
“Jadi … Ini sudah sepakat, hanya keluarga besar dan rekan bisnis serta guru-guru sekolah yang kita undang?” tanya Ardan saat selesai berdiskusi tentang undangan di jam istirahat di kantin. Neha meraih jemari Ardan dan tersenyum
“Iya Mas! Sederhana saja!”
“Ya sudah. Ayo Mas antar pulang!”
“Aku pulang nanti aja Mas. Aku mau selesaikan periksa tugas anak-anak.”
“Nunggu Mas?"
“Hm!” Neha mengangguk kemudian mereka kembali ke ruangan masing-masing. Sementara itu Johan duduk sendiri sedari tadi duduk di meja sebelah Ardan dan Neha sambil memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Benar-benar gak ada kesempatan!” batin Johan.
‘Brakk!’ Tiba-tiba Johan menggebrak meja kantin. Seiring dengan itu terdengar teriakan Fatma dan rekan guru lainnya serta beberapa murid lainnya yang masih berada di kantin
“Pak Johan! Pak Johan apa-apaan sih! kaget tahu!" Protes Fatma.
“Maaf!” Johan kemudian pergi meninggalkan kantin
“Tambah ngeselin ya lama-lama!" pekik Fatma ingin melempar botol minum ke arah Johan namun di tahan Nurul.
“Sudah, Bu Fatma! Pak Johan itu lagi galau gak ada kesempatan lagi buat deketin Bu Neha.
“Aneh aja, pak Johan. Pacar kagak. gebetan bukan mantan apa lagi. Bu Neha nikah sama sahabat papanya, Dia yang galau. Gaje!" sunggut Fatma dengan ekspresi kesalnya pada Johan.
“Sudah. Ayo kembali ke kantor guru!" ajak Nurul lalu mereka kembali ke ruangan guru.
Johan berjalan santai menuju ruang guru. Saat masuk kedalam ruangan Johan melihat Neha sedang memeriksa tugas anak-anak didiknya. Tanpa membuang kesempatan Johan menarik kursi milik Fatma yang ada di dekat Neha lalu duduk di depan Di seberang meja Neha.
“Hai Bu!” sapa Johan. Neha melihat sekilas dan tersenyum.
“Hai, Pak Johan.” Neha melihat bukunya kembali.
“Bu, saya boleh tanya gak?”
“Boleh! silahkan.”
“Kenapa Ibu Neha mau sama Pak Ardan. Maaf Ini Bu, Pak Ardan kan sudah berumur dan maaf duda dua anak!” Neha melihat Johan dan tersenyum. Ia tidak sakit hati Johan mengatakan Ardan sudah berumur dengan kata lain Ardan sudah tua dan memang itu kenyataannya.
“Saya suka pria matang, saya tidak mempermasalahkan status beliau. Dan saya tahu suami saya seperti apa. Asal Pak Johan tau, mudanya suami saya sangat tampan walau beliau pernah operasi wajah karena kecelakaan. Tapi beliau saat ini jauh lebih tampan dengan Kharismanya dan yang paling penting hatinya .” Neha memperlihatkan foto Ardan saat masih muda pada Johan dari ponselnya. Sudah pasti Neha akan memuji suaminya walau banyak orang mengatakan Ardan tidak pantas untuknya.
__ADS_1
“Ini anak Pak Ardan?” Johan melihat foto Ardan menggendong anak kecil.
“Bukan Pak! Itu saya saat umur lima tahun. Saya dari bayi sudah mengenal beliau karena Papa saya sahabatnya.” Johan terdiam ia benar-benar putus asa. Johan menyerahkan ponselnya lalu melihat Neha melihat foto tersebut sambil tersenyum.
‘Toktok!’ Suara pintu diketuk seseorang
“Permisi Pak. Maaf! Ada Siswi SMP terjatuh dari tangga! Em …” ujar Siswi tersebut dengan panik. Johan berdiri dan di ikuti guru yang lainya.
“Siapa yang jatuh?” tanya Johan berdiri di ambang pintu.
“Amara!”
“Amara!” Neha meraih ponselnya sedangkan Johan berlari diikuti siswi tersebut menuju dimana Amara terjatuh.
“Astaga! Amara.” Johan merengkuh Amara yang pingsan lalu membopongnya dan membawanya ke unit kesehatan.
“Ra! Bangun Ra!” ujar Johan setelah membaringkan Amara di brankar unit kesehatan.
Johan mengambil minyak gosok untuk dioleskan ke hidung dan pelipis Amara. Tak lama Neha dan Ardan sampai di ruangan Unit kesehatan dan melihat Amara dengan Cemas.
“Nilam, kenapa Amara bisa jatuh dari tangga?” tanya Ardan pada teman Amara.
“Kurang tahu pasti, Pak. Tapi tadi pagi dia bilang sama saya belum sarapan.”
“Amara!” teriak Darren di ambang pintu lalu Daren menghampiri Amara.
“Om, Amara kenapa?” tanya Daren pada Ardan, saking paniknya ia lupa memanggil Ardan dengan sebutan Pak.
“Jatuh dari tangga! Apa tadi pagi Amara gak sarapan?”
“Gak Om! tadi pagi Amara marah sama Mama. Terus gak mau sarapan,”
Ardan menghela nafas panjang lalu melihat ke arah pintu kemudian menyuruh siswa yang melihat Amara kembali ke kelas. Johan masih memeriksa denyut nadi Amara. Walau ia guru olah raga ia juga mempunyai dasar ilmu kesehatan jadi ia paham untuk memeriksa denyut nadi.
“Amara tidak apa-apa. Jangan panik!” jelas Johan pada Daren. Tak lama Amara membuka matanya dan melihat Daren dan Johan serta Ardan.
“Kak!” lirih Amara sambil memegang lengan Daren.
“Bandel!” balas Daren sambil mengusap rambut adiknya.
“Kakak!”
__ADS_1
“Apa?”
“Laper!”
“Ada yang ya lapar ya!” seru Neha membawa sarapan untuk Amara. Neha berjalan menghampiri Amara lalu meletakkan nampan di meja.
“Kalau begitu saya permisi, Pak Ardan, Bu Neha!” pamit Johan lalu menepuk kepala Amara dan tersenyum.
“Iya pak, Terima kasih!” balas Amara tersenyum.
“Makan ya!” ujar Neha. Amara mengangguk. Neha mengambil piring yang berisikan soto dan juga teh hangat.
“Habiskan ya!” Amara mengangguk lalu melihat Daren.
“Suapin, Kak!”
“Kamu ini. Makan sendiri. Kakak mau balik ke kelas, ada ulangan.” Daren bangkit dan menoyor kepala adiknya kemudian keluar dari ruangan.
“Dasar Kakak gak peka! teriak Amara yang ingin dimanja akan tetapi tidak ada yang memanjakannya
Neha dan Ardan hanya tertawa kecil lalu duduk di kursi. Neha mengambil Akih piringnya kemudian menyuapi Amara.
“Sama Kakak aja ya!”
“Terima kasih, kak!” Amara tersenyum senang saat Neha dengan tulus menyuapinya.
“Kamu kenapa gak sarapan?” tanya Neha,
“Ngambek sama Mama!”
“Kenapa?”
“Amara minta tambah uang jajan tapi Mama malah Marah. Gak tahu akhir-akhir ini Mama marah-marah terus gak jelas.”
“Dimaklumi ya. Mama kan lagi hamil jadi sensitif!”
“Iya sih, Kak. Tapi minta uang jajan lima puluh ribu aja gak di kasih. Papa belum kembali dari london. Maksud Amara kalau gak mau kasih, ya udah gak usah marah-marah. Amara kan sudah besar.”
“Buat apa uang lima puluh ribu?”
“Beli buku Om. Buku tulis Amara sudah mau habis. Percuma anak orang kaya punya apapun tapi mau beli buku aja Mama malah kayak gitu marah-marah jelas.”
__ADS_1
“Sabar ya! Mama kamu memang kayak gitu, tapi yakin. Sampai rumah nanti pasti sudah ada buku baru di meja belajar kamu.” saut Neha lalu menyuapi Amara kembali.
“Iya Kak.”