
Neha di paksa bangun lebih pagi oleh sang Mama. Padahal jam baru menunjukkan 4 pagi.
“Mama! ini masih jam pagi! adzan subuh saja belum!" lirih Neha yang masih lesu di tempat tidur.
“Bangun sayang! Ada Om Ardan. Om kesayangan kamu sudah sampai.”
“Heh! Beneran Ma? Pagi-pagi buta datang ngapain?” Neha bangkit dari tempat tidur dan hendak keluar namun tangannya di tarik sang Mama.
“Mandi dulu sayang, nanti kamu juga tahu,”
“Ok. Baiklah.” Neha kemudian menuju kamar mandi.
Ardan yang saat ini duduk di sofa dengan gelisah. Tatapan Nathan padanya seolah ingin membunuhnya. Padahal Nathan hanya berfikir, apa benar sahabatnya ini yang akan menjadi menantunya. Guru dari istri dan anaknya dahulu. Oh tidak! Rasanya menggelikan. Ardan juga bergantian melihat seseorang yang menggunakan kopiah dan sorban yang duduk di samping Nathan dan satu orang laki-laki yang duduk di sampingnya. Ardan bingung mengapa pagi-pagi buta sudah ada tamu.
Tak lama Neha dan Siena keluar dengan menggunakan busana tertutup. Ardan bertanya dalam hati apa ada acara pengajian? Neha tersenyum lalu duduk di samping sang Mama di sofa berbeda.
“Baik Pak. Apa langsung bisa di mulai,” kata seseorang yang menggunakan kopiah.
“Bisa Pak, lebih cepat lebih baik!" balas Nathan.
“Silahkan di mulai!” Nathan mengulurkan tangannya di hadapan Ardan. Ardan semakin bingung dan melihat Nathan penuh tanya. Nathan melihat Ardan yang masih bingung menepuk pipinya.
“Kau mau jadi menantuku tidak?” seru Nathan. Neha dan yang lainnya tertawa kecil melihat Nathan dan Ardan.
"Aduh! Sakit Nath! Ini maksudnya apa? jelaskan dulu. kenapa Kau tiba-tiba menyuruhku datang jam 3 pagi ke apartemen?" tanya Ardan yg masih bingung.
“Sudah nurut saja,” ujar Nathan
“Oh ya! Neha mana cincin kemarin!” Neha melepaskan cincin yang ada di jari manisnya lalu memberikan pada Siena setelahnya Siena memberikannya pada Nathan.
“Ini berapa gram?"
“18 karat!" saut Ardan.
“Gimana sih, pengusaha berlian ngasih yang 18 karet. 24 karat dong!” ejek Nathan sambil melihat cincinnya.
“Tapi gak apa-apa. Daripada gak ada!” Ardan menatap tajam Nathan sambil menahan malu.
“Ya sudah. Sini tanganmu.” Ardan mengulurkan tangannya.
“Nanti jawab ya!”
“Jawab? Ardan menarik tangannya.
__ADS_1
“Ini sebenarnya ada acara apa?”
“Mau jadi menantuku gak?”
“Ya..., ya mau lah!”
“Ya sini!” Nathan mengulurkan tangannya lagi dan di sambut Ardan.
Neha hanya menahan tawa melihat Ardan dan sang Papa selalu berdebat jika bertemu. Ada saja yang menjadi bahan candaan dari hal serius pun terkadang beruntung tawa.
Ardan kini paham jika Nathan akan menikahkan putrinya dengan dirinya. Walau ia tahu pernikahan saat ini secara agama lebih dulu. Ia yakin Nathan sudah mempertimbangkan matang-matang dan tidak pernah ragu pada dirinya untuk menyerahkan tanggung jawabnya terhadap putri sulungnya itu padanya.
“Saya nikahkan putri kandung saya NEHA SHARMA ADAM binti JONATHAN ADAM dengan engkau ARDAN MAHENDRA dengan mahar cincin berlian 18 karat di bayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawainnya NEHA SHARMA ADAM binti JONATHAN ADAM dengan mahar tersebut di bayar tunai!"
“Saksi Sah!” tanya ustad yang duduk di sebelahnya Nathan.
“SAH!” jawab Siena dan laki-laki di sebelah Ardan yang di ketahui pengurus apartemen. Neha dan Pengurus tersebut menjadi saksi pernikahan siri mereka.
Mereka semua mengucapkan syukur dan tersenyum bahagia. Nathan sengaja menikahkan mereka secara agama agar kemana-mana tidak menjadi fitnah. Setelah ini Baru Nathan akan mengurus pernikahan mereka secara hukum negara.
Neha dan Ardan tersenyum saat Siena menyerahkan Neha pada Ardan. Neha berdiri di hadapan Ardan dengan senyuman yang tidak pernah pudar. Ardan menyematkan cincinnya di jemari manisnya sebagai tanda kini Neha SAH menjadi istrinya. Neha menyalami Ardan kemudian Ardan mengecup kening Neha. Setelahnya mereka menandatangani surat peryataan bahwa mereka sudah menikah sah secara hukum agama.
“Selamat ya sayang. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai nenek dan Kakek.”
“Terima kasih, Ma?” Mereka saling berpelukan.
“Selamat Pak Ardan. Saya titip Neha!"
“Kamu tenang saja, Wanita yang sudah bersamaku akan bahagia dunia akhirat!” Siena dan Neha tertawa kecil.
“Terima kasih ya! Ini kejutan luar biasa,” ujar Ardan.
“Sama-sama, Pak!"
Sementara itu Nathan tidak kuasa menahan air matanya dan langsung menuju kamarnya. Namun sebelum langkahnya sampai Ia berbalik sejenak seraya menghapus air matanya.
“Sudah! Nanti lanjut lagi sekarang shalat subuh dulu. Neha Shalat dulu sama suami kamu! Papa juga. Ayo sayang!" ujar Nathan dan mengajak Siena ke kamar.
Neha mengajak Ardan ke kamarnya lalu mereka shalat berjamaah untuk pertama kalinya sebagai sepasang suami istri. Setelah selesai Ardan membalikkan badannya dan melihat Neha yang kini menjadi makmumnya. Neha menyalami Ardan kemudian Ardan mencium kening Neha setelahnya mereka berpelukan.
Jantung keduanya saling berdetak tak menentu, mereka masih tidak percaya kini sudah resmi menjadi suami istri dan masih mencerna semuanya.
__ADS_1
“Mas! Aku masih gak percaya. Aku udah jadi istri kamu saat menjelang Subuh. Ardan melepaskan Pelukannya dengan lembut lalu melihat wajah Neha penuh arti. ia juga masih tidak percaya sahabatnya secepat itu memberikan restu.
“Terima kasih sudah mau menjadi istri Om. Om pastikan kamu yang terakhir dalam hidup om.”
“Iya, Om. bimbing aku untuk jadi istri yang baik da Ibu yang baik untuk anak-anak.” Ardan mengecup kening Neha lalu keduanya tersenyum.
Neha melepaskan mukenanya lalu meletakkan di tempanya. Sedangkan Ardan duduk di tempat tidur. Neha berjalan menghampiri Ardan setelah meletakan mukenanya.
“Mas. Aku buatkan Sarapan dulu ya.” Ardan tersenyum lalu menarik lembut pergelangan tangan Neha.
“Nanti saja! Kamu tahu, kan tugas pertama istri.”
“Hah? Emm...” Neha tersenyum malu lalu mengangguk.
Ardan menarik lembut Neha agar duduk di sampingnya. pria matang itu mengamati setiap detail wajah istri barunya. Tak lama ia mencium kelopak mata Neha satu persatu lalu berakhir mereka berciuman.
ciuman mereka berubah menjadi panas dan berakhir di tempat tidur. Neha membuka satu persatu kancing kemeja Ardan dan Ardan tidak tinggal diam. Ia membuka apa yang di kenakan Neha. Ardan juga mulai menjelajahi setiap jengkal tubuh mulus milik Neha membuat Neha meliuk nikmat.
“Ah...Mas!”
Suara ******* mereka saling bersautan hingga sayup-sayup terdengar dari luar. Nathan yang melintasi kamar Neha pun berhenti sejenak untuk memastikan suara apa yang ia dengar. Bahkan sampai menempelkan telinganya di daun pintu.
Siena yang baru saja keluar dari kamar pun menggelengkan kepalanya melihat suaminya buang begitu posesif terhadap anak sulungnya.
“Ngapain Nath?” seru Siena sambil menembak pundak Nathan.
“Astagfirullah!” Nathan mengusap dadanya.
“Ngapain?"
“Gak ada!” Suara Neha semakin jelas membuat mereka berdua saling pandang dan Siena menjadi salah tingkah lalu meninggalkan suaminya menuju dapur.
“Ar!! Gasnya jangan terlalu kencang! Ingat umur!" Seru Nathan di balik pintu.
“BRISIK!!” saut Ardan di balik pintu dan Nathan hanya terkekeh lalu meninggalkan menuju dapur.
***
Mohon maaf ya baru bisa Update. Suami pulang jadi me time. Ini aja nyolong buat update. hehe
jangan lupa komennya. like, vote , rate. and Gift.
terima kasih
__ADS_1