TAKDIR 3 ( PENANTIAN )

TAKDIR 3 ( PENANTIAN )
BAB 23 SALING KOMUNIKASI


__ADS_3

Neha dan Bibi baru saja selesai memasak di dapur. Ia menghidangkan semua masakan di meja makan. Neha memasak sedikit lebih banyak karena orang tuanya dan adik-adiknya akan datang ke rumahnya alias rumah Ardan.


Ardan juga tidak tinggal diam ia membantu Neha menyiapkan minum dan makanan penutup kesukaan mertuanya sekaligus sahabatnya itu.


“Mas minumannya sudah?” tanya Neha sembari berjalan mendekati Ardan dan sambil mengikat rambutnya.


“Sudah sayang!" Ardan tersenyum ke arah Neha yang kini berdiri di sampingnya.


“Mas! Capek,” Manja Neha sambil memeluk Ardan dari samping.


“Mau di pijat?” Ardan memegang lengan Neha dan mengusap lembut punggung Neha.


“Gak ah! Nanti Mas minta ya lain.”


“Ya tidak apa-apa. Kan enak!” Ardan mulai mencium bibir Neha.


Mereka sedikit lama berciuman sampai-sampai tidak mengetahui jika Siena dan Nathan datang. Nathan yang melihat mereka pun buru-buru mengambil surat kabar dan menggulungnya. Nathan berjalan mengendap-endap menghampiri mereka berdua.


'Plakk’ Nathan menepuk lengan Ardan menggunakan surat kabar.


“Aduh!!” Nathan tertawa lalu memukul kembali lengan Ardan .


“Kau Nah!" kesal Ardan melihat tajam Nathan lalu merebut gulungan surat kabar dan membalasnya, sementara Menghampiri Siena dan mereka berdua tertawa melihat Ardan dan Nathan sedang bercanda.


“Anak Mama kok, masih pakai daster?" tanya Siena melihat Neha yang masih mengenakan daster.


“Iya Ma, tadi baru selesai masak. Ya sudah kalau gitu Neha mandi dan ganti baju. Bau dapur!"


"Ya sudah. Kamu mandi lagi. Dandan yang cantik dan ini baju-baju kamu dan beberapa


barang yang kamu minta Mama bawakan."


"Terima kasih Ma."


Neha menuju kamarnya sambil melihat Ardan dan Nathan yang kini sudah duduk di kursi meja makan sambil minum jus.


“Ar! kau sudah bicarakan dengan Neha mau dimana resepsi pernikahan kalian.”


“Belum Nath. Belum sempat, malah kami tidak memikirkannya.”


“Jangan katakan hanya kasur yang ada dalam pikiran kalian.” Ardan tertawa seolah membenarkan ungkapan Nathan.

__ADS_1


“Seru banget! Ngomongin apa?” tanya Siena sambil merangkul Nathan dari belakang.


“Acara resepsi pernikahan anak kita sayang,” balas Nathan mencium pipi Siena.


Ardan hanya tersenyum melihat Sahabatnya itu selalu terlihat mesra di setiap kesempatan. Bahkan sejauh yang ia tahu Nathan hampir tidak pernah bertengkar hebat. Mereka memang pasangan yang patut menjadi panutan. Perbedaan usia mereka tidak menghalangi cinta dan cara pandang menjalin sebuah hubungan. Sifat Nathan yang selalu mengalah dan Siena buang selalu mengimbangi Nathan membuat mereka bertahan sampai saat ini.


“Nath, Kalian berdua selama menikah. Pernah bertengkar hebat?"


“Pernah!” balas Nathan.


“Hampir minta pisah waktu Jojo masih sekitar tujuh bulan atau berapa. Lupa!" Jelas Nathan melihat Siena yang kini duduk di sampingnya.


“Tapi ... Kami mengingat perjuangan kita saat mau menikah. Kami sama-sama mengalah dan berbaikan lagi. Sebisa mungkin kalau mempunyai masalah harus segera diatasi dan di selesaikan. Kuncinya Komunikasi! Apa lagi perbedaan usia pasti juga membuat ego kami sama-sama tak tinggi. Kalau tidak ada saling mengerti dan mengalah. Kami tidak tahu entah menjadi apa rumah tangga kami dulu!" Sambung Siena tersenyum kearah suaminya.


“Yang lebih banyak mengalah siapa?"


“Tidak ada! Kami berdua saling mengalah. terlepas siapa yang salah, ungkapan maaf pasti nomer satu. Entah Siena duluan atau aku!"


“Sebenarnya justru kamu yang lebih banyak pengalaman Ar. Kamu berpacaran dengan Laras dulu cukup lama dan sampai menikah. Kamu bisa mengatasi masalah dengan Laras dan juga dengan Andin. Kamu pasti tahu cara memperlakukan mereka berdua. Begitu juga ... Aku yakin kamu pasti tahu bagaimana Neha, anak ku. Kamu pasti tahu cara membedakan mereka dan bagaimana cara mencintai mereka, terlebih Neha yang masih muda!”


“Mama Arsy pulang! Mama!” Tiba-tiba terdengar suara Arsy dari ruang depan.


Arsy berlari kecil menghampiri Neha lalu mereka berpelukan. Tak lama Devan juga menghampiri Neha dan menyalaminya.


“Sekarang kalian ganti baju cuci tangan terus makan. Oh ya ada Oma sama Opa?


“Oma?” tanya Arsy dan Devan bersamaan lalu melihat Ke arah ruang tamu


“Opa Nathan! Sana Oma Siena!”


“Mama itu Tante Siena sama Om Nathan!” Protes Arsy yang masih belum mengerti maksud Neha.


“Ok. Baiklah Salim dulu. Baru nanti ganti baju.”


Arsy dan Devan menghampiri Nathan dan Siena dan juga sang Papa lalu menyalaminya.


Mata Arsy melirik ke arah meja makan rupanya Mama sambungnya memasak menu kesukaan begitu juga Devan melirik ayam bakar kesukaannya sudah terhidang di meja makan. Arsy dan Devan saling memberi isyarat agar makan lebih dulu.


“Ma! makan dulu ya, sudah lapar!” rengek Arsy.


“Ya sudah. Cuci tangan dulu ya!" titah Neha lalu menyiapkannya piring untuk semuanya.

__ADS_1


Siena tersenyum melihat Neha yang begitu tulus menyayangi anak-anak Ardan. Ia menjadi teringat saat pertama kali menjadi ibu sambung bagi Neha. Siena banyak belajar dari Syasa. Belajar arti ketulusan dan kesabaran serta menerima dirinya menjadi anak sambung Syasa dan saat ini Neha juga belajar darinya.


“Oh ya Tante! Mana JoJo dan Naina?” tanya Arsy sambil duduk di kursi di ikuti Devan.


“Masih di rumah Oma Syasa. Mereka itu kalau pulang ke Indonesia pasti pulangnya ke rumah Omanya, katanya di sana enak ramai, ada anaknya om Krisna, anaknya Tante Luna dan anaknya tante Jane, sama anaknya Om julio.”


“Om Julio pulang juga?” tanya Neha


“Iya! Liburan.”


“Wah pasti ramai rumah Oma!" sambung Neha sambil mengambilkan makanan untuk suaminya.


“Bukan ramai lagi. Sudah kayak pasar!" Mereka tertawa mengingat betapa banyaknya anak cucu Syasa dan Bryan kalau sudah berkumpul pecah tawa dan canda menjadi satu.


“Sebentar lagi rumah ini juga akan ramai!” sambung Ardan melihat Neha.


“Apa sih, Mas! Iya Nanti aku kasih adik kembar buat mereka berdua!" Neha melihat Arsy dan Devan. Semuanya pun yertawa.


“Permisi Pak, Non! Ada tamu!" Seru Bibi menghampiri mereka di meja makan.


“Siapa Bi?" Tanya Neha.


“Itu rombongan nyonya Syasa!”


“Waduh! Oma kesini?" Neha lalu meninggalkan ruang makan dan berjalan ke depan untuk menyambut Syasa dan Bryan.


“Bi siapkan minuman ya, Bi." Seru Ardan sebelum menyusul Neha. Mereka semua keluar dan menyambut Syasa dan Bryan.


“Ya Allah Oma! Opa!" Seru Neha berlari kecil menghampiri Syasa yang baru saja turun dari mobil.


“Oma kenapa nggak kabari dulu kalau mau ke sini?" tanya Neha sambil memeluk Syasa.


“Kamu ini, Kamu juga nikah gak kabari Oma sama Opa sama kita semua.” Syasa melihat anak dan cucu Syasa yang satu persatu turun dari mobil.


“Neha pikir Papa udah kasih tahu duluan.”


“Papa kamu juga udah kasih tahu tapi pas kalian udah selesai Nikah.”


“Ya sudah. Oma, Opa masuk dulu. Semuanya masuk dulu yuk!" Mereka semua masuk kedalam.


***

__ADS_1


__ADS_2