TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 18 RESTU


__ADS_3

Setelah Ardan pulang Neha membujuk ayahnya yang masih berada di dalam kamar. Beberapa kali Neha mengetuk pintu kamar Nathan tapi sang Papa tidak membukakan pintunya. Bahkan Siena juga ikut membujuk Nathan tetapi tetap saja Ia tidak mau membuka pintunya.


“Papa! Buka pintunya. Seharusnya Neha yang ngambek Pa! Bukannya malah Papa yang ngurung diri.” teriak Neha di balik pintu. Siena tertawa mendengar putri sambungnya itu membujuk sang Papa.


“Pa! Makan dulu Pa! Neha udah masak makanan kesukaan Papa. Kalau Papa gak keluar di habiskan sama Mama!” Lagi-lagi Siena tertawa.


‘Klekk!’ Suara pintu terbuka.


Nathan memasang wajah datar dan masih dingin dengan sang Anak sedangkan Siena berhenti dari tawanya dan menahan tawanya melihat ekspresi wajah suaminya.


Neha memegang lengan Nathan berharap Nathan memeluknya. Tetapi Nathan justru menyingkirkan tangan anaknya.


“Ya sudah! kalau Papa gak setuju aku nikah Sama Om Ardan! Neha mogok makan. Neha gak mau lihat Papa! Neha gak mau nikah sama siapa pun. Biarin Papa punya anak perawan tua! Kalau gak aku kabur nikah sama Om Ardan!” Neha menghentakkan satu kakinya seperti anak kecil di depan Nathan lalu melangkah meninggalkan Nathan. Namun sebelum kakinya melangkah Nathan menahan lengannya.


'Plak!’ Nathan menampar Neha


“Nathan!!” teriak Siena.


Neha terdiam melihat Papanya sambil memegang pipinya. Ia syok sang Papa tiba-tiba menamparnya. Seumur hidupnya baru kali ini Nathan menamparnya.


“Apa kamu tidak mendengar kata Papa, hah! Papa bilang tidak! Ya tidak!"


“Nath!” teriak Siena.


“Diam, Sayang! Ini urusan seorang Ayah dengan putrinya yang keras kepala.” Neha masih tetap diam mencerna tindakan Nathan padanya.


“Dengar Neha Sharma Adam. Ardan sudah berumur, duda dua kali dan punya anak dua yang sudah remaja. Bahkan Ardan itu Om kamu yang pantasnya menjadi Papa kamu!”


“Apa mencintai pria dewasa dan matang seperti Papa sebuah kesalahan, Pa? Jika iya. Mama juga salah sudah mencintai Papa. Seharusnya Papa berkaca pada masa lalu Papa!”


Neha berlari menuju kamarnya dan menutup pintunya dengan kasar. Siena menatap tajam sang suami lalu menghampirinya.


“Apa kamu tidak ingat kisah kita Nath. Kita berdua mati-matian memperjuangkan cinta kita dari keras kepalanya Papa. Lantas kamu juga ingin seperti mertuamu?” Siena kemudian masuk ke dalam kamar di ikuti Nathan.


“Bukan begitu, sayang! perbedaan usia mereka jauh!"


“Lantas kita?" Siena membalikkan badannya menghadap Nathan.


“Dengar dulu! Neha masih muda. Kalau tiba-tiba Neha meninggalkan Nathan karena mungkin 10 atau 15 tahun lagi Ardan sudah tidak menarik lagi. Apa tidak kasihan Ardan. Hah!"

__ADS_1


“Jadi maksud kamu, .kamu takut Neha ninggalin Pak Ardan?" Nathan mengangguk lalu merangkul Siena agar duduk di tempat tidur.


“Nath ... Dengar ya! putri sulung kita itu sudah dewasa. sudah pasti mempertimbangkan semuanya. Aku pikir kamu gak setuju karena mikirin anak sendiri malah mikir sahabatnya yang takut ditinggal. Dengar! Aku mendidik putri kita untuk setia dengan satu pasangan dan kamu tau bagaimana aku selalu mengajari Neha. Untuk Pak Ardan aku tidak pernah meragukan cintanya untuk putri kita. Aku yakin putri kita akan menjadi ratu di rumahnya.”


“Iya aku tahu!”


“Jadi kamu setuju?"


“Iya! Tapi?"


“Ya sudah nikahan langsung saja. mereka sudah sama-sama dewasa! Aku malah takut mereka diam-diam begituan, ingat ya! Sahabat kamu itu duda. Udah lama gak gitu. kamu lihat kan leher anak kamu udah kayak orang kerokan. Sudah tau Ardan orangnya ganas. Laras aja kewalahan.”


Nathan terdiam dan masih memikirkan kedepannya bagaimana. Disisi lain ia juga ingin sang putri bahagia dan ingin melihat sahabatnya juga bahagia.


“Bagaimana?”


“Lihat nanti. Aku mau uji cinta mereka dulu. seberapa besar cinta mereka. Lagian baru dua bulan kan mereka pacaran!”


”Jangan lama-lama. Keburu mereka nekat!”


”Iya! ya sudah makan yuk! lapar.”


“Dasar Nathan. Tua-tua manja!” Siena terkekeh dan mengusap rambut Nathan.


“Manja sama kamu sayang! Kamu gak mau kan aku manja sama janda!" Seketika Siena menjambak rambut Nathan.


“Aduh! Sakit sayang!”


“Janda mana!"


“Bercanda sayang!" keduanya tertawa sambil berjalan keluar kamar.


Siena menyiapkan piring untuk makan malam, sementara itu Nathan ke kamar Neha. yang rupanya pintu kamarnya tidak di kunci.


Nathan melihat putrinya tengah duduk di bawah bersandar di tempat tidur. Seperti waktu ia kecil saat sedang marah dan kesal pada sang Papa. Nathan duduk di sampingnya lalu memperhatikan wajah cantik putrinya.


“Maaf! Papa salah sudah menampar kamu! Papa hanya khawatir kamu suatu saat nanti pergi meninggalkan Ardan, saat Ardan sudah tidak menarik lagi di matamu. Kasihan kan Om Ardan harus di tinggal- tinggal terus. di tinggal Tante Laras, di tinggal Tante Andin, terus kamu ninggalin dia cari yang muda lagi.”


Neha mengusap air matanya dan melihat mimik wajah Sang Papa antara serius dan bercanda.

__ADS_1


“Memangnya Neha setega itu Pa, ninggalin Om Ardan. justru aku yang ketar ketir Om Ardan diam-diam di ambil wanita lain.” Nathan merangkul Neha lalu mencium pucuk rambutnya.


“Kamu yakin dengan Ardan, si tua Bangka itu?”


“Papa!" pekik Neha tidak terima lalu menepuk dada Papanya.


“Papa juga sudah tua!" Neha memeluk erat Nathan sambil keduanya tertawa kecil.


“Ya sudah beritahu Ardan besok suruh datang ke rumah pagi-pagi. Papa merestui kalian dengan satu syarat kamu tidak boleh meninggalkan Ardan apapun yang terjadi.” Neha melihat Wajah Papanya dan menangis haru seperti anak kecil .


“Terima kasih ya, Pa!”


“Iya sayang! Papa minta maaf ya tadi udah kasar sama kamu!”


“Papa jahat.”


“Ini tampar Papa balik!" Nathan menunjukkan pipinya. Neha justru tambah menangis lalu mencium pipinya dan mereka saling berpelukan.


“Sudah. Makan yuk!” ajak Siena dari ambang pintu.


“Ayo sayang! katanya kamu tadi masak buat Papa!"


“Bukan buat Papa tapi buat Om Ardan.”


“Heh!” Siena dan Neha tertawa melihat ekspresi Nathan.


“Jadi! tadi cuma sogokan?" Neha menyunggingkan senyumnya dan mengusap sisa air matanya.


“Papa sama Mama duluan, Neha mau telepon Om Ardan dulu!"


“Cie...! Yang udah dapat restu! Sikat sayang, jangan lepas!"


“Papa! jangan meledek ku. Ngambek nih!"


“Jangan sayang. Papa itu gak bisa liat kamu ngambek.”


“Ya udah sana dulu, Pa!" Neha mendorong Nathan keluar kamarnya sambil tertawa kecil.


Nathan juga senang melihat anaknya tertawa. Kebahagiaan putrinya adalah segalanya. ia juga tahu bagaimana Ardan sudah pasti nanti akan menjadikan putrinya sebagai ratu di rumahnya dan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2