
“Aduh…! Aku terlambat!” cicit Neha sedikit berlari menyusuri koridor sekolah menuju ruangan guru.
“Ini gara-gara om Ardan! Sudah menginap, bangun gak bangunin aku! Cuma ninggalin pesan, ih.. dasar Om Ardan!” kesalnya dalam hati.
Neha masuk keruangan guru dan meletakkannya tasnya di kursi. Sedangkan guru yang lain sudah mengajar di kelas masing-masing. Tak lupa Neha mengisi absensi baru ia keluar ruangan guru dengan terburu-buru dan akhirnya menabrak seseorang. Siapa lagi kalau bukan Ardan yang kebetulan sedang melintas.
“Maaf pak! Saya tidak sengaja.”
“Iya, tidak apa-apa” Ardan tersenyum melihat wajah cemas Neha.
“Saya pikir Bu Neha tidak masuk?” ujar Ardan mengingat saat subuh ia membangunkan Neha namun gadis cantik itu tak kunjung bangun dan akhirnya Ardan pulang begitu saja setelah menulis pesan di kertas dan ia letakkan di meja makan.
“Itu karena Bapak tidak membangunkan saya!” jawab Neha kesal. Ardan hanya tertawa kecil membuatnya bertambah kesal sampai menghentakkan satu kaki seperti anak kecil.
“Permisi! Saya sudah terlambat!” Neha kemudian meninggalkan Ardan di depan pintu ruang guru. Ardan hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya melihat Neha sampai menghilang masuk ke kelas TK.
“Om sudah membangunkan kamu tadi pagi, tapi tidurmu terlalu nyenyak,” batin Ardan mengingat Neha tidur di sofa terpisah dari sofa yang ia tiduri.
'Plak' Seseorang menepuk lengan Ardan membuat Ardan terkejut lalu menoleh kebelakang.
“Astaga…! Kakak! Kenapa selalu ngagetin sih!" geram Ardan melihat Nadia yang terkekeh melihatnya.
“Oh ya! Tadi malam kau tidur dimana? Arsy subuh-subuh kirim pesan tanya kamu di mana?” selidik Nadia. Ardan hanya menyeringai lalu menggaruk tengkuknya yg tidak gatal.
“Em…, ketiduran.”
“Ketiduran dimana? di teras atau di rumah janda?”
“Janda?” kekeh Ardan.
“Keren gini masih bisa gaet gadis. Ngapain janda!” seloroh Ardan.
“Dua-duanya, gak apa-apa sih!” timpal Ardan lagi.
“Dasar duda genit!" Nadia menepuk punggung Ardan.
“Aduh! Tadi malam ketiduran di apartemen Neha. Mau pulang udah malam. Takut ada begal!”
“Kau yang begal hati anak gadis orang! Aku laporin ke Nathan ya, biar tahu rasa!”
__ADS_1
“Paling langsung di nikahin!”
“Ngarep! Awas ya kalau kau berbuat macam-macam.” Nadia menepuk lengan Ardan lalu berkacak pinggang.
“Memangnya mau ngapain. Gak ngapa-ngapain!”
“Memang gak ngapa-ngapain! Tapi otak mesum kau itu, pasti udah berimajinasi kemana-mana, kan?” cecar Nadia namun Ardan hanya menyeringai.
“Sedikit!”
“Dasar duda mesum! Genit!” jawab Nadia lalu meninggalkan Ardan masuk ke ruangannya. Ardan hanya tertawa dan masa bodoh yang terpenting Neha memberi sinyal jika tertarik dengannya.
Jam pulang telah tiba, Ardan memutuskan untuk pulang. Saat berjalan menyusuri lorong sekolah. Ia berhenti di depan ruangan guru, Ardan ingin mengajak Neha pulang bersama. Namun sepertinya Neha sudah pulang lebih dulu.
“Maaf Bu Fatma. Apa bu Neha sudah pulang?”
“Iya pak! Setengah jam yang lalu. Tadi ada yang menghubunginya dan menyebut-nyebut nama Rohit.”
“Terima kasih Bu!” jawab Ardan dengan raut wajah sedikit kecewa. ia berjalan menyusuri koridor sekolah menuju parkiran.
“Papa lama sekali!” protes Arsy yang sedari tadi menunggunya di parkiran bersama Devan.
“Iya maaf! Tadi masih ada sedikit buku yang harus Papa bereskan,” jawabnya lalu tersenyum kemudian mengusap lembut kepala anaknya lalu mereka semua masuk kedalam mobil dan Ardan langsung melajukan mobilnya pulang ke rumah.
Ardan tersenyum saat melihat nama di layar ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Neha, gadis cantik Putri sahabatnya yang sukses mengaduk-aduk relung hatinya saat ini.
“Halo!” jawabnya.
“Om tolong!” Sontak Ardan melihat layar ponselnya lalu menempelkan lagi di daun telinganya.
“Kamu kenapa Neha?” tanya cemas
''Om tolong!” Suara Neha begitu sangat ketakutan.
“Jangan…! Kembalikan ponselku!” Terdengar Neha berteriak dalam sambungan ponsel tak lama Sambungan ponselnya mati begitu saja.
“Shit…!” umpatnya mengingat ucapan Fatma saat di sekolah jika Neha pulang lebih dulu karena menemui Rohit, mantan kekasihnya. Ardan meraih kunci mobilnya dan bergegas keluar rumah.
“Bibi! Tolong urus anak-anak, saya ada urusan sebentar!” pamit Ardan saat melihat asisten rumah tangganya sedang menyapu garasi mobil
__ADS_1
“Baik tuan !” jawabnya heran melihat Ardan panik dan terkesan terburu-buru masuk kedalam mobil.
Ardan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen Neha. pikirannya sudah tidak menentu. Takut terjadi sesuatu pada Neha.
Sesampainya di apartemen. Ardan langsung mengajak dua security setelah memberi tahu bahwa salah satu penghuni apartemen ada dalam bahaya. Mereka menaiki lift dengan terburu-buru, setelah lift terbuka Ardan langsung berlari ke unit apartemen Neha. Benar saja Ada suara kegaduhan di dalam dan Neha nampak menangis sesekali ada suara barang yang terlempar
“Neha!” panggil Ardan seraya memencet password pintunya. Namun sialnya pintu terkunci dari dalam.
“Sial...! Pak bantu saya mendobraknya.”
“Tapi tuan!”
“Jangan banyak tapi, pak!”
Ardan begitu emosi dan langsung berusaha mendobrak pintunya . Dua security saling pandang sejenak lalu kemudian membantu Ardan mendobrak pintunya.
“Neha!” panggilnya
Ardan melihat Neha yang begitu kacau. Kemejanya robek dan ketakutan seraya memegang kayu kriket lalu pandangan Ardan beralih melihat Rohit yang tidak sadarkan diri di lantai. Neha menjatuhkan kayu kriket ke lantai dan menghambur ke pelukan Ardan. Sedangkan dua security memeriksa Rohit.
“Om! Rohit … Rohit mau memperkosaku Om.” ujar Neha di sela tangisnya.
“Sudah. Kamu sudah aman. Ada Om disini." Ardan memeluk erat Neha dan mencium puncak rambutnya beberapa kali lalu melihat Rohit yang masih tergeletak tidak sadarkan diri.
“Apa masih bernafas?” tanya Ardan pada dua security.
“Masih tuan, sepertinya hanya tidak sadarkan diri.”
“Seret ke kantor polisi. Katakan pada polisi, Ardan Mahendra melaporkannya atas tindakan pelecehan!” tegas Ardan mengeraskan rahangnya dan masih memeluk Neha. Ardan benar marah, ingin sekali ia menghajar Rohit tetapi tidak mungkin ia lakukan karena ia tidak ingin Neha semakin ketakutan.
“Baik tuan!” kedua security itu membawa Rohit ke kantor polisi.
“Rohit masih hidup, kan Om, Neha takut dia mati dan Neha jadi tersangka pembunuhan Om.” Neha melihat Ardan sedikit mendongak. Mengadu seperti anak kecil. Ardan mengusap lembut pipi Neha dan tersenyum.
“Rohit masih hidup. Kamu jangan takut! Biar polisi yang menangani kasus ini.”
Neha kembali memeluk erat Ardan dan masih menangis. Neha benar-benar ketakutan sampai gemetaran. Ardan kemudian mengajak Neha duduk di sofa. Ardan membuka jasnya lalu mengenakannya pada Neha. Ardan memandangi Neha yang tampak jelas masih begitu syok dan ketakutan. Ardan meraih jemari Neha dan menggenggamnya.
“Sudah!” lirih Ardan.
__ADS_1
Ardan menarik Neha ke pelukannya agar Neha tenang. Tak lama terdengar suara dengkuran halus dari Neha, pertanda Neha sudah tenang. Ardan tersenyum melihat wajah Neha yang sudah tenang, perlahan Ardan memindahkan Neha ke kamarnya dengan cara membopongnya.
Dengan sangat hati-hati Ardan menidurkannya dan menyelimuti kaki Neha kemudian mengusap lembut rambutnya. Setelahnya ia keluar dan melihat kekacauan Apartemen Neha. Ardan menghela nafas panjang dan membayangkan perjuangan Neha mempertahankan kehormatannya. Akhirnya Ardan menghubungi jasa asisten rumah tangga paruh waktu untuk membersihkan Apartemen Neha.