
Selesai rapat mereka keluar dari ruang rapat dan bersiap untuk pulang. Neha berjalan ke ruangan bersama Fatma untuk mengambil tasnya di ikuti Johan di belakangnya. sedangkan Ardan ke ruangan untuk mengambil kunci mobil dan tasnya. Neha mengambil tasnya lalu merapikan buku-bukunya di atas mejanya.
“Bu Neha bawa mobil?” tanya Fatma tibaw
“ Tidak! Saya pulang...,"
“Mau saya antar, Bu?" saut Johan tiba-tiba menawarkan diri untuk mengantar Neha pulang.
“Terima kasih pak Johan, tapi saya sudah ada yang menunggu. Permisi, Mari Bu Fatma. ” Neha tersenyum dan diangguki Fatma lalu Neha berjalan keluar karena Ardan sudah menunggunya di luar.
“Sudah tidak ada yang ketinggalan?” tanya Ardan saat Neha di depannya.
“Gak ada!”
“ Ya sudah! Ayo pulang!" ajak Ardan lalu keduanya melangkah menyusuri lorong sekolah
Sementara itu Fatma dan Johan saling pandang melihat Neha dan Ardan jalan berdampingan.
“Kan saya sudah bilang sama Pak Johan! Jangan ganggu Bu Neha.”
“Siapa yang mengganggu!” balas santai Johan lalu berjalan meninggalkan Fatma. Fatma melihat kanan kiri sudah tidak ada siapa-siapa lalu ia berlari mengejar Johan.
“Pak Johan! Tunggu!” teriak Fatma. Namun Johan terus melangkah menuju berjalan mengikuti langkah Neha dan Ardan sampai parkiran.
Ardan tersenyum sambil membukakan pintu mobil untuk Neha. Baru ia masuk
ke bagian kemudi. Setelah Ardan masuk Neha langsung mencium pipi Ardan.
“Kamu kenapa sayang?" Ardan tersenyum sambil melihat heran Neha. Kenapa tiba-tiba Neha begitu manja.
“Kangen...!" Ardan terkekeh lalu meraih tengkuk Neha dan mencium keningnya sedikit lama. Semua yang di lakukan Ardan dan Neha di lihat oleh Johan dan Fatma.
“Ya sudah. Mau pulang langsung atau mau makan di restoran kafe atau di mana. Ini masih jam 3 sore!" tanya Ardan saat menyudahi ciumannya.
“Pulang aja Om. Kasihan nanti Arsy sama Devan nunggu Om pulang!"
“Ya sudah. Om, antar kamu pulang. ” Neha mengangguk kemudian Ardan menyalakan mobilnya lalu menekan pedal gasnya keluar dari parkiran sekolah.
Sementara itu Johan dan Fatma masih diam mematung melihat mobil Ardan keluar dari parkiran.
__ADS_1
“Ya udah Pak Johan. Pulang yuk!" ajak Fatma membuka pintu mobil Johan.
“Iya!" jawabnya tanpa sadar.
“Eh...! Bu Fatma mau ngapain masuk ke mobil saya?" ujar Johan melihat Fatma yang sudah duduk di kursi bagian depan.
“Mau nebeng pulang!"
“Gak! gak! keluar." Fatma begitu kesal lalu ia keluar dan membanting pintu mobilnya.
“Saya pikir Bapak itu ramah, baik hati. Laki-laki sama aja.” Fatma menendang ban mobilnya.
“Bodo amat!” balas Johan acuh lalu masuk kedalam mobilnya sedangkan Fatma berjalan keluar menuju gerbang.
“Bye! Bu Fatma!” ledek Johan, Fatma melepaskan sepatunya dan hendak melemparkan ke mobil Johan yang melaju keluar gerbang.
Satpam sekolah hanya terkekeh melihat Fatma kesal dan memegang sepatu. Beruntung tidak ada muridnya yang melihat aksinya, jika ia bisa jatuh wibawanya sebagai guru.
“Hilang kagum ku pada guru belagu! Guru baru sok-sokan. Gak bakalan bisa kamu bersaing sama Pak Ardan yang romantisnya gak ketulungan. Walaupun kamu lebih muda lebih ganteng, kamu gak bakal bisa saingan sama karismatik Pak Ardan. Muke lo jauh bos!” kesal Fatma dalam hati saat di halte.
Sementara itu Ardan dan Neha masih di perjalanan. Mereka saling berpegangan tangan dan Neha menyandarkan kepalanya di pundak Ardan.
“Iya! Sudah di persiapkan semua. Mungin besok atau lusa sudah di bagi,” balas Ardan tersenyum sambil melihat kaca mobil dan melihat mobil yang sedari tadi membuntuti mobilnya.
Neha melihat Ardan yang melihat kaca mobil berkali-kali pun mengerutkan dahinya. Neha menoleh ke belakang.
“Om liatin apa?”
“Gak! perasaan itu mobil ngikutin kita terus, coba Om berhenti.” Ardan kemudian menepikan mobilnya. Namun ternyata mobil yang mengikutinya juga berhenti.
“Kan dia ikut berhenti.”
“Itu kan mobil Pak Johan Om!”
Ardan tersenyum sinis lalu menarik tengkuk Neha dan menciumnya. Ardan sengaja melakukan itu agar mobil di belakangnya pergi. Benar saja mobil tersebut langsung pergi dan sempat membunyikan klaksonnya.
“Astaga Om! kenapa tiba-tiba. Neha hampir kehabisan Nafas.” Neha sedikit memukul dada Ardan. Ardan hanya terkekeh melihat ekspresi kesal Neha.
“Kalau gak gitu gak pergi itu mobil di belakang kita.”
__ADS_1
“Tapi ... kasih tau dulu dong Om.” Neha mulai memajukan wajahnya ke wajah Ardan.
Neha tersenyum dan tangannya mengusap lembut rahang tegas pria di hadapannya itu. Neha mendaratkan bibirnya dan mereka berciuman kembali. Tak lama mereka melepaskan ciumannya masing-masing dan saling tersenyum.
“I love you OM,” bisik lembut Neha di telinga Ardan.
Lagi-lagi Ardan hanya membalas dengan kecupan di kening Neha. Ardan merasa membalas dengan ucapan rasanya tidak pantas di usianya yang sekarang lebih baik membalasnya dengan tindakan. Setelah itu Ardan melajukan mobilnya kembali.
Sesampainya di apartemen, Neha turun. Akan tetapi Ardan kali ini tidak mampir karena Sang Anak sudah beberapa kali menghubungi ponselnya. Menanyakan kapan ia akan pulang dan Neha paham akan hal itu.
“Jangan lupa makan!” titah Ardan saat Neha turun.
“Iya, Om sayang! Om juga hati-hati. Salam buat anak-anak.” Ardan mengangguk dan tersenyum. Ardan kemudian melajukan mobilnya dan Neha masuk kedalam apartemennya.
Sesampainya di dalam apartemen Neha berputar-putar seperti anak kecil. Semakin hari cintanya semakin tumbuh untuk pria sahabat Papanya itu. Walau Ardan sudah tua baginya Ardan mempunyai karismatik dan daya tarik sendiri sehingga kesan tua di wajahnya tidak begitu terlihat. Apa lagi Ardan juga tipe pria yang menjaga penampilannya.
“Om Ardan. I love you!" pekiknya Saat duduk di sofa.
“Apa aku cerita sama Mama ya? Tapi nanti dulu deh! Aku mau menikmati dan jalani masa-masa pacaran sama Om Ardan. Tapi kayaknya juga gak pantas sih lama-lama pacaran. Gak baik juga pacaran lama-lama sama duda. Apa lagi Om Ardan duda dua kali. Pasti .... Ah kenapa pikiranku jadi traveling. Tapi benar juga sih kata Fatma gak baik lama-lama pacaran sama duda takut ada yang cari sarang. Ah Fatma ada-ada saja. istilahnya. " gumam Neha. tak lama terdengar bell apartemennya. Ia terkejut dan sedikit ketakutan.
Neha secepat kilat mengambil kayu kriket dan langsung menuju pintu. Neha mengintip dari lubang tengah. Neha bernafas lega rupanya yang datang adalah Fatma, lalu Neha membuka pintunya.
“Bu Fatma?" sapa Neha saat sudah membuka pintunya.
“Hm! Boleh masuk?" Neha kemudian menggeser tubuhnya dan membiarkan Fatma masuk.
“Bu Fatma kenapa?”
“Panggil nama aja! Ini kan di luar lingkungan kerja!” balas Fatma mendaratkan bokongnya di sofa dengan malas. Sedangkan Neha hanya terkekeh melihat ekspresi wajah Fatma.
“Iya! Kau kenapa?”
“Tahu gak Ne? Itu ya guru baru datang tadi pagi emang benar-benar gak ada akhlak. Masak gue nebeng pulang gak boleh. Nyebelin banget.”
“Lah..., kamu kenapa gak bawa mobil sendiri?”
“Mobilku masih di bengkel. Tapi awas aja aku mau balas dendam sama guru baru belagu!” geram Fatma membuat Neha tertawa terpingkal-pingkal.
note: maaf ya GK balas komentarnya. dua hari ini lagi sakit.
__ADS_1