
happy reading...
To : Febrian ( 10.00 )
Aku ada waktu luang nih, ayo ngopi.
From : Febrian
Ok, aku ada di Rumah sakit. Bagaimana jika di cafe 'Kagen' kebetulan dekat dengan sini dan dekat dengan kantormu juga.
To : Febrian
Deal. Aku otw.
From : Febrian
Ok. Aku tunggu.
“Halllo Feb, apakah kamu lama menunggu?” sapa Ferdian menghampiri febrian yang sudah duduk santai dan terlihat sibuk dengan handphonenya.
“Tidak, aku baru datang. Santai saja. Mau pesan apa? Capucino hangat, dingin atau kopi hitam panas?”
“Hitam panas saja, kepalaku agak pening.” Febrian menatap Ferdian seolah ingin menyelami hatinya ketika mendengar kata-kata yang diucapkan Ferdian.
“Bagaimana dengan Pak Agum, apa ada perkembangan?” tanya Ferdian. Menambah keinginan Febrian untuk sedikit ingin ikut campur dengan masalah yang sedang dihadapi Ferdian.
“Pak Agum belum ada perkembangan. Fer, masalahmu dengan Rinna… “
“Apakah dia cerita padamu?” sela Ferdian.
“Oh, no! Dia sama sekali tidak becerita apapun. Aku bertanya sampai berbusapun dia tidak akan pernah cerita padaku. Kamu kenal sendiri bagaimana dia, dia bukan tipe orang yang terbuka dengan sekitarnya.” Ferdian mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Ferbrian tentang pribadi Rinna.
“Sebelumnya aku minta maaf, bukan bermaksud aku mencampuri urusanmu. Jika ini tidak ada sangkut pautnya dengan Rinna aku juga tidak akan angkat bicara Fer.”
“Aku benar-benar pusing. Maju tidak bisa, mundur juga tidak bisa.” Sela Ferdian.
“Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian kemarin dengan jelas. Dan aku tahu dengan baik bagaimana perasaanmu pada Hira. Mungkin jika aku ada di posisimu, aku pasti sudah tidak bisa makan.” Ferdian terkaget, menajamkan pandangannya pada Febrian.
“Aku benar-benar minta maaf atas sikap Rinna padamu, seperti yang sudah aku katakan dulu padamu ketika aku salah faham padamu. Aku melihat jika dia benar-benar mencintaimu sejak dulu dan aku kira perasaannya terbalas. Dan aku juga tidak menyalahkan apa yang dikatakan ataupun dirasakan Rinna padamu, aku saja yang melihat ikut merasakan maka dari itu aku salah faham jika perasaan kalian saling berbalas. Jadi tidak salah dengan prasangka Rinna padamu, aku berharap kamu berlapang dada mengerti tentang hal itu.” Kata Febrian.
“Tapi aku tidak menyalahkanmu.” Imbuh Febrian, Ferdian memegang kepalanya memejamkan matanya memijit kepala bagian depan, terlihat kusut dan berantakan.
“Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, sungguh. Aku hanya tulus padanya sebagai adikku karena memang Pak Agum sendiri yang memintaku untuk membimbingnya. Aku tidak sedikitpun berfikir jika pada akhirnya Beliau malah mengharapkanku untuk jadi suami Rinna. Aku benar-benar dalam keadaan buntu Feb, aku mohon walaupun aku berantakan seperti ini, dan apapun nanti yang terjadi. Aku berharap jangan cerita pada Hira. Please… “ raut wajah Ferdian penuh dengan harap. Membuat Febrian sedikit mengerutkan dahinya dan mengeratkan giginya, seolah ada prasangka yang sedikit negative difikirannya.
“Aku mohon… biarlah hanya aku yang akan jujur pada Hira.” Ferdian terlihat memprihatinkan.
“Okey, aku memang tidak punya hak dalam hal ini. Dan tidak mungkin juga kan jika aku tiba-tiba menghampiri Hira dan berkata padanya tentang hal ini, jikapun iya…mau aku taruh di mana mukaku dengan apa yang difikirkannya tentangku alasan aku melakukan itu. Iya kan? Dia bukan tipe orang yang sembarangan, selalu berfikir dulu sebelum mengatakan atau memutuskan sesuatu.”
“Seandainya kamu mengabulkan permintaan Rinna, aku juga akan menutup mulutku dihadapan Hira. Walaupun jujur aku tidak Rela, ( Ferdian menajamkan pandangannya pada Febrian dengan kata yang keluar dari bibir Febrian ) aku tidak rela Hira terluka walau disisi lain ada saudaraku.” Ferdian langsung melotot, mengeratkan gigi-giginya.
“Sekarang kamu vulgar dengan hatimu Fer, setelah mengetahui keadaan sudah seperti ini!”
“Aku hanya bilang dan dari apa yang aku katakan tidak ada sama sekali penekanan kata yang menunjukkan aku akan merebut Hira darimu kan?”
__ADS_1
“Iya memang tak ada, tapi bukankah keadaanku ini merupakan kesempatan yang bagus untukmu?”
“Tidak semudah itu Fer, membalikkan perasaan seseorang. Cinta yang kamu tanam bahkan semenjak dia menginjak umurnya yang baru remaja, dimana dia baru pertama kalinya merasakan kasih sayang dari lawan jenis. Jika aku berkeinginan seperti itu, sudah dari awal ketika dia melihat fotomu di ruanganku aku menggunakan kesempatan itu, Fer. Untuk menggoyahkan hatinya.” Raut wajah Ferdian terlihat semakin berantakan.
“Bukan maksudku mendukung keburukan jika kamu memang memilih untuk mendua. Bersiaplah untuk menghadapi keadaan sulit yang akan kamu hadapi. Tapi jangan pernah kamu merasa sakit hati jika suatu saat Hira terluka dan ada orang lain di sisinya.” Ferdian sudah tak bisa berkata-kata lagi. Hanya terdiam penuh dengan pemikiran dibalik nasehat Febrian lebih seperti ancaman.
“Maaf Fer, jika kata-kataku menyakitkan. Aku berdiri dari banyak sisi, maaf. Oya aku mau kembali ke rumah sakit aku bilang pada Rinna jika aku pergi ngopi dan untuk membeli makan siang untuknya. Maaf aku harus segera kembali.”
“Okey, okey… baiklah aku mengerti. Terima kasih. Sekali lagi, aku berharap jika kamu kembali ke kota C jangan bicara apapun pada Hira.”
“Aku tidak bisa janji sepenuhnya, tapi tidak ada niatan dari hatiku untuk memberitahunya.” Febrian berdiri menepuk bahu Ferdian yang masih duduk, sebelum pergi.
“Ok, terima kasih.” Ferdian masih termangu diam tanpa pergerakan.
“Ya Allah dosa apakah yang telah aku lakukan hingga Engkau memberikan aku cobaan seperti ini, Ya Allah. Jika memang situasinya akan seperti ini, kenapa Engkau memperkenalkanku dengan Hira, Tuhan. Kenapa harus dia yang tersakiti jika memang hanya…. Yang menjadi pilihanku, aku harus bagaimana?” keluh Ferdian dalam hati.
“Iya, Dik?”
“…. “
“Oh, ya… aku segera kembali. Maaf aku lupa. Terima kasih.”
Di kota C, Ryco kembali bersama dengan Hira meeting dengan Pak Ryan tiba di ruangannnya dengan menghembuskan nafas membuang rasa lelah.
“Akhirnya… “ kata Ryco.
“Kenapa Co, berat sekali kedengarannya.”
“Baru terasa, ternyata tidak ada Pak Ferdian kok begitu menyengsarakanku. Ri, mau ikut makan siang?” tawaran Ryco tiba-tiba terlontar, mencari tahu keadaan.
“Aku ngeluh karena aku tidak jelas-jelas dapat promo. Tapi kalau kamu, uh… sudah di depan mata, buat aku jadi iri saja!” kata Ryco seolah protes dengan keadaan.
“Syukurlah, jika Tari tidak ikut. Aku bisa ngobrol dengan Hira. Cukup atau tidak waktunya, mungkin akan sedikit lebih mengurangi beban yang ada di hati Hira.” Batin Ryco.
“Ra, ayo ikut aku makan.” Tanpa permisi Ryco asal menarik tangan Hira menglandengnya keluar ruangan, Tari hanya menggeleng-geleng kepalanya melihat tindakan Ryco.
.
.
“Bang, kenapa asal tarik-tarik saja? Baik-baik kan bisa?”
“Lama! Nunggu kamu banyak alasan. Mumpung Tari gak ikut. Kesempatan ada privasi buatmu bercerita. Gimana dan ada apa adikku yang cantik?"
“Pesan makan dulu, Bang. Tadi bilang pada Mbak Tari, kita kan mau makan siang!”
“Ok, aku pesan. Tapi sambil cerita.”
“Minum Bang, kita pesan minum. Abang mau ngopi atau jus? Aku avocado juice.”
“Okey… okey, jangan muter-mute untuk mengecohkanku dari topik ya Ra!”
“Aku tahu ini privasimu, dan kamu punya hak penuh untuk setuju atau tidak berbagi cerita denganku. Tapi semuanya tanpa terkecuali aku sudah tahu, jadi aku harap ketika cerita ini berubah jadi novel maka novelnya bisa hadir secara sempurna, bisa tamat dan tidak menggantung perasaan pembaca.” Ryco mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
“Hih dapat royalty nih entar aku. Jika sudah seperti itu mau tidak mau aku harus cerita dong, Abang!” Hira menepuk bahu Ryco dan Ryco terkikik.
“Belum juga kamu mendapat solusi dari masalahmu, kamu sudah bisa ikut tertawa kan Ra. Ini artinya ketika kita berbagi kita akan mendapat pencerahan, hehehe… sepertinya aku salah memilih kata ya?” Hira tersenyum. Pesanan yang mereka pesan datang membuat mereka menghentikan obrolan.
“Ayo Ra, tanjap gas, keburu jam makan siang selesai.” Kata Ryco setelah waitress berlalu.
“Emangnya naik mobil! Emm… “
“Emm… lalu?” Ryco sedikit menirukan gaya mimik muka Hira.
“Sebenarnya ini belum pasti bang, dan kemarin aku masih baik-baik saja. Abang tahu sendiri kan, kemarin aku masih bersamanya? Bahkan sampai aku izin.”
“Iya, aku sudah menduganya.” Sela Ryco.
“Kami berpisah, ( Ryco memelototkan matanya ) maksudku dia berpamitan pulang dengan baik-baik saja. Mengenai perasaan berat sudah terbiasa setiap berpisah juga terasa berat walau terasa ada perasaan aneh."
“Saat ini aku merasa seolah sudah saatnya apa yang di katakan Mbak Emma akan terjadi.” Air mata Hira sudah menggenang.
“Maksudmu, kata-kata yang mana?”
“Setelah kami berpisah Mas Ferdian lama tidak memberiku kabar sampai akhirnya aku berputus asa untuk menunggunya. Aku silentkan saja handphoneku dan aku changer sampai tadi pagi. Pesanmu tadi yang membuat aku membuka handphoneku. Aku baru tahu jika Mas Ferdian mengirimiku pesan tengah malam. Belum aku balaspun sampai sekarang, dia tidak berkeinginan untuk menghubungiku. Aku tahu dia orang sibuk, maka dari itu aku menunggu dan memastikan sesuatu dulu sebelum berprasangka. Dan…. “
“Dan apa Ra? Kenapa kamu berhenti?”
“Yaitu kesimpulanku, Bang!”
“Maksudmu?” Ryco masih tidak faham dengan apa yang di maksud dengan Hira.
“Yaitu! ( Ryco masih melonggo menunggu penjelasan Hira ) Sepertinya ini saatnya apa yang dikatakan Mbak Emma akan terjadi.” Hira dengan lemas berucap dan Ryco memegang tangan Hira menghentikan Hira yang mengolak-alik makanan di piringnya.
“Jika benar hal itu yang terjadi, apa yang harus aku lakukan Bang?” Ryco menghela nafasnya dan mengengam tangan Hira.’’
“Balas pesan Ferdian, tunggu dan lihat apa yang dikatakan dalam balasan itu. Amati tindakannya, maksud kan dengan apa yang ingin aku sampaikan padamu? ( Hira mengangguk, menatap mata Ryco ) Jangan sampai kamu sembarangan bertindak sebelum kamu tahu kepastiannya. Hormati hubunganmu sendiri, hubungan yang telah kamu bangun selama ini.”
“Tapi, sepertinya sudah nyata dengan apa yang aku fikirkan Bang. Sepertinya hal yang tidak sengaja aku dengar, secara tidak langsung merupakan bukti bahwa semuanya rangkaian yang cocok.”
“Memangnya hal apa? Spesifiknya? Biar kita bisa mikir bareng-bareng, bukankah dua kepala lebih baik dari pada satu kepala?”
“Tapi jam makan siang sudah habis, gimana Bang. Tidak mungkin kan kita mengulur waktu. Nanti Mbak Tari marah padaku jika aku berbagi padamu tapi tidak berbagi dengannnya.”
“Tapi apa yang aku tahu dia tidak tahu juga kan?”
“Tidak, aku hanya cerita denganmu Bang. Sudah lama aku tidak pernah curhat dengan Mbak Tari, mungkin dia mengira hidupku nyaman tentram damai sentosa tanpa masalah.” Ryco bernafas lega, dia merasa seengaknya dirinya masih memiliki arti penting dalam hidup Hira dan tidak sia-sia ngumpet-ngumpet.
“Okey, kalau gitu nanti pulang bareng aku. Aku tidak ada janji dengan Erna kok. Nanti kita mampir di cafe dekat jalan rumahmu seperti biasa. Okey?” Hira hanya mengangguk.
“Ni kan, makan siang kita jadi tidak jelas seperti ini. Habiskan juicemu, kita balik. Nanti pulang harus makan! Akan aku pastikan kamu makan banyak, tapi setelah melanjutkan cerita. Aku baru akan bayar. Hehehe.”
“Buat aku sedih dulu dong, baru dapat makan gratis!”
“Bukan seperti itu, biarkan emosimu keluar dan tenaganya habis. Nanti akan buat kamu makan dengan lahap!”
“O…” Hira manggut-manggut.
__ADS_1
lanjut episode berikutnya ya,