TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 47 CINTA JAJAR GENJANG


__ADS_3

“Ini kemana orang tua Amara gak datang-datang!” gumam Johan berjalan kesana kemari lalu melihat Amara yang masih belum sadarkan diri brankar.


“Bapak tidak bisa duduk?” tanya Daren yang jengah melihat Johan berjalan kesana kemari.


“Kalau Bapak nunggu orang tua saya. Mereka datang sore. Mereka masih di Singapore! Kalau Bapak mau pulang. Pulang saja. Biar saya yang jaga Adik saya.”


Johan melihat Daren lalu mengusap kasar wajahnya. Mana mungkin dirinya pulang begitu saja. Ini terjadi juga karena dirinya. Johan menghampiri Amara dan duduk di kursi. Melihat Amara penuh arti dan membayangkan bagaimana Amara yang sudah mengunci Aretha di tembok dengan kakinya. Tidak menyangka gadis manis lembut itu pintar bela diri.


Johan mengusap lembut rambut Amara dan seketika teringat Almarhum adiknya yang meninggal setahun lalu.


‘klekk’ Pintu terbuka, Daren dan Johan melihat be arah pintu Rupanya Neha, Fatma, ,Bara dan Arsy serta Devan dan juga Bryan datang untuk menjenguk Amara.


“Opa!” sapa Daren lalu menyalami semuanya.


“Opa!" sapa Johan lalu berdiri menyalami semuanya. Bryan tersenyum rupanya Johan yang menjaga cucunya.


“Bagaimana keadaan Amara?" tanya Bryan.


“Masih belum sadarkan diri Opa! Saya khawatir dengan tangannya. kemarin belum sembuh, tadi sudah berkelahi,”balas Johan.


Bryan bukan panik atau cemas. Justru ia bangga pada Amara yang meluapkan kekesalannya pada orang yang tidak menyukainya. Selama ini Bryan hanya tahu Amara hanya diam jika di senggol. Tapi mungkin ini emosinya sudah tidak dapat ia tahan.


“Tidak apa-apa. Biarkan dia istirahat.” Bryan menepuk pundak Johan.


Arsy duduk di samping Daren sambil membawa makanan. Arsy mengambil paksa ponsel Daren dan memasang wajah marah. sementara itu Johan duduk di sofa kosong tak lama Fatma menghampirinya sambil membawa makanannya.


“Makan dulu kak!" Arsy membukakan kotak makanannya.


“Suapin!"


“Kakak!" Namun Arsy tetap menurutinya. Arsy menyuapi Daren layaknya pasangan dewasa yang sedang jatuh cinta


Neha dan Bryan yang duduk berdampingan melihat satu persatu. Daren dengan Arsy, Devan yang sedang duduk di kursi di samping brankar Amara lalu melihat Johan sedang makan di samping Fatma. Fatma pun begitu perhatian. Sementara itu Bara terus melihat Fatma dan itu terlihat jelas di mata Neha dan Bryan, Bara sedang cemburu, Sementara Johan sesekali melihat Amara.


“Bakal terjadi cinta jajar genjang,” pekik Bryan lalu melihat Neha.


“Daren dan Arsy gak Opa!”

__ADS_1


“Kalau mereka beda, sayang. Arsy itu kelemahan Daren dari dulu. walau usia mereka masih muda dan belum pantas berpacaran tapi mereka itu saling setia dan menjaga. Tapi kamu lihat mereka berlima. Kamu mengerti, kan." Neha melihat Bara yang tetapanya begitu dalam pada Fatma. sedangkan Fatma begitu perhatian dengan Johan dan Johan sendiri justru melihat kearah Amara yang masih terbaring. Devan sendiri menggenggam jemari Amara.


“Opa ... kalau Amara itu gak pantes sama Pak Johan. Jangan memaksa. Nanti bagaimana dengan Devan.”


“Terus kamu sama suami kamu? lebih jauh perbedaannya. Amara sama Johan gak begitu jauh. hanya menunggu waktu Amara dewasa seenggaknya 3 tahun lagi.”


“Opa ngaco! Dari Amara sendiri kita gak tau, suka sama siapa?" Neha kemudian berdiri lalu melihat Amara. Bryan seakan yakin Johan itu untuk Amara. Untuk saat ini membiarkan semua mengalir apa adanya.


Setelah selesai Makan Johan sejenak mengobrol dengan Fatma. Semakin hari mereka terlihat mesra. Walau keduanya belum mengutarakan cinta satu sama lain.


“Ini ramai sekali ada apa?” lirih Amara yang sudah sadarkan diri.


“Amara!!” seru semuanya, kecuali Bara dan Fatma. Johan dan Daren langsung beranjak dari duduknya menghampiri Amara. Devan yang sedari tadi duduk di sampingnya tersenyum senang melihat Amara sudah sadar.


Johan berdiri di samping brankar Amara begitu juga dengan yang lainnya.


“Syukurlah kamu udah sadar. Kakak Khawatir.” ucap Devan. Amara mengerutkan dahinya lalu menarik tangannya dan mendorong pipi Devan.


“Tadi aku perang dunia, Kakak ke mana sama Bella. Malah udah duluan turun istirahat. Sekarang Bella mana, kok gak ikut kesini.” protes Amara.


“Iya, kan mau pesan makanan buat kamu sama Arsy.”


Amara kemudian melihat Johan lalu melihat semuanya. Diam-diam Amara meraih jemari Johan tanpa ada yang mengetahui kemudian melihat Johan dan tersenyum tanda terima kasih. Johan pun membalas genggaman Amara sebagai tanda terima kasih kembali.


“Tadi yang menolong kamu dan membawa kamu ke sini pak Johan, loh!" ujar Arsy.


“Iya ... aku tahu. Karena waktu Pak Johan angkat aku. Aku sebenarnya sedikit sadar tapi mata sama badanku itu lemes. Tapi habis itu gak tau apa-apa, tau-tau udah disini” jelas Amara yang masih menggenggam jemari Johan. Namun Johan perlahan melepaskan genggamannya. Karena Fatma menghampirinya dan berdiri di sampingnya.


“Pak Johan aku pamit pulang ya.” ucap Fatma pelan.


“Mau aku antar?"


“Gak usah! Saya bawa mobil sendiri. Bapak juga kan harus nunggu orang tua Amara. Harus tanggung jawab sampai selesai.” Fatma tersenyum lalu melihat Amara.


“Amara ... Bu Fatma pamit ya! Istirahat sampai sembuh ya!"


“Terima kasih, Bu Fatma." Fatma tersenyum lalu sekilas melihat Johan dan mengusap bahu Johan kemudian Fatma pulang.

__ADS_1


***


Neha berusaha bangun. Namun kepalanya terasa berat. perutnya terasa mual. Dengan susah payah ia berjalan menuju kamar mandi lalu muntah. Namun tidak ada satu pun isi perutnya yang keluar.


Arsy dan Devan turun dari lantai atas untuk berangkat sekolah. Namun sebelumnya mereka ke ruang Makan untuk sarapan. Tetapi tidak ada sarapan apapun.


“Mama gak masak ,kak!"


“Jangan-jangan Mama sakit lagi!" Arsy dan Devan. kemudian bergegas menuju kamar Neha.


“Ma!" panggil Arsy.


“Mama!" seru Devan sambil mengetuk pintu.


“Gak di jawab, kak!" Devan kemudian membuka pintu kamarnya.


“Ma!" seru Arsy.


“Hem!" jawab Neha yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Ma! Mama kenapa? Mama sakit!" tanya Devan yang sudah membantu Neha berjalan menuju tempat tidur.


“Kepala Mama sedikit pusing, sayang. Mual! Kalian mau sarapan? Mama buatkan sarapan ya!" Neha hendak berjalan keluar.


“Tidak usah, Ma! Mama istirahat ya. Biar kami buat sarapan sendiri. Arsy telpon Papa ya, Ma!"


“Tidak usah Sayang! Papa masih sibuk.” Devan membantu Neha berbaring.


“Nanti yang jaga Mama siapa?"


“Ada Bibi! sebentar lagi sampai.”


“Devan buatkan teh hangat ya, Ma!” Neha mengangguk kemudian Arsy dan Devan keluar kamar.


Devan dan Arsy membuat sarapannya sendiri-sendiri. tak lupa membuatkan sarapan untuk Neha. Mereka membuatnya sebisa apa yang mereka buat dan bentuknya juga entah seperti apa. Sebelum sarapan Arsy mengantarkan sarapan untuk Neha ke kamar.


Mereka berdua kerja sama mengurus sang Mama sebelum berangkat sekolah.

__ADS_1


***


komentar Mana ini...


__ADS_2