
Akhirnya Amara dan Johan sudah masuk sekolah kembali. melakukan aktivitas masing-masing. Johan mengajar seperti biasa dan Amara mengikuti pelajaran seperti biasa.
Amara sedikit percaya diri sudah memiliki alis kembali walau rambutnya masih pendek seperti kaki-laki. Tulang tangannya yang dulu retak pun sudah pulih dan bisa bermain basket kembali.
Seperti biasa mereka istirahat selalu berlima. Namun setelah kedatangan Alex dan Ardi kini mereka bertujuh. Mereka berkumpul di depan lapangan anak TK, duduk di bangku dan juga ada meja. untuk meletakkan barang.
Semenjak kantin kebakaran mereka bebas keluar masuk sekolah untuk mencari makanan di luar, dan tetap harus mematuhi peraturannya.
“Arsy! Kak Daren lama beli makanannya. udah lapar!” cicit Amara yang duduk di samping Arsy.
“Mungkin ngantri. Tunggu aja.”
“Memangnya kamu gak sarapan dari rumah?" saut Bella.
“Sarapan sih, tapi cuma minum susu doang.”
“kamu kebiasaan. Nanti pingsan yang repot, pak Johan!” celetuk Arsy di iringi tawa ketiganya.
“Ra! Aku perhatikan, kamu selalu pakai jaket itu. Emang gak panas. Terus jaketnya kayak gak asing, kayak di pernah di pakai...,”
“Hai guys! Maaf lama.” seru Alex sambil membawa makanan begitu banyak, di susul Daren dan Devan serta Ardi juga membawa makanan dan minuman.
Amara, Arsy dan Bella heran melihat empat laki-laki itu membawa begitu banyak makanan.
"Banyak banget kakak beli makanannya?" tanya Arsy saat Daren duduk di sampingnya.
Daren tersenyum lalu mencium pipi Amara.
"Opa Abi yang menyuruh membawa banyak makanan ini."
"Oh. Jadi tadi belinya di restauran Om Abi?"
"That's right!" sambung Devan.
"Terus yang makan siapa banyak kayak gini?" tanya Arsy lagi sambil melihat Amara yang sudah makan lebih dulu di samping Ardi, Amara benar-benar kelaparan dan tidak peduli dua sejoli itu berdebat.
"itu...!" Daren melihat kedatangan Ardan, Neha dan Johan , Fatma serta Bara.
"Wah! Makan besar ini!" seru Ardan lalu mereka semua duduk di tempat masing-masing, Ardan duduk di sebelah Arsy di susul Neha, sementara itu Johan duduk di samping Alex di depan Amara di ikuti Fatma. Bara sendiri duduk di samping Amara di depan Fatma, Ardi sendiri menggeser duduknya
Amara melirik Johan dan Fatma lalu melirik ke arah Bara yang sedang memainkan ponselnya. Sekilas Amara melihat Bara sedang mengetik pesan kepada Fatma, Sebab tertera nama Fatma di ponselnya.
__ADS_1
Amara membulatkan matanya saat sekilas membaca pesannya sampai ia tersedak.
“Ahuukk... Uhukk! Kakak minum," cicitnya menepuk dadanya sendiri sambil tangannya mencoba meminta minum pada Daren.
“Makanya pelan-pelan makannya!” balas Daren membantu adiknya minum.
“Iya! Lapar, he...”
“Makanya sarapan kalau pagi!" sambung Daren lagi sambil menyuapi Arsy.
“Hm!” Amara hanya berdehem dan melanjutkan makannya sambil melihat gelagat Bara dan Fatma.
Ardan tersenyum melihat Arsy begitu manja dengan Daren dan Daren memang dari kecil sangat menyayangi Arsy bahkan sayangnya melebihi rasa sayangnya pada adiknya sendiri. Pandangannya beralih pada Devan yang asyik makan di samping Bella dan Alex. Bella sendiri tampak perhatian pada Devan, Namun Devan sesekali melirik kearah Amara. yang tampak badmood.
Memang pada dasarnya Amara tidak begitu menyukai keramaian kecuali keluarganya sendiri, di tambah melihat sesuatu yang tidak ia sukai.
Amara melihat Johan kali ini sangat perhatian pada Fatma, seperti mengambilkan makanannya dan sesekali menyuapinya. Bahkan dirinya pun saat ini tidak di lirik Johan. Sungguh membosankan, pikirannya.
“Maaf, saya permisi dulu!" pamit Amara melihat Johan lalu mengambil ponselnya di meja kemudian berdiri.
“Eh... belum habis, Ra!” seru Alex
“Amara kenapa sih, Kak?” tanya Arsy pada Daren.
“Gak tau! Cemburu kali!” kelakar Daren di iringi tawa semuanya. Namun mata mereka tertuju pada Devan dan Bella. Sebab mengira Amara cemburu dengan Bella yang begitu dekat dengan Devan.
“Sudah, Sudah. cepat habiskan. Jam istirahat hampir habis," ucap Ardan.
Semua menghabiskan makanannya setelahnya mereka semua kembali ke kelas, guru lainnya kembali mengajar. Fatma dan Neha sendiri pun pulang ke rumah.
Sepanjang mengikuti pelajaran Johan, Amara hanya diam, dan pikirannya melayang entah kemana. Ia bingung dengan semua yang terjadi bahkan dengan perasaannya sendiri. Ia tidak menyukai jika melihat Devan dan Bella terlalu dekat, ia juga tidak suka melihat Johan seperti dicurangi Fatma dengan Bara.
“Mungkin ada baiknya aku harus menentukan sikapku pada Devan, biar aku tidak sakit hati sendiri. Yang lain hanya tahu kami berteman baik, walau kenyataannya aku menjalin hubungan diam-diam dengannya. Disisi lain aku juga suka sama pak Johan, walau aku tahu itu semua tidak mungkin.” batin Amara sambil memainkan pulpennya.
“Ah ... kenapa aku jadi bingung sendiri dengan perasaanku. kampret!"
‘Brakk!!’ Amara tidak sadar menggebrak meja membuat semuanya terkejut terlebih Arsy yang duduk di dekatnya.
“Gila kamu ya! Kaget tau!" protes Arsy.
“He! Maaf ada nyamuk. Maaf Pak!” Amara hanya nyengir kuda sedangkan Johan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Ya sudah, salin materinya. Minggu depan kita praktek di lapangan.” ujar Johan sambil melihat Amara yang masih saja badmood.
“Baik pak!” balas semuanya.
Johan meraih ponselnya di atas meja, lalu mengirim pesan pada Amara. Johan mencoba menanyakan apa yang terjadi pada dirinya.
"Kenapa?" bunyi pesan Johan untuk Amara. Amara yang merasa ponselnya bergetar di dalam sakunya pun langsung mengambil dan mengusap layar ponselnya.
“ Pak Johan?" batinnya lalu melihat Johan sekilas yang juga melihatnya.
“Lagi badmood. Gak suka liat Bapak sama Bu Fatma!" tegas Amara membalas pesannya. Johan menahan tawa lalu melihat Amara yang melihat dirinya kesal.
“Nggak boleh gitu, Bu Fatma kan , calon istri Bapak!"
“Kan, Bapak makin nyebelin. Katanya mau nunggu Amara dewasa?”
“Iya, Bapak. akan nunggu kamu dewasa dan sukses seperti yang kamu bilang ke Bapak kemarin. Bapak pasti bangga lihat kamu.”
“Tau ah! Gelap!” seru Amara tiba-tiba membuat semuanya terkejut termasuk Johan.
“Kamu kenapa,sih Ra! Dari tadi Sewot terus? lagi datang bulan!” Arsy lama-lama kesal dengan Amara. Amara bangkit dari duduknya, tanpa kata ia pun berlari keluar.
“Amara! Kamu mau kemana!" seru Johan.
“Toilet!” balasnya terdengar dari luar dan semuanya menjadi tertawa.
“Bisanya mau ke toilet aja sewot dulu!” cicit Arsy.
“Sudah, lanjutkan menyalin materinya. Bapak tinggal sebentar!"
“Bapak mau ke toilet juga?" sambung salah satu murid laki-laki
“Kau ini... mau tau saja! Selesaikan!"
Johan kemudian keluar menyusul Amara karena tahu Amara tidak benar-benar ke toilet.
***
Mampir ya! ramaikan
__ADS_1