TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 55 TIDAK ADA ALASAN UNTUK MENCINTAI


__ADS_3

Amara hanya duduk di tribun penonton, melihat Arsy dan Daren latihan. Bella, Alex serta Ardi, mereka ikut serta karena ajakan Daren dengan iming-iming akan mentraktirnya jajan selama satu bulan dan jika menang Daren berjanji akan mentraktir mereka dua bulan.


Sedangkan Devan tidak ikut serta karena merasa bukan bidangnya. Devan lebih menyukai pelajaran fisika dan kimia di banding dance dan sejenisnya. Devan menghampiri Amara dan duduk di sebelahnya.


“Kemarin kamu mau ngomong apa?” tanya Devan meraih jemari Amara. Amara tersenyum lalu menyingkirkan tangan Devan.


“Kak, kita putus aja ya!” Devan mengerutkan dahinya dan memandang Amara. Ada apa gerangan dengan gadis pujaannya itu. kenapa tiba-tiba minta putus.


“Putus? Memangnya Kakak salah apa?”


“Kakak gak salah apa-apa kok. Tapi aku gak mau membohongi hatiku sendiri dan juga perasaan kakak. Aku gak cinta sama kakak.”


“Tapi kenapa, Ra?” Devan mulai melihat Amara dengan serius.


“Aku gak cinta sama kakak, aku cinta sama orang lain! Aku gak mau nyakitin hati kakak ke depannya. Berhubung hubungan kita belum terlalu jauh, kita putus saja. Aku harap kakak mengerti.”


“Siapa laki-laki beruntung itu? Apa sekolah disini. Kelas berapa? Atau dia Alex.”


“Dia bukan anak sekolah! Yang jelas dia orang lain. Dan aku akan menunggu dirinya sampai kapanpun.”


“Baiklah. Aku juga tidak mau memaksa hatimu untuk membalas cinta kakak. Kakak terima keputusanmu. Semoga kamu bahagia.” Devan tersenyum walau hatinya perih harus mengetahui kenyataan jika selama ini Amara tidak mencintainya.


“Terima kasih, Kak! Ada yang begitu mencintai kakak.”


“Ya. Aku tahu.”


“Aku, keluar dulu! Terima kasih ya, kak!" Devan tersenyum tipis begitu juga Amara. Amara lega setelah mengatakan isi hatinya yang sebenarnya.


Amara meninggalkan Devan dan keluar dari lapangan basket. Amara memilih untuk pulang, karena jam pelajaran telah usai. Namun ia memutuskan untuk pergi ke kafe Mamanya.


Namun saat menuruni tangga ia tidak sengaja berpas-pasan dengan Johan.


“Ra! Baru mau pulang? Sudah selesai latihannya.”


“Sudah.” Amara tersenyum tipis.


“Yang lain mana?”


“Masih latihan.”


“Loh! Memangnya kamu gak ikut dance?" Amara menggeleng lalu melanjutkan langkahnya diikuti Johan.


“Kenapa gak ikut?”

__ADS_1


“Gak suka!”


“Kamu gak nunggu mereka pulang!” Amara seketika berhenti begitu juga Johan. Johan melihat Amara yang melihatnya datar.


“Untuk apa menunggu jika seseorang itu tidak mau menunggu!” Amara menatap Johan penuh arti, Johan sedikit menunduk lalu tersenyum tipis. Ia tahu maksud Amara.


Amara begitu berharap menunggu Johan menjawab sesuai apa yang di harapkan. Akan tetapi melihat ekspresi Johan hanya bisa tersenyum lalu Amara melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Johan.


Johan menatap Amara, ia menganggap itu hanya perasaan Amara sesaat. Jika suatu saat rasa itu pasti akan hilang sendirinya seiring waktu. Johan hanya menganggap Amara sebagai adik atau mungkin dirinya tidak menyadari perasaannya sendiri.


Amara meneteskan air matanya saat masuk kedalam mobil, sopirnya pun bingung,apa yang terjadi pada anak majikannya itu.


“Non...?”


“Gak usah tanya, pak. Jalan! Antarkan saya ke kafe Mama.”


“Baik Non.”


Air mata Amara semakin deras, hatinya begitu sakit mengingat ucapan Johan yang akan menunggunya, rupanya hanya untuk menghibur dirinya.


“Andai Bapak tahu apa yang dilakukan Bu Fatma dengan Pak Bara,” batin Amara yang semakin sesak mengingat pesan Bara untuk Fatma.


Sementara itu Johan duduk termenung di kursinya sesekali melihat Fatma yang sedang merapikan bukunya sambil bercanda dengan Neha.


“Pak Johan!” suara Fatma mengagetkan lamunannya.


“Ah, iya. Pulang sekarang?”


“Aku pulang nanti, masih ngawasi anak-anak latihan dance.”


“Oh, Kalau gitu aku pulang dulu ya! Ada pekerjaan lain yang harus aku urus.”


“Iya, Pak! Maaf ya!”


“Tidak apa-apa!” Mereka berdua tersenyum kemudian Johan pulang.


Sepanjang mengendarai mobil, pikiran Johan melayang entah kemana. memikirkan antara Amara dan Fatma.


“Arq...! Sial kenapa bocah ingusan itu bisa menggoyahkan komitmen ku bersama Fatma.”


Johan mulai bimbang dengan semuanya. disisi lain Amara masih terlalu muda, dan hanya pantas sebagai adik disisi lain perasaannya pada Fatma mulai goyah. Namun, mana mungkin ia menunggu bocah kecil itu.


“Baiknya aku makan lebih dulu! Lapar!” Johan kemudian menuju kafe milik Laras.

__ADS_1


Sesampainya di kafe Johan pandangan tidak sengaja melihat Amara sedang melayani pembeli.


Melihat Amara menggunakannya seragam kafe dan menggunakan aprond serta topi miliknya. ia sekilas tersenyum lalu masuk dan mencari tempat duduk.


“Selamat siang tu...,” ucap Amara terputus saat melihat Johan yang jadi pelanggannya.


“Pak, Johan!” Amara seketika melepaskan topinya lalu memasukan kedalam saku aprondnya.


“Kenapa di lepas topinya?"


“Gak apa-apa, Pak. Maaf Bapak mau pesan apa? Oh ya, Bu Fatma mana?”


“Bu Fatma masih ngasih arahan dance kakak kamu. Bapak pesan ikan goreng, minumnya jus jeruk dua. air mineral satu botol.”


“Baik Pak! Mohon ditunggu!” Johan mengangguk kemudian Amara mengambil pesanannya.


Johan terus melihat gadis kecil itu yang beberapa hari lagi ulang tahun ke 16 tahun. Johan melihat Amara dari segi fisik memang tidak seperti 16 tahun. Fisiknya sudah seperti wanita dewasa. Karena mungkin Amara juga rajin olahraga.


Johan mengusap kasar wajahnya mengingat ucapan Amara saat di lorong sekolah.


“Menunggu gadis kecil itu, apa aku bisa. Nanti kalau aku nunggu dia. Tiba-tiba di tengah jalan dia berubah pikiran bagaimana? Sial! Kenapa perasaanku di aduk-aduk sih.”


Amara dengan cekatan membawakan pesanan Johan dan meletakkannya di mejanya.


“Silahkan Pak, Maaf lama menunggu!” Ucap Amara sambil meletakkan pesanannya.


“Permisi pak! Selamat menikmati.” Amara hendak meninggalkan Johan. Namun Johan menahannya.


“Tunggu, duduk dan temani Bapak Makan.” Amara melihat tangan Johan yang memegang pergelangan tangannya, lalu melihat Johan yang juga menatapnya.


Amara duduk di kursi di depan Johan dan memberikan nampannya pada karyawan kafenya.


“Mbak tolong bawa ini!”


“Baik, Nona!”


Johan memandangi Amara, lalu meletakkan satu gelas jus jeruk untuknya.


“Jika Bapak harus menunggumu, Bapak harus menunggu berapa lama? Dan kenapa kamu cinta sama Bapak. Alasannya apa? Berikan satu alasan agar Bapak yakin untuk menunggu kamu!" Amara tersenyum dan melihat Johan.


“Tidak ada batasan menunggu orang yang kita cintai. Dan cinta tidak membutuhkan alasan apapun. Jika Bapak yakin silahkan menunggu saya, jika tidak lanjutkan hubungan bapak dengan orang yang Bapak anggap setia dan mencintai Bapak! Yang paling penting prinsip saya. mencintai tidak ada alasan mau orang itu sakit, miskin, kaya, tampan, buruk rupa. orang biasa, perbedaan umur, ras, suku, bangsa bahkan orang yang tidak memiliki apapun, kalau cinta ya cinta aja. Kenapa harus ada alasan. Kebetulan saja Menurut saya Bapak tampan, tapi bukan itu alasan dasar saya mencintai Bapak. Tapi lebih dari Rasa di sini.” Amara meletakkan telapak tangannya di dadanya. Johan tidak menyangka gadis yang belum genap 16 tahun itu mempunyai devinisi sendiri tentang cinta.


“Tapi saya akan mundur jika orang yang saya tunggu dan saya cintai tidak mengharapkan saya. Permisi!” Amara bangkit lalu sekilas mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh begitu saja dan Johan pun tahu itu.

__ADS_1


Amara tersenyum lalu meninggalkan Johan yang semakin bingung dengan rasanya sendiri.


__ADS_2