TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 62 LAMARAN.


__ADS_3

Suasana tempat yang di janjikan Johan untuk Amara begitu romantis. Johan datang dengan membawa Ibu dan Ayahnya. Mereka begitu senang saat Johan menjalin kasih dengan salah satu murid dan anak orang terkaya di negeri ini. Orang tua Johan juga tahu bagaimana kebaikan dan rendah hati keluarga besar Amara terutama sang Oma Wina yang terkenal ramah dan santun pada siapapun.


Amara begitu takjub melihat tempatnya. lampu yang tidak begitu terang dan di hiasi lampu kelap kelip. Amara dan keluarganya masuk di ikuti Kedua orang tuanya serta Daren dan Arsy. Tak lupa Bryan dan Syasa juga ikut serta.


“Selamat datang tuan, Nyonya. Tuan Johan sudah menunggu Nona Amara dan keluarga di dalam,” sambut pelayan restoran.


Ya, Johan menyewa sebuah restoran untuk memberikan kejutan romantis untuk Amara dan berniat langsung melamar Amara untuk menjadi istrinya. Sesuai janji menunggu Amara 18 tahun.


Amara masuk bersama keluarganya. Terlihat Johan sudah berdiri di panggung mini dengan pencahayaan yang tidak begitu terang dan terkesan romantis. Di depan Johan sudah ada kue dengan lilin dengan angka 18 tahun.


Amara berjalan menghampiri Johan dan keluarganya duduk di tempat yang sudah disediakan. Johan mengulurkan tangannya untuk menyabut Amara. Amara berdiri di depan Johan, Johan sekilas mengecup kening Amara.


Johan mengambil mikrofon lalu meraih jemari Amara, di matanya hari ini Amara begitu terlihat dewasa. Sungguh begitu cantik.


“Selamat malam semua. Mungkin ini terkesan mendadak, tapi tidak bagi saya dan Amara. Saya sudah menunggu 3 tahun untuk momen seperti ini. Di hari ulang tahun Amara yang ke 18 tahun, itu Artinya Amara sudah dewasa. Tuan Martin dan nyonya Laras bisakah Anda hadir di panggung sebentar?" Semua bertepuk tangan melihat Laras dan Martin beranjak dan berjalan menuju panggung. Mereka berdua juga tidak tahu apa yang akan di sampaikan Johan.


“Terima kasih, tuan, Nyonya," ujar Johan. Johan berdiri di depan Martin dan Laras.


“Mungkin langsung saja saya sampaikan niatan saya, Maksud saya mengundang Amara dan keluarga di sini adalah. Mohon Maaf dan Mohon Izin pada tuan Martin dan Nyonya Laras. Boleh kah saya melamar putri Anda satu-satunya untuk menjadi pendamping hidup saya dan menggantikan posisi Anda sebagai orang yang selalu menjaganya, menyayanginya, mencintainya. Walau saya tahu Anda tidak akan pernah tergantikan di hati Amara. Apakah Anda mengizinkan Tuan, Nyonya. ”


Laras dan Martin saling pandang. Mereka tersenyum, dalam hati kecil mereka. Mereka belum rela jika Amara cepat menikah, tetapi mereka juga tahu jodoh dan takdir Amara sudah di depan mata. Apalagi Johan selama ini begitu baik dan selalu menjaga putri mereka satu-satunya.


“Sejujurnya kami belum rela jika Amara kau ambil, tetapi Kami tahu Amara hanyalah titipan Tuhan dan ditakdirkan untuk mu. Jika kamu ingin mengambil alih dari kami. Kami tidak keberatan. Kami rela dan ridho tugas itu saya serahkan padamu.” Martin menepuk pundak Johan. Laras hanya tersenyum dan mengangguk yang terpenting sang anak bahagia.


Johan begitu terharu penantiannya selama ini tidak sia-sia. Johan dan Amara serta yang lainnya sampai meneteskan air mata. Johan kini berdiri di depan Amara dan membawa bunga serta cincin. Johan berlutut di hadapan Amara.

__ADS_1


“Amara kita berdua sudah lama menanti ini. Sekarang mau kah kamu menikah denganku.” Amara tersenyum haru dan mengangguk. Johan berdiri dan langsung menyematkan cincin ke jari manis Amara. Tak begitu lama lampu di belakang mereka menyala dan bertuliskan Will you marry me. Semua bertepuk tangan dan menangis haru.


Sementara itu Daren tiba-tiba melihat beberapa pelayan restoran merekam acara sang adik. Ia pun bergegas berdiri dan menghampirinya.


“Apa yang kalian lakukan?” tanya Daren dengan wajah tegasnya membuat semua pelayan yang ketakutan.


“Em ... ini...,” Daren langsung merebut semua ponsel pelayan yang merekam acara Amara kemudian mengajak mereka menjauh dari tempat acara.


“Panggil manager kalian!" titah Daren.


“Kalian tahu apa yang kalian lakukan sudah melanggar privasi seseorang.Tanpa izin merekam, kalian bisa kena saksi ITE belum lagi jika yang bersangkutan tidak terima, kalian bisa dituntut!”


“Permisi ada apa tuan ribut-ribut?" tanya manager.


“Tolong beri tahu semua karyawan di sini jangan seenaknya merekam privasi seseorang tanpa izin. Kalau sampai tersebar saya akan tuntut kalian, walau saya tahu kalian karyawan restoran Opa Abi. Dan bapak tahu kan, keluarga kami tidak suka mengumbar privasi di media sosial."


“Bagus. termasuk yang ada di CCTV."


“Baik tuan." Daren kemudian meletakkan ponsel beberapa pelayan di meja dan menunggunya mereka menghapusnya.


“Hapus!” tegas Daren. Dengan cepat semua menghapusnya.


“Oh ya, satu lagi Pastika ponsel karyawan disini tidak ada rekaman satu pun. Jika masih ada dan tersebar saya tidak segan-segan menuntut kalian.” ancam Daren sebelum bergabung kembali bersama keluarganya.


Daren melakukan hal itu karena Amara masih sekolah dan tidak ingin Johan kehilangan kariernya. Bukan hanya itu yang Daren jaga melainkan nama baik sekolah dan nama baik Amara serta Johan agar tidak ada gosip yang tidak-tidak.

__ADS_1


Daren kembali bergabung bersama keluarganya dan duduk kembali di samping Arsy.


“Dari mana?” tanya Arsy.


“Toilet!" Daren mencium pipi Arsy.


Martin dan Laras bersalaman dengan orang tua Johan, Orang tua Johan sedikit canggung dan tidak percaya diri. Laras dan Martin paham dan mengerti. Laras dan Martin hanya menyakinkan mereka semua baik-baik saja dan tidak mempermasalahkan kesejangan di antara keduanya.


Johan berdiri di depan Amara. Melihatnya penuh arti. gadis kecil dihadapannya kini sudah tumbuh dewasa. Johan mengusap pipi Amara lalu perlahan mengecup bibirnya.


Daren seketika menutup mata Arsy dengan telapak tangannya, membuat Arsy memberontak dan membuat tawa Bryan dan Syasa yang duduk di sebelahnya.


“Apa sih kak, ih ...” Arsy menarik paksa tangan Daren dan mengerucutkan bibirnya tanda kesal.


Amara masih memejamkan matanya, ini adalah momen yang ia tunggu. Johan tersenyum melihat Amara yang masih memejamkan matanya.


“Mau aku cium lagi!" bisik Johan membuat Amara sedikit terkejut.


Amara tersenyum malu kemudian melihat kedua orang tuanya. Amara menghampiri Martin dan Laras.


“Pa!” Amara memeluk Martin.


“Kamu bahagia?"


“Hm! Terima kasih ya pa. Maafkan Amara belum bisa menjadi kebanggaan Papa dan Mama.”

__ADS_1


“Kamu kebanggaan kami sayang, tugas kamu menjadi anak sudah kamu penuhi semua. sekarang kamu sudah dewasa jadi pribadi buang lebih baik lagi ya." Amara mengangguk kemudian beralih memeluk Laras dan berlanjut menyalami semuanya. Amara begitu lega hubungannya sudah resmi menjadi calon istri Johan Budi Utomo.


__ADS_2