TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 6 GADIS CANTIK


__ADS_3

Setelah selesai makan soto mereka kembali ke ruangannya masing-masing. Neha kembali memeriksa tugas anak didiknya yang belum sempat ia selesaikan. Setelah selesai Neha memutuskan untuk pulang karena jam menunjukan jam 11 siang.


Neha keluar dari ruangan guru sambil serius melihat isi dalam tasnya. Karena sedang mencari kunci mobilnya.


“Dimana kunci mobilku!” gumamnya dan terus mencari kunci mobilnya sambil berjalan di koridor sekolah.


Karena tidak fokus berjalan airnya ia menabrak seseorang yang juga sedang fokus melihat ponselnya.


'Brakk!'


Tas Neha terjatuh dan ia pun kehilangan keseimbangan. Beruntung orang yang ia tabrak meraih pinggangnya. Sekilas tatapan mereka bertemu. Jantung keduanya pun sudah tidak menentu. Namun suara di seberang ponsel Ardan menyadarkan mereka. Ardan melepaskan tangannya dari pinggang Neha keduanya menormalkan sikap masing-masing dan Ardan menjawab kembali sambungan ponselnya.


“Baik tuan saya segera ke sana!” Ardan mengakhiri sambungan ponselnya lalu melihat Neha masih mencari kunci mobilnya di dalam tas yang sudah ia ambil.


“Maaf Neha!”


“Iya, tidak apa-apa Om! Neha yang tidak hati-hati” jawabnya sedikit gugup.


“Eum…,mau pulang?” tanya Ardan seraya memasukkan ponselnya ke saku celananya.


“Iya Om, tapi kunci mobil Neha entah kemana?”


“Coba dicari lagi!”


“Gak ada Om!


“Di saku jas?” Neha kemudian meraba saku jasnya dan rupanya kuncinya memang ada di sakunya.


“Astaga!!” Neha terkekeh sambil menepuk keningnya sendiri. Ardan juga tertawa kecil melihat Neha.


“Ya sudah Ayo!”


''Om mau kemana?” Mereka berdampingan menuju parkiran.


“Om ada meeting membicarakan desain cincin.” Neha hanya mengangguk karena ia tahu Ardan meneruskan bisnis almarhum Andin, Istrinya.


Tak lama mereka sampai di parkiran. Ardan mengantarkan Neha sampai di mobilnya dan membukakan pintu mobilnya.


“Hati-hati di jalan!” ucap Ardan saat Neha hendak masuk ke mobilnya.


“Iya Om! Terima kasih. Om juga hati-hati.” kedua tersenyum lalu Neha masuk kedalam mobilnya kemudian Ardan menuju mobilnya yang tak jauh dari mobil Neha.


Neha menyalakan mobilnya namun tak kunjung menyala. Neha keluar dan mengecek mobilnya.

__ADS_1


“Kenapa mesin mobilku,” gumamnya sambil membuka kap mobil miliknya.


Ardan yang melihat Neha membuka kap mobil pun keluar dari mobilnya dan menghampiri Neha kembali.


“Kenapa mobilnya?” tanya Ardan.


“Gak tahu Om! Tiba-tiba mati!”


“Coba Om cek!” Ardan mencoba mengecek mesin mobil Neha.


“Ini kayaknya businya harus diganti!”


“Terus bagaimana Om kalau gak nyala!”


“Udah gak usah panik! Nanti Om panggil orang bengkel!”


“Oh ya sudah! Kalau begitu Neha pulang naik taksi saja.” Neha tersenyum lalu mengambil tasnya di dalam mobil.


“Om antar pulang!”


“Tapi Om, kan mau meeting!”


“Kalau gak! Kamu ikut Om metting aja. Sudah gak ada acara atau kepentingan lain, kan?”


“Gak sih Om, ya sudah deh! Ikut Om saja.” Akhirnya Neha ikut Ardan meeting.


Ardan berjalan berdampingan dengan Neha masuk kedalam. Karena banyaknya pengunjung mall Ardan meraih jemari Neha dan menggenggamnya. Bak gayung bersambut genggaman Ardan dibalas Neha dengan erat. Keduanya tersenyum dalam hati dan hanya saling pandang.


Karyawan Ardan mengerutkan dahinya melihat bosnya membawa wanita cantik dan tampak mesra. Terlebih Ardan menggenggam jemari Neha. Sudah pasti Karyawan tersebut mengira Neha adalah kekasih Ardan yang baru.


“Selamat siang tuan! Anda sudah ditunggu klien.” sapa karyawannya saat melihat Ardan dan Neha masuk kedalam store.


“Siang! Oh ya Rumi tolong aja Neha ke ruangan saya.”


“Neha?Oh namanya Neha!” batin Rumi.


“Biak tuan! Mari Nona!” Neha mengangguk lalu dan sekilas melihat Ardan sedangkan Rumi sudah berjalan lebih dulu menuju ruangan Ardan.


“Kamu tunggu saja di ruangan Om. Om cuma sebentar!” ujar Ardan di angguki Neha lalu Ardan melepaskan genggaman tangannya dan melihat Neha berjalan menuju ruangan memilikinya sedangkan Ardan menemui kliennya.


“Silahkan Nona!” ucap Rumi mempersilahkan Neha masuk ke ruangan Ardan.


“Terima kasih Mbak!” Neha masuk ke dalam lalu duduk di sofa.

__ADS_1


“Nona mau minum apa?”


“Air putih saja!”


“Tunggu sebentar Nona. Saya Ambilkan.” Neha mengangguk lalu tersenyum kemudian Rumi keluar mengambilkan minumannya.


Neha melihat sekeliling ruangan Ardan yang tampak bersih dan rapi. Dengan berbagai ornamen modern terkesan elegan. Cat tembok putih yang mendominasi ruangan tersebut menambah kesan bersih dan rapi.


Tak lama Rumi masuk dan meletakkan minumannya di meja.


“Silahkan Nona!”


“Terima kasih Mbak!” Rumi tersenyum lalu keluar dari ruangannya.


“Jam 12.” gumamnya lalu minum air putihnya.


Neha tidak tahu harus melakukan apa di ruangan Ardan. Menunggu Ardan membuat dirinya bosan lalu ia membuka jasnya dan bersandar di sofa dan memejamkan matanya dan akhirnya ia tertidur.


Selang setengah jam Ardan masuk dan mendapati Neha tidur bersandar di sofa. Ardan tersenyum lalu menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Ardan mengusap lembut rambut Neha. Gadis kecil yang dulu terus mengganggunya dan minta gendong serta merengek minta coklat, kini tumbuh menjadi gadis cantik dan lemah lembut. Neha yang merasa ada yang mengusap rambutnya pun bangun dan melihat ke arah Ardan.


“Om! Maaf aku ketiduran!” ujar Neha laku mengusap wajahnya kemudian merapikan rambutnya yang ia gerai saat di mobil.


“Tidak apa-apa. Kalau masih ngantuk tidur lagi aja,” balas Ardan menepuk pundaknya.


“Om bisa saja. Udah gak ngantuk kok! Tapi lapar!” Neha terkekeh sambil memegang lengan Ardan.


“Ya sudah! Cari makan di sekitar sini. Ayo!” Ardan berdiri lalu mengulurkan tangannya. Neha tersenyum lalu menerima uluran tangan Ardan sambil mengambil tas dan jasnya yang ada di meja.


Mereka berjalan keluar sambil bergandengan menuju salah satu restoran yang ada di mall tersebut.


Semua karyawan Ardan hanya bisa saling pandang melihat Sang Bos begitu mesra memperlakukan Neha. Sementara Ardan dan Neha tidak peduli dengan tatapan semua orang. Mereka akhirnya memilih makan di Restoran milik Abi yang ada di mall tersebut. Mereka memesan ayam bakar dan jus jeruk.


“Om tau gak!” tanya Neha di sela makanya.


“Apa?”


“Neha itu paling suka menu-menu dari restoran Opa Abi,”


“Iya. Om juga suka menu-menu di restoran Abi. Tapi Om lebih suka masakan rumahan.”


Neha tersenyum melihat Ardan. Neha tahu betul bagaimana Ardan yang sangat menyukai masakan rumahan. Apalagi kalau yang memasak Laras mantan istri yang pertama.


“Nanti kalau hari libur Neha masak ayam bakar buat Om sama kayak gini!” ujar Neha.

__ADS_1


“Boleh! Nanti Om yang belanja kamu yang masak!”


“Belanja bareng aja Om, ajak Arsy sama Devan. Ramai-ramai sepertinya seru seperti dulu waktu Neha masih kecil.” Ardan tertawa kecil lalu meminum jusnya dan melihat Neha yang tersenyum padanya.


__ADS_2