
happy reading ya...
Berapa bulan setelah kembali bertelephonan dengan Letiana, Hira yang sudah memiliki posisi okey di kantor, sudah percaya diri dengan pendapatan yang masuk di rekeningnya. Dia sudah memiliki kendaraan sendiri, rumahnya juga sudah berubah bentuk bukan sederhana lagi. Bahkan sudah ada jadwal sebulan sekali selalu mengadakan perjalanan jauh untuk mengajak orang tuanya jalan-jalan. Sesuai dengan visi dan misinya, bekerja keras menabung sebanyak mungkin untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Melakukan segala sesuatu yang belum pernah ia lakukan.
Tujuan liburan kali ini Hira mau mengelilingi kota A, sesuai dengan janjinya dengan Letiana akan berkunjjung ke sana. sekaligus ada dinas luar. Hira memiliki rencana untuk mengunjungi kantor Ferdian, setelah mengantar orang tuanya untuk istirahat terlebih dahulu sebelum jalan-jalan keliling kota.
Sampai di depan kantor Ferdian, Hira berinisiatif menelephone Dika karena tidak bisa masuk begitu saja tanpa memiliki janji temu terlebih dahulu.
“Assalamuallaikum,”
“Waallaikum salam, Mbak Hira!” Dika terkaget karena selama ini tidak pernah berkomunikasi hanya sekali waktu pembuatan rekening di waktu Hira masih SMA.
“Iya, ini aku. Mas Fer ada di kantor?”
“Iya ada di ruangannya, Mbak. Memangnya kenapa?”
“Tolong konfirmasikan pada karyawan di bawah agar mengizinkan aku masuk.”
“Maksudnya? Mbak Hira ada di bawah?”
“Iya,”
“Aku akan khusus jemput Mbak, Mbak duduk dulu di lobi. Aku akan turun.” kata Dika antusias.
“Okey.” Kata Hira, sudah tegas tidak selugu dulu. Dika segera menutup telephone, terbayangkan jika Dika berlari tergesa-gesa segera menjemput Hira dengan girang. Seolah mendapat cahaya dalam kegelapan.
Hira berjalan menuju sofa yang ada di lobi. Karyawan yang ada di bawah hanya mengamatinya seperti tidak pernah melihat orang saja.
Tidak lama kemudian terlihat Dika yang berlari memegang handphone di tangannya. Hira terlihat tersenyum melihat Dika yang menyambutnya dengan wajah yang sumringah.
“Selamat siang Mbak, saya benar-benar tidak menyangka Mbak Hira akan sampai di sini.”
“Selamat atas pertunanganmu,”
“Terima kasih Mbak, Mbak Hira kok tahu?”
“Letiana yang cerita,”
“Mbak Hira sampai kesini karena dia berulah?” Hira mengangguk,
“Maaf ya Mbak, saya sungguh tidak enak hati.”
“Tidak apa-apa aku ngerti kok.”
“Sungguh dia tidak cerita sama sekali padaku, jadi dia sering sibuk dengan handphonenya itu karena chatan dengan Mbak ya?” hanya di jawab dengan anggukan.
“Aku sempat curiga karena aku sering sekali sibuk, aku berfikir dia mencari kesibukan dengan orang lain.”
“Suttt! Oya, bagaimana dengan Mas Fer?”
“Ya seperti itulah, dia menghukum dirinya sendiri! Tidak mungkin kan cerita Ana tidak detail?” Hira manggut-manggut.
“Apakah dia sudah makan siang?”
“Belum sih Mbak, tapi Mbak ke atas dulu. Akan aku kirim nanti makanannya pada Mbak, sesuai selera. Selera Mbak Hira masih sama kan?” Hira mengangguk dengan mantap mengiyakan apa yang di katakan Dika.
“Silahkan,” Dika mengiringi Langkah Hira, mengantarkannya sampai di depan pintu ruangan Ferdian.
__ADS_1
Tok…tok…tok…
Hira mengetuk pintu kaca hitam yang ada di hadapannya, terdengar suara mempersilahkan. Suara yang sudah bertahun-tahun tidak ia dengar kini terdengar di hadapannya.
“Masuk,” pintu terdorong kedalam, Ferdian masih menundukkan pandangannya sibuk dengan setumpuk berkas.
Hira duduk di kursi depan Ferdian tanpa menunggu dipersilahkan, masih terdiam tanpa suara. Sepuluh menit Hira duduk hanya mengamati Ferdian, wajah yang terlihat lama tidak bercukur hingga membuat janggutnya tumbuh rambut lebat. Muka yang kusam tak sesegar dulu, mata yang sembab karena kurang tidur. Terlihat ia membubuhkan tanda tangan dan mendongakkan wajahnya menatap seseorang yang ada di depannya.
“Dek Hira," panggilnya sendu, tak melunturkan keterkejutannya. Tatapannya penuh dengan genangan air mata. Tanpa Hira sadari, ia menatap dalam ke manik Ferdian seolah merasakan deritanya.
“Mas kira tadi Dika, mau nnunggu berkas ini. Kenapa tidak ngasih kabar? Apakah ada dinas luar atau gimana?”
“Kebetulan ada dinas dan sekalian ngajak bapak ibu jalan-jalan.”
“Jadi sama Bapak dan Ibu? Terus mereka ada dimana? Kapan tiba di sini? Terima kasih kamu masih ingat Mas dan berkunjung.” Pertanyaan Ferdian penuh dengan semangat hinga tidak bisa disela.
“Maaf Mas karena aku tidak ada kabar setelah terakhir kita ketemu. Mas bagaimana kabarnya?” mata Ferdian tak beralih sedikitpun dari wajah yang ia rindukan selama ini. Ferdian mengangkat bahunya menatap tubuhnya sendiri. Bolpoin di tangannya masih terpegang erat, pertanda masih banyak pekerjaan yang masih harus segera diselesaikan.
“Apakah kehadiran Hira ganggu Mas?” kata Hira setelah mengamati.
“Tunggu sebentar Mas cek berkas ini dulu, nanti kita ngobrol dengan tenang. Atau kamu tergesa-gesa pengen cepat balik. Dimana bapak-ibu tadi?”
“Hira memang sengaja kesini kok setelah mengantar bapak dan ibu ke hotel untuk istirahat. Plan besok baru akan ajak Hira keliling.”
“Syukurlah, tunggu Mas bentar ya? Atau kamu mau rebahan dulu di sofa? Pasti capek kan bawa mobil sampai sini?” Hira menahan untuk tidak bertanya akan rasa penasaran di hatinya.
Hira berjalan menuju sofa, seperti yang disarankan Ferdian dia duduk di sofa. Tak lama kemudian lama-lama jadi tersandar dan ketiduran. Ferdian hanya mengamati, masih bergelut dengan berkas yang ada di depannya.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Ferdian menghampiri Hira yang tertidur dengan kaki yang masih bergantung. Menutupi tubuh Hira dengan jasnya, beriringan dengan Dika yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Mungkin kelelahan dan terlalu lama menungguku. Ambil berkasnya aku sudah menyelesaikan dan wakili aku untuk meeting nanti. Aku ingin menemaninya.”
“Ok. Beres boss.” Dika keluar dari ruangan Ferdian dengan senyuman, merasa senang dengan wajah Ferdian yang terlihat bersemangat. Dika segera menelephone Ana, memberitahukan jika Hira mengunjungi kakaknya. Dika menahan Ana yang ingin segera meluncur menemui Hira. Dan Letiana mengerti apa maksud Dika.
Ferdian duduk di samping Hira yang tersandar di sandaran sofa, memandang Hira yang semakin terlihat matang dengan sedikit sapuan make up yang membuatnya terlihat elegant dan berwibawa. Ferdian selalu mencuri informasi dari salah satu karyawan perusahaan yang Hira tempati alih-alih memantau keadaan perusahaan yang hampir separhnya merupakan sahamnya, perombakan terjadi karena ulah dari Ferdian yang ingin mengakuisisi perusahan itu. Tapi masih ia tahan untuk tidak melakukannya, menjaga harga diri Hira agar tidak terluka.
“Mas, jam berapa ini? Apakah aku sudah lama tertidur?” Ferdian hanya mengelengkan kepala.
“Yuk kita makan siang dulu, Dika sudah dari tadi mengantarkan ini. Mungkin saja sudah dingin. Atau kita makan di luar saja?”
“Tidak perlu, ini saja kita makan. Mubazir entar, ( Ferdian menatapnya, merasa Hira masih seperti dulu tidak memiliki kesombongan sedikitpun di dalam dirinya walau sekarang sudah memiliki keadaan yang berbeda jauh dari dulu ) Hira hanya ingin berbincang dengan suasna tenang dengan Mas.” Tatapan Ferdian berubah menjadi serius.
“Tentang?”
“Tentang Mas, ini… ( Hira memberanikan diri memegang dagu Fedian yang sekarang lebat ) ? apakah ini sengaja di panjangkan atau Mas tidak lagi merawat diri?” Ferdian bertanya-tanya dalam tatapannya.
“Sudah lama Letiana menelephoneku, maaf aku baru ke sini dan tidak langsung menghubungi Mas ketika aku sudah tahu keadaan Mas. Dengan sifat Mas, yang sudah tahu keadaanku pasti Mas bisa tahu sekarang tanggung jawabku banyak.”
“Iya Bu manager. Mas tahu. Saking sibuknya sampai kesendirianmu menemanimu hingga menjumpai Mas yang tidak disangka sudah menduda. Pasti mulut Ana sudah membuka mulutnya selebar-lebarnya kan? sudah tua, sudah mau nikah belum merubah mulut bocornya!”
“Jangan seperti itu, salah siapa juga yang buat kerusuhan? Mas membuat orang di sekitar Mas khawatir! Wajar kan jika adikmu sampai seperti itu. Aku tidak menyalahkannya. Ada untungnya aku masih sendiri, jika aku sudah bersuami tidak mungkin kan aku sampai di sini?” Hira tertawa terkikik, ingin membawa suasana hati Ferdian tidak tegang dengan apa yang disesalinya.
“Bersemangatlah kembali Mas, Allah Maha pemaaf, Allah tahu segala sesuatunya. Dan tidak ada guna juga untuk terus menyesal, menyalahkan dirimu. Bersemangat dan bergembiralah kembali menjalani kehidupan ini. Jangan sampai Mas menyesal karena orang di sekitar Mas menderita, ewuh berbahagia di sekitar Mas yang sedang bersedih.” Ferdian hanya menatap Hira ketika Hira berkata. Memendam segala ucapan yang ingin diungkapkan.
“Mas seperti ini karena Mas menyesali Mas tidak bisa membahagiakan Rinna selama perikahan kami. Mas telah kasar padanya, sudah tidak adil padanya."
“Jadi Mas belum… “ Hira tidak melanjutkan apa yang akan dikatakanya. Ferdian menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
“Astagfirullah Mas,” istifar yang di gunamkan Hira walaupun pelan membuat mata Ferdian merah menahan air mata.
“Aku tidak sanggup melakukan hal itu Dek, hati Mas dipenuhi oleh rasa bersalah padamu dan Mas…”
“Hai…hai… ( Hira menyela Ferdian ) Mas, dulu aku sudah bilang Hira sudah mengikhlaskan. Dan Hira sudah memberi Mas nasehat untuk melakukan kewajiban Mas sebagai seorang suami.” Ferdian semakin merunduk.
“Ayo semangat, benahi kehidupan Mas. Bercukurlah, Hira hampir tidak mengenali Mas sama sekali lho… Rawat dirimu seperti dulu lagi!“ Hira menutup bibirnya karena tersenyum mengejek. Tiba-tiba Ferdian mengelus kepala Hira, membuat tawa Hira terhenti.
“Jujur Mas masih mencintaimu,” Hira hanya diam tanpa menjawab.
“Perutku terasa lapar Mas, ayo kita makan.” Hira mengobrak-abrik makanan yang ada di atas meja, mengalihkan pembicaraan tapi Ferdian masih memandangnya dengan pandangan tertegun.
“Ayo Mas, ini semua makanan kesukaanku. Hehehe. Mas Dika masih ingat betul apa yang aku suka.”
“Dika saja masih ingat apalagi aku Dek!”
“Apakah kamu keberatan dengan status Mas yang duda Dek?” Hira hanya mengelengkan kepalanya, masih memakan makanannya dengan lahap.
“Nanti ikut Mas,”
“Kemana?”
“KUA!” Hira tersedak dengan juice yang sedang diminumnya.
“Kenapa? Tidak mungkin kan jika kamu sudah memiliki pasangan, jika kamu bisa mengunjungi mantan pacarmu yang sudah menduda.” Pernyataan Ferdian tajam.
“Mas bisa bicara seperti ini, seharusnya aku dan orang-orang di sekitar Mas tidak perlu khawatir.” Hira memanyunkan bibirnya, menatap wajah Ferdian yang begitu tenang dan lebih cerah.
“Jangan seperti ini sayang,” Ferdian menekan bibir Hira yang manyun dengan jari telunjuknya.
Setelah menikmati makan siang yang sudah dingin. Ferdian masuk dalam ruangan pribadinya, Hira masih menunggu duduk di sofa.
“Dek, masuk sini lho. Kita salat dzuhur dulu.” Tiba-tiba Ferdian muncul dari balik pintu sudah rapi, jenggotnya sudah tercukur bersih seperti dulu lagi. Hanya terlihat sedikit lebih kurusan.
“Wau, ini ruangan pribadi pemilik perusahaan. Jadi tidak perlu bolak-balik pulang ya, penuh sekali pakaianmu Mas, Mas beneran tidak pernah pulang?” Hira bergunam melangkah memasuki ruangan pribadi Ferdian,
“Jarang, cepetan ambil air wundlu.” Hira melangkah menuju kamar mandi dan segera melaksanakan salat, Ferdian menjadi imamnya.
“Dek, Mas memohon izinmu untuk melamarmu kembali. Mas benar-benar tidak sanggup hidup tanpamu. Hari-hari yang telah berlalu sudah menyiksaku. Masihkah aku memiliki kesempatan untuk menjadi imammu dalam setiap salatmu?” kata Ferdian menatap serius Hira belum berpindah tempat masih di atas sajadah setelah selesai berdo’a.
Hira menatap mata Ferdian dengan serius, masih sibuk menyelami manik mata Ferdian. Tanpa Hira sadari, ia menganggukkan kepalanya.
“Akan aku temui Bapak dan Ibu besok, akan aku luangkan waktu untuk mengantar kalian jalan-jalan. Dan akan akua jak kamu pulang ke rumah.” Kata Ferdian antusias, mengenggam kedua tangan Hira erat dan Hira hanya mengangguk-angguk menjawabnya.
-------------------------SELESAI-----------------------
Ucapan dari Author
~untuk yang bertanya-tanya kemana menghilangnya Emma, setelah tragedi foto yang terkirim di handphone Erna dan Rinna. Emma menghilang begitu saja. Rinna memperingati agar tidak mengganggu kehidupan Ferdian lagi dan memperingati dengan tegas akan melaporkan Emma ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik.
~Untuk Nadia, teman Emma yang bekerja satu perusahaan dengan Hira, dia ketahuan dan sudah dipindah tempatkan seketika Bang Ryco yang ganteng menjadi atasannya. ( menyalah gunakan kedudukan ^_^) kehidupan pribadi Bang Ryco, dia nikah dengan Erna tak lama setelah peresmian jabatannya.
Saya ucapan terima kasih banyak untuk dukungan para reader, maaf atas segala kekurangan. Dengan rendah hati Author sangat-sangat berterima kasih atas dukungan panjenengan semua.
Semoga dapat diambil hikmahnya dan kebahagian yang tersirat dalam cerita dapat menerbitkan senyuman di wajah panjenengan.
Semoga kita semua selalu dalam lindungannya, selalu diberi kesehatan. Amien.
__ADS_1