TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 49 BERDEBAR-DEBAR


__ADS_3

Kasus Amara rupanya tidak main-main. Ardan sendiri yang turun tangan. Ardan memutuskan untuk memindahkan Aretha ke sekolah lain dengan alasan pertukaran pelajar. Karena Laras sudah tidak terima anaknya masuk rumah sakit sampai dua kali. Amara sendiri juga tidak mau sekolah, jika masih ada Aretha disekolah. Bukan berarti Amara takut melainkan Amara tidak ingin murka dan mencelakai seseorang.


Ardan juga memberi peringatan pada semua siswanya tidak ada yang boleh menyukai gurunya dalam arti personal. Cukup menyukai sebagai murid dan guru. Jika melanggar siswa maupun guru akan mendapatkan saksi berupa drop out atau pemecatan bagi guru tersebut.


Saat mendengar peraturan baru tersebut, baik Amara maupun Johan hanya tersenyum.Karena memang mereka tidak ada hubungan personal di antara mereka.


Setelah kasus Amara selesai Johan mulai fokus dengan hubungannya dengan Fatma . Amara sendiri juga fokus belajar serta diam-diam menjalin kasih dengan Devan, Walau saat bertemu Johan hati dan jantungnya selalu berdebar-debar. Amara memang merahasiakan hubungannya dengan Devan karena ia tahu jika Bella juga menyukai Devan.


Ardan sendiri juga lebih fokus dengan pekerjaan dan istrinya yang sedang hamil muda, yang terkadang membuat dirinya kuwalahan menuruti hawa nyidam sang istri. Ditambah harus mengawasi putra-putrinya yang saat ini sudah mngenal cinta.


Untuk Bara sendiri, dirinya hanya bisa mencuri-curi pandang pada Fatma. Entah kapan bisa mencari celah untuk mendekati Fatma.


perjalanan cinta Ardan kini sudah berakhir dan berlabuh pada putri sahabatnya, Neha Sharma Adam. Orang yang dari dulu ia kenal dan menjadi keponakan tirinya. Kini menjadi istri sahnya, yang saat ini juga mengandung buah cintanya.


Namun saat ini Ardan dan Neha tengah dipusingkan dengan kisah cinta anak-anaknya. apalagi anak-anaknya menjalin asmara dengan anak dari mantan istrinya. otomatis iapun tidak bisa benar-benar keluar dari kehidupan mantan istrinya.


"Mas, Kok ngelamun?" tanya Neha sambil memberikan kopi untuknya.


"Gak apa-apa, cuma kepikiran sama anak-anak. Ternyata mereka sudah beranjak remaja.”


“Terus apa yang mas khawatirkan” Neha duduk di samping Ardan.


Memang terlihat jelas, bahwa Ardan sangat khawatir dengan anak-anaknya.


“Mereka sudah tahu cinta-cintaan.” Neha tertawa kecil dan melihat Ardan. Sepertinya ia lupa jika dulu pernah muda dan juga pernah berpacaran.


"Mas lupa ya, Mas juga pernah pacaran waktu seumuran mereka?"


"Jaman Mas, gak ada pacaran waktu seumuran mereka sayang. Mas dulu pacaran cuma sama Mamanya Amara." Neha semakin tertawa. Karena ia tahu Suaminya dulu malah justru lebih meresahkan.


"kenapa tertawa?” Ardan melihat sang istri heran kenapa dirinya justru tertawa.


"Apa Mas gak ingat? Mas pacaran sama murid usia lima belas tahun anak dari Syasa pandita Kusuma."


"Ya ... iya sih tapi ... dulu itu saling komitmen dan gak ngapa-ngapain . berani ciuman aja, nunggu dia 18 tahun. Ya lebih ngejaga aja."

__ADS_1


Neha tersenyum lalu berdiri duduknya. sedikit cemburu, namun lebih memilih, ya sudah. Yang berlalu biarlah berlalu. Neha menuju dapur dan mengambil buah apel lalu mengupasnya.


Ardan memandangi Neha, sepertinya ia salah bicara. Ardan mengusap kasar wajahnya lalu menyusul Neha ke dapur. Ardan memeluk Neha dari belakang dan mengecup pipinya dan mengusap perut Neha..


"Kamu cemburu?"


"Sedikit! Tapi untuk apa? Semua punya masa lalu. Aku juga tahu masa lalu Mas dan tante Laras seperti apa!"


Ardan melepaskan pelukannya kemudian bersandar di kitchen set dan memperhatikan wajah Neha lalu menggelengkan kepalanya. Bukannya dirinya tadi yang membahas Laras lebih dulu , tapi kenapa dirinya yang kesal sendiri. Wanita memang susah di mengerti. beruntung ia paham cara mengatasinya.


***


Amara dan Arsy serta berjalan santai menuju kantin sekolah. Mereka bertiga tertawa dan bercanda seperti biasanya.


"Oh ya, Amara. Tangan kamu udah baikan?" tanya Bella.


"Udah, kan udah dua bulan, tapi masih kontrol bulan depan." Arsy dan Amara hanya mengangguk mengerti.


"Oh ya Ar, Kandungan Mama kamu udah berapa bulan?" tanya Amara


"Asyik ...makan!" seru bella.


"Kamu itu pikirannya makan terus!" Arsy mendorong Bella dan mereka tertawa.


"Habis giman, dong! Gak makan akau gak bisa mikir."


"Sudah . Kita udah di tunggu Kak Devan sama kak Daren." Mereka kemudian mempercepat langkahnya menuju kantin.


Sesampainya di kantin, Arsy langsung duduk di sebelah Daren. Amara duduk d paling ujung meja dan Bella duduk di samping Devan. Amara memang sengaja duduk di kursi bagaian ujung meja, sebab tidak ingin tangannya yang baru sembuh itu tersenggol Bella atau Devan.


Daren tampak begitu mesra dan manis memperlakukan Arsy, Sampai-sampai mereka bertiga malu melihat sikap Arsy dan Daren bak orang dewasa. Sementara itu Amara juga Diam-diam memperhatikan Johan yang juga tampak mesra dimatanya. Lalu pandangannya beralih pada Devan yang makan sambil asyik melihat Ponselnya bersama Bella.


Sebenarnya Amara tidak menyukai Devan terlalu dekat dengan Bella, tetapi mau bagaimana lagi. semua orang hanya tahu mereka hanya berteman dekat.


Amara menyelesaikan makanya lebih dulu. karena ia merasa panas melihat semuanya terlebih melihat Johan dan Fatma.

__ADS_1


“Guys ... aku ke toilet ya!" pamitnya.


“Mau aku temenin gak?" balas Bella.


“Gak usah. Kau mau nunggu aku menabung!"


“Sial!" Bella melempar tisu ke arah Amara lalu keduanya tertawa di ikuti lainnya.


Amara melangkah pergi dan sebelum itu matanya menatap Johan yang sedang makan. Tidak sengaja pula Johan melihat Amara. keduanya tersenyum lalu mengangguk.


Debaran hati Amara semakin kuat saat Johan tersenyum padanya. Cepat-cepat Amara beranjak melangkah menuju toilet. Sesampainya di toilet, Amara mencuci wajahnya. Melihat dirinya di cermin, membayangkan wajah Johan.


“Kenapa aku lahir belakangan, sih!” batinnya dalam hati.


Amara kembali membasuh wajahnya berharap wajah Johan pergi dari ingatannya.


“Ayolah ... pergi...! Amara ... kenapa kau gak sadar sih, Pak Johan itu laki-laki dewasa, sedangkan kau itu masih ingusan. Gak, gak, gak! Perasaan ini cuma sementara. Iya! Hanya sementara.” batinnya lagi.


Namun bayangan wajah Johan terus melintas di wajahnya hingga dirinya kesal sendiri. Dirinya pun langsung teringat ucapan Opanya.


“Sesuatu yang ditakdirkan untukmu, akan menjadi milikmu. Jika ia bukan takdirmu, ingin seperti apapun perjuanganmu hanya akan menjadi sia-sia. Dan berdoalah agar dirinya menjadi takdirmu.”


“Aish .... opa otakku belum sampai kesana buat mencerna ucapan Opa!"


Amara keluar dari toilet lalu berjalan ingin menuju tangga. Saat menaiki tangga Devan tiba-tiba meraih jemarinya.


“Astaga kakak!" Amara menepuk lengan Devan.


“Kamu lama di toilet, ngapain?” Mereka berdua berhenti di pinggir tangga.


“Biasa perempuan! Mana yang lain?" tanya Amara.


“Lagi lihat Mading. Ada pengumuman kalau besok ada murid baru, gantinya Aretha.”


“Oh!"

__ADS_1


***


__ADS_2