TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 57 KEKUATAN DOA


__ADS_3

Amara menangis di rooftop gedung sekolah dan tidak ada yang tahu jika Amara berada di sana. Ia duduk di kursi di pojokan sambil memeluk erat jaket dan topi pemberian Johan. Ia begitu bingung kenapa rasa dadanya semakin kuat. Terkadang juga ia risih sendiri dengan apa yang ia rasakan. Kenapa ia bisa jatuh hati dengan pria jauh lebih dewasa dari usianya.


Terkadang juga muncul perasaan khawatir dengan rasanya sendiri. Ia khawatir jika rasa itu menjadi sebuah obsesi dan bukan rasa cinta.


Semua rekan guru sibuk mencari keberadaan Amara yang sedari pagi menghilang setelah meniup lilin di lapangan. Termasuk Johan yang begitu khawatir, sebab terakhir Amara bersamanya.


“Bagaimana, Mas. Amara sudah ketemu?" tanya Neha. Ardan menggeleng.


“Coba tanya anak-anak, Mas dimana tempat favorit tongkrongan mereka selain perpustakaan, kantin, dan taman TK.


“Sepertinya tidak ada lagi.”


“Papa!” teriak Arsy tiba-tiba mengangetkan semuanya.


“Arsy!” Desis Ardan melihat Arsy berlari ke arahnya.


“Amara ... Amara! Ada di rooftop!”


“Apa?” jawab semua serentak.


Johan yang mendengar ucapan Arsy pun bergegas lebih dulu, di susul Ardan dan kepala sekolah. Johan berlari begitu cepat, ia takut Amara melakukan hal konyol.


“Amara!!” teriak Johan, Namun Amara tetap di posisinya, duduk di kursi tetapi saat mendengar suara Johan ia buru-buru mengusap air matanya.


Johan berlari menghampiri Amara. Ia melihat Amara memainkan topi pemberiannya.


“Kamu kenapa sih, membuat semua orang khawatir, kamu di sini ngapain? Hah!” ujar Johan sedikit meninggi sedangkan Amara hanya diam.


“Kamu tahu gak! Semua guru mencari kamu. Hampir saja kami menghubungi polisi untuk mencari kamu.”


Amara masih diam dan semua melihat Johan memarahi Amara termasuk Ardan dan Martin serta Bryan yang datang karena mendengar Amara menghilang dari jam pelajaran sampai selesai jam pelajaran. Devan, Bella, Daren serta Arsy juga melihat bagaimana khawatirnya Johan.


“Apa yang kamu pikirkan, apa mau mu,Ra?"


Amara tetap diam, ia bangkit dan melihat sang Papa. Amara berlari kecil menghampiri Matin dan memeluknya.


“Papa pulang.” rengek Amara menangis di pelukannya. Semua bingung termasuk Martin, apa yang terjadi pada Amara. Namun tidak dengan Bryan yang tahu jika Amara sedang kecewa dengan Johan. sebab Amara lebih sering curhat dengan sang Opa.


“Iya kita pulang!”

__ADS_1


“Om, Amara izin gak sekolah dulu ya! Tapi Amara janji, Amara pasyt belajar di rumah.” Amara menunduk saat meminta izin pada Ardan. Ardan hanya mengangguk dan mengusap lembut rambutnya.


“Ardan, Aku bawa pulang Amara, Maaf sudah merepotkan semuanya.”


“Iya tidak apa-apa, Sepertinya kita memang harus banyak sabar menghadapi anak-anak remaja kita.” Martin tersenyum lalu merangkul Amara dan mengajaknya turun kebawah diikuti yang lainnya kecuali Bryan dan Johan yang masih di rooftop.


Johan mengusap kasar wajahnya lalu duduk di bangku bekas Amara duduk. Bryan menghampiri Johan dan berdiri di sampingnya.


"Aku baru pertama kali melihat cucuku sesedih itu. Itu semua karena memikirkan dirimu. Aku tahu cucuku masih sangat muda dan belum pantas memikirkan percintaan, tapi kita semua diberi rasa itu dari Tuhan, jadi kita semua tidak bisa berbuat apapun kecuali mengendalikannya. Aku yakin Amara bisa mengendalikan rasa di hatinya dan tidak akan mengganggu hubungan mu dengan tunanganmu." ujar Bryan lalu meninggalkan Johan sendiri.


***


dua bulan sudah Amara tidak sekolah dan hanya belajar dari rumah. Martin pun tidak memarahi, malah justru mendatangkan guru untuk sekolah di rumah. Selesai sekolah Amara datang ke kafe untuk mengawasi dan memberi masukan dan inovasi baru untuk karyawannya.


Dengan begitu ia sedikit melupakan Johan walau saat sendiri ia teringat Johan. Amara duduk di tempat favoritnya di dalam kafenya, sambil melihat hasil laporan kafenya, setelah itu ia kembai belajar. Amara tahu pernikahan Johan sebentar lagi. Namun ia tetap diam tidak memberitahu jika Fatma dan Bara mempunyai hubungan.


Saat tengah asyik belajar, Johan tiba-tiba datang dan berdiri di hadapan Amara. Amara mendongak melihat Johan.


"Bapak!" Amara berdiri melihat Johan yang melihat dirinya penuh arti. Johan menarik Amara lalu memeluknya dengan erat.


"Kau benar, yang aku anggap setia dan mencintaiku ternyata tidak seperti yang aku pikirkan."


"Dia tidak setia, Ra! Satu minggu sebelum hari pernikahan Dia tidur dengan Pria lain." jelas Johan pelan yang tidak ingin menyebut siapa yang menjadi orang ketiga di hubungannya. Walau tidak menyebutkan namanya Amara sudah mengetahui siapa yang di maksud Johan.


Johan menakup pipi Amara sambil mengusap air matanya.


"Bapak akan menunggumu sampai dewasa." Amara kembali memeluk Johan dan menangis di dadanya.


Dalam dua bulan menghilang di kehidupan Johan, Amara terus berdoa setiap malam. Meminta agar Johan di beri tahu kebenaran tentang calon istrinya. Amara terharu dan berucap syukur dalam hati, doanya terkabulkan. Dan dalam dua bulan itu Johan semakin gelisah memikirkan Amara dan hubungannya dengan Fatma.


“Bapak janji!”


“Hmm! Kamu juga harus janji dan ingat sudah ada yang menunggumu.” Amara mengangguk dan melihat Johan.


Keduanya tersenyum kemudian Johan mengecup kening Amara. Arsy Daren dan Bryan yang melihat mereka hanya bengong.


Terlebih Arsy dan Daren. Mereka tidak menyangka sang adik diam-diam menyukai gurunya sendiri dan memendamnya dalam-dalam sampai mereka berdua pun tidak mengetahuinya.


Amara kembali memeluk Johan. “Tunggu Amara 4 tahun lagi ya, Pak!" Johan mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


“Kita hanya beda 10 tahun,” balas Johan.


“Makan-makan dong yang udah jadian?” seru Arsy tiba-tiba di iringi tepuk tangan pengunjung dan karyawannya, membuat Johan dan Amara baru tersadar.


“Hari ini kalian semua yang di sini bebas makan apa saja. Opa yang traktir!" saut Bryan di sambut meraihnya tepuk tangan pengunjung. Amara berlari kecil menghampiri Bryan dan memeluk sang opa.


“Opa!”


“Kamu sekarang percaya, kan kekuatan doa.” Amara tersenyum dan mengangguk.


“Tapi harus jaga batasan ya. bagaimana pun kamu harus menyelesaikan sekolah dan kuliah.”


“Pasti Opa!”


Amara tersenyum sambil melihat Johan yang kini berdiri di belakangnya. Bryan tersenyum lalu menepuk lengan Johan.


“Jaga dia, Jangan sampai kau petik dulu, biarkan dia berkembang seperti seharusnya. cukup kau menjaganya.” Johan mengangguk dan mengerti maksud Bryan.


“Akan saya jaga. jika perlu dengan nyawa saya Opa!


“Pegang janjimu!”


“Pasti!"


“Udah dong, Ayo makan-makan." seru Arsy tidak sabar ingin segera makan.


“Tunggu!” sela Amara.


“ Kakak, Arsy. Aku boleh minta sesuatu?”


“Minta apa?" tanya Arsy.


“Tolong rahasiakan semuanya.”


“Pasti. Kalau gak nanti kamu dan pak Johan di keluarin dari sekolah! Rahasia kamu pasti Aman sama ku dan kak Daren.”


“Kamu memang sahabat terbaikku!"


“Jelas dong, kan aku calon kakak ipar kamu!" Mereka berdua terkekeh di ikuti semuanya. Kemudian mereka semua makan bersama.

__ADS_1


Johan dan Amara duduk berdampingan saling menggenggam tangan. Walau sebenarnya Johan belum bisa melupakan Fatma setidaknya hatinya ada yang menghibur dan tau ada yang benar-benar mencintainya, walau ia harus menunggu lama untuk memilik gadis tersebut.


__ADS_2