjuangan.


Kata-kata yang diucapkan Tari membuat Ryco dan Erna melonggo, mendengarnya. Sampai menghentikan aksi kemesraannya.


“ Sayang, di sana aku menderita makan saja sampai tersangkut di tenggorokan. Tak tahunya teman baikku mengira aku makan makanan enak.” Erna mengelus punggung Ryco yang masih berbisik mengeluhkan rasa sakit hatinya.


.


.


Mas Ferdian yang melihat kemesraan Bang Ryco dan Erna membuatnya ingin melakukan hal yang lebih dalam hubungan kami.


“Aduh, kenapa kalian pada over sih! Kalian tidak tinggal jauh dari pasangan kalian,bisa kalian temui kapan saja. Sedangkan aku? Jika Mas Ferdian ngiler, habislah aku! Bagiku dia seperti harimau yang lama tak di beri makan ketika kami berkesempatan bertemu. Kalian malah pasang aksi di depannya. Pantas saja kalian selalu mempertanyakan keperawananku, kalian saja pada buas!” aku menepuk jidatku menggerutu di dalam hati. Mbak Tari tiba-tiba memanggil Mas Ferdian menunjuk dengan jelas aksi Bang Ryco yang tak jauh dari kami. Spontan aku menutup netra Mas Ferdian yang sudah ternoda melihat aksi bibir Bang Ryco yang berpetualang dengan penuh kenikmatan.


Mas Ferdian semakin mengeratkan genggamannya di sela jari-jariku. Menarikku menjauh dari tempat Mbak Tari dan Fernad berdiri.


“Kita lakukan tanpa aku mencurinya darimu. Dan kamu lakukan dengan rasa ikhlas, kita nikmati bersama. Boleh Mas melakukannya?”


“Aku takut kita akan terbawa suasana Mas, menjadi lebih berdosa lagi.”

__ADS_1


“InsyaAllah, Mas tidak akan melakukan lebih dari itu.... ” Aku hanya menganggukkan kepalaku. Tiba-tiba chat masuk dalam handphoneku.


From : Pak Ryan


Dia pacarmu?


 


From : Pak Ryan


Jadi selama ini, ini alasannya?


 


From : Pak Ryan


Kenapa tidak langsung saja bicara alasannya?


 


From : Pak Ryan


Hanya membuatku berlayar tanpa arah saja!


 


“Siapa? Kenapa?” raut Mas Ferdian sedikit panik. Aku mendongak menatapnya, bingung apa yang harus aku katakan.


“Kenapa, mukanya kok linglung gitu?” Mas Ferdian mengelus pipiku. Aku masih diam.


“Aku bingung bagaimana harus menjaga dua hati. Satu atasanku, satu lagi kamu Mas. Jika aku jujur dengan aku yang sudah memilikimu. Aku akan menyakitinya dan aku canggung bertemu dengannya di kantor dan sekaligus jika kamu tahu pasti kamu merasa tersinggung seperti tidak mengakuimu. Aku menjaga hatinya malah kata-kata seperti ini yang aku dapatkan.” Aku masih terbengong menatap manik Mas Ferdian yang menatapku penuh tanya.


Tanpa aku duga, Mas Ferdian tiba-tiba mengambil handphone yang aku genggam. Menghadapkan layar yang telah terkunci untuk memintaku membuka kunci tanpa mengucapkan sepatah katapun. Wajahnya yang serius menatapku membuatku merasa ada firasat tidak baik.


“ Mas,” lirihku takut jika Mas Ferdian salah mengerti denganku.


“ Karena chat ini membuat moment romantisku lenyap begitu saja!” batin Ferdian.


“Sayang, ini?” tanya Mas Ferdian menatapku dengan tatapan yang membuatku tak nyaman.


“Iya, mungkin dia tadi memperhatikan kita.”


“Mungkin?” perkataan Mas Ferdian membuatku berfikir lebih panjang,

__ADS_1


“Ada apa dengannya?” hatiku terasa nyesek mendengar nada bicaranya dan tatapannya.


“Ya Allah, aku lebih rela jika dia akan melalukan apa yang diirikannya pada Bang Ryco dari pada aku harus menghadapi moment seperti ini. Jangan Kau berikan aku rasa sakit karena salah faham Ya Allah.” Batinku mencoba membaca tatapannya.


“Mas,” aku memeluknya tiba-tiba ingin menghangatkan tatapannya yang mendingin padaku.


“ Ya Allah, ampuni aku yang tidak bisa menjaga batasanku sebagai hambamu.” Aku merasakan tangan Mas Ferdian sama sekali tidak membalas pelukanku. Tangannya sama sekali tidak menyentuhku. Aku mendongak melihatnya.


“ Mas,” lirihku tak ada jawaban darinya. Mas Ferdian hanya merunduk menatapku. Ku kecup bibirnya singkat, menerbitkan senyuman yang telah meredup membuatku sedikit tenang.


“Dia yang sebangku denganmu kemarin?” membuatku mengangguk.


“Adek macam-macam di belakang Mas ya?” aku jawab dengan gelengan, masih mengeratkan pelukanku di pinggang Mas Ferdian mendongak memperhatikan tatapannya. Ku pasang muka manjaku mencoba melelehkan mukanya yang masih membeku.


.


.


Ferdian mencoba menyelidik dengan foto yang telah diterimanya. Sikap manja yang ditunjukkan Hira membuatnya menyingkirkan sedikit rasa cemburunya. Hira menyelusupkan kepalanya di dada Ferdian memeluknya erat, seolah mengartikan tak ingin kehilangan. Ferdian membalas pelukan Hira dan mengecup ujung kepala Hira yang berada di ceruk lehernya.


Ferdian dan Hira mengambil foto bersama, tak akan melewatkan jejak mereka bersama. Sepintas melupakan apa yang telah lewat dalam moment kemesraan mereka.


“ Mas, bagaimana aku harus bersikap?” pertanyaan Hira tiba-tiba merusak moment kemesraan mereka, Hira pasrah dengan hatinya seolah menurut pada apa yang akan Ferdian putuskan.


“Boleh Mas mengambil sikap?” tanya Ferdian dengan tegas penuh penekanan, dijawab dengan anggukan oleh Hira.


“Kamu jawab saja dengan ‘Iya, benar’ dan sertai dengan permintaan maaf karna dia atasanmu. Mas tidak tahu maksud hatimu kamu menutupi hubungan kita selain kamu memikirkan reputasimu soal nepotisme yang kamu bilang. Kamu tidak meragukan dengan keseriusan Mas kan? Mas rasa-rasa, Tari belum tahu jika aku sudah melamarmu secara resmi di hadapan orang tuamu. Padahal Tari tempatmu berkeluh kesah. Apakah kamu mau cari cadangan?”


“Sehina itukah aku?” Hira melepaskan pelukannya pada Ferdian.


“ Aku menyesal, apa yang aku lakukan pasti hanya menambah betapa hinanya aku di hadapanmu, Mas!” Hira meruntuki dirinya sendiri.


Hira memalingkan wajahnya melihat pemandangan sekitar, merasa menyesal dan malu dengan sikap berani yang telah diambil.


 


Bersambung,


mohon dukungannya 🙏🙏🙏


 


 

__ADS_1


__ADS_2