
"Selamat pagi sayang! sapa Ardan seraya berjalan menghampiri Neha yang sedang menyiapkan sarapan, lalu mengecup pucuk rambutnya.
"Pagi mas!" balasnya seraya memeluk Ardan sekilas.
"Terima kasih untuk tadi malam!" bisik Neha mengecup pipi Ardan lalu tersenyum kemudian sedikit menggoda Ardan dengan cara sekilas mengusap bagian inti sang suami. Neha mengingat bagaimana Permainan Ardan tadi malam yang membuatnya melayang di ronde ke dua.
"Jangan menggodaku sayang, sebentar lagi kita semua berangkat ke sekolah." Ardan menahan tangan Neha yang mengusap-usap miliknya.
"Ya sudah. Ayo sarapan. Devan...! Arsy...! Sarapan sayang!" panggil Neha di akhir kalimatnya.
“Iya Ma!" balas Arsy dari anak tangga dan di ikuti Devan
"Pagi Ma, Pa!" sapa Arsy.
"Pagi sayang!" Neha memeluk Arsy dengan tulus. Mengusap punggungnya memberikan energi positif pada Arsy.
Arsy terlihat murung pasalnya pesan yang ia kirim pada Daren sebelum tidur hanya di baca dan tidak balas.
“Kamu kenapa sayang?" tanya Neha!
“Gak apa-apa, Ma. Lagi badmood aja” Ardan tertawa kecil lalu mengusap lembut rambut putri cantiknya.
“Badmood kenapa?” tanya Ardan.
“Kak Daren ngeselin Pesan ku tadi malam gak di balas. Cuma di baca aja. Awas aja nanti di sekolah aku cuekin.” Semua tertawa mengira Arsy kenapa-kenapa. rupanya urusan hati anak ABG.
***
Semua siswa melihat kedatangan seseorang yang berjalan bersama Ardan menuju ruang kepala sekolah. Dia Adalah Bara Alexander guru BK yang baru, menggantikan Ardan. Pria berusia 25 tahun itu adalah lulusan universitas terbaik di luar negeri jurusan psikologi pendidikan. Sebelum menerima tawaran Ardan. Bara menjadi consultants konseling di rumah sakit kejiwaan. ia juga mempunyai tempat konseling di rumahnya.
“Selamat pagi, pak!" sapa Ardan pada kepala sekolah.
“Pagi! Pak Ardan mari masuk!" Ardan dan Bara masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.
“Ini Bara, pak. Yang nanti menggantikan saya menjadi guru BK.”
“Ya, ya, ya!” kepala sekolah melihat dari atas dan bawah lalu menyalaminya.
“Bara Alexander!"
“Ya, Semoga betah dan gak bosen menangani anak-anak yang kadang bandel.” ujar kepala sekolah.
“Tentu tidak, pak. Sudah menjadi tugas saya.”
“Tentunya itu tugas Bapak kalau tugas saya. mantau informasi dinas pendidikan. Kalau pak Ardan mantau kita-kita." ketiga tertawa kecil. Ardan memang sudah sepenuhnya mengelola sekolah milik keluarganya. karena Nadia sudah pensiun dan ingin fokus di rumah saja.
“Kalau begitu saya antar ke ruangan Anda, Pak Bara! Permisi pak kepsek!" pamit Ardan.
“Monggo, pak!" Ardan dan Bara berjalan menuju ruangannya BK yang dulunya ruangan Ardan.
“Ini ruangan pak Bara. Dulu ruangan saya. Kalau mau di rumah, bilang saja sama penjaga sekolah. Biar nanti si rubah!" ujar Ardan setelah membuka ruangannya.
__ADS_1
“Tidak perlu, Pak. Ini sudah bagus da terlihat nyaman. Sepertinya banyak kenangan Bapak di sini."
Ardan tersenyum meningkat perjalanan menjadi guru BK dari usia 23 tahun sampai kini. Banyak kenangan yang tersimpan di dalam ruangan tersebut terlebih saat bersama Laras. Namun kenangan hanyalah tinggal kenangan. prioritasnya saat ini adalah istri tercinta, Neha dan anak-anaknya bersama Andin.
“Sudah pasti ada, Pak. kenangan bersama murid bahkan salah satu murid saya sekarang menjadi istri saya!” kedua tertawa kecil. Bara sudah mengetahui jika Neha adalah istri dan murid dahulu.
“Sekali lagi saya ucapkan selamat bergabung di sekolah Mahendra School."
“Terima kasih, Pak Ardan. Saya akan menjalankan tugas saya dengan baik." Ardan mengangguk lalu keduanya tersenyum. Setelahnya Ardan meninggalkan Bara dan menuju ruangannya.
Saat melangkah menuju ruangannya. Ardan berpas-pasan dengan sang istri yang membawakan kopi.
“Mas!" sapanya
“Sayang! Ini mau kemana?"
“Mau antar kopi buat, Mas!"
“Mulai hari ini, ruangan Mas bukan di sana lagi.” Ardan mengambil alih gelas kopinya.
“Terus ...?” Ardan Dan Neha berjalan menuju ruangan barunya.
“Pindah ke ruangan Kak Nadia. Kan , pekerjaan Kak Nadia sudah di limpahkan semua sama Mas!"
“Oh ...! Ya sudah, Aku ke kelas ya. Bell masuk udah bunyi.” Ardan mengangguk lalu sekilas mencium kening Neha.
Disisi lain Arsy berlari menuruni tangga hendak menemui sang Papa. Ia berlari tergesa-gesa kemudian masuk ke ruangan BK. Karena mengira Ardan masih di ruangan lamanya.
“Eh ... Pak Bara? Papa mana, Pak!"
“Arsy! Di ruangannya."
“Di ruangannya? Kan , Ini ruangan Papa!" Bara tertawa kecil lalu menghampiri Arsy yang masih di ambang pintu.
“Ruangan ini sudah menjadi Ruangan Bapak! Ruang Papa kamu sudah pindah di bagian Administrasi!"
“Oh! Terima, Pak! Permisi!” Arsy sedikit menunduk sopan lalu bergegas ke ruangan Ardan.
“Papa!" Seru Arsy di ambang pintu ruangan Ardan.
“Hm! Ada apa sayang?” Arsy masuk kedalam dan menghampiri Ardan yang sedang duduk.
“Minta uang. Mau beli pulpen sama pensil. Kemarin Amara lupa minta sama Mama!"
“Butuh berapa?" balas Ardan lalu menyeruput kopinya.
“Lima puluh ribu!" Ardan mengambil dompet dari saku celananya dan mengambil uang sesuai yang di minta Arsy.
“Memangnya koprasi sudah buka?" tanya Ardan.
“Sudah. Makasih. I lope you!" Arsy sekilas mencium pipi Ardan lalu berlari keluar menuju koprasi sekolah.
__ADS_1
“Lope you, lope you! Bahasa kamu, sayang! Ada-ada saja ABG jaman sekarang!”
Arsy bergegas membeli peralatan tulisannya yang sudah habis, setelahnya ia kembali ke kelas.
Tak lama Ardan keluar dari ruangannya. Karena ingin mengisi jam kosong. kebetulan kelas yang akan ia isi adalah kelas Arsy dan Amara.
"Selamat pagi anak anak!” sapa Ardan
"Pagi pak guru!" jawab semua murid di kelas Arsy.
"Berhubung Bu guru Fani berhalangan hadir, sekarang bapak yang akan menggantikan beliau." Ardan melihat sang anak yang sedang tersenyum sendiri melihat ke arah dua buah coklat di hadapannya.
"Arsy!" panggilnya.
"Ah! Iya pa, Eum maaf. Iya pak!" seketika Arsy gugup dan langsung menyembunyikan coklatnya kedalam tas. Semua temannya bersorak. Namun Ardan memberikan isyarat agar semua diam.
"Maju ke depan. kerjakan soal yang kemarin di berikan Bu Fani." tegasnya sambil melipat kedua tangan di dadanya.
"Baik pak!" Arsy kemudian mengambil buku tugasnya. Ia berjalan dan mengambil sepidol untuk menulis di papan tulis, lalu mengerjakan soalnya.
Sementara Arsy mengerjakan soalnya di depan kelas, Ardan berjalan dan duduk di bangku Arsy. kemudian membuka tas Arsy. Ardan mengambil coklat dan membaca tulisan di bungkus coklat tersebut.
"Untuk gadis yang berparas cantik, Maafkan Kakak ya. Tadi malam gak balas pesan kamu! Kakak ketiduran, sebenarnya yang baca pesan kamu itu, Mama. Ini coklat buat kamu sebagai tanda permintaan maaf Kakak."
Ardan sekilas membaca tulisan tersebut, lalu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sadar sang anak sudah remaja dan sudah mengenal cinta. Ardan adalah papa yang membebaskan anak anaknya bergaul asal masih dalam batas wajar. Ardan mengajarkan sang anak agar menjaga mahkotanya serta martabat sebagai anak perempuan. Dan Arsy sudah paham akan hal itu.
Ardan diam-diam memakan coklatnya tanpa sepengetahuan Arsy, Amara yang duduk di sebelahnya hanya tertawa kecil melihat Ardan bertingkah konyol. Memakan coklat milik Arsy. Ardan membaginya dengan Amara. mereka berdua diam-diam memakannya.
“Tangan kamu bagaimana, sudah membaik?" tanya Ardan melihat tangan Amara yang masih di di perban dan menggunakan penyangga tangan.
“Sudah membaik, Pak. Tapi belum bisa menulis. nanti saja pinjam buku catatan Arsy terus di fotocopy,” jawab Amara pelan lalu menerima potongan coklat dari Ardan.
“Tugas kamu kemarin siapa yang mengerjakan?"
“Tetap saya, pak. Tapi di bantu nulis Mama!"
“Oh! Tetap semangat ya.” Amara mengangguk lalu keduanya memperhatikan Arsy yang mengerjakan tugasnya di papan tulis
“Pak! Nanti Arsy marah bagaimana coklatnya di makan?" ucap Amara pelan.
"Nanti biar Arsy minta sama kakakmu lagi," jawab Ardan pelan kemudian mereka tertawa kecil hampir tidak ada suara. Setelahnya Ardan kembali ke depan dan dengan santai memakan coklat di depan sang Anak.
"Ini salah, ini di kali X, " ucap Ardan. membenarkan jawaban soal sang anak. Arsy sedikit terkejut melihat sang papa memakan coklatnya.
"Papa itu kan coklat ku," pekik Arsy. Ardan hanya tersenyum dan mengangkat kedua alisnya, seolah menggoda sang anak. Arsy kesal lalu secepatnya menyelesaikan jawabnya. kemudian dengan cepat kembali di bangkunya.
"Ok! jawabnya sudah benar. Selanjutnya Adam. maju ke depan, kerajaan soal nomor 2"
Adam maju ke depan. kemudian mengerjakan soalnya. Suasana kelas hening semua siswa memperhatikan Adam mengerjakan soalnya. Sedangkan Arsy masih kesal dengan Ardan yang memakan coklatnya.
***
__ADS_1