
Deran berlari di koridor sekolah dan lupa dengan Amara . Daren begitu tergesa-gesa ingin secepatnya ke rumah sakit karena, Laras melahirkan.
Daren mengendarai motornya dan benar-benar lupa akan keberadaan Amara.
“Aku di tinggalin!” kesal Amara melihat Daren keluar dari pintu gerbang padahal sedari tadi ia menunggu Daren di aula.
“Nyebelin banget sih, tau gitu tadi suruh sopir jemput!"
Amara menghentakkan kakinya lalu melangkah melangkah. Namun sebelum langkahnya jauh ada tangan yang meraih lengannya.
“Kenapa? kok Kayak kesel?”
“Pak Johan? Itu ... di tinggal kak Daren, udah nunggu dari tadi.”
“Hai Ra! Belum pulang?" sela Alex tiba-tiba datang.
“Belum!” balas Amara malas.
“Ayo Pak Johan buruan, nanti terlambat!" Amara menarik Johan dengan paksa. Johan Yang paham maksud Amara pun hanya mengikuti langkahnya dan membiarkan Alex dan Ardi melongo melihat mereka berdua.
Amara dan Johan tertawa saat berada di dalam mobil mengingat ekspresi Alex. Kemudian Johan mengendarai mobilnya, keluar dari sekolah. Namun sepanjang melewati pintu gerbang Amara bersembunyi di sela kursi mobil. Karena tidak ingin teman yang lainnya tahu jika Dirinya pulang sekolah bersama Johan sang guru idola teman-temannya sekaligus kini menjadi kekasihnya.
Saat sudah sedikit jauh dari area sekolah ia baru duduk di kursi sambil terkekeh.
“Pak!” panggil Amara
“Ya, sayang!”
“Sampai kapan kita main kucing-kucingan kayak gini.”
“Sabar ya, nanti kalau kamu udah 18 tahun dan udah lulus SMA boleh deh go publik. Sekarang sabar ya. Tugas Bapak cuma jaga kamu, biar gak taksir orang dan gak di pegang-pegang orang lain.”
“Bapak bisa saja.” Amara tersenyum malu saat Johan selalu mengatakan akan selalu menjaganya.
Amara meraih lengan Johan yang masih terdapat luka bakar, lalu mengusap-usapnya kemudian menyadarkan kepalanya di pundak Johan.
“Kamu gak jijik selalu pegang bekas luka bakar Bapak.” Amara menggeleng.
“Karena tangan ini sudah banyak menyelamatkan diriku. Dari mula mulai jatuh dari tangga, membawaku ke rumah sakit. terus terakhir menyelamatkan aku dari kebakaran.”
“Ra!”
“Hm."
“Boleh tanya sesuatu?"
__ADS_1
“Boleh!”
“Kenapa kamu suak sama Bapak? Devan malah lebih cocok sama kamu, seumuran. Bapak udah tua untuk ukuran usia kamu.”
“Boleh jujur?"balas Amara.
“Boleh sayang!"
“Karena seleraku yang lebih tua dan Aku suka sosok orang yang seperti Papa. Melindungi, lemah lembut, mengayomi, penyayang dan semuanya ada pada diri Bapak.”
“Kalau Bapak tidak seperti harapan kamu bagaimana?”
“Kebaikan bapak itu sudah terlihat, tidak perlu menjelaskan diri Bapak sendiri pada orang lain, karena orang lain yang menilai. Kalau Bapak orang jahat sudah pasti Opa sudah melarang Amara dekat dengan Bapak!” Johan tersenyum lalu mengecup kening Amara.
“Terima Kasih, sudah percaya sama Bapak.” Amara tersenyum lalu menyadarkan kembali kepalanya di pundak Johan.
“Oh iya. Mau kemana?”
“Mila hospital. Hari ini Mama melahirkan.”
“Ok ... Bapak udah gak sabar mau lihat bayi kecil, calon adik ipar Bapak.”
“Bapak bisa saja.”
Kedua tertawa. Mereka berdua begitu bahagia. Terlebih Johan yang sedikit demi sedikit mulai melupakan rasa Cintanya pada Fatma.
Saat melihat Johan yang gayanya mirip Bapak-bapak Amara tertawa kecil lalu menghampirinya.
“Pak! Gayanya jangan gini dong, mirip Bapak-bapak banget. Sini!" Amara mulai melepaskan kancing lengan kemejanya lalu menggulung sedikit ke atas, kemudian melepaskan satu kancing kemejanya bagain paling atas. setelah itu Amara sedikit mengacak rambut Johan yang sering di sisir klimis.
“Ganteng! ini Bapak pakai kacamata hitamnya.” Johan hanya menurut saja.
“Jangan kalah sama Om Ardan.” Johan tersenyum melihat Amara begitu perhatian dengannya, sampai hal kecil pun Amara perhatikan.
“Tapi kalau di sekolah jangan kayak gini ya, Pak. Takut tambah meleleh murid-murid Bapak nanti.”
“Iya, sayang...! Apapun untuk kamu. Terima kasih, ya!" Amara mengangguk lalu mengusap bahu Johan.
“Ya sudah, Ayo!”
Mereka pun bergegas ke rumah sakit, tak lupa Amara membawa pesanan Daren.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Amara tersenyum bahagia melihat semua keluarga berkumpul termasuk Ardan, Neha, serta Arsy dan Devan.
Namun Ardan heran dengan keberadaan Johan yang datang bersama Amara.
“Sore semua!” seru Amara menghampiri semuanya lalu meletakkan boks makanan di meja di depan Daren.
“Kakak keterlaluan ya, tinggalin aku. Aku udah nunggu Kakak lumayan lama, ini main tinggal aja.” Amara memukuli Daren dengan bantal sofa sementara Arsy dan Devan haya tertawa melihat Kelakuan Amara dan Daren.
“Stop...! Kakak pikir kamu udah duluan! Tapi kamu kan bisa berduaan sama pak Johan,” bisik Daren di akhir kalimatnya.
“Iya juga ya!” Daren dan Amara tertawa.
Martin tersenyum melihat sang putri tertawa lepas, lalu melihat Johan dan menghampirinya.
“Terima kasih ya, sudah membuat tawa di bibir putriku,” ucap pelan Martin lalu menepuk pundaknya.
“Selagi saya bernafas, saya akan membuat senyum dan tawa di bibir Amara, tuan.” Martin tersenyum lalu melihat Amara.
“Oh iya, Pak Johan ayo makan, kan belum makan!" Amara berjalan menghampiri Johan lalu menariknya dan mengajaknya duduk di sofa.
Ardan dan Neha hanya saling pandang melihat Johan dan Amara. Martin yang paham tatapan Ardan pun menghampiri mereka.
“Kamu pernah muda, kan. Aku tahu peraturan di sekolah. Murid dan guru tidak boleh menjalin hubungan internal. Mereka juga merahasiakan dari teman dan rekan kerjanya. Aku harap kamu mengerti, kamu pernah mengalami hal sama dengan istriku dahulu.”
Ardan dan Neha saling pandang dan hanya diam. Mereka paham perasaan tidak bisa di kendalikan. Apa lagi ia juga pernah merasakannya.
“Aku mengerti tapi aku harap mereka menutupinya sampai Amara lulus. Jika salah satu guru dan murid tahu dan ada yang melapor. Aku tidak segan-segan mengeluarkan mereka berdua. Karena beraturan tetap peraturan.”
“Aku mengerti. Jika itu terjadi, Amara bisa sekolah dari rumah seperti kemarin. Dan Aku bisa rekomendasikan Johan di sekolah lainnya.” Martin akan melakukan apa saja yang bisa membuat Amara tersenyum.
Tak lama Laras siuman dan dokter serta Suter membawa bayinya. Martin pun langsung mengazani bayinya lalu membaringkannya di sebelah Laras.
Semua antusias melihat Adik Amara dan Daren. wajahnya yang begitu kental mengikuti paras sang papa membuat Amara dan yang lainnya begitu gemas.
“Muka kamu kenapa om Matin semua. Kakak nanti anak kita kayak gini ya!" celetuk Arsy membuat gelak tawa.
“Sekolah dulu Oneng!" Amara hanya mengerucutkan bibirnya membuat gelak tawa semuanya.
“Pa, Mau gendong dong!" Martin lalu mengambil bayinya dan memberikan pada Amara. Johan menghampiri Amara dan melihat bayinya.
“Papa Fotoin dong!" ujar Arsy lalu memberikan ponselnya pada Ardan.
Ardan dengan senang hati mengambil foto mereka, Daren berdiri di samping Arsy dan Amara di samping Johan sedangkan Devan di belakang Amara.
***
__ADS_1
Jangan Pelit komentar dong hehehe. biar tambah semangat.