
Pada akhirnya Bara dan Fatma menikah, setelah menikah Fatma mengundurkan diri dari sekolah Mahendra, karena malu dan tidak enak dengan Johan. Untuk Bara sendiri masih tetap menjadi guru BK, walau terlihat perang dingin dengan Johan. Akan tetapi mereka bersikap profesional, hanya saja tidak pernah lagi bertegur sapa walau terkadang makan dan istirahat bersama guru lainnya.
Amara pun sudah kembali masuk ke sekolah, dengan senyum ceria dan semakin giat belajar. Arsy dan Daren pun sepakat menyembunyikan hubungan Johan dan Amara, dan tidak pernah membahasnya saat di sekolah.
Saat ini mereka sedang berkumpul di kantin, seperti biasanya. Suasana kantin baru menambah keakraban mereka.
“Oh ya, malam minggu nanti jalan yuk! Nonton.” ajak Alex yang duduk di sebelah Amara.
“Boleh, tapi aku sama siapa? Arsy sama Daren, Bella sama Devan, Alex sama Amara, Aku sama siapa?”
“Sama Bapak aja!” sela Johan tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Amara sehingga Amara diapit Alex dan Johan.
“Boleh, secara Bapak kan baru patah hati. kita ajak have fun aja.” saut Arsy membuat Amara tersenyum dan sekilas melihat Johan yang juga melihatnya.
“Deal ya, malam minggu. Aku jemput kamu ya, Ra!" ujar Alex.
“Nggak Boleh Amara berangkat bareng aku. kita berangkat dari rumah masing-masing, ketemu di bioskop.” Saut Daren yang tahu tatapan Johan dan Amara.
“Ok, baiklah.” Alex hanya pasrah tidak pernah mendapatkan kesempatan dekat dengan Amara.
“Ya sudah, Bapak duluan ya!” Johan bangkit dari duduknya lalu mengusap lembut rambut Amara.
“Iya Pak, perlu di antar, pak.” celetuk Alex.
“Kau ini.” semuanya tertawa kecil . Johan melihat Amara dan keduanya tersenyum kemudian Johan bergegas menuju ruang guru.
“Kita ajak opah sama Oma, bagaimana?” seru Alex lagi."
“Ide bagus, nanti aku hubungi opah!” balas Daren.
“Ya sudah, ke kelas. udah mau habis jam istirahat,” sambung Amara. Akhirnya mereka pun kembali ke kelas masing-masing.
***
flashback ketika Amara menghilang dua bulan.
“Kemana anak itu pergi. Gak ada kabar.” batin Johan memikirkan Fatma yang beberapa terakhir ini susah di hubungi.
“Baiknya aku ke apartemennya.” Johan kemudian bergegas menuju apartemen Fatma.
Sepanjang perjalanan, Johan bukan hanya memikirkan Fatma, ia juga memikirkan Amara yang sudah dua bulan tidak masuk sekolah serta ponselnya juga tidak bisa di hubungi. Saat bertanya pada Daren pun, daren tidak memberitahunya, sebab Amara sudah berpesan pada Daren tidak ingin di ganggu siapapun.
Sesampainya di apartemen, Johan langsung masuk begitu saja. Karena sudah tahu pasword pintunya. Saat membuka pintu, Johan begitu terkejut melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Johan terpaku melihat Fatma di bawah Kungkungan seorang laki-laki yang saat ia kenal. Terlebih mereka berdua tidak menggunakan sehelai kain.
"Kalian!" Fatma dan Bara terkejut lalu mencari pakaian mereka masing-masing. Fatma mengenakan kemeja Bara, dan langsung menghampiri Johan.
__ADS_1
"Mas, aku bisa jelaskan." Fatma meraih lengan Johan. Namun Johan menghempaskan lengan Fatma.
"Jelaskan? Kamu pikir aku anak TK yang tidak tahu apapun, yang semua harus di jelaskan satu-persatu! Aku pikir kamu wanita terbaik untukku, tapi...,"
"Mas...!"
"CUKUP!!"
Johan benar-benar Muak dan langsung meninggalkan Fatma. Tak lupa melepas cincin pertunangannya dan melempar ke sembarang arah.
“Mas...!" panggil Fatma. Bara menghampiri Fatma lalu merangkulnya.
“Ini semua karena kamu, Mas!” teriak Fatma di wajah Bara.
“Karena aku cinta sama kamu, dan aku sengaja melakukannya semua, supaya kamu tetap bersamaku.” Fatma menangis sejadi-jadinya, menyesali semuanya. Kenapa ia termakan rayuan Bara.
Johan kemudian menuju rumah Laras untuk mencari Keberadaan Amara. Sepanjang jalan ia terus mengingat ucapan Amara.
“Silahkan Bapak lanjutkan hubungan Bapak dengan orang yang menurut Bapak setia dan mencintai Bapak.”
Johan baru menyadari Amara seolah mengetahui semuanya. Namun menyembunyikannya dan membiarkan dirinya mengetahuinya sendiri.
Sesampainya di rumah Laras Johan memarkirkan mobilnya sembarang dan menghampiri Daren serta Amara dan Bryan yang sedang bermain basket di taman depan rumah. Dengan menahan sesak di dadanya. ia terus berjalan menghampiri opa Bryan.
“Permisi Opa, Daren, Arsy.”
“Opa, tolong beritahu keberadaan Amara. Ada hal penting yang harus saya bicarakan.”
“Hal penting apa? Jika hanya membuat dirinya menangis lagi, lebih baik tidak perlu menemuinya!” tegas Bryan membuat Daren dan Arsy bingung.
“Kali ini sata pastikan Amara akan selalu tersenyum, Opa! Tolong beritahu keberadaan Amara!” Mohon Johan yang sedikit menetes air mata.
“Amara ada di kafe dekat rumah sakit Mila hospital!" saut Martin tiba-tiba.
“Terima kasih tuan!” Johan bergegas mengendarai mobilnya menuju kafe yang di maksud Martin.
“Kenapa di beritahu, Martin!" ujar Bryan.
“Saya akan memberitahu hal yang membuat putri saya tersenyum selama hidupnya, Pa!"
“Daren!" Bryan melempar kunci mobil pada Daren. Daren yang bingung hanya menangkapnya.
“Ikuti Johan.”
“Tapi ini ada apa?" tanya Daren.
__ADS_1
“Nanti kamu juga tahu! Arsy ... sayang ayo ikut."
“I-iya Opa!" Arsy bergegas naik mobil di bagian belakang dan Daren yang mengemudi sementara Bryan duduk di sebelah Daren.
Sepanjang jalan Daren mengemudi dengan kecepatan tinggi, membuat Arsy dan menjerit sampai menjambak rambut Daren. sedangkan Bryan berpegang erat.
“Pelan...!" teriak Arsy sambil menjambak rambut Daren.
“Sakit Oneng!"
“Makanya jangan ngebut Bajuri!”
“Diam!" Teriak Daren.
“Ya Tuhan, aku belum mau mati!”
‘Bruuk!’ Arsy terhempas di kursi kemudi saat Daren mengerem mendadak di pelataran kafe.
“Allahuakbar!!” teriak Arsy.
“Kau gak apa-apa?” tanya Daren melihat Arsy masih tersungkur di sela kursi kemudi.
“Gak apa-apa gimana? Sakit.” Bryan tertawa begitu juga Daren melihat wajah kesal Arsy.
Arsy mengusap kepalanya, lalu keluar mengikuti Bryan dan Daren menuju kafe. Sesampainya di kafe mereka bertiga melongo melihat Johan mencium kening Amara lalu memeluknya.
Flashback off
Sepulang sekolah Johan menunggu Amara di kafenya. Johan tahu saat tidak ada les, Amara pasti ke kafenya.
“Bapak? Sudah lama nunggu?” tanya Amara.
“Lumayan." Amara menarik Johan dan mengajaknya ke ruangannya.
“Bapak sudah makan?” tanya Amara saat berada di ruangannya.
“Belum nungguin kamu!”
“Ya udah, aku ambilkan makanan buat Bapak, ya!” Johan mengangguk kemudian duduk di sofa.
Amara keluar lalu mengambilkan makan siang untuk dirinya dan untuk Johan. Amara mengambilkan sendiri dan membuat minumannya sendiri. Setelahnya Amara membawanya ke ruangannya.
“Pak Johan.”
“Ya.”
__ADS_1
“Ini." Johan mengambil alih nampannya kemudian meletakkan di meja dan mereka pun makan siang bersama sambil bercanda dan sesekali saling menyuapi.