TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 54 TETAP MENUNGGU


__ADS_3

“Kakak!!” seru Arsy berlari menghampiri Daren yang masih berjalan di lorong sekolah sambil merenggangkan tangan.


Daren menyambutnya dengan merentangkan tangannya dan mereka saling berpelukan. Dua remaja itu tidak peduli dengan pandangan iri teman-temannya. Beruntung gedung kelas SD dan TK terpisah dari gedung SMP dan SMA, jika tidak mungkin mata anak-anak sudah ternodai dengan kemesraan mereka berdua.


“Kakak hari ini wangi banget, ganti parfum ya?” ujar Arsy yang kini berjalan sambil merangkul pinggang Daren.


“Hm! Parfum keluaran terbaru khusus buat remaja. Ini belum ada iklannya. Kemarin itu papa bawa beberapa contoh parfum dari pabriknya. Ya sudah kakak coba! Kamu suka?"


“Hm! Jangan ganti ya! Aku suka wanginya.” Daren tertawa kecil lalu mencium pipi Arsy dengan gemasnya.


“Kakak pelan-pelan!” Arsy sedikit mendorong Daren.


Amara yang berjalan di belakang mereka hanya menghela nafas panjang. Ingin protes juga tidak mungkin. mereka memang sangat serasi dari kecil dan tidak ada yang berani menegur mereka termasuk guru-guru.


Devan dan Bella menunggu mereka di ujung anak tangga. Mereka berdua pun hanya tersenyum melihat kebersamaan Arsy dan Daren.


“Best couple!” Seru Alex yang duduk di anak tangga.


“Apa sih Lexs! Aku, Arsy ... itu memang the best couple di sekolah ini dari Arsy TK.”


“Iya Percaya! Yuk naik!” aja Alex.


“Guys! Tunggu!” teriak Ardi yang kini sudah akrab dengan mereka.


“Hai bro!” sapa Devan kemudian mereka sekilas saling tos.


“Kalian udah tahu informasi terbaru gak?” ujar Ardi membuat semua melihatnya dengan serius termasuk Amara yang tadi cuek berdiri di belakang Daren sambil memainkan ponselnya.


“Kabar apa?” tanya Bella penasaran dengan.


“Mau ada lomba dance!”


“Serius!” balas Arsy penasaran.


“Iya! Barusan ada pengumumannya di tempelin di mading.”


“katagorinya apa?” tanya Arsy antuasias.


“Bebas!”


“Aku mau ikut, Kak aku mau ikut, boleh ya?"


“Gak!” balas Daren tidak suka jika Amara menari di depan banyak orang.


“Kakak...!” renggeknya manja. Daren melepaskan rangkulannya lalu melihat Arsy.


“Ennngggakkk...!” Daren mengecup kening Arsy lalu menaiki tangga.


“Kakak nyebelin!” Rajuk Arsy menghentak satu kakinya lalu berlari menaiki tangga mendahului Daren. Namun Daren hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Ra! Kamu gak ikut?" tanya Alex.


“Gak! Kalau karate di ring aku mau!” balas Amara sekilas melihat Kedatangan Johan bersama Fatma.


“Kalian kalau mau ikut, ikut aja. minta bimbingan sama Bu Fatma, Dia Aslinya guru tari!” ujar Amara lalu menarik tangga. Namun tak lama ia berhenti lalu menoleh ke arah Devan.


“Kak Devan, istirahat nanti aku mau ngomong empat mata sama kakak.” Devan mengerutkan dahinya sekilas melihat Bella lalu mengangguk.


“Iya!” Amara tersenyum lalu melihat Amara sekilas dan melanjutkan menaiki tangga.


“Amara mau ngomong apa?” tanya Bella.


“Gak tau! Ya udah ke kelas yuk!” Devan melangkah menaiki tangga bersama Bella.


Bella berjalan di samping Devan sambil memegang lengannya sedangkan Alex dan Ardi mengangkat kedua bahunya kemudian menyusul mereka.



Arsy menyusul Daren sampai ke kelasnya dan merengek agar di izinkan Daren.


“Kakak... boleh ya ikut. Kakak tau kan aku suka nari sama dance. Kak!” rengek Arsy menarik- narik lengan Daren seperti anak kecil. Namun, Daren dengan santai duduk di bangkunya.


“Kakak!”


“Gak!”


“Ayolah!”


“Ngeselin!” Arsy mengambil buku dan menimpuk wajah Daren.


'Plakk'


“Aduh!" pekik Daren. Arsy kemudian keluar dari kelas Daren, tidak peduli teman kelas kekasihnya itu menertawakan Daren.


"Kita putus!!" teriak Arsy di ambang pintu membuat Daren membulatkan matanya lalu berlari mengejar Arsy yang sudah berlari lebih dulu ke kelasnya.


"Arsy tunggu!" Daren meraih lengan Arsy.


"Gak mau, lepas!"


"Kakak gak mau lepas, kalau kamu gak menarik ucapan putus tadi." Arsy diam dan melihat kesal Daren.


"Sama kayak kakak, enggak!" balas Arsy menirukan ucapan Daren.


"Sayang jangan gitu dong! kita pacaran dari SD, masak putus gitu aja."


"Mana ada Arsy pacaran sama kakak dari SD, kita jadian itu waktu aku kelas satu SMP." Daren memohon pada Arsy agar tidak memutuskan dirinya.


"Please! Jangan putus."

__ADS_1


"Ya udah, tapi izinin aku dance!" Daren berdiri lalu memeluk Arsy, hampir saja dunianya runtuh saat Arsy mengatakan putus.


"Iya tapi dance sama kakak."


"What! Badan gede hampir kayak om Martin, mau dance? Enggak deh kak, pasti gerakan kakak kaku semua."


"Nanti bisa latihan, intinya kamu boleh dance sama kakak.” Arsy hanya pasrah, ia juga tak serius memutuskan hubungannya dengan Daren, sebab ia juga tidak bisa tanpa Daren.


“Ya udah nanti cari personil lagi ya!”


“Hm!” balas Daren kemudian memeluk Arsy. seketika suara riuh di depan kelas Daren menambah kehebohan.


Disisi lain Amara berdiri di depan jendela kaca di kelasnya melihat suasana di lantai bawah dari atas. banyak lalu lalang siswa SD dan TK yang berlarian menuju kelasnya masing-masing.


Amara juga melihat Fatma dan Neha sedang berjalan menuju kelas TK kemudian melihat Johan sedang berjalan menuju tangga menuju dimana ia mengajar.


“Pak Johan! Aku akan tetap menunggu Bapak.” batinnya tanpa terasa air matanya menetes. Ia tahu penantiannya percuma, apa lagi Johan sudah melamar Fatma. Tetapi hatinya tidak pernah bisa berbohong rasa itu semakin kuat.


“Hai guys! Ada info!” teriak salah satu murid yang baru masuk membuat Amara tersentak lalu melihat murid tersebut.


“Hari ini kita bebas gak belajar. Semua guru rapat buat lomba!"


“Yeh!!" seru semuanya.


Amara yang mengetahui itu pun langsung ngambil tasnya dan keluar. Amara menuju lokernya, meletakkan tas dan mengambil seragam karatenya.


“Ra!” panggil Alex


“Hm!” balasnya tanpa melihat Alex yang sudah berdiri di sampingmu


“Mau kemana?”


“Mau ke toilet! Ikut?” jawab Amara datar.


Amara berjalan menuju toilet di ikuti Alex. sesampainya di toilet Alex menunggu di luar. Amara menggunakannya seragam karate kemudian ia keluar dan berjalan menuju lokernya, di ikuti Alex lagi.


“Kamu mau ngapain!"


“Menurutmu!” Amara s kilas melihat Alex. berjalan di sampingnya. Alex menggaruk kepalanya, sepertinya ia salah bicara.


Amara meletakkan seragamnya di lemari lokernya dan hanya membawa air minum dan tas kecil berisikan ponsel dan peralatannya lalu menuju ruang karate. teman- temannya yang melihat Amara menggunakan seragam karate pun langsung mengikutinya untuk melihat dirinya latihan.


Amara mulai menggunakan sabuk karatenya dengan santai. Namun Alex begitu terkejut saat melihat sabuk yang di kenakan Amara yaitu sabuk hitam. seketika bulu kuduknya merinding. Sudah pasti Amara bukan gadis remaja sembarangan.


Amara mulai pemanasan beberapa menit kemudian ia mulai latihan sendiri. Semua berteriak dan bertepuk tangan melihat Amara mulai menggerakkan gerakan jurus karatenya.


Amara adalah satu satu murid kebanggan Mahendra School di bidang olahraga cabang karate. dari sekolah dasar ia sudah menjuarai karate tingkat nasional, menginjak SMP ia bisa masuk ke kancah internasional.


Mendengar Amara latihan, Johan juga ke ruangan karate. Ia melihat dari Ambang pintu. Terlihat jelas Amara latihan dengan penuh emosi, lebih tepatnya meluapkan emosinya. Johan hanya bisa tersenyum melihatnya tanpa tahu isi hati Amara yang sebenarnya.

__ADS_1



(Anggap aja Amara latihan)


__ADS_2