
happy reading...
“Ayo, lanjutkan. Kita clearkan masalahmu hari ini. Okey?” aku mengangguk.
“Jika kamu kuat untuk diduakan, aku tidak akan pernah mencemoohkanmu Ra, dan sedikitpun aku juga tidak akan berprasangka padamu dari segi apapun itu. Ferdian memang laki-laki yang sempurna di hadapanku yang juga seorang laki-laki. Dan aku tidak mencari pembenaran diri untuk kaum laki-laki dalam hal poligami. Tapi aku mengkaji dari sisi hatimu untuk penjelasan kepada orang tuamu, aku yakin semua orang tua pasti tidak ingin putri yang diagungkannya mengalami keterpurukan oleh cibiran masyarakat, teman di lingkungan kerja. Dan aku rasa dengan posisi Ferdian yang saat ini ataupun nanti setelah dia nikah dengan putri bossnya yang akan lebih memperkuat martabatnya aku yakin bisa menutup status poligaminya. Di kota ini tetap hanya kamu istrinya.” Aku hanya mengangguk-angguk ketika Bang Ryco berbicara.
“Bang, kamu tidak menyesatkanku dengan saranmu ini kan?”
“Orang akan berbeda-beda dalam menanggapi setiap masalah, sebagian besar pendapat orang memberi penilaian jika pendapatku benar. Kamu tanya saja pada Tari, jika pendapatku ini benar.”
“Ok, ok… tapi sepertinya jika aku seperti itu aku tidak akan nyaman Bang. Huh...” mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjukku.
“Nikah saja denganku, segera Ra!” padanganku langsung beralih menatapnya dan melempar tisu yang aku genggam habis aku pakai mengelap air mataku aku lemparkan ke dadanya.
“Ngawur!” Bang ryco tersenyum manis, seolah tadi tidak ikut pusing memikirkan masalahku.
“Ya satu-satunya ya, kamu harus berani mengambil resiko. Pertama, kamu putus mau kamu tutupi atau tidak alasan sebenarnya dari orang tuamu terserah padamu. Kamu lanjutkan kehidupanmu dan akan aku temani, biasa! seperti ini. ( Bang Ryco mengangkat bahunya, menunjukkan jika seperti sekarang ) terus yang kedua, kamu memilih mau diduakan, dan kamu berbohong pada orang tuamu tidak mungkin kan jika kamu bilang kamu jadi istri kedua.” Bang Ryco terdiam lama dan masih berfikir, aku lama menunggunya untuk berucap lagi tapi tidak ada pergerakan dari bibirnya.
“Bang, sudah malam. Kamu belum menghubungi Mbak Erna kan? Hubungilah… aku tidak ingin menjadi perusak hubunganmu. Hubunganku sudah…. “
“Hai, tadi belum pasti! Ferdian belum memastikannya.”
“Tapi sudah jelas Bang!”
“No, belum!”
“Jika memang dia sengaja menghindar kali ini, dan tidak sanggup untuk berucap padaku? Makanya dia memilih untuk tidak menelephoneku sama sekali. Bagaimana Bang?”
“Damaikan hatimu, Ra. Sungguh ra, aku tidak berstatus memiliki kekasih, aku sudah membawamu pergi menghilangkan penat. Aku juga harus menghargai pasanganku kan Ra?”
“Iya, aku tahu. Terima kasih, Bang.”
Dret…dret… Bang Ryco membelalakkan matanya melihat layar handphonenya, membuatku penasaran.
“Ada apa Bang?”
“Tidak ada apa-apa Ra! Tapi aku harus segera pamit. Ayo akan aku temani kamu jalan sampai rumah.”
“Tidak perlu Bang, kamu sudah mengorbankan waktumu saja aku sangat berterima kasih padamu. Lagi pula rumahku dekat aku sudah terbiasa sendiri. Akan aku renungkan baik-baik semua kata-katamu sambil melangkah menyusuri jalan."
“Aku yakin walaupun jauh kamu menyusuri jalan, kamu masih memerlukan waktu lebih lagi untuk menyelesaikan masalahmu. Baiklah, aku pergi. Tetap jaga kesehatan, makan, dan tidur yang teratur. Aku tahu ini hari-hari yang berat, untuk menghadapinya kamu butuh tenaga yang ekstra dan pemikiran yang luas. Dan juga hati yang lapang, aku tahu kamu pasti kuat Ra, selama ini kamu sudah hidup dengan berani.” Bang Ryco mengelus kepalaku yang tertutup kerudung dengan lembut sebelum dia meninggalkanku yang masih duduk di cafe.
“Jangan lupa bayar!” aku memperingatinya dengan lantang setelah dia melangkah meninggalkanku.
“Aku tidak lupa Ra!” jawabnya terdengar dia membalikkan badan menghadap ke arahku. Aku hanya tersenyum tanpa menoleh. Kuangkat tanyanku yang menunjukkan ok.
Setelah Bang Ryco meninggalkanku aku masih berdiam di cafe menikmati juice, aku banyak berfikir. Aku keluar dari cafe setelah, berjalan menapaki gang rumahku. Hatiku ragu diantara chat Mas Ferdian atau tidak.
“Ya Allah Ya Robb… apa yang harus aku lakukan, tapi aku harus segera keluar dari mode ini. Aku akan berfikir tidak terjadi apa-apa, aku tidak mendengar apa-apa sampai semuanya muncul secara nyata di permukaan. Aku akan melanjutkan perjalanan hidupku, aku akan serius kuliah, dan bekerja.” Aku menarik nafas dan menghembuskan kembali sampai berulang-ulang seolah aku tidak kuat berjalan.
.
.
“Kamu di mana?”
“Di rumah.” Ryco langsung mematikan sambungan telephonenya.
“Semoga tidak terjadi salah faham. Ya Tuhan, siapa yang telah mengirimkan foto-foto itu pada Erna.” Ryco melajukan mobil dengan cepat.
__ADS_1
Tok…tok...tok…
Erna membukakan pintu dan mengajak Ryco berbicara di luar, menghindari kebisingan agar tidak menganggu neneknya.
“Siapa yang mengirim foto itu?”
“Mbak Emma, apakah penting siapa yang mengirim?”
“Heh, ( Ryco berdecih mendengar kata Emma di sebut ) kejadiannya di sini, yang kirim foto dari orang yang bertempat di luar kota. Apakah itu masuk akal?” gerutu Ryco.
“Jadi kamu membenarkan?”
“Iya, memang benar, aku makan siang dengan Hira. Tapi tidak sesuai dengan apa yang ada di fikiranmu hingga membuatmu bersikap seperti ini padaku.”
“O… Hira, Hira, dan selalu Hira! Heran aku! Kadang muncul pertanyaan dalam fikiranku, hubungan apa yang kamu namakan untuk hubungan kalian? Sudah lama ya Ryc aku merasakan ada yang tidak biasa dengan kalian.”
“Aku menganggapnya sebagai adikku, setelah kamu kenal dengannya, ya seperti itulah aku menganggapnya. Tari juga, kami menganggapnya sebagai adik. Kamu mulai meragukanku hanya karna foto-foto yang kakakmu kirim? Yang tidak jelas apa maksud dan tujuannya! Dan siapa dibalik itu semua yang memfoto kami. Aku yakin bukan hanya kamu yang mendapatkannya. Tapi jika memang kamu lebih mempercayai foto-foto itu dari pada hubungan kita selama ini. Ya terserah kamu! Aku pulang! Tapi jangan kamu usik Hira dengan emosimu! Ingat itu!” Ryco pulang begitu saja, tanpa menjelaskan keterangan lebih jelasnya.
“Sepertinya aku harus pulang, kamu tidak bisa diajak bicara baik-baik!”
“Kamu Ryc, yang sudah keterlaluan. Kamu menghabiskan waktu dengannya ketika tidak bersamaku.” Gunam Erna masih terdengar oleh Ryco, yang masih melangkah meninggalkan Erna tanpa berbalik.
“Siasat apa yang kamu lakukan Em, dasar wanita licik! ( Ryco menendang batu kecil yang ada yang terasa mengganjal di sepatunya) Walaupun benar aku punya perasaan yang lebih pada Hira, tapi aku menghormati perasaan adikmu. Dan aku benar-benar sayang pada adikmu.” gunam Ryco melangkah menuju mobilnya.
“Tega kamu ya, adikmu sendiri saja jadi sasaranmu. Semoga Hira tidak kamu sakiti lagi Em!” Ryco tidak bisa berhenti bergunam.
“Cari tahu ah, bagaimana dengan Pak Febrian. Aku pakai saja alasan membicarakan pekerjaan. Soal Erna akan akua jak bicara lagi nanti ketika dia sudah tenang.” Ryco bicara sendiri.
“Hallo, Pak.” Sapa Ryco menelephone Febrian,
“Iya Co, ada masalah?”
“Saya tadi sudah berdiskusi dengan Pak Ryan, dan Hira tetap sebagai topik utamanya di sini dalam proyek. Maksudku Hira terlibat full dalam proyek menurutnya sih tidak apa-apa. Bapak gimana, kapan kembali. Ternyata tidak ada Bapak lelah juga ya?”
__ADS_1
“Tidak perlu melaporkan padaku Co cukup kamu handle dengan Pak Ryan seandainya belum selesai aku minta presentasimu agar aku mengikuti atau kamu merasa kekurangan tanpa kehadiranku? ‘baru terasa berharga setelah tiada’ judulnya itu nih?”
“Hehehe, Bapak bisa saja! Untuk plan apa yang perlu aku lakukan Pak? Aku lihat Pak Ryan juga banyak pekerjaan. Kalau mungkin saja itu tadi, em… ( Ryco berhenti sejenak mengolak-alik kata ) Pak Ryan mengalihkan kembali pada Pak Febrian aku harus siap-siap putar posisi, itu… menyiapkan mentalku untuk presentasi.”
“Kamu ada-ada saja, memangnya kamu kerja baru mulai kemarin! Aku usahakan dua hari lagi deh Co, tapi pamanku belum juga sadar sih, ini saja masih di ICU.”
“Belum pindah ke kamar inap Pak?”
“Pindah ke ICU pribadi Co, maklum orang beruang. Hehehe jadi sombong! ( terdengar Ryco merespons dengan tawa kecil ) Bisa sewa ICU sendiri, jadi bisa ditunggu oleh keluarga.” Ryco hanya menjawab dengan emmm,
"Co...Co... sampai segini solidaritasmu pada Hira, sampai menelephoneku dengan topik yang tidak jelas." batin Febrian menyadari jika sedang di korek informasi.
“Co, dampingi Hira. Mungkin akan sibuk sekali.” Alih-alih isi hati Febrian yang merasa khawatir.
“Iya Pak. Kalau itu pasti, dia kan adikku yang imute.” Terdengar suara senyuman Febrian yang dirasakan oleh Ryco. Ryco merasakan dengan jelas ada yang tidak beres.
“Ya sudah kalau begitu Pak, jaga Kesehatan. Cepat kembali!” hanya terjawab dengan hemm, dan sambungan telephone tertutup.
“Yang mengkhawatirkan di sini, jika benar apa yang dikatakan Emma pada Hira maka di sini yang akan sakit adalah Hira. Posisi Hira sudah dilamar resmi, Emma kecewa tapi dia lebih dulu dalam posisi salah, tapi Hira? ( Ryco geleng-geleng tidak sanggup membayangkan bagaimana nanti perasaan Hira ) Syukur jika memang langsung putus sekalian jelas! Jika nanti Ferdian benar-benar seperti apa yang diduga Hira, Hira dalam posisi ngantung.” Ryco berbicara sendiri masih di dalam mobil belum jauh dari rumah Erna.
“Tuhan, apa ini! Di saat seperti ini binggung dengan Hira, pekerjaan numpuk, bisa-bisanya Erna malah salah faham juga! Sialan tu Emma!” Ryco resah dengan keadaan yang dihadapinya. Ryco segera menanjapkan gasnya agar segera sampai rumah, sempat berhenti sejenak karena menelephone.
.
.
“Tega kamu ya Ryc, sama sekali tidak merasa bersalah padaku. Aku tahu kamu cinta sama aku, aku merasakan hal itu. Tapi secara bersamaan ketika ada Hira aku merasakan perasaanmu yang terpendam untuknya. Inikah alasanmu kamu diam ketika aku bercerita panjang lebar seketika kita di pantai dulu? Dan kamu tidak menceritakan apapun tentang Hira saat itu? Saat di rumah makan juga, ketika aku menyapa Kak Fer, kamu juga diam. Kamu diam dengan perasaanmu dan menyesuaikan keadaan. Aku tahu dia memang istimewa. Jika tidak, tidak akan mungkin Kak Fer bisa jatuh hati dan move on dari Mbak Em. Keterlaluan kamu Ryc, keterlaluan.” Erna terduduk di kursi teras rumahnya, ada taman kecil di depan rumahnya.
Semua kenangan dari awal mulai ketemu dengan Hira seolah berjalan mondar-mandir di dalam fikirannya. Membuat yakin jika genggaman tangan yang ada di foto itu terasa hangat, tidak sekedar genggaman tangan pada teman. Tatapan mata Ryco ketika berbalik menatap Hira, membuat Erna terasa tertusuk.
“Haruskah aku mengakhiri hubunganku? Tapi apa untungnya denganku? Hira sudah memiliki Kak Fer, dan tidak akan mungkin mereka bersama. Tapi apakah aku akan kuat menerima perasaan Ryco yang juga mencintai wanita lain? Wanita yang selalu dekat dengannya, bahkan waktu mereka bersama lebih banyak dari pada waktu bersamaku. ( Erna mengacak-acak rambutnya sendiri ) aku harus bagaimana? Haruskah aku diam, aku menunggu Ryco menjelaskannya lagi? Aku akan seperti wanita bodoh, setelah marah-marah dan akan luluh dengan kata-katanya! Aku harus bagaimana Tuhan?” Erna masih terdiam, sampai nyamuk membuatnya menghentak-hentakkan kakinya.
“Aku sungguh tidak mau berpisah dengannya! Tapi kenapa aku tadi tidak bisa menjaga emosiku?” Erna meruntuki dirinya sendiri.
.
.
__ADS_1
Lanjut episode berikutnya ya…😘
terima kasih atas kunjungannya🙏🙏🙏