
Perlombaan 17 Agustus telah tiba. Anak-anak mulai mempersiapkan lomba dari perwakilan masing-masing kelas. Lomba di sesuaikan dengan tingkat kelas masing-masing. untuk anak-anak TK lomba membawa kelereng, membawa air dalam baki dan lomba lari. untuk kelas SD dari kelas satu sampai 3 perlombaan di samakan dengan TK Untu kelas empat sampai enam ada tambahan yaitu memukul air dalam balon da tarık tambang.
Untuk tingkat SMP dan SMA Lomba yang di ikuti adalah lomba lari. volly, tarik tambang, basket, cerdas cermat, lomba berlangsung selama tiga hari sampai penentuan final. setelah di tentukan kelas mana saja yang masuk final barulah lomba untuk guru di mulai.
Saat ini lomba untuk guru di mulai semua guru yang mengikuti lomba was-was menunggu penentuan pasangan mereka. terlebih Neha ia was-was jika nanti mendapat pasangan bukan yang ia inginkan. Selagi menunggu penentuan yang di tentukan ketua OSIS. Ardan dan Neha serta guru lainnya yang ikut serta berdiri di pinggir lapangan basket sambil mengobrol.
Neha begitu bosan menunggu, akhirnya ia mengambil bola basket dan memainkannya. Ardan tersenyum saat melihat Neha yang masih lincah memasukkan bola ke dalam ring. Tak lama Ardan ikut bergabung.
“Neha!” Panggil Ardan tanpa sadar tidak menggunakan kata Bu di depan nama Neha. Neha mengerti panggilan Ardan yang ingin ikut bergabung bermain basket. Neha mengoper bolanya.
“Om, Mau melawan ku?” teriak Neha yang juga tanpa sadar memanggil Om.
“Siapa takut!”
“Ok!” Neha mulai merebut bolanya namun Ardan dengan sigap menghindar.
Johan yang melihat dan mendengar Neha manggil Ardan dengan sebutan Om pun tercengang dan mengira Neha adalah wanita yang menyukai om-om lebih tepatnya menjadi simpanan Om-om. Tapi kenapa menyukai om-om yang hanya guru BK. Apa tidak ada Om-om yang lebih kaya jika ingin menjadi simpanannya. Pikir Johan.
Johan terus melihat Ardan memasukkan bola basket ke dalam ring dan semuanya masuk. ia sedikit ciut jika harus bertanding dengannya nanti.
“Om! udah! Capek!” Neha memberi isyarat dari kejauhan agar menyudahi permainan basketnya.
Neha berjalan menuju pinggir lapangan basket dan duduk bersama Fatma tak lama Ardan menghampirinya. Neha meminum minumanya dan Ardan tanpa sadar meminta minumannya bekas Neha. Semua itu di saksikan Johan dan siswa lainnya. Namun para siswa tidak mau ambil pusing Karena mereka juga tahu jika Ardan dan Neha itu di kenal sebagai ponakan dan Om.
Ardan duduk di samping Neha sambil membuka topinya. Ardan merasakan panas dan berkeringat lalu mengibas-ngibaskan topinya untuk ia jadikan kipas. Neha tertawa kecil melihat Ardan berkeringat lalu Neha mengambil tisu dan mengelap dahi dan pipi Ardan.
“Duh panas sekali ya Bu Neha! perasaan ruangan basket ini udah ada pendinginannya, tapi rasanya kok, seperti di neraka jahanam ya!” kelakar Fatma di samping Neha.
Neha secepat kilat menarik tangannya dan baru menyadari jika dirinya dan Ardan menjadi pusat perhatian. Neha kemudian menyembunyikan wajahnya di pundak belakang Fatma sambil menepuk-nepuk paha Fatma.
“Fatma aku malu!" cicitnya pelan membuat Fatma terkekeh sedangkan Ardan hanya acuh dan santai meninggalkan neha bersama Fatma. ia juga tidak ingin menambah Neha semakin malu.
__ADS_1
Tak lama ketua OSIS sekaligus ketua panitia acara membagi kertas bertuliskan nama dan nama pasangan lomba masing-masing. Johan dengan Fatma, Nurul dengan Rudi, Ardan dan Neha dan guru lainnya dengan pasangannya masing-masing tentunya ada juga dengan sesama guru wanita dan guru laki-laki. hanya yang masih bujang yang sengaja dipasangkan oleh ketua OSIS tentunya dengan arahan Nadia, Kakak dari Ardan yang juga pemilik yayasan sekolahnya. Nadia juga tidak rela jika Neha berpasangan dengan orang lain.
Johan sedikit kesal saat tahu pasangannya Fatma, Fatma memang cantik Akan tetapi tubuhnya sedikit berisi tidak seperti Neha yang seksi tinggi semampai dan mempunyai postur tubuh yang sempurna di mata laki-laki dan sangat pas saat berdiri di samping Ardan yang tinggi mempunyai tubuh atletis walau usianya tidak muda lagi akan tetapi tubuhnya masih seperti anak muda.
Lomba di mulai, masing-masing pasangan menempelkan balon di dahinya dan menyatukan di dahi pasangannya. musik di mulai dengan lagu musik dangdut milik penyanyi terkenal Ayu tingting-sambelado.
Peserta mulai berjoget dengan mempertahankan balonnya. Ardan dan Neha tertawa lantaran mereka memang tidak tahu bagaimana berjoget. Mereka hanya berjoget sebisanya. lain halnya Fatma dan Johan yang begitu heboh dan tampak kompak.
“Awas saja kalau Bu Fatma jatuhin balonnya ya!" ancam Johan.
“Tenang saja, pak Johan. Saya dulu juara kalau lomba kayak gini.”
“Juara dimana?"
“Juata di RT saya.”
Johan tampak jengah mendengar jawab Fatma namun begitu mereka tetap kompak. sementara itu Neha dan Ardan seperti tidak bisa mempertahankan balonnya. Balonnya tiba-tiba terlepas dari kening masing-masing dan membuat mereka teratur dengan kening pasangannya. Akhirnya Neha dan Ardan gugur di babak pertama.
Ardan dan Neha menepi sambil tertawa lalu keduanya memilih duduk di tribun penonton. tak lama Sang Anak Arsy menghampiri mereka sambil membawakan dua botol minum.
“Papa!" sapanya lalu duduk di antara keduanya.
“Ini buat Papa, ini buat Kak!" Arsy memberikan air minumnya.
“Terima kasih Sayang, Mama kakak kamu?" tanya Ardan melihat Arsy bersandar di pundak Neha.
"Itu!" Arsy menunjuk Devan yang sedang duduk sendiri di tribun penonton paling atas sambil mendengarkan musik lewat earphone miliknya dan sambil membaca buku.
“Anak itu memang kutu buku!" cicit Ardan. Neha tersenyum saat melihat Devan lalu ia bangkit.
“Om! Neha ke atas dulu ya!" Ardan mengangguk kemudian Neha menghampiri Devan.
__ADS_1
Neha melihat Devan bukan hanya sekedar melihat anak yang kutu buku dan rajin belajar. justru Neha melihat sepertinya Devan menyembunyikan sesuatu.
“Hai!" sapa Neha seraya mengusap lembut kepalan Devan. Devan mendongak lalu membuka earphonenya dan tersenyum ke arah Neha yang kini duduk di sampingnya.
“Bu Neha!"
“Sudah makan?” tanya Neha.
“Sudah tadi di kantin.”
“Oh! Kamu lagi baca buku apa?" tanya Neha memperhatikan buku yang di baca Devan.
"Ini kak, Buku fisika.”
“Oh! Ya sudah lanjutkan.” Neha tersenyum dan mengusap pundak Devan.
“Kak.!”
“Hm!”
“Boleh Devan memeluk kakak sebentar?" Neha melihat penuh tanya sepertinya dugaannya benar ada yang di sembunyikan Devan.
Neha merentangkan tangannya dan memeluk Devan. Devan sepertinya menangis di dalam pelukan Neha.
“Kakak tahu kamu pasti rindu sama Mama kamu kan?” Devan mengangguk lalu sekilas menghapus air matanya.
“Makanya kamu melampiaskan semuanya dengan membaca?" Devan mengangguk dan mengusap air matanya. Neha merangkul Devan dan. mengusap pundaknya.
“Kamu boleh kok anggap Kakak Mama kamu, kalau kamu rindu sama Mama kamu. Kamu pejamkan saja mata kamu dan sebut nama Kakak tiga kali." Devan tertawa kecil mendengar kalimat Neha. ia tahu Neha hanya menghiburnya. Mana mungkin hanya menyebutkan nama orang yang di sebut akan muncul begitu saja.
“Devan berharap Kakak nantinya jadi Mama sambung kami!" Devan tersenyum lalu melihat Sang Papa yang yang sedang berjalan menghampirinya bersama Arsy.
__ADS_1