TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 66 DOKTER KHUSUS


__ADS_3

Amara berada di taman rumah sakit dan sedang duduk di kursi roda. di tangannya ada Pindul dan kertas bergambar. rupanya Amara sedang menggambar baju pengantin mimpinya, sesekali tersenyum melihat gambar yang ia buat. Tetapi ia juga menangis membayangkan jika usianya tidak panjang, sudah pasti Johan akan sangat kecewa sudah menunggunya dengan sia-sia.


Rambut Amara kini juga sudah mulai rontok. rambut panjang yang menjadi mahkota yang selalu ia rawat kini sebagian hilang akibat efek kemoterapi. Ia pun malu jika harus bertemu sahabat dan kekasihnya, Johan.


“Nona, Ini alat pencukur rambut yang anda minta," ucap suster membawakan alat pencukur rambut.


Amara berniat memangkas habis rambutnya, karena sudah percuma mempertahankan rambut panjangnya yang sudah terlihat menipis.


Amara mengambil alat tersebut bdan tersenyum tipis. “ Sus tolong bawa saya ke ruangan saya!” Pinta Amara.


“Baik Non.” Suster tersebut kemudian mendorong Kursi roda Amara menuju ruangannya.


“Non, apa keluarga belum datang?" tanya Suster.


“Belum, Sus. Mungkin sebentar lagi. Papa tadi pulang mau bertemu kliennya. Mama masih mengurus adik saya. Kakak saya kuliah. Kan ada Suster!” Amara dan Suster tertawa kecil.


“Kekasih Anda, Nona?"


“Jam segini biasanya di sekolah, mengajar!”


“Oh!" Suster tersebut lalu memasuki lift dan menekan tombolnya. Namun saat pintu lift akan tertutup seseorang menahannya dengan tangannya.


“Eetttsss!” serunya.


“Dokter Erick!" sapa Amara.


“Hai!” sapanya.


“Sus, biar saya saja yang antar Nona Amara ke ruangannya. Suster tersenyum tersenyum mengerti lalu keluar dari lift.


“Kamu sudah makan?" tanya dokter Erick yang sudah berdiri di belakang Amara.


“Makan gak makan juga saya tetap masih sakit!" Erick hanya bisa menghela nafas panjang, mencoba memahami emosi Amara yang tidak menentu.


Amara terdiam dan membenarkan topinya lalu sekilas melih alat pemotong rambutnya. Ia ragu ingin memangkas rambutnya, tetapi jika tidak ia pangkas rambutnya semakin menipis.


Erick keluar dari lift sambil mendorong kursi rodanya. Setiap hari bertemu Amara membuat ada rasa di hatinya. Rasa yang tidak pernah ia duga. Banyak suster yang melihat mereka dengan tatapan iri terlebih suster baru. Bagaimana tidak Keseharian Erick hanya bersama Amara dan tidak pernah berkunjung dengan pasien lain.


“Itu dokter baru ya? perasaan cuma sama Pasien itu saja.”


“Hus!! Itu dokter khusus menangani Nona itu saja. Dokter Erick di datangkan khusus dari Singapore hanya untuk mendampingi nona Amara. Nona itu sakit leukemia, sudah dua bulan dia di sini. Kemarin coba pulang ke rumah, baru dua hari di rumah, gak lama di larikan lagi ke rumah sakit karena mengeluh sakit kepala. Dan kamu tahu Nona itu cicitnya yang punya rumah sakit ini.”

__ADS_1


“Oh ... kasian ya! kayaknya masih muda.”


“Memang masih muda, baru 18 tahun,”


“Oh! Tapi enak ya jadi orang kaya, sakit aja punya dokter sendiri, khusus lagi.”


“Hus! Gak boleh begitu. Memangnya dia minta sakit! Gak lah. Udah ah balik kerja lagi! Jangan gosipin Cucu pemilik rumah sakit, di pecat mau!” Suster baru tersebut menggeleng lalu kembali bertugas.


Sesampainya di ruangan, Erick mengambil buku gambar dan pensilnya serta pencukur rambut dari pangkuan Amara, setelah itu meletakkannya di meja. Erick kembali lagi menghampiri Amara dan menjalankan tugasnya seperti biasa.


“Nona, Mari.” Amara melihat Erick lalu seperti biasa ia merangkul Erick dan Erick membopongnya kemudian membaringkannya di atas brankar.


Setelah itu Erick memeriksa Infus dan memeriksa denyut jantung dan nadinya. Erick tersenyum tipis dan menghela nafas panjang. Erick melihat makanan Amara yang belum ia makan.


“Nona makan ya!" pinta Erick.


“Tidak lapar, dok!"


“Sedikit saja, Nona!” Amara melihat makanannya lalu mengangguk pasrah. Erick membantu Amara duduk kemudian mengambilkan makanannya sambil menarik mejanya.


Erick membantu Amara membuka penutup makanannya. Amara melihat makanannya begitu tidak selera. ia menghela nafas lalu mengambil sendoknya.


Amara dengan malas menyendok makanannya lalu perlahan ia memakan makanannya. Saat makan tiba-tiba ia meneteskan air mata, ia teringat Johan. Ia takut Johan meninggalkan dirinya karena kondisi tak kunjung membaik.


“Tapi saya capek dok! Teman-teman saya hari ini ujian kelulusan sedangkan saya masih di rumah sakit, dengan penyakit yang entah kapan sembuhnya dan mungkin tunangan saya sebentar lagi juga akan meninggalkan saya.” Amara mendorong mejanya dan tidak melanjutkan makannya. Ia menangis tanpa suara, yang terdengar hanya helaan nafas sesaknya.


Eric bangkit lalu meraih kepala Amara dan memeluknya. Ia tahu saat ini Amara rasa krisis percaya diri.


“Tidak ada yang akan meninggalkan kamu. percayalah, Saya akan berusaha semaksimal mungkin mengobati penyakit kamu. Tapi tolong kerja samanya, Kamu harus semangat dan optimis.” Erick duduk di tepi brankar lalu mengusap air mata Amara.


“Minum ini, kamu juga butuh nutrisi.” Erick mengambilkan jus apel tanpa gula. Selain memantau kesehatan Amara Erick juga memantau Makanan dan minumannya.


Amara meminumnya sampai habis lalu kembali berbaring. Erick tersenyum melihat Amara yang sudah memejamkan mata. Perlahan mengusap keningnya. Setelah Amara terlelap ia pun keluar dari ruangan Amara.


Disisi lain Johan terburu-buru mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Seperti biasa setiap pulang sekolah ia menuju rumah sakit untuk menemani Amara.


Sesampainya di rumah sakit. ia pun bergegas ke ruangan Amara. Johan melihat Amara terlelap, ia lega Amara tidak seperti kemarin yang kesakitan dan mengeluarkan darah di hidungnya. Johan kemudian menuju kamar mandi untuk mandi dan mengganti bajunya.


Setelah selesai Johan seperti biasa duduk di kursi di samping brankar Amara. meraih jemarinya kemudian mencium punggung tangannya.


“Kamu pasti sembuh! Dan harus sembuh!” Johan mengusap kening Amara Amara dan membenarkan tutup kepalanya.

__ADS_1


“Kakak,” lirih Amara melihat Johan.


“Sayang, apa kakak ganggu tidur siang kamu?" Amara tersenyum dan menarik Johan.


“Mau peluk.” Johan tersenyum kemudian ikut berbaring di brankar. Amara memeluk Johan dan memejamkan matanya.


“Kakak sudah makan?”


“Sudah.”


“Temani Amara ya kak. Papa belum kesini lagi. ”


“Iya. Kakak akan terus menemani kamu.” Johan beberapa kali mencium kening Amara dan mengusap punggungnya.


Keduanya memejamkan mata hingga keduanya terlelap. Tak lama dia orang masuk dan tercengang melihat mereka berdua. siapa lagi kalau bukan Fatma dan bara yang datang untuk menjenguk Amara.


Bara dan Fatma saling pandang dan tidak berani berkata, terlebih melihat Ardan dan Neha tersenyum sambil menghampiri mereka.


Neha mengusap kening Amara dan tersenyum, membiarkan mereka tidur lalu mereka duduk di sofa menunggu mereka bangun.


Ardan duduk di samping sang isteri dan tersenyum melihat Bara dan Fatma yang masih tanda tanya melihat Johan dan Amara.


“Mereka sudah tunangan.”


“Apa?” pekik Fatma tidak percaya.


“Bukankah bapak melarang antara murid dan guru menjalin hubungan?" tanya Fatma.


“Di luar sekolah bukan tanggung jawab saya. jadi terserah mereka. Selama di sekolah mereka sangat profesional."


Fatma melihat Johan dan Amara yamg begitu mesra. Ada rasa iri dan sakit hati melihat kemesraannya.


***


cocok mana.


Amara - Johan



Amara- Erick

__ADS_1



__ADS_2