
“Loh? Amara. Kok belum pulang?” tanya Johan pada Amara. yang berdiri di anak tangga dekat kelas Daren.
“Eh! Pak Johan. Ini pak lagi nunggu Kak Daren.”
“Oh! Kamu udah gak apa-apa? Ada yang sakit habis jatuh tadi pagi?”
“Gak,Pak. Gak apa-apa kok."
“Amara! Ayo pulang!" seru Daren membuat Johan dan Amara melihatnya.
“Selamat siang, pak Johan. Kami duluan, mari!"
Johan mengangguk dan melihat Daren merangkul Amara turun dari tangga. Tak lama ia pun mengikuti langkah mereka turun dari tangga.
sepanjang lorong Johan melihat Amara dan Daren yang sedang berjalan menyusuri koridor menuju parkiran. Dirinya tersenyum melihat Kakak dari seorang adik yang begitu saling menyayangi. Johan menggelengkan kepalanya lalu ia masuk ke kantor guru. Saat masuk ia terkejut melihat Fatma sedang mencari sesuatu di kolong mejanya. Bukankah seharusnya Fatma sudah pulang. Tapi kenapa masih berada di sekolah.
“Ahem!"
‘Duk' Fatma terkejut dan terbentur meja saat mendengar deheman Johan. Rekan yang lain tertawa melihat Fatma yang perlahan keluar dari kolong meja.
“Pak Johan! Hobby banget sih bikin orang kaget!" kesal Fatma melihat Johan membereskan mejanya yang tak jauh dari meja Fatma.
“Jantung Bu Fatma saja yang lemah!" balas Johan yang menambah Fatma kesal.
“Lagian Bu Fatma ngapain masuk kolong meja? Mencari sesuatu? Atau mencari perhatianku?” Tawa yang lain makin pecah.
Fatma melebarkan matanya ke arah. Ia begitu kesal padanya. Sedangkan Johan menahan tawa melihat ekspresi kesal Fatma.
“Ih...! Sorry sorry to say ya! Ogah cari perhatian Sama Bapak! Ih...!" Fatma mengambil tas lalu melenggang keluar.
Johan hanya tertawa kecil kemudian ia juga keluar di ikuti guru lainnya yang akan pulang. sesampainya di parkiran, Johan melihat Fatma sudah melajukan mobilnya keluar dari gerbang sekolah. Johan hanya tersenyum melihatnya.
Tak begitu lama ia pun masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya. Tak disangka belum ada beberapa menit dan ia mengendarai mobil. Johan melihat Fatma sedang berdiri di samping mobilnya dan melihat Fatma menendang ban mobil. Sudah pasti ban mobil Fatma sedang bermasalah. Johan menepikan mobilnya lalu turun menghampiri Fatma.
“Kenapa mobilnya, Bu Fatma?"
”Bocor!” ketus Fatma. Johan hanya tersenyum miring melihat Fatma yang selalu sentimen padanya.
__ADS_1
“Bocor atau memang ibu mencari perhatian dari saya!” Fatma menyeringai sambil mengibaskan tangan di depan wajah Johan.
“Gak usah ge-er deh, Pak! Kalau gak mau bantuin gak usah usil.” Fatma kemudian melangkah menuju bagasi mobilnya untuk mengambil serep ban mobilnya. Tak lama Johan menghampirinya dan bersandar di badan mobil. Ia melihat Fatma berusaha mengakat ban.Namun Fatma tidak kuat mengangkatnya. Fatma melihat kesal ke arah Johan. Sedangkan Johan menyeringai sambil menggulung kemejanya. Tak lama ia mengambil alih mengangkat ban lalu menggelindingkannya ke dekat ban yang bocor.
“Mana kunci dan dongkraknya!” pinta Johan tanpa melihat tatapan kesal Fatma. Walau begitu Fatma tetap mengambil apa yang diminta Johan. Fatma menyerahkan dongkrak dan kuncinya pada Johan lalu Johan mulai mengerjakannya.
Hampir satu jam Johan mengganti ban mobil Fatma. Selama satu jam itu Fatma memperhatikan Johan penuh arti. Ada sedikit rasa yang menggelitik di hatinya. Namun buru-buru ia tepis, Mengingat kejahilan Johan yang membuatnya kesal. Melihat wajah Johan yang sedikit kotor karena terkena sisa oli saat mengelap wajahnya. Fatma bergegas ke warung yang tidak jauh dari mobilnya yang mogok. Fatma membeli minuman dan tisu basah, setelahnya ia kembali menghampiri Johan.
“Ini minum!” seru Fatma saat melihat Johan sudah selesai mengganti ban mobilnya.
Fatma menyodorkan tisu lebih dulu agar Johan mengelap tangannya. Johan mengambil tisu basah lalu mengelap tangannya. Kemudian mengambil botol minuman dari tangan Fatma.
“Makasih!” ucap Johan.
Fatma hanya diam dan berdiri di depan Johan sambil berusaha membuka tutup botolnya yang sedari tadi ia tidak bisa membukanya.
“Awas!” seru Johan menarik Fatma tiba-tiba dan terhempas di pelukannya. Fatma hampir saja terserempet mobil. Karena ia berdiri hampir di tengah jalan.
Fatma terkejut dan menyembunyikan wajahnya di dada Johan dan masih memejamkan matanya. Tak lama Johan melepaskan rangkulan dan melihat Fatma yang masih memejamkan matanya.
“Berdirinya kurang di tengah Bu, biar di cium mobil atauau saya yang cium." Seketika Fatma membuka matanya lalu mundur satu langkah kemudian menepuk dada Johan.
“Ini. lap wajah Bapak.” Fatma menepukan tisu basahnya di dada Johan lalu ia membereskan dongkrak dan kunci lainnya.
Johan hanya tertawa kecil melihat Fatma lalu ia membantu memasukkan bannya ke bagasi.
“Terima kasih!" ucap Fatma lalu meninggalkan Johan masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukan mobilnya.
Johan hanya menggelengkan kepalanya. Ia merasa senang jika melihat Fatma semakin kesal padanya.
***
Kediaman Ardan.
Siena dan Neha sedang memasak bersama sementara itu Nathan dan Ardan membahas acara resepsi pernikahan di meja makan sambil menemani istri-istri mereka memasak. Ardan hanya mengiyakan kemauan Mertuanya itu yang penting terbaik untuk Isterinya.
“Begitu saja konsepnya. Semua pakai adat India."
__ADS_1
"Hm! balas Ardan.
“Nanti aku pesankan baju pengantin kalian langsung dari India."
“Hm! Berapa aku harus mentransfer uangnya."
'Plak!'Nathan menepuk pipi Ardan.
“Aduh! Sakit bego!" cicit Ardan mengusap pipinya.
“Aku gak butuh uang kau! Ini buat anak perempuanku dan menantuku.”
“Aku kan menantu kau!”
“Nah itu tahu! Jadi kau bayar aja itu cateringnya sama WO. Gak perlu sewa gedung. Acaranya di rumah Almarhum neneknya Neha.
“Hm! Apa lagi?"
“Biaya hotel sama tranportasi pulang pergi Keluarga Neha dari India. Semua ada 20 Orang."
“Kelas ekonomi ya!" canda Ardan.
“Gak! Kelas bisnis!"
“Sudah, pak Ardan tidak usah mendengarkan Papa Neha. Semua akomodasi dari India, pulang pergi serta penginapan sudah Saya tanggung." sambung Siena yang tidak tega suami putrinya terus dianiaya suaminya.
“Sayang, Kenapa di kasih tahu?"
“Sudah! Ayo makan siang!” saut Neha meletakkan hasil masakannya di meja lalu menyingkirkan buku dan pulpen dari hadapan Papanya kemudian duduk di samping Ardan di ikuti Siena duduk di samping Nathan.
Mereka makan bersama dengan canda tawa. Nathan tersenyum melihat putrinya begitu tulus mencintai suaminya. Ardan juga tampak lebih bahagia.
“Aku tidak tahu takdir kalian di masa depan seperti apa. Karena memang aku tidak tahu apa pun. Aku hanya berharap kalian bahagia. terutama kamu Ar!” batin Nathan.
“Oh ya Pa! Urusan KUA apa sudah selesai?" tanya Neha di srla makannya.
“Sudah sayang! Kamu tinggal beres. pokonya nanti kalian berdua tinggal enaknya aja. ”
__ADS_1
“Enaknya udah!" sambung Ardan nyeleneh membuat gelak tawa Neha
“Aih... kau ini.” saut Nathan tertawa kecil melihat sang anak yang tertawa bahagia begitu juga Siena yang juga ikut senang melihat putrinya bahagia.