TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 10 JANGAN GANGGU NEHA


__ADS_3

Jam istirahat tiba Neha berjalan ke ruangan Ardan untuk mengajaknya istirahat di kantin. Namun saat hendak masuk ke ruangan Ardan, Neha berpas-pasan dengan guru baru, Johan.


Neha berhenti sejenak karena Johan menyapanya.


“Selamat pagi menjelang siang Bu!” sapanya . Neha tersenyum ramah.


“Siang, pak!"


“Oh ya. Kita belum berkenalan, maaf nama Ibu siapa?” tanya Johan Sambil mengulurkan tangannya. Neha melihat sejenak uluran tangan Johan, dengan ragu Neha menjabat tangan Johan.


“Namanya saya Neha!” balasnya tersenyum sedikit malas melihat ekspresi wajah Johan yang terlalu intens melihatnya. Neha begitu risih di perhatikan orang yang baru ia kenal.


“Maaf pak, permisi!” Neha dengan cepat menarik tangannya dan langsung masuk ke ruangan Ardan sedangkan Johan berjalan ke ruangan guru untuk menaruh bukunya.


Tak di sangka rupanya Ardan sedari tadi bersembunyi di balik pintu untuk memperhatikan Neha dan Johan.


“Pak Ardan!” panggil Neha saat masuk namun tidak ada orang satupun. Saat Neha masuk Ardan menarik Neha ke balik pintu, Ardan membekap mut Neha agar tidak berteriak.


“Ssst! Ini Om!" bisik Ardan saat Neha Memberontak. perlahan Ardan melepaskan Neha. Neha mengatur nafasnya.


“Aku pikir siapa Om! Neha kaget!” Neha memukul dada Ardan. Ardan terkekeh lalu sekilas mencium kening Neha.


“Om! Malu. nanti ada yang lihat!” pekik Neha.


“Gak! Ayo istirahat!" Mereka keluar bersama Dean berjalan biasa saja. Tampak dari kejauhan Johan melihat mereka menuju kantin, ia pun segera mengikuti mereka.


Ardan memesan minuman dan mengambil makanan. Neha mengambil kue donat. Ardan duduk lebih dulu di susul Neha duduk di samping Ardan.


“Ini Pak Ardan!” ucap Neha memberikan Kue donatnya.


“Terima kasih, Bu Neha!” mereka saling tersenyum dan tetap menjaga sikap. Mereka sedang asyik menyantap kuenya tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan Johan.


“Permisi, apa saya boleh gabung!” Neha dan Ardan saling pandang, lalu Ardan mempersilahkan duduk.

__ADS_1


“Silahkan pak!" balas Ardan tersenyum.


Guru lainnya hanya saling pandang saat melihat Johan dengan berani bergabung dengan dua sejoli yang sedang kasmaran. pasalnya Johan juga tidak mengetahui siapa Ardan sebenarnya. Johan hanya tahu jika Ardan guru BK. kepala sekolah pun mungkin lupa memberitahu siapa Ardan sebenarnya. Johan hanya tahu sekolah Mahendra adalah sekolah bertaraf internasional dan mempunyai reputasi tinggi di dalam bidang pendidikan. bahkan hampir tidak pernah ada cap buruk di sekolah tersebut. Jika ada Ardan dan Nadia tidak segan-segan mengambil tindakan untuk memperingati pihak yang membuat onar sehingga bisa menjatuhkan nama sekolah.


Akhirnya Nadia menyenggol Fatma untuk ikut bergabung dengan mereka. Karena melihat Sang adik Ardan wajahnya sudah tidak bersahabat. Karena Johan terus mencuri-curi pandang y arah Neha.


“Beres Bu! Serahkan pada Saya.” bisik Fatma pada Nadia.


Nadia beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju meja Neha. tak lupa ia mempersiapkan senyum manisnya. Namun tetap menjaga sikap seorang guru. Ia melakukan itu karena ingin membantu Neha.


“Selamat siang, Bu Neha, Pak Ardan. Pak ... Pak Johan! Aduh maaf saya belum begitu hafal namanya.”


“Siang Bu Fatma. Silahkan duduk,” balas Ardan. Tanpa sungkan Fatma duduk di samping Johan.


“Terima kasih pak!” balasnya.


“Oh iya, Pak Ardan. Bagaimana rencana lomba untuk anak-anak TK nanti?” ujar Fatma agar semua memperhatikannya khususnya Johan agar tidak terus mencuri pandang Neha.


“Siap Pak! Sepertinya 17 Agustus tahun ini akan sedikit berbeda!” balas Fatma bersemangat.


“Biasanya guru olahraga banyak ide. Iya kan pak Johan?” timpal Fatma lagi membuat buyar lamunan Johan.


“Bu Fatma bisa saja! Iya nanti kita bahas bersama-sama. Bukan begitu Bu Neha!”


Neha terkejut lalu melihat Ardan yang tatapan terlihat tidak menyukai Johan.


“Ah! iya Pak Nanti di bicarakan lagi.” balas Neha namun Neha tersenyum ke arah Ardan dan sekilas memegang lengan Ardan.


Neha kemudian meminum minumannya. Namun belum puas ia minum rupanya minuman di gelasnya sudah habis.


“Yah habis!" cicitnya pelan. Ardan kemudian menggeser sisa minumannya yang masih tersisa cukup banyak. Tanpa memperdulikan pandangan tanda tanya Johan Neha minum sisa minuman milik Ardan dan justru bergantian meminumnya.


“Mau lagi!” tanya Ardan.

__ADS_1


“Sudah cukup.”


“Ya sudah balik yuk!” Neha mengangguk lalu bangkit dari duduknya di ikuti Ardan.


“Bu Fatma, Pak Johan kami duluan ya!” pamit Neha.


“Iya Bu silahkan. Saya mau menghabiskan minuman saya lebih dulu!" balas Fatma.


Ardan dan Neha berjalan keluar dari kantin sedangkan Johan terus memandangi mereka dengan penuh tanya. Ada hubungan apa Neha dengan Ardan. Kenapa begitu tampak mesra dari sudut pandangnya, sedangkan Ardan sepertinya lebih cocok menjadi ayahnya. pikir Johan, Walau sejatinya Ardan memang masih terlihat muda dan memiliki karismatik sendiri


“Pak Johan!" ujar Fatma membuat buyar lamunan Johan.


“Ya, Bu!


“Tolong jangan ganggu Bu Neha ya! Atau Anda akan berurusan dengan laki-laki yang di sampingnya tadi!"


“Pak Ardan maksudnya. Memangnya mereka ada hubungan apa,?" tanya Johan penasaran.


“Mereka itu sepasang kekasih!" jelas Fatma lalu bangkit meninggalkan Johan.


“Bodo amat! kerennan juga aku!” batin Johan percaya diri. Karena memang ia lebih tampan dan muda. tapi bukan itu yang Neha cari. Tampan dan muda akan kalah dengan rasa nyaman yang di berikan Ardan untuk Neha. Bukan hanya Neha, wanita mana pun pasti mencari kenyamanan.


Akhirnya rapat untuk membahas acara 17 Agustus di mulai. semua anggota OSIS dan semua guru yang menjadi panitia lomba ikut serta. Mereka menentukan lomba untuk masing kelas dan tingkatan sedangkan lomba untuk para guru anggota OSIS menentukan.


Untuk lomba guru yaitu memasukan bola basket ke ringnya, adu kekompakan berjoget menggunakan balon tentunya berpasangan dan yang menentukan adalah anggota OSIS . Hanya lomba itu para guru karena memang hanya untuk memeriahkan.


“Mungkin itu saja lomba guru-guru semua. kami juga tidak mau membuat banyak. Karena sebagi siswa tahu kesibukan guru-guru di luar sekolah. Kami mengajukan ini hanya ingin melihat kekompakan dan kebersamaan guru-guru disini. Jika Pak Ardan sebagai ketua panitia keberatan atau mungkin ada tambahan dan masukannya. Kami siap menerimanya.” terang ketua OSIS. Ardan mengganguk setuju.


“Ok! Bapak setuju kamu atur saja.” balas Ardan.


“Untuk tingkat TK nanti saya serahkan pada Bu Neha dan Bu Fatma untuk mengaturnya bagaimana.”


“Baik, Pak! kami siap" timpal Fatma diangguki Neha tersenyum pada Ardan begitu juga Ardan .

__ADS_1


__ADS_2